Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Pertemuan menyedihkan


__ADS_3

Tepat di depan Hotel, mobil akhirnya sampai. Cha semakin gelisah dan gugup. Dia bingung, apa yang dilakukannya ini benar atau tidak. Dia menatap ke samping, dimana Zain juga sedang mengawasinya.


"Zain, aku takut sekali. Apakah ini benar yang kulakukan? Bagaimana jika dia mengejarku dan pestanya berantakan?" tanya Cha yang mulai deg-deg an.


"Kalau kamu ingin membuktikan, apakah benar Yoga yang menikah hari ini, ayo kita buktikan dengan menghadiri pestanya," jawab Zain.


Cha berfikir untuk apa yang diucapkan Zain. Dia bimbang dan takut akan kenyataan yang dilihatnya.


"Cha, lihat, Mama, Oma dan Papa sudah berjalan memasuki hotel. Mereka menunggu kita. Ayo kita turun," Zain mengajak Cha keluar dari mobil.


Zain keluar duluan dari mobil, lalu di membukakan pintu untuk Cha. Dan Cha menerima uluran tangan Zain. Dia keluar dari mobil dan berjalan menggandeng lengan Zain.


Mereka berjalan memasuki hotel. Banyak mata yang memandang ke arah Cha. Mereka menatap kagum dengan penampilan Cha yang menggunakan gaun berwarna ungu yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


Zain dan Cha menghampiri orang tuanya. Lalu mereka masuk ke dalam Aula tempat pesta dilaksanakan.


Saat memasuki Aula, Papanya Zain bertemu dengan Papanya Yoga. Mereka adalah sahabat saat kuliah satu kampus. Papa nya Zain memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.


"Lama tidak bertemu. Selamat akhirnya kalian menjalin ikatan juga," ucap Papanya Zain.


"Ya, aku bersyukur kau tidak tertarik menjodohkan anakmu dengan putrinya. Sehingga aku bisa menjodohkan putraku dengan putrinya. Supaya persahabatan kita tidak putus dengan ikatan pernikahan anak-anak," jelas Papanya Yoga dengan senang.


"Oh ya ini kenalkan putraku Zain yang dulu waktu kecil pernah menemani Yoga bermain. Kau ingat saat Yoga kecil, dan dia butuh teman ketika kau membawanya ke Paris? Putraku Zain ini yang menemaninya," sambung Papanya Zain.


"Oh ya..! Wah sekarang kamu sudah dewasa. Dia mirip sekali denganmu Louis! Tampan, berkharisma dan dewasa," balas Papanya Yoga.


Lalu Papanya Yoga melirik perempuan yang menggandeng Zain.


"Siapa dia? Apakah karena perempuan itu kau tidak mau membuat ikatan dengan putri sahabat kita?" tanya Papanya Yoga.


"Of course, dia calon mantuku. Asli dari Indonesia," bisik Papanya Zain.


"Waowww, dia mengikuti jejakmu Louis. Dia sangat pinter memilih calon istri yang cantik," puji Papanya Yoga.

__ADS_1


Papanya Yoga tidak mengetahui bahwa perempuan yang berada di sebelah Zain adalah pacar dari anaknya Yoga. Lalu dia menyuruh mereka masuk dan mengambil hidangan.


Cha memandang ke sekeliling, ada rasa sesak yang menghantamnya saat matanya menatap lurus ke depan tepat dimana Yoga bersanding dengan perempuan lain. Amarah, benci, kecewa semua bercampur aduk di dalam hatinya.


"Zain, benarkah itu dia?" tanya Cha menatap lurus tak percaya. Cha hampir terjatuh terhuyung ke belakang, namun Zain buru-buru menahan tubuhnya dan mengembalikan posisi Cha.


"Heum," hanya itu yang keluar dari mulut Zain.


"Bawa aku ke hadapannya dan kita langsung pergi dari sini," Cha memohon agar Zain mengantarnya kehadapan Yoga.


"Apa kamu siap menghadapinya Cha?" tanya Zain khawatir.


"Aku siap Zain," jawab Cha tegas dan berusaha untuk menahan amarahnya.


Kemudian Zain berjalan menggandeng Cha kearah kedua mempelai. Pandangan Cha tak henti-hentinya menatap wajah Yoga yang tersenyum. Cha benar-benar terluka melihat pemandangan itu.


Sedangkan dari kejauhan, Yoga terkejut melihat kehadiran Cha di pestanya. Dia mengucek matanya untuk memastikan kebenaran apa yang dilihatnya. Ternyata dia tidak salah lihat. Perempuan yang sedang berjalan kearahnya benar-benar Cha orang yang sangat dicintainya.


Rasa bercampur aduk dirasakan Yoga saat itu juga. Kaget, rindu yang mendalam, ketakutan semua melanda Yoga. Tubuhnya gemetar melihat tatapan Cha yang marah


Cha berusaha tersenyum namun tangannya menggenggam erat tangan zain, cha dengan percaya diri berjalan ke Yoga.


