Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kencan Pertama Bersama Zain


__ADS_3

Cha memutar matanya males. Lalu dia melirik ke arah Zain.


"Udah selesai menggoda nya," celetuk Cha kesal sambil membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil sambil mengejek zaik dengan menjulurkan lidahnya. Lalu bergegas jalan menuju rumahnya.


Zain yang melihat tingkah konyol Cha, tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini dia mendapatkan perempuan yang unik dan lucu. Setelah melihat Cha masuk ke dalam gang, Zain menyuruh pak supir pulang kerumahnya.


Tanpa disadari Cha bahwa, ada seseorang yang dari tadi sudah mengikuti mereka mulai dari sekolah sampai ke rumah Cha. Dia adalah Binyu. Binyu merasa kesal melihat kedekatan Zain dan Cha.


"Kenapa mereka bisa jadi sedekat itu? Dan Zain, apa-apaan dia, bukannya dia hanya menginginkan tubuh Cha. Kenapa jadi bersikap manis seperti itu," gerutu Binyu berbicara sendiri di dalam mobilnya. Binyu pun akhirnya meninggalkan area jalan rumah Cha.


Sebenarnya Zain mengetahui bahwa Binyu datang kesekolah Cha tadi dan mengikuti mereka sampai ke rumah Cha. Namun dia males menggubris kehadiran Binyu di sekitar mereka. Zain menganggap Binyu laki-laki yang bodoh dan hanya memikirkan uang. Demi uang dia tega menjual Cha kepada Zain.


Zain yang awalnya memang berniat ingin menikmati tubuh Cha saja tetapi gagal, akhirnya mencoba mendekati Cha secara lembut. Semakin dia dekat dengan Cha, hatinya semakin tak karuan. Tapi Zain mecoba menepis perasaan nya. Dia hanya ingin menaklukkan Cha saja. Dia tidak sadar bahwa hatinya mulai tergoyahkan.


Kembali ke Cha. Saat ini Cha sudah berada di dalam rumahnya. Dia menepati janjinya kepada Sika agar cepat pulang. Cha memasuki kamarnya dan berganti baju. Sebelum dia ke kamar Sika, Cha terlebih dahulu membongkar jajanan cemilan dari Zain. Cha melihat banyak sekali jajanan buat adeknya. Lalu Cha mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Zain.


"Terima kasih atas cemilannya tuan pemaksa..😄," kata Cha dan memberi emoticon.


Lalu Cha meletakkan ponselnya di tempat tidur. Dan bergegas menuju kamar Sika. Cha mengetuk pintu kamar Sika dan langsung membuka kamarnya.


"Dek lagi ngapain?" tanya Cha yang nyelonong masuk ke dalam kamar Sika.


Sika yang lagi asyik main game di ponselnya, hanya melirik sebentar ke arah kakaknya.


"Kok lama banget kak pulangnya," protes Sika atas kehadiran kakaknya yang terlambat.


"Ehhhh, ini udah cepat ya Sik, tadi kakak udah buru-buru pulangnya. Masalahnya tadi temen kakak nganterin kakak pulang dan ngasih kakak belanjaan cemilan, tuh banyak banget dikamar kakak. Ayok kekamar, katanya mau nonton film petualangan," Cha mengajak Sika ke kamar nya untuk nonton bareng.


"Ih....mau-mau. Asyik....banyak cemilan," Sika bersorak kesenangan. Akhirnya keinginannya buat nonton petualangan hewan bareng kakaknya terwujud.


Mereka berdua meninggalkan kamar Sika dan masuk ke kamar Cha. Di dalam kamar Sika melihat banyak sekali cemilan yang akan menemani mereka nonton.


"Wahhh banyak banget kak cemilannya! Emang ini siapa yang kasih kak?" tanya Sika penasaran sambil melihat-lihat jenis cemilannya.


"Ada deh, yang pasti teman kakak yang ngasih. Udah yuk nonton," Cha langsung duduk di sofa dan memutar filmnya.


"Awas ya jangan teriak-teriak histeris nanti, kalau kamu teriak, kakak matikan film nya," tegas Cha kepada Sika.


"Hehehe, teriak dikit kan gak apa-apa kak, namanya juga takut. Kalau gak teriak mana seru," protes Sika yang sudah duduk disamping kakaknya.


Mereka mulai menonton film nya yang berjudul JUNGLE RUN. Cha dan Sika serius menonton sambil mengunyah cemilannya. Tayangan demi tayangan berlalu, hingga menampilkan tayangan yang serunya. Sika yang menonton film tersebut, ngedumel sendiri.


