
Zain memeluk Cha dengan sangat erat. Ini bagaikan mimpi yang berujung nyata.
"Ayo kita ke kamar Mama dan Papa. Mereka sudah menunggu kita," ajak Zain dengan hati yang bahagia.
"Iya Zain."
Zain membawa Cha masuk ke dalam kamar Mamanya. Di dalam kamar itu, Oma dan Mamanya menatap Meka dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Mom, Oma...kenapa wajah kalian seperti itu melihat Cha?" tanya Zain yang ternyata memperhatikan keduanya.
"Mama takut, kalau menantu Mama diambil orang lain," ucap Mamanya jujur.
"Iya sayang, Oma juga khawatir kalau Yoga merebut kamu kembali. Pasti Zain akan prustasi nantinya," sambung Omanya tanpa ragu.
"Oma....! Kenapa membuka kartu Zain?!" ucap Zain yang merasa malu dengan Cha.
"Kenapa? Dia akan menjadi istrimu Zain! Kenapa harus malu ataupun ditutupi."
"Iya sih Oma, tapi Zain kan malu. Meka jadi tau kalau Zain bisa jadi prustasi kalau ditinggal dia," balas Zain menundukkan wajahnya.
"Dia mirip seperti mu Pa. Lihat tingkahnya, apakah kau tak ingat dulu ketika memintaku dengan orang tuaku? Kau akan menundukkan kepala jika merasa malu," ucap Mamanya Zain sambil tersenyum.
"Oh sayang...itu sudah berlalu. Aku tidak seperti Zain," kilah Papanya Zain.
"Louis, jangan bilang kau tidak mengakui kalau Zain sangat mirip denganmu. Dia duplikatnya Louis!" seru Mamanya.
"Baiklah, aku mengakuinya. Mama dan Siti selalu kompak saat memojokkan ku," balas Papanya Zain.
Lalu mereka semua serentak tertawa melihat sikap Papanya Zain.
"Ayo kita berangkat. Dibawah sudah menunggu mobil untuk mengantar kita ke bandara," ajak Papanya Zain.
"Iya ayo sayang," sambung Mamanya Zain.
Zain menggenggam tangan Cha sampai ke lantai bawah. Dan mereka keluar dari Hotel itu lalu masuk ke dalam mobil menuju bandara.
Disofa pojokan, ada seseorang yang memperhatikan kepergian Cha dan yang lainnya. Hatinya hancur kala melihat genggaman tangan Cha yang terpaut ditangan Zain. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
"Semoga kamu bahagia yang. Aku akan mendo'akanmu dari sini. Biarlah aku menanggung kesalahanku sendiri disini. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun. Aku akan berdo'a semoga kita bisa dipertemukan dikehidupan selanjutnya, dan menjadikan kita sepasang suami istri yang harmonis," gumam Yoga.
Yoga menatap sendu kearah Cha. Dia melihat untuk terkahir kalinya Cha berada di Belanda. Hatinya benar-benar hancur, semua harapannya sudah sirna. Yoga berjalan lunglai menuju mobilnya. Dia tak bersemangat untuk kembali kerumah ornag tuanya.
Sedangkan di dalam mobil, Zain terus menggenggam tangan Cha. Dia tersenyum sepanjang perjalanan. Akhirnya dia berhasil memenangkan hati Cha.
Sesampainya mereka di Bandara, Zain beserta keluarganya naik ke Pesawat Pribadi mereka. Zain dan Cha masuk ke dalam ruangan tersendiri. Dimana hanya ada mereka berdua.
"Zain, aku sudah tidak sabar ingin pulang ke Indonesia. Aku rindu dengan keluargaku terutama adik-adikku," ucap Cha yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Iya sayang, dan aku juga sudah tidak sabar ingin menemui orang tuamu. Dan memintamu untuk menjadi istriku," balas Zain.
"Apa kamu tidak akan menyesal hidup bersamaku Zain? Aku bukan perempuan yang sempurna. Dan aku berasal dari keluarga Broken Home. Banyak keluarga laki-laki yang tak menginginkan menantu ataupun istri dari keluarga yang hancur," ucap Cha dengan wajah sendunya.
