
Cha menyudahi obrolannya dengan Zain. Dia bahagia sekaligus sedih. Karena sikap keluarganya yang mempunyai niat tidak baik dalam menerima keinginan Cha.
Cha pun membaringkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, dia merenungkan masalah yang sedang dihadapinya.
"Apa aku harus menghubungi Papa ya, minta restunya dan ngomong sama beliau. Sapa tau, Papa bisa menghentikan kegilaan sikap dari Mama dan Kakaknya. Tapi besok aku akan ngobrol dulu sama Sika. Mungkin dia bisa memberiku pendapat," gumam Cha.
Cha pun mencoba memejamkan matanya, hingga dia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Pagi menyapa, sinar matahari menerangi bumi. Memberikan cahaya yang alami. Cha terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Tok tok tok, kak....! Ayo bangun, sarapan dulu," panggil Sika.
Cha bangun dan duduk diatas tempat tidurnya. Dia masih belum sadar sepenuhnya. Cha mengucek matanya dan meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Bentar Sika, nanti kakak nyusul ya," sahut Cha dari dalam kamarnya.
"Ya udah Sika duluan kak," balas Sika dari luar.
Cha beranjak dari tempat tidurnya dan dia berjalan masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, Cha keluar dari kamarnya. Dia melangkah malas me arah meja makan.
Saat Cha sampai di meja makan, dia melihat Mama dan Kakaknya yang sedang tersenyum bahagia. Ntah apa yang sedang mereka rencanakan. Raut wajah mereka menggambarkan kegembiraan.
"Kak sini, duduk dekat Sika aja," ajak Sika yang menyuruh Cha duduk disebelahnya.
Cha berjalan ke kursi yang berada disebelah Sika. Lalu dia mengambil nasi sarapan paginya.
"Cha, kapan rencananya orang tua Zain datang kerumah kita?" tanya Mamanya tersenyum penuh arti.
"Katanya sih besok Ma. Kenapa emangnya Ma?" tanya Cha curiga.
"Iya, Mama pengen kenal sama calon besan. Apalagi Zain terlihat tampan dan sepertinya dari keluarga yang tajir. Jadi Mama harus menyambut mereka dengan sempurna," jawab Mamanya.
"Mereka biasa aja Ma. Tidak ada yang spesial dari keluarga Zain," ucap Cha yang mencoba menekan Mamanya agar tidak berlebihan.
"Masa sih? Gayanya bagus begitu. Terus Mama lihat dia juga berpakaian terlihat mahal. Tentu keluarganya kaya raya bukan?" tanya Mamanya yang tak tau malu.
"Emangnya kenapa Ma, kalau keluarganya kaya raya?" tanya Cha memicingkan matanya.
"Ya Mama senang aja punya besan kaya raya," kilah Mamanya.
Cha tak meneruskan obrolannya. Dia menghabiskan sarapannya dengan cepat. Dia males berhadapan dengan keluarganya yang sudah diketahuinya kebusukan mereka.
"Ma, Cha duluan ya. Oh ya, nanti Zain akan kesini. Kami mau keluar jalan-jalan Ma," ucap Cha memberitahu.
"Ya udah gak apa. Mama suka kalau dia datang kesini menjemput kau," balas Mamana.
"Iya Ma."
__ADS_1
Cha meninggalkan Mamanya dan Kakaknya Ina serta adiknya yang masih berada di meja makan.
"Ada apa dengan dia Ma? Kenapa wajahnya jutek begitu ngelihat Ina?" tanya Ina penasaran.
"Ya mungkin dia lagi ada problem saya calonnya itu. Udah ayo lanjutkan makan kalian," suruh Mamanya.
Sebenarnya Mamanya juga merasakan perubahan sikap Cha. Namun dia tak memperdulikannya. Karena dia hanya memikirkan bagaimana bisa menikmati uang keluarga Zain. Dengan begitu, Mamanya Cha tidak perlu susah-susah nyari uang.
Setelah mereka selesai sarapan, masing-masing masuk ke dalam kamar. Ina memilih nonton di ruang TV sendirian. Sedangkan Sika menghabiskan waktu libur dengan beres-beres kamar.
Cha menghampiri Sika di kamarnya.
"Tok tok tok, Sika! Boleh Kakak masuk?" tanya Cha.
"Masuk aja kak, gak dikunci kok," jawab Sika dari dalam kamarnya.
Cha membuka pintu kamar Sika. Dia melihat adiknya sedang merapikan isi kamarnya.
"Wah lagi ganti model ruangan nih," ucap Cha.
