Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Ina Balik ke Jakarta


__ADS_3

Cha mengangkat tlp nya dan mencari tempat yang aman untuk ngobrol.


"Maaf ya Zain, tadi ada kakak ku. Jadinya aq matiin dulu," jelas Cha.


"Oh..pantesan mati mendadak," balas Zain.


"Kapan kamu ke Indonesia lagi?" tanya Cha.


"Kalau aku ke Indonesia, kamu mau nemui aku cah?" tanya Zain balik.


"Tergantung, kalau aq tidak sibuk," jawab Cha acuh.


"Ya udah aku males balik ke Indonesia kalau gitu," ucap Zain ngambek.


"Ya terserah kamu. Kan kamu tidak harus ketemu aq. Emang kamu gak nemui keluarga kamu gitu?" tanya Cha pura-pura.


"Orang tuaku ya disini Cha. Kalau tidak ada yang aku temui di Indonesia, ngapain juga aku kembali. Bener kan?" pancing Zain. Zain ingin tau apakah Cha sedih mendengarnya atau malah biasa aja.


"Oh...," jawab Cha singkat.


"Kamu gimana di sana. Sekarang kamu kuliah dimana Cha?" tanya Zain. Padahal Zain sudah tau tentang keadaan Cha. Zain juga tau kalau saat ini dia tinggal dirumah Shanti.


Zain menyuruh orangnya untuk memantau Cha selama dia di luar negeri. Kemanapun Cha pergi, Zain tau semuanya. Bahkan tentang cowok yang berkenalan dengan mereka, Zain juga mengetahuinya.


Cha selalu dalam pantauan Zain.


"Ada deh. Kamu gak boleh tau aku dimana. Tar kamu datang lagi kemari," ucap Cha yang merahasiakan keberadaannya.


"Ya udah kalau gak mau kasih tau. Gak apa-apa kok. Ya udah, kapan-kapan kita tlp nan lagi ya, bye Cha. Assalamu'alaikum sayang emmmuach," ucap Zain menyudahi obrolannya.


"Wa'alaikumussalam Zain," balas Cha.


Tlp pun mati, Cha diam termenung. Ada rasa sedih yang dirasakan Cha. Dia terlalu gengsi untuk menyadari bahwa disudut hatinya dia menyimpan perasaan terhadap Zain. Namun semua itu ditepisnya karena ada Yoga cinta pertamanya.


"Hei melamun. Ngapain disini?" tanya Shanti menyelidik.


Ternyata dari tadi Shanti sudah berada tak jauh dari Cha. Dia sengaja sembunyi untuk mendengar obrolan Cha. Shanti penasaran dengan siapa Cha berbicara.


"Eh elo. Lo blom tidur rupanya," tanya Cha yang kaget dengan kehadiran Shanti.


"Iya gw tadi haus, mau ambil minum ke dapur. Gak sengaja gw dengar orang ngobrol. Ternyata elo," jawab Shanti sambil memicingkan matanya menatap Cha.


"Oh. Ya udah gw balik ke kamar dulu ya. Ngantuk nih," Cha menghindar dari Shanti. Karena dia merasa Shanti bukanlah sahabatnya yang dulu.


"Siapa yang menghubungi Lo malam-malam gini?" tanya Shanti yang menghentikan langkah Cha.


Cha berhenti sejenak, tanpa membalikkan badannya, dia menjawab, "orang salah sambung," jawab Cha santai. Dia pun pergi meninggalkan Shanti.


Sedangkan Shanti masih berdiri di tempatnya. Dia memandang Cha dari belakang.


"Gw harus cari tau siapa yang menghubunginya. Apa Yoga yang menghubunginya? Gw gak percaya salah sambung. Gw yakin, Lo pasti berbohong," gumam Shanti. Dia pun berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih.


Di dalam kamar, Cha mengingat obrolannya dengan Zain. Cha jadi senyum-senyum sendiri sambil melihat ponselnya.


"Ngapain dek, senyum-senyum gitu?" tanya Ina mengagetkan Cha.


"Eh kak Ina. Kirain dah tidur. Kakak kenapa blom tidur?" tanya Cha balik.

