
Mereka semua sedang berada di dalam rumah sakit. Zain sangat cemas, dia mondar-mandir di depan ruang ICU.
"Zain duduklah disini. Tenangkan dirimu," ucap Mamanya yang sedang duduk di kursi.
"Zain tidak bisa tenang Mom, dia hampir kehilangan nyawanya. Kalau tadi Zain tidak buru-buru masuk, mungkin Zain akan kehilangannya Mom. Zain gak mau itu terjadi," Zain menatap kearah pintu ruangan ICU.
Lalu tiba-tiba Dokter keluar dari ruangan itu dan memberitahukan bahwa keadaan Cha masih bisa diselamatkan. Dan syukurnya dia segera dibawa ke rumah sakit.
"De patiënt wordt onmiddellijk naar zijn kamer gebracht."
"(Pasien akan segera dipindahkan ke ruangannya)," ucap Dokter itu.
"Ok dokter, heel erg bedankt voor het helpen om haar te redden."
"(Baik Dokter, terima kasih banyak sudah membantu menyelamatkannya)," balas Zain dengan tulus.
"Het is onze plicht, ik zal mezelf eerst excuseren."
"(Itu sudah kewajiban kami, saya permisi dulu)."
Zain mengangguk. Mama dan Papanya Zain menghampirinya dan bertanya tentang Cha.
"Bagaimana keadaanya Zain? Apa yang terjadi?" tanya Mamanya merasa khawatir.
"Dokter mengatakan dia baik-baik saja Ma. Syukurnya cepat dibawa ke rumah sakit, kalau telat dikit bisa bahaya," jawab Zain sambil memeluk Mamanya.
"Sudah Zain, tenang. Dia tidak apa-apa. Ayo kita lihat keruangannya," ajak Mamanya.
"Iya Ma, Zain benar-benar takut kehilangannya. Zain sangat mencintainya."
"Kalau kau memang mencintainya, perjuangkan dia dan jangan biarkan orang lain memilikinya," dukung Mamanya.
"Makasih Ma, selalu mendukung Zain."
Mamanya langsung merangkul anaknya. Sebagai seorang Ibu, dia harus bisa membuat anaknya nyaman agar tidak terpuruk dengan keadaan yang sedang dialami Zain.
Mereka berjalan ke ruangan dimana Cha ditempatkan. Zain buru-buru masuk ke dalam ruangan itu. Dia melihat Cha masih belum siuman. Zain mendekati tempat tidur Cha dan mengusap lembut rambutnya.
"Cha cepatlah sadar. Aku sangat mencemaskan mu. Aku akan selalu ada untukmu," tak terasa Zain meneteskan air matanya.
"Oh sayang, come on jangan menangis seperti itu. Cha pasti akan baik-baik saja. Jika kamu bersedih, Cha pasti bersedih juga," protes Mamanya.
"Ya Zain, kamu harus bisa membantunya untuk keluar dari keadaan buruk yang dilaluinya," sambung Papanya.
Zain menatap kedua orang tuanya. Mereka sangat baik bahkan terlalu baik. Zain merasa beruntung memiliki orang tua yang sempurna.
"Mom, Pa, kalian kembalilah ke Hotel. Kasihan Oma disana menunggu sendirian," Zain mengusir orang tuanya agar beristirahat di Hotel.
"Baiklah Zain. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami. Kami juga mengkhawatirkan Cha," ucap Mamanya yang prihatin dengan kondisi Cha.
"Iya Ma," balas Zain.
Kemudian Mama dan Papanya keluar dari ruangan itu. Mereka kembali ke Hotel dimana mereka menginap.
"Menurut Mama, lebih baik Zain segera menikahi Cha. Mama hanya ingin Cha bahagia, Pa," ungkap istrinya saat berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Semua tergantung keputusan Cha. Papa rasa dia belom siap menerimanya. Apalagi kondisi dia yang sedang bersedih."
"Ya kau benar Pa, semoga Zain bisa memulihkan hatinya Cha. Kapan mereka akan kembali ke Indonesia Pa?" tanya Mamanya.
"Zain belom ada cerita. Mungkin setelah Cha sembuh, mereka akan kembali ke Indonesia," jawab suaminya.
"Hah, Mama pasti merindukannya. Dari awal pertemuan, Mama sudah jatuh hati dengan anak itu. Dia terlihat baik dan polos. Terkadang Mama heran dengan orang tua Cha. Kenapa bisa menelantarkan anak sebaik Cha tanpa kasih sayang," ucap istrinya dengan gelengan kepala.
"Dan Zain beruntung memiliki Ibu yang baik sepertimu. Dan aku juga beruntung memiliki istri yang baik sepertimu," puji suaminya.
Mamanya Zain tersipu malu karena mendapat pujian dari suaminya.
"Ahhh kau Louis sangat pinter sekali memujiku. Kau memang suami yang hebat bisa menjadikanku wanita satu-satunya dalam kehidupanmu," Mamanya Zain memeluk suaminya dengan erat.
Akhirnya setelah lama menempuh perjalanan, mereka sampai di Hotel. Mamanya dan Papanya Zain masuk dan menemui Ibu mereka di dalam kamar.
Di sebuah rumah sakit yang terkenal di Belanda, Zain masih setia menunggu Cha yang sedang berbaring ditempat tidurnya. Zain menatap Cha dengan wajah sendunya.
"Sayang, bukalah matanya, aku sangat merindukanmu. Walaupun dihatimu hanya dia yang kau cintai, tap demi aku bukalah matanya," Zain menggenggam tangan Cha sambil sesekali mengecupnya.
Tiba-tiba tangan Cha bergerak, Zain tersentak dan menatap kearah Cha.
"Sayang kamu sudah sadar? Kamu sadar."