"Awas...dibelakang tuh, ih...aaaaaaaaaa," Sika berteriak sambil menutup matanya, lalu mengintip dari sela-sela jarinya. Dia histeris menonton film yang menegangkan menurut Sika.


"Ih berisik banget sih, udah nonton aja, gak denger tau apa yang dibilang orangnya," protes Cha yang kesel dengan sikap Sika yang nyerocos terus.


"Hehehe, seru tau kak," ungkap Sika karena semangat menonton filmnya.

__ADS_1


Mereka kembali fokus menonton lagi hingga beberapa jam. Tak terasa film nya hampir selesai dan cemilan yang di stock juga sudah habis tak tersisa kan. Kamar Cha berantakan, banyak sampah cemilan di lantai kamar Cha.


"Yeeeeee cepat banget habisnya, gak seru ah," kata Sika yang merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kamu itu ya salah semua. Kelamaan habis, salah. Cepat habis juga salah, hmmmm penonton yang banyak protes," kata Cha dengan cuek nya.


Cha melihat kearah Sika, ternyata Sika sudah tertidur karena kelelahan banyak berteriak akibat nonton film tadi. Cha pun membenahi posisi tidur Sika dan meletakkan bantal panjang di bawah samping sofa agar Sika tidak sakit jika terjatuh. Kemudian Cha menuju tempat tidurnya dan melirik sekilas ponselnya. Cha tidak memperdulikan ponselnya, dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya hingga terlelap.


Sore harinya, Cha bangun dan melihat ke arah sofa ternyata Sika sudah tidak ada ditempatnya. Cha pun mulai membersihkan sampah cemilan yang berserakan serta merapikan kamarnya. Seperti biasa setiap sore Cha selalu mengerjakan rutinitas pekerjaan rumahnya.


Waktu terus berjalan, malam pun tiba. Malam yang cerah diterangi oleh bulan. Beberapa hari lagi Cha selesai melaksanakan ujiannya. Dia belajar dengan fokus dan ingin mendapatkan hasil yang baik agar tidak mengecewakan orangtuanya.


Ponsel Cha tiba-tiba berdering. Dia melihat ponselnya di atas tempat tidur. Lalu mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Ahhh ternyata si Zain. Mau apa dia. Ganggu gw belajar aja," gumam Cha yang melihat layar ponselnya.


Cha masih bingung, mau mengangkatnya atau membiarkannya begitu saja. Tapi ntah kenapa dia merasa tertarik untuk menerima panggilannya.


"Ada apa, kamu menghubungi qu, aq lagi belajar tau..!" Cha langsung mengangkat tlp nya dan menyemprot Zain dengan omelannya.


Zain yang disemprot dengan omelan malah terkekeh diseberang tlp.


"Hehehe, aq cuma pengen ganggu kamu aja, boleh kan," kata Zain tanpa merasa bersalah.


"Aisshh...apa-apa an sih kamu, kamu tau kan besok aq masih ujian. Kamu tlp cuma mau ganggu aq, gak ada kerjaan apa," kesal Cha karena merasa terganggu.


"Aq matiin ini," ancam Cha.


"Jangaaaan, gitu aja ngambek. Aq cuma mau ingetin kamu, besok jangan lupa izin sama mama mertua buat kencan kita ya," kata Zain mengingatkan Cha tentang janji nya kemaren.


"Apa kata dia, mama mertua! pede banget dia," bathin Cha.


"Sejak kapan kamu jadi menantunya mama qu. Emang kamu mau nikah sama siapa?" protes Cha dengan ucapan Zain.


"Sejak kemaren kita jadian, dan maunya nikah sama kamu," jawab Zain seenaknya.


Cha yang mendengar jawaban Zain, wajahnya menjadi merah merona. Dan syukurnya Zain tidak bisa melihat perubahan wajah Cha.


"Kita gak pernah jadian ya, jadi jangan ngaku-ngaku pacaran sama aq, ngerti..!" Cha berbicara dengan intonasi yang menekan dan dia sengaja tidak mempertanyakan kata-kata Zain tentang nikah. Tapi dengan sikap Cha yang seperti itu justru membuat Zain semakin gemes dengan tingkah laku Cha.


"Gak ada penolakan, kita udah jadian kemaren. Dan besok jangan lupa kita kencan. Atau untuk memastikan kita pacaran, bagaimana kalau aq panggil kamu sayang dari sekarang, hmmm," goda Zain semakin menjadi.


"Tau ah," Sebal Cha, tanpa basa basi, Cha langsung mematikan ponselnya dan melemparkannya ke atas tempat tidur.


"Sebel ih si Zain, buat gw gak konsen aja buat belajar. Ihhhhhhh," gerutu Cha dengan kesal.


