Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kerinduan Yoga dan Cha


__ADS_3

Hai pembaca setia Cha....!! Sekarang ini kalian sedang membaca kisah Cha difase keduanya. Dimana fase ini, Cha nya banyak mengalami peristiwa-peristiwa yang akan menempah kedewasaannya dan meningkatkan rasa empatinya. Dan difase ini juga akan banyak cerita-cerita menyedihkan yang akan dilalui Cha. Hingga fase terakhir dia akan menjalani kehidupan bahagianya bersama seseorang yang akan menemani hidupnya sampai selamanya.


Yuk baca terus kisahnya dan jangan lupa kasih terus dukungan kalian ya dengan memberi Vitamin LIKE, VOTE, HADIAH dan Komennya untuk terus memperbaiki kekurangan uathor dalam menulis.


_____________________________________________


Cha melihat ponselnya yang berdering. Dan diponsel itu tidak tertera nama yang menghubunginya. Tapi dia mencoba untuk mengangkatnya agar mengetahui siapa yang menghubunginya.


"Hallo..!" sapa Cha.


"Assalamu'alaikum sayang..!!" sahut laki-laki yang diseberang.


Cha diam mematung dan kaget mendengar suara seseorang yang sangat dirindukannya. Dia gak tau apa yang dirasakannya, rindu yang mendalam, marah dan benci semua bercampur aduk dirasakan Cha saat ini.


"Sayang, kenapa kamu diam? Apa kamu tidak merindukanku?" tanya seorang laki-laki yang tak lain bernama Yoga kekasih yang selama ini dirindukannya.


"Kenapa baru sekarang lagi kamu menghubungiku?" tanya Cha datar.


"Maaf sayang, aku banyak kegiatan dikampus. Tapi aku selalu mengingatmu, percayalah!" jawab Yoga penuh harap agar Cha mempercayainya.


"Kamu jahat membiarkan aku menjalani semuanya tanpa kamu. Kamu tau bagaimana sulitnya aku melewati semuanya!" teriak Cha emosi.


"Maaf sayang, aku tau kamu pasti marah sama aku. Aku tau aku salah sudah membuat kamu khawatir! Tapi please...percayalah, aku masih seperti Yoga yang dulu. Yang selalu mencintaimu dan sangat merindukanmu!" ucap Yoga dengan suara yang bergetar.


Cerita Yoga di Belanda.


Saat terakhir kali Yoga menghubungi Cha, pada saat itu Papanya Yoga ingin mengenalkannya dengan seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu adalah anak dari sahabat Papanya. Namun Yoga tidak mau dan dia pergi meninggalkan rumahnya tanpa mau bertemu dengan gadis yang sedang ada dirumah itu.


Yoga menyelonong keluar begitu saja tanpa menoleh kearah gadis itu dan orang tuanya. Dia pergi meninggalkan rumah menuju Apartement sahabatnya.


Papanya Yoga sangat marah melihat sikap Yoga yang tidak ada sopannya terhadap tamu. Rasanya dia ingin marah dan menghajar anaknya saat itu juga. Namun karena ada sahabatnya bersama anak gadisnya, diapun mencoba berdamai dengan amarahnya.


Yoga terus melajukan mobilnya ke Apartemen sahabatnya yaitu Peter. Selama dalam perjalanan, Yoga terus merutuki kehidupannya yang harus dibawah aturan Papanya. Dia terus membanting setirnya meluapkan amarahnya. Akhirnya mobil pun sampai di tempat sahabatnya itu. Dia masuk kedalam Apartement serta menghubungi Peter.


"Hallo Peter, nu sta ik voor je kamer!" ucap Yoga memberitahukan kedatangannya.


"(Hallo Peter, aku sekarang sudah berada didepan kamarmu)!" ucap Yoga.


Lalu Peter membuka pintu kamar Apartemennya dan dia melihat Yoga yang sedang kusut.


"Hoe gaat het vriend?" tanya Peter saat Yoga masuk kedalam.


"(Ada apa kawan)?" tanya Peter saat Yoga masuk kedalam kamarnya.


"Ik heb ruzie met mijn papa en ik wil hier een tijdje blijven, oké?" jelas Yoga.


"(Aku lagi bertengkar sama papa ku dan aku mau tinggal disini sementara, bolehkan)?" jelas Yoga.


"Tuurlijk is het toegestaan! Maar wat is er met jullie gebeurd? Zeg eens!" pinta Peter.