"Dokter......"
"Suster......, tolong periksa pasiennya sadar," Zain keluar ruangan dan memanggil suster yang lewat. Dia lupa bahwa didekat tempat tidur pasien ada tombol untuk memanggil suster.
Lalu suster bersama Dokter masuk ke dalam dan melihat keadaan Cha. Dokter pun mulai memeriksa keadaan Meka.
"(Bagaimana keadaannya Dok)?" tanya Zain saat Dokter sudah selesai memeriksanya.
"Hij is wakker. Dankbaar dat hij het heeft gehaald. Nu kan meester het zien."
"(Dia sudah siuman. Bersyukurkah dia bisa melewatinya. Sekarang Tuan bisa melihatnya)," ucap Dokter itu.
Kemudian Dokter itu keluar dari ruangan meninggalkan Zain dan Cha.
Zain menghampiri Cha dan memasang wajah tersenyum. Walaupun dihatinya terasa miris melihat keadaan Cha yang terbaring.
"Zain, aku kenapa? Kenapa tanganku di infus seperti ini?" tanya Cha bingung.
"Kamu kenapa lama sekali dikamar mandi tadi?" tanya Zain balik.
"Aku lagi mandi Zain. Dan aku pengen berendam lebih lama hingga aku tertidur Zain," Cha menceritakan keadaannya di dalam kamar mandi.
"Ya sudah, kamu istirahat aja. Atau kamu mau makan sekarang biar aku pesan online aja."
"Aku laper Zain, dan pengen pulang ke Indonesia. Aku ingin bertemu adik-adikku Zain," pinta Cha.
"Iya, kita akan pulang setelah kamu sembuh ya sayang."
"Iya Zain."
"Kalau gitu aku pesan makanan buat kita. Dan tadi Mama minta di khabari kalau kamu udah siuman."
__ADS_1
"Mama dan Papa serta Oma tadi disini?" tanya Cha.
"Iya, tapi mereka sudah kembali. Sekarang aku mau pesan makanan dulu ya. Kamu masih bisa nahan laparnya kan?"
"Bisa Zain. Aku akan menunggunya."
Sesaat Zain melihat ponselnya dan menghubungi seseorang untuk membawakan makanan ke mereka. Setelah menghubunginya, Zain kembali menghampiri Cha.
"Zain, aku menyusahkan kalian ya?" Cha merasa tidak enak karena keluarga Zain harus terlibat dengan urusannya.
"Jangan bicarakan itu. Yang terpenting sekarang kamu harus sembuh. Dan ingat, kami tidak merasa dibebani ataupun disusahkan. Keluargaku menyayangimu Cha." ungkap Zain.
"Ya mereka sangat baik. Seandainya aku memiliki keluarga seperti itu, tentu saat ini aku bisa mengadu terhadap mereka. Tapi....," Cha menggantung ucapannya. Terlihat kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya.
Zain langsung memeluk Cha. Mendekapnya dalam pelukannya.
"Kamu akan mendapatkannya Cha dari keluargaku. Aku akan memberikan kebahagiaan untukmu. Jangan bersedih lagi ya," Zain mengecup kening Cha.
"Zain, kamu baik sekali. Aku gak tau harus membalasnya bagaimana. Dan aku terlalu buruk untuk kamu miliki. Aku bukan orang yang sempurna Zain, huhuhu," Cha terisak dalam dekapan Zain.
"Aku tidak meminta apapun untuk kamu membalas kebaikanku. Aku hanya ingin kamu menjadi bagian dalam hidupku. Hanya itu Cha, tidak yang lainnya."
"Kasih aku waktu ya Zain untuk memikirkannya. Aku tidak mau kamu menjadi pelarian bagiku. Aku ingin mencintaimu seutuhnya tanpa rasa balas budi," ungkap Cha yang masih terisak di dekapan Zain.
"Aku akan selalu menunggumu Cha."
Suasana ruangan hening sesaat hingga suara ketukan pintu membuat mereka melepaskan pelukannya.
"Aku lihat dulu ya siapa yang datang," Zain perlahan berjalan kearah pintu. Ternyata orang suruhannya datang membawa makanan.
"Ini Tuan makanannya," ucap bodyguard nya.
Zain menerima kotak makanan pesanan mereka. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam ruangan dan meletakkan kotak makanan itu.
"Apa itu Zain?" Cha melihat Zain meletakkan kotak dimeja depan tempat tidurnya.
"Ayo aku suapin kamu. Nih makanan yang tadi aku pesan. Kamu disitu aja, biar aku yang kesana dan nyuapin kamu," ujar Zain.
Zain pun mengambil makanan itu dan membawanya mendekat dengan Cha. Zain duduk disamping Cha dan mulai menyuapinya.
"Ayo buka mulutnya, kamu harus makan yang banyak," Zain mulai menyuapi Cha dengan hati-hati.
"Kamu tidak makan Zain?" tanya Cha.
"Nanti setelah aku selesai memberimu makan, baru aku makan. Kamu gak usah mikirin aku Cha. Yang terpenting kesehatan kamu sekarang," Zain memasukkan suapannya lagi.
Cha menikmati suapan dari Zain. Dia merasa senang karena mendapatkan perhatian dari orang lain ketika dia sedang sakit
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu pasti sudah mulai jatuh cinta kan sama aku," ucap Zain dengan percaya dirinya.
"Kamu itu, percaya diri banget. Aku hanya ingin melihat saja, bolehkan?"
"Tentu, kamu bebas menatapku bahkan sampai kamu puas Cha," ucap Zain dengan tersenyum.
"Aku mau minum Zain," pinta Cha.
__ADS_1
"Oh ya, aku lupa memberimu minum, maaf," Zain merasa salah.