Saat ini Cha sudah berhadapan dengan Yoga. Mata mereka saling mengunci. Menatap satu sama lain. Ada rasa rindu yang membuncah namun terhalang tembok pernikahan. Yoga diam seribu bahasa, tidak bisa mengucapkan kata-kata, ingin rasanya dia memeluk cinta pertamanya, meluapkan kerinduan yang selama ini ditahannya. Namun lagi-lagi dia harus menahan diri karena janji yang diberikannya terhadap orang tuanya untuk menikahi perempuan disampingnya.


Cha menarik nafasnya secara perlahan dan menghempaskannya secara kasar. Dia melirik wanita yang berada disebelah Yoga. Perempuan yang sangat cantik. Dan perempuan itu juga menatap Cha dengan mengerutkan keningnya dengan curiga.


"Siapa perempuan ini? Kenapa dia memandangi Yoga seperti itu? Apakah dia mantan Yoga?" perempuan itu bertanya dalam hatinya.


Lalu Cha mengulurkan tangannya dengan gemetar dan mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Jaga dia baik-baik dan jangan sakiti hatinya seperti kau menyakiti hatiku," Cha menyampaikannya dengan suara pelan dan menahan agar air matanya tidak terjun bebas.


Yoga tidak bisa menahan rasa rindunya, lalu dia memeluk Cha dengan erat dan berkata lirih " Maafkan aku Cha, maaf aku telah mengkhianatimu. Ini semua keinginan Papaku. Maaf aku gak bisa memperjuangkan cinta kita,"


Cha melepaskan pelukan Yoga dan menatap nya dengan tajam.

__ADS_1


"Apakah kau menjadi pengecut sehingga cintamu harus kau tinggalkan?" ucap Cha datar tanpa ekspresi.


"Maaf Cha, maaf....," balas Yoga sambil meneteskan air matanya.


"Semoga kau bahagia, dan mudah-mudahan kita gak akan pernah bertemu lagi. Selamat tinggal," Cha berjalan cepat meninggalkan panggung dimana Yoga berdiri mematung dengan tatapan kosong.


Cha terus berjalan cepat dan berusaha keluar dari Aula itu. Zain mengejarnya dari belakang dan tidak memperdulikan tatapan orang yang berada di pesta itu.


Sedangkan Yoga yang tersadar langsung mengejar Cha. Dia meninggalkan perempuan yang berada disebelahnya. Dia terus berjalan cepat tanpa perduli dengan tatapan tajam orang Papanya. Yoga keluar dari Aula itu, namun dia tidak melihat keberadaan Cha. Dia mengerang dan mengepalkan tangannya merasa prustasi dengan keadaan ini.


"Cha......!" teriak Yoga. Dia menangis karena tak bisa memperjuangkan cintanya. Dia benar-benar laki-laki bodoh, pengecut yang tak bisa berdiri sendiri.


Saat ini Cha sudah berada di dalam sebuah mobil di depan lobby bersama Zain.


"Zain ayo bawa aku dari sini. Aku gak mau berada disini," Cha terisak menangis di bahu Zain. Air matanya mengalir deras tanpa permisi.


"Maaf karena aku, kamu jadi seperti ini. Kalau saat itu kamu tidak ikut denganku ke Paris, maka kamu tidak perlu melihat semua ini," Zain merasa bersalah.


"Tidak Zain, kamu tidak salah. Ini sudah jalannya aku harus mengetahui kebenarannya. Dia benar-benar tidak bisa menepati janjinya," ujar Cha dengan suara terisak.


"Kamu mau kemana? Gimana kalau kita keliling kota ini?" tanya Zain yang masih setia memeluk Cha.


Cha mengangguk menyetujui ide Zain. Namun saat ini hatinya benar-benar hancur. Laki-laki yang dipertahankannya tidak bisa menepati janjinya.


Kembali ke hotel. Orang tua Yoga bingung dengan pemandangan yang mereka lihat. Yoga berlari mengejar seorang perempuan yang diketahui calon istri anak dari sahabatnya.


"Siapa dia?" tanya Papanya Yoga terhadap Orang tua Zain.


Dan Papanya Zain hanya mengedikkan bahunya tanda bahwa dia tidak mengetahuinya. Walaupun sedikit berbohong, namun itu semua adalah urusan anaknya Zain.


"Tapi kenapa Yoga mengejar perempuan itu? Bukankah dia datang bersama anakmu? Kenapa justru Yoga pergi mengejarnya?" Papanya Yoga bingung dan malu terhadap tamu dan besannya. Malu karena Yoga sudah bertingkah meninggalkan anak perempuan sahabatnya.


Diluar Aula, Yoga masih diam berdiri tak mau kembali ke dalam. Rasanya dia ingin pergi meninggalkan pesta ini. Namun dia masih sayang terhadap Mamanya. Tidak mungkin dia mempermalukan Mamanya di depan tamu dan orang tua perempuan itu. Lalu Yoga berjalan lunglai masuk ke dalam Aula.

__ADS_1


Papanya yang melihat kearah pintu, menatap tajam ke Yoga saat dia masuk ke dalam. Dia berusaha setenang mungkin supaya para tamu tidak terkecoh dengan sikap Yoga.


__ADS_2