
Cha dan Zain bertemu dengan Dewi dan Rudy. Mereka kembali ke Jogja menjelang sore hari. Sepanjang jalan, Dewi dan Cha tak henti-hentinya membuat guyonan yang membuat mereka berada di dalam mobil tertawa terbahak-bahak.
"Cha, kapan Lo balik ke Medan?" tanya Dewi dengan serius.
"Kemungkinan minggu ini gw balik Wi. Karena seminggu lagi pestanya di adakan," jawab Cha.
"Gw pengen menghadiri pesta Lo. Tapi...," Dewi menghentikan ucapannya.
Cha mengerti kenapa Dewi berhenti, dia langsung menyambar ucapan Dewi.
"Kalau Lo emang berniat datang ke pesta gw, biar Rudy yang ngurus nantinya. Gimana?" tanya Cha.
"Ah gak usah Cha. Gw gak enak ngerepotin Lo terus," balas Dewi.
Padahal Dewi sangat menginginkan menghadiri pesta Cha. Namun dia tau diri untuk tidak memaksa Cha membantunya.
Rudy menyadari kalau Dewi tidak memiliki dana untuk berangkat ke Medan. Lalu dia berinisiatif memberi bantuan ke Dewi.
"Kalau kamu pengen menghadirinya, datanglah Wi. Aku akan meminta izin dengan Ibu. Aku akan mengurus semuanya," Rudy menyambung ucapan Cha.
"Nah tuh Wi sudah dapat sinyal dari Rudy. Jangan menolaknya loh Wi!" seru Cha senyum.
"Mmm, baiklah Cha, aku akan datang bersama Rudy. Iya kan Rud?" ucap Dewi meminta dukungan Rudy.
"Tentu kita akan datang," balas Rudy.
Sepanjang jalan mereka menikmati perjalanan ke Jogja. Setelah memakan waktu sejam lebih, mereka akhirnya sampai di rumah.
"Hah, akhirnya kita sampai juga," ucap Cha mengenal nafas legah nya.
"Iya Cha, gw letih banget hari ini," balas Dewi.
Mereka keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Sayang, Abang langsung ke kantor aja ya dengan Rudy."
Zain langsung berpamitan dengan Cha ke kantornya. Dia akan menyelesaikan urusannya di kantor. Karena ada beberapa hal yang harus di kerjakannya.
__ADS_1
"Iya, nanti kalau udah selesai, kembalilah ke sini. Aku akan menunggu di sini," balas Cha.
"Iya sayang, Abang berangkat dulu ya," Zain pun pergi meninggalkan Cha.
Setelah Zain pergi, Cha masuk ke dalam rumah. Dia berjalan ke arah kamarnya untuk beristirahat. Cha membersihkan tubuhnya yang sudah lengket. Setelah selesai, dia segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Awalnya Cha hanya memejamkan matanya, tapi lama kelamaan, Cha pun terlelap.
Malam pun tiba, Cha bangun dan melihat Zain belum juga kembali. Cha melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Lalu Cha mengambil ponselnya dan mengeceknya. Namun tidak juga ada panggilan atau pesan yang masuk.
"Apa dia sibuk banget ya sampai gak sempat ngirim pesan khabar?" gumam Cha gelisah.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Dewi masuk dan menghampiri Cha.
"Cha, gw coba menghubungi Rudy tapi tidak di angkat juga. Kok perasaan gw gak nyaman ya?" tanya Dewi yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Cha.
"Deg," jantung Cha seketika berhenti, dia menatap Dewi dengan serius.
"Kenapa Dewi memiliki perasaan yang sama ya? Apa jangan-jangan, ah tidak mungkin. Astaghfirullahal'adzim kenapa gw mikirnya jelek begitu ya," bathin Cha bergemuruh.
"Kenapa Lo diam aja Cha? Lo udah coba menghubungi Zain?" tanya Dewi yang menyadarkan Cha dari pikirannya.
"Hah, eh iya, gw juga belum dapat khabar Wi," jawab Cha. "Emang dari kapan Lo menghubungi Rudy?" tanya Cha.
Cha pun menggeleng, karena dia juga belum mendapat khabar dari Zain.
