Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Taruhan Ke dua Binyu


__ADS_3

"Apa kamu sangat penasaran denganku cantik..?" tanya tuan muda yang tak lain adalah Zain sahabat Binyu. Zain mendekatkan dirinya kearah Cha dari belakang, dia mencium aroma tubuh Cha yang wangi bunga lavender.


"Hemmm harum mu sangat menenangkan," ucap Zain sambil mengendus aroma tubuh Cha.


"Hei jangan kurang ajar kamu ya, lepaskan aq brengsek...," umpat Cha yang menghindar dari Zain.


Zain tersenyum melihat sikap Cha yang tidak takut sama sekali. "Gadis menarik," gumam Zain.


"Aq mohon tolong lepaskan aq. Aq harus pulang kerumah. Mama qu sudah menunggu dirumah," Cha memohon-mohon agar Zain berbaik hati untuk melepaskannya.


"Tentu aq akan melepaskanmu tapi ada syaratnya. Dan kamu harus memenuhi syarat nya," kata Zain yang memberikan syarat.


"Syarat katanya! Sial, jangan-jangan dia menginginkanku untuk memuaskan nya, oh tidak...!" bathin Cha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kenapa perempuan ini, apa dia pusing. Apa dia sedang membayangkan sesuatu? Hmm gadis aneh," bathin zain.


"Syarat apaan!" Cha membalikkan tubuhnya menghadap ke Zain hingga tatapan mereka bertemu.


Sesaat Cha terpesona dengan wajah tampan nya, bibirnya yang menggoda membuat Cha menelan salivanya. Begitu juga dengan Zain, dia terpesona melihat wajah Cha yang sangat cantik jika di lihat dari dekat. Zain juga melihat ke arah bibir Cha yang berwarna merah jambu sangat menggairahkan. Cha tersadar dari rasa terpesonanya dan dia berdehem.


"Ekhem.." Cha membuat Zain tersadar dari rasa terpesonanya.


"Apa kamu terpesona melihatku cantik?" Zain menaikkan-naikkan alisnya menggoda Cha.


"Cih.., pede banget. Siapa juga yang terpesona melihat wajah anda yang biasa aja," Cha memalingkan wajahnya sambil mundur beberapa langkah kebelakang.


"Kenapa wajahmu merah seperti tomat matang, hah?" goda Zain sambil menyunggingkan senyumnya sekilas.


"Itu bukan karena aq terpesona, tapi karena aq kesal, kenapa anda tiba-tiba berada dibelakang ku. Buat kaget orang aja," ketus Cha yang tidak mau menatap ke arah Zain.


Lalu Zain maju beberapa langkah kedepan mendekat ke arah Cha. Dan dia pun berbisik "Kamu mau tau apa syaratnya?" Zain semakin membuat Cha kesal karena penasaran.


"Udah cepatan apa syaratnya. Aq harus pulang kerumah. Aq gak mau orang tua qu mengkhawatirkan qu," Cha tidak sabar mendengar apa syaratnya.


"Heummm baiklah, sepertinya kamu orang yang tidak sabaran ya. Menarik juga. Syaratnya adalah aq ingin berkencan dengan mu setiap hari," bisik Zain di telinga Cha dengan suara lembutnya.


"Apa...!" SETIAP HARI...!! kamu pikir aq apa, enak aja. Aq gak mau!" protes Cha yang tidak setuju dengan syarat dari Zain.


"Kamu tinggal pilih, berkencan dengan ku setiap hari atau kamu tidak akan aq biarkan kembali kerumahmu," tegas Zain tanpa basa basi. Dia tersenyum sekilas melihat ekspresi wajah Cha yang sedang berpikir.

__ADS_1


"Gimana ini, hmmm sepertinya aq harus menuruti kemauannya saat ini agar aq bisa kembali ke rumah," pikir Cha sambil melirik ke arah Zain.


"Aq tidak setuju syarat dari anda, karena saat ini aq sedang ujian. Bagaiman bisa aq berkencan dengan tuan setiap hari. Aq juga tidak bisa setiap harinya pulang terlambat. Aq bisa dimarahi sama orang tua qu kalau setiap hari telat pulang, mmmm bagaimana kalau sabtu dan minggu kita berkencan," Cha berusaha bernegosiasi terhadap Zain sambil menatap serius kearah mata indah Zain.