__ADS_1


"Ditanya malah balik nanya. Kebiasaan kamu tuh. Kakak tadi dah hampir tertidur. Tapi kamu masuk, dan kakak lihat kamu senyum-senyum gitu. Ada apa emangnya?" tanya Ina lagi.


"Gak ada apa-apa kak. Lucu aja lihat nih guyonan di sosmed," ngeles Cha tanpa menatap kakaknya.


"Ya udah sekarang tidur. Udah malam, besok kakak mau berangkat," ucap Ina menyuruh Cha segera tidur.


"Iya kak," jawab Cha patuh.


Ina melanjutkan tidurnya yang tertunda. Dan Cha masih menghayal diatas tempat tidur. Hingga beberapa menit, Cha pun tidur terlelap.


Pagi menjelang, Ina dan Cha sudah bangun untuk sholat subuh. Setelah itu Ina keluar dari dalam kamar mau melihat suasana luar rumah.


Sedangkan Cha melanjutkan tidur nya. Cha males mengikuti Ina keluar kamar.


Di luar kamar, Ina melihat eyang nya Shanti sudah bangun dan beraktifitas di dapur.


"Pagi eyang," sapa Ina tersenyum.


"Loh, kamu udah bangun toh cah ayu?"tanya eysngnya Shanti.


"Iya eyang, mau duduk-duduk didepan teras rumah. Sepertinya udara diluar sejuk," ucap Ina.


"Oh..ya udah, yuk eyang temani diluar. Kita ngobrol sambil minum teh," ajak eyangnya Shanti.


"Bi, tolong buatkan teh ya dan bawakan ke depan," suruh eyangnya kepada bibi yang ada dirumah.


"Ayo cah ayu," ajak eyang sambil berjalan menuju teras.


Eyang dan Ina menuju teras depan. Mereka menikmati udara segar di pagi hari.


"Iya eyang, rencananya dari sini jam 10 pagi," jawab Ina.


Lalu si bibi datang menghampiri mereka membawakan minuman dan sarapan pagi.


"Ini ndoro minuman dan sarapan nya," ucap si bibi sambil meletakkan hidangan diatas meja.


"Mmm," jawab eyang nya Shanti.


"Ayo cah ayu dimakan. Jadi Cha tinggal disini ya?" tanya eyang itu lagi.


"Iya eyang. Saya terserah Cha nya aja. Kalau dia mau ngekost, ya nanti dia bisa mencarinya sendiri," jelas Ina sambil meminum teh buatan si bibi.


Mereka berdua menikmati sarapan pagi bersama dengan udara yang sangat sejuk. Karena letak rumah eyang Shanti berada di daerah Kaliurang ke atas. Jadi udaranya benar-benar sejuk.


Didalam kamar, Cha terbangun. Dia meregangkan otot-ototnya dan melihat ke arah jam.


"What....udah jam 8! Kenapa kak Ina gak ngebangun gw ya. Kemana dia?" tanya Cha dengan udara yang ada di dalam kamarnya.


Lalu Ina masuk ke dalam kamar dan melihat Cha yang masih duduk di atas tempat tidur.


"Ya ampun Cha...! Blom mandi juga?" tanya Ina kesal.


"Hehehe, iya kak. Enak tiduran terus," jawab Cha dengan wajah bodohnya.


"Udah buruan mandi biar sarapan," ucap Ina memarahi Cha.


"Iya-iya, nih juga mau mandi kok. Ngomong-ngomong kakak dah sarapan?" tanya Cha melihat kakaknya yang beres-beres.

__ADS_1


"Udah tadi pagi sama eyang," jawab Ina.


"Oh...," Cha manggut-manggut. Dia pun melangkah menuju kamar mandi.


Ina menghubungi mamanya, mau memberitahukan keberangkatannya..


"Assalamu'alaikum ma," sapa Ina.


"Wa'alaikumussalam nak, gimana, jadi hari ini berangkatnya?" tanya mamanya.


"Iya ma, jam 10 nanti kami berangkat ke bandara ma," balas Ina.


"Kamu hati-hati dijalan. Dan jangan lupa khabari mama kalau sudah di Jakarta. Trus Daecha udah di nasehati untuk tidak macem-macem disana," pinta mamanya agar Ina tidak lupa untuk menasehati Cha.


