
Pak Yos masuk ke dalam mobil dan melihat ke arah mereka berempat.
"Waduh bahaya itu den temannya. Ganteng-ganteng tapi mucikari," cetus pak supir.
"Iya pak, syukur tadi bapak ke sana dan kami mendengar pembicaraan mereka. Kalau gak, mana mungkin kita bisa tau apa yang dilakukan Binyu selama ini," kata Bimo.
"Ya udah pak sekarang kita jalan. Antar Dewi dan Cha dulu kerumahnya," Yoga menyuruh pak supir untuk pergi dari supermarket itu.
"Siiip den," jawab pak supir yang langsung menjalankan mobilnya.
"Eh Cha, lebih baik Lo ganti no deh. Biar dia tidak bisa lagi menghubungi Lo," saran Bimo.
Cha melihat kearah Yoga meminta pendapatnya melalui matanya. Yoga pun mengangguk kan kepalanya tanda dia menyetujui usul Bimo.
"Besok sepulang sekolah, kita cari no yang bagus yang kamu suka ya yanx," kata Yoga yang duduk disamping Cha.
"Mmmm, aq boleh ikut gak besok. Aq pengen ganti casing handphone nih..," Dewi ikut menimbrung.
"Lo sama gw aja Wi, kebetulan gw juga mau ganti casing nih. Biar sekalian gw anter Lo pulang. Lagian gw dah lama gak ketemu bunda dirumah, kangen juga," Bimo menjawab ucapan Dewi.
"Yeeeeee, Lo kalau mau ketemu bunda datang aja sendiri. Ngapain musti sama gw, ogah banget deh," celetuk Dewi dengan wajah sewotnya.
"Nanti gw tlp bunda buat minta izin besok nemani Lo nyariin casing," Bimo melihat Dewi kebelakang dan menaik-naikan alisnya.
"Isssssh apaan sih Bim, ngeselin banget sih," Dewi memanyunkan bibirnya cemberut bercampur kesal dengan tingkah Bimo.
Mereka pun diam tanpa ada yang berbicara satupun. Hingga mobil sampai duluan ke rumah Dewi.
"Dah sampai Wi, gih turun sana," usir Bimo becanda.
"Iya iya, gw turun nih. Ga makasih ya udah anter aq," kata Dewi tersenyum manis.
"Iya Wi," jawab Yoga singkat.
"Udah...buruan, gw mau pulang nih..," protes Bimo.
"Sana Lo...pulang duluan naik gojek. Gw mau lama-lama disini," kesel Dewi.
"Ya udah Wi, kami jalan lagi ya, tar Cha kesorean pulangnya," Yoga menjadi penengah antara Dewi dan Bimo.
"Oh iya Ga, hati-hati ya dijalan," sampai ketemu besok," Dewi melambaikan tangannya kepada Yoga dan Cha. Sedangkan ke Bimo, dia mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya.
Mobil berjalan meninggalkan area rumah Dewi. Sekarang tujuan mereka mengantar Cha pulang kerumahnya.
"Ga, kayaknya Lo harus hati-hati deh sama Binyu mulai sekarang. Sapa tau dia penasaran dan cari tau tentang Lo," kata Bimo ketika mereka dalam perjalanan.
"Heum, itu sudah gw pikirkan Bim. Lo tenang aja, semua tak ada jejak kok. Orang suruhan om gw bekerja dengan sangat rapi," jelas Yoga.
"Syukurlah. Walaupun gitu Lo harus hati-hati Ga," Bimo tetap mengingatkan Yoga.
"Iya Bimo....," kata Yoga.
Bimo tidak tau kalau Yoga selalu dijaga oleh bodyguardnya. Para bodyguardnya memang sengaja tidak berdekatan dengan Yoga. Mereka agak menjauh dengan berpakaian biasa saja agar tidak mencolok.
Akhirnya mobil pun sampai kerumah Cha. Pak supir memarkirkan mobil di tempat biasa.
"Ayok Cha, aq anter kamu sampai dekat rumah," kata Yoga mengajak Cha turun.
__ADS_1
"Bim, tunggu sebentar disini ya. Gw anter Cha dulu sampai dekat rumahnya," kata Yoga kepada Bimo.
"Ok Ga, gw selalu setia bersama pak Yos disini menunggu," jawab Bimo.