Zain menatap mata Cha dengan mencari kesungguhan dari tatapannya sambil berpikir. "Mmmm baiklah, aq juga tidak mungkin membuat sekolahnya berantakan. Bagaimanapun dia cewek yang giat dalam menyelesaikan sekolahnya. Sungguh bodoh Binyu melepaskan cewek ini," Zain masih menatap ke arah Cha hingga dia berkata,


"Ok, aq setuju kita berkencan setiap sabtu dan minggu, aq akan menghubungi mu ketika kita mau berkencan," ucap Zain sambil mencolek dagu Cha.


"Bagaimana kalau kita mulai sekarang berpacaran, hmmm," Zain menawarkan Cha buat berpacaran, dia tersenyum manis dan menggoda kearah Cha.


Cha menatapnya dengan sangat tajam setajam silet, bagaimana tidak, laki-laki di hadapannya mengajak dia berpacaran. "Apa gw gak salah dengar ya, dia kan teman Binyu. Kenapa dia malah ngajak gw pacaran. Nih pasti akal-akalannya saja, benak Cha yang bergumam dengan pikirannya.


"Hei gimana, kita pacaran ya," sekali lagi Zain memintanya menjadi pacarnya.


"Anda sudah tidak waras ya, anda pikir saya barang yang pindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain, enak aja," ketus Cha berbicara dengan kasar.


"Loh why not...? Kamu dan Binyu kan sudah tidak ada hubungan lagi. Dan aq tertarik dengan kamu. Dimana salahnya?" tanya Zain yang serius.


"Udah anter aq pulang sekarang juga...! Kamu kalau mau main-main sana sama perempuan lain aja. Aq gak ada niat buat pacaran," ucap Cha dengan jengkel.


"Aq serius, dan aq juga tidak mau main-main," ucap Zain sambil memegang kedua bahu Cha.


"Ok ok kita pulang sekarang juga," Zain melepaskan tangannya sambil menggandeng tangan Cha keluar dari kamarnya.


Cha kaget dengan sikap Zain yang menggandeng tangannya. Dia pasrah saja, melawan juga gak ada gunanya karena Zain orang yang keras kepala.


Sosok Zain adalah lelaki yang memiliki wajah blasteran, kulit yang putih bersih, wajah tampan menawan dan tatapan yang sangat tajam dan jarang tersenyum. Selain itu Zain juga dikenal sosok yang kejam baik kepada laki-laki maupun perempuan. Namun ketika dia bertemu dengan Cha di dalam apartementnya, Zain merasa kan perasaan yang berbeda terhadap Cha. Zain sangat suka melihat mata Cha yang selalu teduh dan bibir yang mungil.


Saat itu Zain sedikit mabuk, dan dia masih sadar ketika bertemu dengan Cha. Dia merasa kesal karena gairahnya yang sudah memuncak harus terhenti karena kedatangan orang yang tak dikenalnya dan membawa Cha kabur. Dan kejadian itu membuat Zain mengumpat Cha habis-habisan.


Setelah pertemuan itu Zain merasakan sesuatu yang membuat dia ingin ketemu sama Cha lagi. Dia sendiri bahkan tidak tau apakah itu rasa penasaran ataukah rasa rindu.


Kembali lagi ke pada Zain dan Cha. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Zain akhirnya mengantar Cha pulang kerumahnya. Zain yang sudah mengetahui tempat tinggal Cha, tidak perlu menanyakan lagi kepada Cha. Selama perjalanan, Cha sibuk dengan pikirannya. Dia harus memutar otaknya agar bisa menghindari laki-laki yang berada disampingnya. Sedangkan Zain dia lebih fokus dengan pekerjaannya melalui ponselnya. Dia tidak memperdulikan Cha yang sedang melamun.


Suasana hening, hanya terdengar suara music yang sengaja di nyalakan oleh supir Zain untuk menghilangkan rasa sepi. Hingga pak supir menyampaikan kepada Zain bahwa mereka sudah sampai.