"Aku tidak seperti mereka sayang. Cintaku tulus untukmu. Aku tidak membutuhkan harta karena aku sudah punya banyak harta. Aku tidak butuh wanita cantik yang hanya akan menghabiskan hartaku dengan berfoya-foya. Aku butuh seseorang yang bisa menggunakan hartaku dengan bijak, dan kamu adalah wanita sederhana dengan tampilan menawan yang aku pilih untuk menjadi kekasih hidupku," ungkap Zain dengan ketulusan yang mendalam.
"Kamu berlebihan menilaiku Zain. Tapi aku beruntung mendaptkanmu Zain. Kamu laki-laki yang penuh kasih sayang," Cha memuji Zain.
Lalu Zain melangkah kehadapan Cha, dia menuntun Cha untuk berdiri. Zain memeluk pinggang Cha saat posisi mereka berdiri berhadapan. Cha tersipu malu dengan tatapan menggoda dari Zain.
"Zain, jangan menatapku seperti itu. Kau tau kalau aku akan merasa malu kalau kau menatapku dengan wajah seperti itu," ucap Cha .
"Aku suka menatapmu sayang. Apalagi menggodamu, kamu sangat menggemaskan," balas Zain
Lalu Zain memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke Cha, lalu melum** bibir manis Cha yang menjadi favoritnya. Mereka saling bertukar salivanya dan terus berpagutan dengan decapan-decapan yang terdengar merdu ditelinga menambah gelora yang semakin membara. Namun Cha segera melepas pagutannya.
"Sayang, kamu membuatku ingin cepat-cepat menikahimu. Aku takut lepas kendali jika seperti ini," ucap Zain lemas.
"Hehehe, bersabarlah Zain. Sebentar lagi kita akan menikah. Semoga keluargaku menerima semuanya dan tanpa rintangan," balas Meka menghibur Zain.
"Ayo kita keruangan Mama dan Oma. Mereka pasti sedang menunggu kita untuk kumpul bersama. Karena sebentar lagi akan makan malam," ajak Zain.
"Baik, ayo kesana."
Zain dan Cha berjalan kearah ruangan sebelah. Dimana keluarga Zain sedang ngobrol santai.
"Kami hanya membahas tentangmu Zain saat kecil dulu," jawab Mamanya.
"Sayang, ayo duduk disebelah Oma. Kamu jangan sering-sering berada di dekat Zain. Oma takut dia akan terus nempel bersamamu seperti perangko, hahaha," ledek Omanya sambil tertawa lepas.
"Oma...! Jangan ngeledek Zain," ucap Zain sedikit ngambek lalu dia duduk disebelah Omanya.
Cha juga duduk disebelah Omanya, karena permintaan Omanya. Cha merasa senang berada ditengah keluarga Zain yang harmonis.
"Kapan kalian akan kembali ke Indonesia Zain?" tanya Papanya.
"Setelah dua hari di Paris, kami akan segera berangkat ke Indonesia Pa," jawab Zain.
"Ya, lebih cepat lebih baik. Papa akan sangat senang jika kau secepatnya menemui orang tua Cha," ucap Papanya Zain.
"Pasti Pa, Zain akan segera menemui keluarga Cha. Hanya saja Zain sedikit khawatir Pa, apakah keluarga Cha akan merespon keinginan Zain?" tanya Zain sambil menoleh kearah Cha.
"Menurut kamu gimana sayang? Apakah keluargamu akan menerima keinginan kalian?" tanya Mamanya Zain kepada Cha.
"Maaf Ma, Cha tidak bisa memastikannya. Apalagi saat ini Mama Cha dalam keadaan yang tidak nyaman. Cha juga khawatir dengan keinginan Zain," jawab Cha yang merasa khawatir juga.
Zain dan yang lainnya terdiam. Mereka saling menatap dan sibuk dalam pikiran masing-masing. Terutama Zain, dia berpikir keras untuk langkah yang akan diambilnya.