"Iya kak, sesekali pengen ganti suasana dekorasi barang-barangnya," balas Sika.
"Kakak ngeganggu gak?" tanya Cha pura-pura.
"Nggak kok kak. Jangan ngomong seperti itu," Sika cemberut.
"Udah selesai kok kak. Tinggal meja tadi aja yang belum dipindahin," jawab Sika.
"Kak, nanti aku boleh gak ikut sama Kakak. Tapi aku pengen ngajak temanku jalan keluar," pinta Sika.
"Teman kamu cewek apa cowok nih?" tanya Cha.
"Cewek dong kak....! Kita pergi bareng ke Mall habis sampai disana, kita berpisah. Sika bosen dirumah kak, please.....boleh ya?" Sika berusaha membujuk Cha.
"Mmmmm, baiklah. Kakak akan kirim pesan dulu sama kak Zain. Biar dia tau untuk mengajakmu juga," balas Cha.
Cha dan Sika ngobrol di dalam kamar Sika. Namun dia lupa akan niatnya datang ke kamar Sika akibat sikap Sika yang penuh dengan candaan.
Setelah selesai membantu Sika merapikan barang-barangnya, Cha kembali ke kamarnya untuk mandi. Dia tidak mau kalau Zain menunggu lama nantinya.
Cha masuk ke kamar mandi untuk mandi. Dia mulai bersenandung di dalam dengan gembiranya.
Setelah selesai mandi, cha duduk di depan TV yang berada di kamarnya.
Jam terus berganti, cha menunggu kedatangan Zain siang ini. Cha menunggu Zain hingga dia terlelap tertidur di sofa.
"Tok tok tok, kak...ada kak Zain di depan tuh," panggil Sika.
__ADS_1
Cha yang sudah terlelap, tak mendengar adanya panggilan dari Sika.
Lalu Sika membuka pintu kamar Kakaknya. Dan mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan kamar Cha. Sika terus masuk ke dalam mencari keberadaan Cha. Ternyata dia melihat Cha sedang tertidur pulas di sofa.
"Kak, itu ada kak Zain di teras sana!" ucap Sika yang membangunkan Kakaknya.
"Cha tersentak dan membuka matanya. Dia melihat Sika yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa dek?" tanya Cha.
"Kak, diluar sana ada kak Zain. Dia sudah datang," jawab Sika memberitahu.
"Oh ya. Mama dimana?" tanya Cha lagi.
"Kayaknya di depan juga dengan kak Zain. Udah samperin sana," suruh Sika sambil menarik tangan Cha.
"Iya, bentar, Kakak baru bangun nih. Wajah Kakak dah rapi gak? Gak kelihatan kan baru bangun tidurnya?" tanya Cha mendekatkan wajahnya ke Sika.
"Udah cantik kok kak, ayo buruan!" paksa Sika.
Lalu Cha dan Sika keluar dari dalam kamarnya. Mereka berjalan ke teras untuk menemui Zain. Cha mendengar Mamanya sedang ngobrol dengan Zain. Seketika Cha berhenti, kala mendengar pertanyaan Mamanya tentang uang langkahan yang akan di minta Kakak-kakaknya.
Cha menoleh ke Sika yang berada disampingnya. Lalu dia menatap ke depan.
Sika yang mengerti kecemasan Kakaknya, mencoba memberikan ketenangan melalui genggaman tangannya.
"Ayo kak kita samperin kak Zain," ajak Sika.
Cha keluar ke teras menemui Zain. Cha melihat raut wajah Mamanya yang tak suka karena obrolan mereka harus terhenti karena kedatangan Cha.
"Zain, kamu dah lama?" tanya Cha basa basi.
"Baru aja kok Cha," jawab Zain.
"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Cha lagi.
"Oh ya, aku ingin ngajak Sika ikut sama kita. Dan Mama kamu sudah mengizinkannya. Gimana?" tanya Zain pura-pura.
"Oh ya udah kita ajak. Tuh Sika di dalam. Aku temui dulu ya," ucap Cha. Lalu dia masuk ke dalam menemui Sika.
"Sika ayo siap-siap. Katanya mau ikut!" ucap Cha.
"Iya kak bentar. Nih udah mau selesai kok. Kakak duluan aja ya. Siak bentar lagi nyusul," balas Sika.
"Ya udah, kak tunggu di depan. Jangan lama-lama ya," ucap Cha lagi.
"Siap kak."
__ADS_1
Lalu Cha kembali ke teras menghamoiri Zain dan Mamanya.