"Iya ma, nih Ina lagi nunggu Cha mandi. Tar Ina nasehati Cha nya ya ma. Kalau gitu, Ina siap-siap dulu ya ma," ucap Ina.


"Iya nak," balas mamanya.


"Assalamu'alaikum ma," Ina pun menyudahi obrolannya.


"Wa'alaikumussalam nak," balas mamanya.


Tlp pun mati. Ina melihat Cha sudah selesai mandi. Lalu dia memanggil Cha untuk duduk dihadapannya.


"Cha, kemari lah. Kakak mau ngomong sama kamu sebelum balik ke Jakarta," pinta kakaknya.


"Iya kak," sahut Cha. Cha pun duduk dihadapan Ina. Dia menatap Ina dengan lekat.


"Cha, hari ini kakak berangkat. Kamu disini sendirian, tidak ada saudara sama sekali. Dan Shanti, maaf, kakak tidak bermaksud menjelekkan dia, tapi menurut kakak, alangkah baiknya kamu nanti ngekost aja. Jadi setelah beberapa minggu kamu kuliah, mulai lah cari kost-kostan. Untuk saat ini kamu tidak difasilitasi kendaraan. Jadi kamu ke kampus menggunakan angkutan umum. Kakak harap kamu bisa menjaga nama baik mama kita. Ingat Cha, jangan macam-macam di sini. Jangan terpengaruh sama kebebasan disini. Jaga diri baik-baik, ok," nasehat kakaknya yang sangat panjang.


"Iya kak, Cha akan ingat nasehat kakak. Cha tidak akan melakukan sesuatu yang membuat mama kecewa. Karena tujuan Cha kemari untuk sekolah, bukan untuk melarikan diri dari kungkungan mama," jelas Cha.


Ina pun memeluk Cha. Bagaimanapun Ina merasa bertanggung jawab terhadap adiknya selama di Jogja.


Lalu mereka pun keluar dari dalam kamar. Mereka menemui mamanya Shanti dan eyang. Ternyata mereka juga sudah menunggu Ina dan Cha di ruang tengah.


"Mau berangkat sekarang nak Ina?" tanya mamanya Shanti.


"Iya Tante. Saya mau menitipkan Cha disini. Tapi saya juga tidak bisa memaksakan Cha, jika nanti dia ingin ngekost. Mana tau Cha ingin tinggal dekat dengan kamousnya," terang Ina hati-hati, agar mamanya Shanti tidak kecewa.


"Oh iya gak apa-apa. Tante terserah Cha nya aja mana nyamannya," ucap mamanya Shanti dengan senyum ramahnya.


Ina pun berpamitan sama mereka semua. Mobil grab pun datang. Cha mengantar Ina ke bandara seorang diri. Karena Shanti beralasan ada urusan mau ke kampus. Jadi tidak bisa menemani Cha.


Dalam perjalanan, Ina banyak memberi nasehat kepada Cha. Dan dia juga mengingatkan tentang sikap Shanti. Tanpa terasa akhirnya mereka sampai juga di bandara. Mereka turun dari grab mobil dan masuk ke bandara. Ina berpamitan sama Cha. Dia menyuruh Cha agar pulang saja dari pada nungguin dia dibandara.


"Cha, kamu balik aja. Atau kamu cari-cari kost-kostan aja dari sekarang sebelum masuk kuliah. Cari di google aja, tar kamu naik gojek buat nyarinya," saran Ina agar Cha bergerak sekarang.


"Iya kak, kalau begitu aq balik ya, kakak hati-hati disana. Khabari kalau sudah sampai," ucap Cha.


Cha memeluk Ina dengan erat sebagai tanda perpisahan.


Lalu Cha keluar dari bandara dan naik gojek menuju Ambassador Mall. Cha ingin menikmati waktu sendirinya saat ini.


Sesampainya di Mall, Cha berkeliling-keling Mall, melihat outlet-outlet yang menjual berbagai pakaian dan yang lainnya.


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Cha dari belakang. Cha kaget, lalu menoleh kebelakang melihat siapa yang menepuk pundaknya.

__ADS_1


__ADS_2