"Tunggu, gw coba menghubunginya dulu," ucap Cha. Lalu Cha menekan nomer Zain, namun ponselnya gak aktif. Cha pun semakin khawatir dengan Zain.
"Gak diangkat Wi," infonya.
"Terus gimana dong. Apa Lo tau kantornya di mana? Ini sudah jam delapan lewat Cha. Apa mereka lembur ya?" tanya Dewi khawatir.
"Gw juga gak tau Wi. Karena Zain tadi bilang dia akan kembali. Dia minta gw menunggunya," jelas Cha.
"Terus gimana dong? Apa kita tunggu aja ya, sapa tau mereka memang sibuk," balas Dewi.
"Ya Wi, kita tunggu aja. Sekarang kita lebih baik makan dulu. Karena perut gw udah laper," ajak Cha.
"Gw gak tenang Cha. Gak selera makan gw."
__ADS_1
Sebenarnya Cha juga gak tenang, tapi dia mencoba menguasai dirinya agar tidak berlebihan kalutnya. Cha mencoba membuat dirinya tenang. Dia berharap semoga Zain baik-baik aja.
"Ayolah Wi, kita harus makan. Nanti kalau kita sakit gimana? Masa mereka ngurusin kita? Padahal kita sedang mengkhawatirkan mereka," ucap Cha yang memberi pandangan terhadap Dewi.
"Iya gw akan makan, tapi dikit aja." Dewi benar-benar tidak berselera makan saat ini. Dia masih belum tenang sebelum Rudy ada di hadapannya ataupun memberinya khabar.
Keduanya keluar dari dalam kamar. Mereka berjalan ke arah meja makan. Si Bibi sudah menyiapkan makan malam untuk empat orang. Piring sudah ditata rapi sesuai tempat duduknya. Namun saat ini Zain dan Rudy tidak ada. Yang ada hanya Cha dan Dewi.
"Loh Mbak Cha, Tuan Zain dan Mas Rudy belum kembali?" tanya si Bibi yang tidak melihat adanya Zain dan Rudy.
"Iya Bi, mereka belum kembali. Mungkin sebentar lagi," jawab Cha yang mencoba menghibur dirinya sendiri dengan meyakinkannya bahwa Zain akan kembali.
"Oh kalau gitu Bibi ke dapur dulu ya Mbak," pamit si Bibi.
"Iya Bi," balas Cha.
Cha dan Dewi tak berselera makan, tapi mereka tetap mengambil nasi sedikit untuk di nikmati. Di meja makan tak ada satupun diantara mereka yang berbicara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Cha tidak fokus dengan makanan di atas piringnya. Dia tidak menyadari kalau makanan di atas piringnya sudah berantakan.
Si Bibi yang datang membawakan potongan buah, terkejut melihat piring Cha yang sudah berantakan.
"Mbak Cha, kenapa nasinya di berantakan?" tegur si Bibi.
Cha dan Dewi terkejut, mereka menunduk dan melihat piring masing-masing dalam keadaan berantakan.
"Owh ya ampuuun, kenapa bisa begini?" gumam Cha yang tak menyadarinya.
"Mabk Cha biar saya bereskan piringnya. Mbak bisa pakai piring Tuan Zain yang masih kosong saja," saran si Bibi.
Cha melihat kursi yang kosong, seharusnya kursi itu saat ini di duduki oleh Zain. Tapi orangnya belum juga datang. Cha menghela nafas beratnya.
"Iya Bi, maaf ngerepotin Bibi," sesal Cha.
"Gak apa-apa Mbak. Emang Mbak Cha mikirin apa sampai segitunya," ucap si Bibi.
"Saya mikirin Zain, Bi. Dari tadi belum kasih khabar. Di hubungi tidak aktif nomernya Bi," jelas Cha.
"Coba lagi aja Mbak, sapa tau lagi di cas," hibur si Bibi.
__ADS_1
"Ah iya Bibi benar. Sapa tau memang lagi di cas ya tadi," ulang Cha menghibur dirinya sendiri berharap itu benar adanya.
Cha pun mencoba menghubungi kembali, tapi tetap saja tidak aktif. Cha dilanda kegelisahan.