Mereka berdua berjalan ke arah rumah Cha. Mobil parkir di dekat masjid arah jalan belakang rumah Cha. Yoga selalu menjemput dan mengantar Cha lewat jalan belakang. Sampai di belakang gang rumahnya, ketika mau masuk kedalam gang, Yoga menarik tangan Cha.
"Berhenti Cha," kata Yoga spontan. Yoga menarik Cha agar bersembunyi dibalik tembok rumah orang.
"Ada apa Ga, kenapa gak lanjut jalannya?" tanya Cha heran.
"Tuh lihat didepan gang ada Binyu dan Zain," kata Yoga menunjuk ke arah depan gang rumahnya.
Cha mengintip sedikit dari tembok rumah orang. Dia melihat Binyu dan Zain berdiri di depan gang rumahnya.
"Mau apa mereka Ga..., ya ampuuun. Kenapa mereka masih meneror gw gini ya," kata Cha yang bingung.
"Mungkin mereka hanya memastikan saja, apakah kamu pulang sama aq atau nggak, makanya mereka nunggu disitu," kata Yoga.
"Trus ini gimana dong Ga, kan gak mungkin kita berdiri disini terus. Gak enak sama orang disini Ga," Cha masih mengintip keberadaan Binyu, ternyata Binyu dan Zain sedang berjalan ke arah mereka.
"Ga mereka kemari, ayok kabur dari sini..," kata Cha ketakutan.
"Lebih baik kita kembali ke mobil aja Cha, nanti kita pikirkan didalam mobil, ayok cepatan...," Yoga mengajak Cha kembali ke mobil sambil berlari.
Bimo melihat Cha dan Yoga berlari terburu-buru kembali ke arah mobil. Dia heran melihat mereka berdua.
"Loh, kenapa mereka kembali kemari pak?" tanya Bimo kepada pak supir.
"Siapa den?" tanya balik pak supir.
"Tuh Yoga dan Cha kok balik lagi," kata Bimo lagi.
Yoga dan Cha masuk ke dalam mobil dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ayok pak cepatan jalan ke arah depan rumah Cha, buruan...!" teriak Yoga kepada pak supir.
Pak supir yang mendengar teriakan Yoga langsung, tancap gas ke arah jalan depan rumah Cha.
"Ga, itu mobil Binyu. Ngapain kita kesini?" tanya Bimo.
"Pak kita parkir di dalam mesjid itu aja cepatan," kata Cha yang terlihat takut.
"Emang gak apa mbak parkir dalam mesjid?" tanya pak supir.
"Nggak pak, udah biasa kok di dalam masjid ada yang parkir karena memang untuk lahan parkir. Tapi nanti parkir agak kedalam ya pak," kata Cha yang masih tidak tenang.
Mobil pun masuk ke dalam masjid untuk parkir. Kemudian Yoga keluar dari dalam mobil, namun dicegah oleh Bimo.
"Lo mau kemana Ga?" tanya Bimo.
"Gw mau lihat mereka Bim," kata Yoga.
"Gila Lo, mending pak supir aja yang keluar melihat keadaan di depan gang rumah Cha. Kita tunggu disini aja," saran Bimo.
"Iya den, biar bapak aja yang kesana. Bapak bisa pura-pura berkunjung kesalah satu rumah yang ada didalam gang," kata pak supir yang membenarkan ide saran dari Bimo.
"Mmmm, baik lah pak. Hubungi saya kalau bapak melihat Binyu dan temannya ada dimana," kata Yoga.
__ADS_1
"Siip den," pak supir keluar dari mobil dan berjalan santai ke arah gang rumah Cha. Ketika memasuki gang, ternyata di ujung gang rumah Cha, berdiri Binyu dan temannya. Pak supir terus berjalan santai dan tak melihat kearah. Pak Yos berhenti di masing-masing rumah sambil meletakkan sebuah brosur di pagar rumah. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan terhadap Binyu.
Binyu yang melihat dari jauh ada laki-laki paruh baya meletakkan brosur yang dipegang ditangannya, tidak merasa curiga. Justru dia menganggap itu adalah salesman. Ketika pak supir meletakkan brosur tersebut di pagar rumah Cha, saat itu juga Binyu dan Zain berada di depan rumah Cha.