__ADS_1


"(Tentu boleh! Tapi apa yang terjadi dengan kalian? Ceritakanlah)!" pinta Peter.


Lalu Yoga pun menceritakan kejadian tadi yang dialaminya saat bertengkar dengan Papanya. Yoga juga sudah merasa jenuh dengan aturan yang dibuat Papanya. Tidak ada yang bisa menentang keinginan Papanya.


"Ik heb al een minnaar Peter in Indonesië. En ik hou zo veel van haar," ucap Yoga saat mengingat Cha yang dirindukannya.


"(Aku sudah memiliki kekasih Peter di Indonesia. Dan aku sangat mencintainya)!" ucap Yoga.


"En hoe zit het met het uitverkoren meisje van je vader? Ga je tegen je papa vechten?" tanya Peter.


"(Jadi bagaimana dengan gadis pilihan Papamu? Apakah kau akan melawan Papamu)?" tanya Peter.


"Ik weet niet wat ik moet doen Pieter! Ik kan geen ander meisje accepteren dan mijn minnaar in Indonesië," ucap Yoga sambil menatap sahabatnya.


"(Aku tidak tau harus berbuat apa peter! Aku tidak bisa menerima gadis lain selain kekasihku di Indonesia)," ucap Yoga.


"Dus wat ga je nu doen?" tanya Peter.


"(Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang)?" tanya Peter.


"Ik wil wat alcohol, geef me een fles zodat ik alles kan vergeten!" ucap Yoga sambil mengambil botol minuman alkohol Peter.


"(Aku ingin minuman alkohol, beri aku sebotol minuman agar bisa melupakan semuanya)!" ucap Yoga yang mulai putus asa.


"Doe je het niet Yoga. Als je dat drankje eenmaal hebt geprobeerd, kun je niet meer ontsnappen!" tegas Peter. Dia merasa kasihan melihat sahabatnya itu. Walaupun dia tidak memiliki darah Indonesia tapi Peter sangat menyayangi Yoga seperti saudaranya sendiri karena Peter hanya anak tunggal.


"(Jangan kau lakukan itu Yoga. Sekali kau mencoba minuman itu, kau tak akan bisa lepas)!" tegas Peter.


"(Oh..ayolah Peter..! Jangan halangi aku untuk menikmatinya)!" seru Yoga.


Akhirnya Peter tidak bisa melarang kemauan Yoga untuk mencoba minuman beralkohol. Mereka pun minum bersama sampai mabuk. Hingga malam pun tiba, Yoga merasa kepalanya sangat berat. Lalu dia melihat ke sekeliling, dan dia baru sadar bahwa dirinya masih di Apartemennya Peter.


"Owhhhh sakit banget kepalaku!" ucap Yoga sambil memegang kepalanya.


Akhirnya Yoga memutuskan kembali kerumahnya. Dia kasihan meninggalkan Omanya disana.


"Pasti Oma mencari ku, aku harus kembali," ucap Yoga. Dia pun meninggalkan Apartement Peter dalam keadaan kacau.


Yoga membawa mobilnya pelan-pelan, dia takut jika terlalu cepat jika membawa mobilnya. Hingga beberapa menit dia pun sampai di rumah Omanya. Dia memasukkan mobilnya ke garasi. Lalu dia keluar dari garasi dan masuk kedalam rumahnya.


Saat dia masuk, ternyata Papanya sudah menunggunya dari tadi.


"Kemana saja kamu! Lihat penampilanmu ini, dan apa ini?! Kamu minum hahhh!! teriak Papanya sambil mencengkeram baju Yoga.


"Bukan urusan Papa!" bentak Yoga.


"Kamu kemari tujuannya untuk sekolah bukan untuk mabuk-mabukkan!" teriak Papanya.


"Itu hak saya, kalau saya memilih tidak sekolah, Papa mau apa?" tantang Yoga berbicara sambil mendekatkan wajahnya kedepan wajah Papanya. Hingga bau alkohol tercium oleh Papanya.

__ADS_1


Lalu Yoga meninggalkan Papanya yang diam berdiri ditempatnya.


"Kalau kamu Tidka menuruti apa kataku, maka kamu boleh pergi dari kehidupan kami tanpa membawa apapun. Jadi kamu bisa memilih, tetap mengikuti aturan ku dan menikah dengan pilihan kami atau kau keluar dari kehidupan kami," ucap Papanya dengan tegas tapi suara yang datar.