__ADS_1
"Menurut Papa, karena sebagai orang tua laki-laki, lebih baik Cha menyelesaikan kuliahnya dulu. Setelah itu Zain akan menemui keluarga Cha, bagaimana?" tanya Papanya Zain yang memberi sarannya.
"Itu terlalu lama Pa, Zain ingin segera menikahi Cha. Zain tidak mau menunggu lama-lama membiarkan Cha jauh dari Zain," jawab Zain.
"Kamu itu gak sabaran banget sih Zain. Oma rasa apa yang dikatakan Papa kamu ada benarnya. Oma setuju dengannya," balas Omanya.
"Kalau menurut Mama, kasih waktu untuk Mama Cha yang masih dalam keadaan tak baik. Biarkan beberapa bulan. Setelah itu Zain bisa menemui keluarga Cha, gimana Zain?" tanya Mamanya yang juga ikut memberi saran.
"Kalau saran Mama, Zain lebih setuju. Zain akan memberikan waktu untuk keadaan Mamanya Cha. Setelah itu Zain akan melihat kondisi di Medan bagaimana. Jika memungkinkan, Zain akan datang meminta Cha kepada orang tuanya," ucap Zain yang menyetujui saran Mamanya.
"Oma juga setuju dengan saran dari Mamamu Zain. Biarkan Mamanya Cha tenang dengan keadaan yang baru dilaluinya. Oma akan berdo'a untukmu pangeran kecilku," ucap Omanya dengan mengusap lembut rambut cucunya.
"Oma sudah lapar sayang, ayo kita makan," ajak Omanya yang menghentikan obrolan mereka.
"Sepertinya makan malam sudah disiapkan Ma," ucap Mamanya Zian.
"Ayo kita makan malam dulu. Setelah itu kita istirahat kembali," ajak Papanya Zain.
"Baik Pa," balas Zain.
"Ayo sayang, kamu pasti juga sudah lapar kan?" tanya Omanya kepada Cha.
"Iya Oma," jawab Cha malu-malu.
Mereka pun keluar ruangan menuju ruang makan. Dimana sudah terhidang makanan yang banyak. Cha melihat meja makan yang penuh dengan berbagai makanan, hingga dia bingung mau makanan yang mana.
Zain menyodorkan menu yang cocok dengan selera lidah Cha. Karena Zain tau kalau Cha tidak cocok dengan menu makanan yang ada.
Cha merasa senang karena Zain mengerti dengan kebingungannya. Cha akhirnya bisa makan dengan nyaman.
Setelah selesai makan malam, mereka kembali keruangan masing-masing. Zain dan Cha kembali ke kamar mereka. Di dalam kamar Cha membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia merasa lelah dengan pikirannya.
"Sayang, kamu istirahatlah, aku mau mengerjakan pekerjaan dulu," ucap Zain.
"Iya Zain. Apa kamu tidak ingin beristirahat juga?" tanya Cha.
"Nanti saja saat sudah sampai di Mension. Ada yang harus aku selesaikan."
"Baiklah, kalau kamu letih, istirahatlah Zain," Cha memberikan perhatiannya yang tulus.
"Pasti sayang."
Lalu Cha pun memejamkan matanya untuk beristirahat hingga dia terlelap dengan nyenyaknya.
Zain menoleh kearah Meka, dia melihat wajah Meka yang sangat sendu. Ada kesedihan yang terlihat diwajahnya. Zain mendekati Cha dan mengecup kening Cha dengan lembut.
"Selamat tidur calon istriku tersayang," ucap Zain pelan.
__ADS_1
Lalu Zain kembali mengerjakan pekerjaannya. Zain menghubungi Asisstentnya untuk memberitahukan tentang kedatangannya malam ini. Setelah selesai menghubungi Asisstentnya, Zain naik ke tempat tidur dan ikut membaringkan tubuhnya disamping Cha. Dia memeluk Cha hingga terlelap bersama Cha.