"Ini rumah cewek itu zain," kata Binyu yang melihat kearah rumah Cha.
"Heumm besar juga rumah nya. Ternyata anak orang kaya nih cewek. Sepertinya menarik," gumam Zain.
Pak supir sempat mendengar obrolan mereka sekilas. Dia sengaja berjalan pelan agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Aq akan mencari tau tentang perempuan itu. Kenapa sampai dia bisa mengenal Binyu," pikir Zain.
Binyu dan Zain berjalan meninggalkan rumah Cha dan kembali ke mobil.
Sedangkan pak supir masih berpura-pura meletakkan brosur-brosur yang dipegangnya. Setelah Binyu agak menjauh, pak supir berbalik arah. Dia pun menyusul berjalan di belakang mereka.
Binyu dan Zain sampai di depan mobil. Lalu mereka masuk ke dalam dan meninggalkan area ruang Cha.
Pak supir pun kembali ke dalam mobil. Yoga dan yang lain menatap penuh tanya kepada pak supir.
"Bagaimana pak, apa mereka sudah pergi?" tanya Cha yang tidak sabar.
"Sudah mbak. Barusan mobil nya pergi dan mungkin sudah keluar dari area ini," kata pak supir.
"Oh ya tadi ketika saya berhenti di salah satu rumah besar dan meletakkan brosur, saya mendengar si Binyu dan teman nya berbicara," kata pak supir.
"Emang dia bilang apa pak?" tanya Bimo penasaran.
"Ini dia rumah cewek itu," kata si Binyu kepada temannya, den
"Terus temannya memperhatikan rumah tersebut. Tapi saya tidak tau den itu rumah siapa," pak supir menjelaskan kepada mereka apa yang di lihatnya.
Yoga mengerti apa yang di katakan pak supir. Bahwa Binyu sedang menunjukkan rumah Cha kepada temannya Zain.
"Ya udah Ga, aq lebih baik pulang sekarang, lagian udah sore juga," kata Cha.
"Iya yanx, tapi aq tidak mengantar kamu ya kerumah," kata Yoga.
"Iya gak usah Ga, bisa bahaya kalau kamu nganter aq kerumah. Ini aja aq takut ketahuan sama mama. Bahaya tetangga bisa ngomong sama mama qu nanti kalau lihat aq dianter cowok," jelas Cha.
Cha pun keluar dari dalam mobil dan pergi meninggalkan mereka. Sesampainya dirumah, Cha melihat ada sepatu laki-laki.
"Siapa tamu yang dateng? Kenapa pintu rumah tertutup kalau ada tamu? Tidak mungkin kan Binyu dan Zain yang dateng!" gumam Cha ketika memasuki pekarangan rumahnya.
Cha mengetuk pintu rumahnya beberapa kali hingga terdengar jawaban dari dalam rumahnya.
Pintu pun terbuka, dan yang membuka pintunya ternyata mama nya.
"Kenapa lama banget pulangnya, hah," mama Cha marah karena dia pulang agak telat. Padahal tadi pagi Cha sudah memberitahukan mamanya bahwa dia pulang telat. Tapi mamanya sepertinya lupa.
"Ma, tadi pagi kan Cha udah kasih tau sama mama bahwa hari ini Cha pulang telat. Karena kami makan diluar sana Dewi teman Cha," jelas Cha kepada mamanya.
Mamanya terdiam, mencoba mengingat hal tadi pagi. Dan bener dia lupa bahwa anaknya tadi pagi sudah pamitan sama dia.
"Oh iya, mama lupa kalau kau sudah ngomong tadi pagi," kata mama Cha tanpa merasa bersalah.
"Ma, itu didepan ada sepatu laki-laki, Cha lihat. Emang kita ada tamu atau saudara ya yang datang?" tanya cah penasaran. Cha mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah tapi tidak melihat siapapun ada diruangan itu.
__ADS_1
Mamanya Cha tidak menghiraukan pertanyaan Cha. Dia malah berjalan ke dapur untuk menyiapkan masakan buat malam.
Cha yang dicuekin semakin penasaran dengan sepatu yang berada di depan. "Tidak mungkin mama membawa laki-laki lain ke dalam rumah kan?" pikir Cha yang masih penasaran. Cha memasuki kamar adiknya, namun adiknya tidak ada di dalam kamarnya.