Yoga berhenti sesaat ketika mendengar ancaman Papanya, lalu dia tetap berjalan dan masuk kedalam kamarnya.


Saat itu juga, Omanya keluar dari dalam kamar karena mendengar keributan yang terjadi antara orang tua dan anak.


"Maaf Ma, aku harus keras dan tegas terhadapnya. Kalau tidak, mau jadi apa dia!" ucap Papanya terhadap Mamanya.


"Tapi jangan terlalu keras, apa kau tidak kasihan melihatnya?" tanya Mamanya sambil menatap anaknya.


"Aku justru sangat menyayanginya. Makanya aku tidak mau dia memilih sembarangan perempuan. Apalagi perempuan yang hidup dari keluarga Broken Home!" tegas Papanya Yoga.


"Jangan memaksa dia untuk menikahi pilihanmu. Kau akan menyesal jika sudah terjadi hal buruk dengannya," protes Mamanya.


Lalu Mamanya meninggalkan Papanya Yoga dan masuk kembali kedalam kamar.


Sedangkan Yoga yang sudah masuk kedalam kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia mengingat perkataan Papanya. Dia bingung harus memilih yang mana.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku memilih. Kalau aku pilih keluar dari kehidupan mereka, bagaimana nasibku diluar sana? Dan bagaimana aku bisa menjalani kehidupanku dengan Cha? Tapi kalau aku memilih untuk menikah dengan pilihan mereka, bagaiman perasaan Cha? Aku tidak mau mengkhianatinya! Lagian aku juga tidak mencintai gadis itu! Apa aku harus mengakhiri hidupku saja?" gumam Yoga sambil menatap foto Cha.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Tapi aku gak sanggup untuk menghubungimu karena aku takut tidak bisa menahan air mataku jika mendengar suaramu, Cha, kenapa kita harus hidup seperti ini? Aku ingin kembali ke Indonesia dan berada disisinya selalu!" Yoga berbicara dengan fotonya Cha yang sedang dipeluk Yoga dari belakang.


Yoga pun akhirnya membersihkan dirinya yang bau alkohol. Dia masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu diapun meminta asisten rumah tangga mereka mengantarkan sarapan pagi ke kamarnya.


Kembali ke Cha, dia merasa terharu mendengar Yoga mengatakan bahwa dia sangat merindukannya. Begitupun Cha yang sangat merindukannya.


"Kamu tau Ga, aku selalu menunggumu menghubungiku, aku berpikir bahwa kamu sudah punya penggantimu disana, sehingga kamu tidak mau menghubungiku lagi," terang Cha.


"Sayang, Demi Allah, aku tidak punya wanita lain dihatiku. Aku hanya menginginkanmu menjadi pendampingku. Karena kamu gadis pertama yang mencuri hatiku. Dan kamu gadis pertama juga yang melakukannya denganku," jelas Yoga sambil meneteskan air matanya diseberang sana.


Syukurnya Cha tidak melihat bagaimana ekspresi wajah Yoga yang sangat tertekan dan sedih sampai mengeluarkan air matanya.


"Aku mencintaimu yang! Kapan kamu kembali?" tanya Cha


"Jika aku akan kembali, pasti akan menghubungimu sayang," jawab Yoga.


"Aku ingin melihat wajahmu, bagaimana kalau kita VC an!" ajak Cha penuh semangat.


"Jangan sayang, wajahku lagi kusut. Lagian kamarku berantakan. Nanti aku akan hubungi kamu lagi dan kita VC an ya," kilah Yoga. Padahal yang sebenarnya dia tidak mau Cha melihat penampilannya yang kusut dan tak bersemangat karena itu akan membuat Cha merasa sedih dan khawatir sehingga merusak kehidupan Cha diJogja. Makanya dia terpaksa berbohong dengan Cha.


"Baiklah, kapan kamu menghubungiku lagi?" tanya Cha.


"Kamu sehat-sehat kan disana? Gimana kuliahnya?" tanya Yoga yang mencoba mengalihkan pertanyaan Cha.


"Aku sehat-sehat aja kok. Dan kuliahku lancar yang," balas Cha.


"Oh..syukurlah, aku senang mendengarmu sehat disana," ucap Yoga senang.

__ADS_1


"Kamu juga sehatkan disana yang?" tanya Cha balik.


"I..iya, aku sehat kok yang," jawab Yoga. Sebenarnya saat ini Yoga merasa kacau, berat tubuhnya sudah menurun dan wajahnya kelihatan tidak bersemangat.


__ADS_2