Diseberang tlp tadi, Zain justru senyum-senyum sendiri. Dia udah gak sabar pengen ketemu Cha besok.

__ADS_1


"Kenapa aq jadi seperti ini ya, kayak orang lagi jatuh cinta aja. Baru kali ini aq merasa bersemangat buat ketemu seorang perempuan. Ada apa dengan qu," gumam Zain terhadap dirinya sendiri. Zain membaringkan tubuhnya sambil menghayal tentang pertemuannya dengan Cha.


Waktu pun berjalan tanpa terasa, hingga pagi menyapa. Cuaca yang cerah, udara yang sejuk membuat Cha semangat untuk menjalankan ujiannya. Sebelum berangkat ke sekolah, Cha minta izin sama mamanya untuk makan siang diluar bareng teman-temannya.


"Ma, nanti sepulang sekolah, aq boleh makan siang diluar bareng teman?" tanya Cha kepada mamanya.


"Iya boleh. Emang udah selesai ujiannya?" tanya balik mamanya.


"Belum ma, tinggal dua hari lagi," jawab Cha.


"Oh ya sudah, tapi inget jangan pulang malam. Karena kau masih melaksanakan ujian," kata mama Cha mengingatkan.


"Iya ma, Cha pasti ingat pesan mama kok," jawab Cha sambil mengangguk-angguk.


Lalu Cha berpamitan sama mamanya. Dia berangkat ke sekolah dengan semangat. Dia berjalan ke arah jalan raya dari depan gang. Tiba di depan gang dia melihat mobil Zain sudah menunggu disana.


"Isshhh dia lagi, dia lagi. Ngebosenin banget," gerutu Cha sambil berjalan dengan males.


"Hai cantik, yuk aq antar ke sekolah," kata Zain yang mendatangi Cha.


Cha hanya diam menurut saja. Saat ini dia males berdebat karena keadaan yang tidak pas. Mau tak mau Cha masuk ke dalam mobil Zain. Disepanjang jalan, Cha diam saja tanpa perduli dengan Zain yang sesekali meliriknya. Dia hanya melihat jalanan saja.


Zain yang juga dari tadi diam saja, merasa sepi tanpa mendengar omelan Cha. Tapi dia tau bahwa saat ini Cha enggan berdebat dengannya. Zain memilih diam juga dan melihat jalanan. Menemani kesunyian di dalam mobil, pak supir berinisiatif menyalakan lagu romantis berjudul TETAPLAH BERSAMAKU.


Zain dan Cha yang awalnya sibuk memandang jalanan, kini malah terbuai dengan lagu yang di nyalakan pak supir. Zain dan Cha saling curi-curi pandang.


"Kenapa lagunya yang diputar seperti ini," pikir Cha yang asyik mendengarkan lagunya.


"Bagus ya Cha lagunya, romantis banget. Cocok buat kita berdua," celetuk Zain sambil melirik Cha sekilas.


"Buat qu biasa aja, gak usah baper deh," ketus Cha tanpa melihat kearah Zain.


Ucapan dan sikap Cha seperti itu justru membuat pak supir merasa geli, karena baru kali ini ada perempuan yang berani bicara seenaknya terhadap tuannya.


"Tuan, kita sudah sampai," kata pak supir yang akhirnya membuat omelan Cha menjadi berhenti.


"Syukurlah pak kita sudah sampai," sambung Cha.


Sebelum Cha keluar dari mobil, Zain memegang pergelangan tangan Cha dan mengingatkan Cha akan janji kencannya.


"Nanti aq jemput kamu. Jangan lupa hari ini jadwal kita berkencan. Dan jangan coba-coba melarikan diri," ancam Zain sambil menyembunyikan senyumannya.


"Iya, aq ingat kok, udah masih adakah yang mau disampaikan TUAN ZAIN," kata Cha yang ogah-ogahan sambil menekankan kata tuan Zainnya.


"Gak ada, aq cuma mengingatkan ini adalah kencan pertama kita, jadi aq harap kamu jangan melarikan diri. Dan aq sudah menyiapkan segalanya," zain mengulangi ucapannya lagi.


"Iya-iya aq gak akan melarikan diri, puasssss!" protes dan langsung keluar dari mobil tanpa berpamitan dengan Zain.

__ADS_1


Disepanjang jalan menuju sekolahnya, Cha terus nyerocos, tak perduli dengan pandangan teman-temannya. Baginya hari ini adalah hari yang menyebalkan. Cha terus berjalan menuju ruangan kelasnya hingga dia tak sengaja menabrak seseorang.


__ADS_2