"Tuan, kita sudah sampai, saya akan memarkirkan mobil ini di depan gang atau di sini saja," ucap pak supir yang tidak menoleh ke belakang.


Zain yang tadinya fokus dengan pekerjaannya, akhirnya menoleh ke arah depan dan melihat gang rumah Cha. Zain pun menoleh Cha disamping nya. Dia melihat Cha masih asyik melamun hingga akhirnya dia menggoyangkan lengan Cha.

__ADS_1


"Cha, Cha jangan melamun terus. Tuh lihat kita udah sampai," kata Zain yang memberitahukan Cha.


"Hah...," Cha tersentak dan reflek bangkit dari tempat duduknya hingga kepalanya terbentur atap mobil, hingga dia menjerit.


"Awwww, kepala qu...!" teriak Cha kaget sambil mengelus-elus atas kepalanya yang sakit akibat terbentur.


"Hahahaha, makanya jangan melamun terus. Jadi gini nih, enak gak...," ledek Zain yang masih tertawa atas penderitaan Cha.


"Sialan, gw di ledekin sama nih laki-laki. Awas Lo ya, gw bakal balas nanti," umpat Cha yang kesal sambil menatap Zain dengan marah.


"Udah keluar sana, ingat Sabtu ini kita akan kencan. Jangan coba-coba kabur dari aq," ancam Zain sambil menahan tawanya. Dia tersenyum manis melihat kekonyolan Cha.


Cha keluar dari mobil Zain sambil mendengus kesal. Dia menendang mobil Zain meluapkan emosinya yang tidak bisa disalurkannya kepada laki-laki yang di dalam mobil. Cha berjalan memasuki gang rumahnya sambil mengomel-ngomel sendiri.


Sedangkan Zain masih berdiam di tempat nya, menunggu seseorang yang dia pastikan akan datang ke area rumah Cha. Selang beberapa jam datang lah sebuah mobil yang didalamnya ada Binyu. Zain melihat Binyu keluar dari mobil dan menyamperin Zain di dalam mobil. Binyu pun masuk ke dalam mobil Zain.


"Bagaimana berhasil," kata Binyu tanpa menoleh ke arah Zain.


"Ya dia memenuhi syarat dari qu," balas Zain tanpa ekspresi.


"Hahaha, hebat Lo kalau bisa memenangkan hatinya. Bagaimana kalau Lo kalah taruhan," kata Binyu menantang.


"Gw akan bebaskan Lo dari hutang Lo kepada gw, dan akan memberikan Lo bonus Apartement pribadi," kata Zain mantep tanpa penyesalan.


"Ok gw setuju," kata Binyu yang merasa senang karena dia yakin Cha tak akan tergoda dengan Zain.


"Bagaimana kalau Lo yang kalah taruhan bro?" tanya Zain menatap Binyu tajam.


Binyu gelagapan. Dia bingung mau jawab apa. Karena dia hanya memikirkan kemenangan dirinya tanpa berpikir gimana jika dia yang kalah.


"Aq akan membayar hutang-hutang ku dan melepaskan Cha selamanya," jawab Binyu tidak pasti.


Zain menyunggingkan sedikit bibir sampingnya. Dia mengangguk-anggukan kepalanya tanpa menoleh Binyu.


"Ok, kita deal! Udah sana Lo balik ke mobil Lo, urusan kita selesai. Lo tidak perlu ikut campur dengan apa yang gw lakukan terhadap Cha. Lo hanya mantau dari jauh saja, ngerti," mereka sepakat dengan taruhannya. Binyu pun keluar dari mobil sambil bersiul-siul. Dan tidak ada yang tau apa arti dari siulannya itu.


"Gw harus menang taruhan ini, seperti dulu, gw menang taruhan dari yang lain. Dan sekarang gw juga harus menang," gumam Binyu lalu bersiul-siul sampai dia masuk ke dalam mobilnya.


Dari seberang Zain melihat mobil Binyu sudah beranjak dari area rumah Cha. Zain juga meninggalkan area rumah Cha dan kembali ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2