Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Binyu dan Zain bernostalgia


__ADS_3

Sika menatap menyelidik kearah kakaknya. Dia masih tidak mempercayai ucapan kakaknya. Tapi dia menghormati apa yang dikatakan kakaknya.


"Ok nanti kita akan ngobrol banyak saat malam hari. Sika akan tagih janji kakak," ucap Sika.


"Iya kakak janji loh dek...," balas Cha.


"Sika suka banget kak oleh-olehnya," ucap Sika memuji pemberian kakaknya.


"Kalau kamu suka, kakak merasa senang. Karena gak sia-sia kakak memilihnya untuk kamu dek," balas Cha.


"Iya kak. Oh ya, oleh-oleh dari kak Zain mana?" tanya Sika penasaran.


"Tuh di samping cover kakak. Kotak yang itu, buka aja," tunjuk Cha dan menyuruh Sika melihatnya.


Sika mengambil kotak yang dibungkus rapi. Lalu dia membuka bungkusannya dan membuka kotaknya. Ketika kotak tersebut terbuka, Sika terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia merasa gak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kak, ini benar-benar keren. Bagus banget jam tangannya. Apa ini asli kak bermerek?" tanya Sika sambil meneliti layaknya pengamat handal barang branded.


"Iya, itu juga dibeli kak Zain di Paris," jawab Cha.


Lagi-lagi Sika terbengong mendengar kata Paris. Dia masih gak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Serius kak?! Kakak gak bercanda kan?" tanya Sika sambil melompat duduk disamping Cha.


"Kakak serius loh dek....!"


"Apa buktinya?" tanya Sika menantang.


"Tanya aja sama kak Zain. Biar dia yang menjawabnya," jawab Cha yang sedikit kesal dengan Sika.


"Baik aku akan percaya sama kakak, asal nanti malam kakak ceritakan semuanya ke aku, ok!" ucap Sika sambil memakaikan jam tangannya.


"Iya. Oh ya dek, kalau kak Ina dan Mama melihat jam dan tas kamu yang bagus itu, pasti mereka akan bertanya. Jika mereka bertanya, bilang saja oleh-oleh dari kakak belinya di Jogja ya. Karena kakak belom siap bercerita sama kak Ina dan Mama tentang kak Zain," terang Cha.


"Loh emang kenapa kak? Kakak kan udah besar, masa gak boleh pacaran?" tanya Sika tak suka.


"Dek, kakak cuma mau minta sama kamu, jangan diberitahukan sama kak Ina dan Mama. Biar kakak cerita dulu ke mereka. Kakak gak mau Mama dan kak Ina berpikiran buruk tentang kakak. Kamu paham dek?" tanya Cha yang mencoba mengucapkan kata-kata yang pas agar Sika mengerti.


"Oh...baiklah kak. Sika akan dengar apa yang kakak sampaikan. Lihat kak, bagus banget ya ditangan Sika," Sika menunjukkan tangannya yang sudah terpakai jam tangan.


"Ini juga ada oleh-oleh buat sibungsu. Kakak dari tadi gak melihatnya," tanya Cha.

__ADS_1


"Adek lagi tidur kak di kamar Mama," jawab Sika.


"Gak apa-apa, nanti kakak yang kasih."


"Emang apa itu kak?" tanya Sika penasaran.


"Oh...ini baju anak dan sepatu," jawab Cha.


"Apa Sika boleh melihatnya?"


"Boleh, buka aja bungkusnya," suruh Cha.


Lalu Sika membuka kedua oleh-oleh itu. Yang satu pemberian kakaknya dan yang satu lagi dari kak Zain. Dengan tak sabar, dia melihat oleh-oleh itu.


"Wah kak ini bagus banget baju adek!" seru Sika yang memperlihatkan baju adeknya.


"Pasti muat sama si bungsu," ucap Cha.


"Iya kak, ini cocok sama dia. Sika aja suka lihatnya. Sepatunya jg bagus kok kak. Lihat nih...," tunjuk Sika yang mengarahkan sepatu itu.


"Iya ya dek, ini pas banget sama si bungsu," Cha melihatnya.


"Kakak sengaja gak ngasih oleh-oleh buat Mama, takut Mama mikir nggak-nggak nantinya," jawab Cha.


Cha sudah memikirkan apa yang pantas diberikan ke Mamanya. Sehingga dia tidak membeli oleh-oleh berupa barang. Tapi Cha membawakan makanan sebagai oleh-olehnya.


"Ya udah, mending sekarang kakak istirahat dulu. Sika mau balik ke kamar. Karena tadi tugas sekolah Sika belom kelar. Jadi Sika mau melanjutkan mengerjakannya dulu. Dan nanti malam biar enak kita ngobrolnya," ucap Sika.


"Iya dek. Kakak emang pengen istirahat nih," balas Cha sambil menguap.


"Sika tinggal dulu ya kak," ucap Sika.


Cha hanya mengangguk mengiyakan ucapan adeknya.


Sika pun keluar dari dalam kamar Cha. Dia kembali ke kamarnya dengan hati yang gembira dan senang. Sesampainya di kamar, Sika duduk di pinggiran tempat tidurnya. Dia terus menatap jam ditangannya.


"Ini benar-benar cakep. Besok aku akan menggunakannya. Pasti teman-temanku pada penasaran," bathin Sika sambil senyum-senyum.


Di dalam kamar sebelah, Cha menatap ponselnya yang tak berdering. Dia sudah merindukan Zain. Padahal mereka baru saja berpisah. Cha menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Dia melihat banyak perubahan di ruangan kamarnya. Saat Cha merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dia mendengar suara langkah kaki ke kamarnya.


Cha pun berpura-pura unik tidak menghiraukannya. Dia memilih memejamkan matanya agar bisa beristirahat sebentar.

__ADS_1


Sedangkan di hotel tempat Zain dan Binyu menginap, mereka menghabiskan waktu hanya berdua. Zain sibuk dengan tugas kerjaan Perusahaannya. Namun berbeda dengan Binyu, dia sibuk memikirkan Cha.


"Gimana keadaannya ya?" gumam Binyu yang tak sadar akan kehadiran Zain diruangan itu.


Zain yang mendengar gumamannya, langsung menoleh ke Binyu dan mengerutkan keningnya.


"Buat apa Lo mengkhawatirkan keadaan Cha?" tanya Zain heran.


"Ah, eh itu Zain, aku teringat tentang keluarganya, apalagi Mamanya yang kejam. Aku khawatir dia kenapa-napa," jelas Binyu.


"Lo gak perlu khawatir. Gw udah mengingatkannya, jika Cha kenapa-napa,"


ketus Zain tanpa ekspresi.


Binyu yang mendengar ucapan ketus sahabatnya, tersadar kalau dia sudah salah bicara.


"Kenapa gw gak bisa ngerem nih mulut. Dah tau yang dihadapannya si protect, tentu dia marah sama gw, haduh....Binyu...!" bathin Binyu.


Binyu hanya tersenyum melihat Zain. Dia tidak ingin Zain salah paham terhadapnya. Dia pun berinisiatif untuk mengajak Zain jalan-jalan.


"Zain, ayo kita keluar menghirup udara segar di kota ini," ajak Binyu yang mencoba mengalihkan pikirannya Zain.


"Gw gak minat. Lo kalau mau jalan, silahkan. Gw disini aja," tolak Zain.


"Ayolah Zain...! Kita sudah lama tidak jalan bersama. Bagaimana kalau kita bernostalgia disini," ajak Binyu lagi.


"Mmmm, ya udah aku ikut. Ayo kita jalan keluar," Zain pun menyetujuinya


Akhirnya Binyu bisa membujuk hati Zain yang keras. Mereka berdua akan keluar meninggalkan hotel itu.


"Kemana kita?" tanya Zain penasaran.


"Gw pengen nongkrong aja diluar Zain. Gw gak suka terkurung di dalam," jawab Binyu.


"Boleh juga tuh. Ntar malam kita bergerak, ok!" seru Zain.


"Sip, aku harus segera menyelesaikan tugasku sekarang," ucap Binyu.


Mereka berdua fokus dengan tugas pekerjaan masing-masing.


Sore menjelang malam. Zain dan Binyu sudah menyelesaikan pekerjaan mereka. Lalu mereka bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan keluar dari hotel.

__ADS_1


__ADS_2