
Zain dan Cha masih dalam keadaan berpelukan. Zain membelai lembut wajah Cha. Dia sudah tidak sabar ingin berada di samping Cha setiap saat.
"Cha, mulai sekarang aku ingin kamu manggil aku Mas, kamu mau kan?" tanya Zain.
"Hihihi lucu Zain kedengarannya. Aku gak biasa. Apa gak ada panggilan lain?" tanya Cha serius.
"Kalau gitu panggil aku bang," pinta Zain.
"Mmmm, baiklah aku akan panggil kamu Abang," balas Cha dengan tersenyum.
"Dan Abang akan manggil kamu sayang, gimana?" tanya Zain.
"Aku suka bang," balas Cha.
"Kalau begitu, karena besok Abang akan kembali ke Paris, malam ini Abang minta dpnya dulu," ucap Zain menggoda.
"Dp apaan sih bang?" tanya Cha yang memang gak ngerti.
"Dp di atas ranjang. Abang menginginkannya," bisik Zain sambil menggigit daun telinga Cha.
Cha tentu saja langsung bergetar, darahnya berdesir dan wajahnya merona karena malu. Lalu Cha mengangguk mengiyakan keinginan Zain.
Tanpa buang waktu Zain langsung membopong Cha ke tempat tidur. Dia membaringkan Cha perlahan ke tempat tidur. Nafas mereka saling bersahutan dan bersnetuhan. Cha tidak ingin memalingkan wajahnya. Dia menatap Zain yang akan menjadi suaminya.
Zain terus memburu leher Cha memberikan gigitan-gigitan kecil dan meninggalkan bekas kepemilikan. Mereka saling memberikan kenikmatan satu. Pagutan yang dirasakan satu sama lain saling memberi sensasi.
Zain sudah tak bisa menahan gairahnya yang memuncak. Hingga mereka melakukan penyatuan. Zain terus menghentakkan miliknya, menarik turunkan miliknya hingga ke dalam. Cha benar-benar merasakan sensasi yang berbeda. Hasrat dalam dirinya meluap dengan kenikmatan yang diberikan Zain.
Suara ******* yang merdu terdengar di dalam ruangan itu, membuat Zain semakin bersemangat memaju mundurkan miliknya. Hingga berbagai gaya mereka lakukan.
Waktu pun berlalu, hingga akhirnya Zain menuntaskan hasratnya, mengeluarkan cairan miliknya ke dalam milik Cha. Zain melakukan pelepasan bersamaan dengan Cha. Erangan kenikmatan akhirnya lepas dari kedua bibir manis mereka.
Zain dan Cha terkulai lemas. Zain menarik miliknya keluar dan dia terhempas kesamping. Zain menarik Cha ke dalam dekapannya dan mencium keningnya.
"Ayo kita tidur sayang," ucap Zain dengan suara seraknya.
Cha tak membalas ucapan Zain karena dia sudah merasa lelah. Cha pun akhirnya terlelap dalam dekapan Zain. Begitu juga dengan Zain, dia ikut memejamkan matanya di samping Cha.
Mereka berdua akhirnya terlelap karena kelelahan karena kenikmatan. Hingga malam semakin larut.
Pagi yang cerah, menyapa kedua sejoli yang kelelahan akibat pertempuran kemaren malam. Sinar matahari masuk menembus tirai jendela. Membangun Cha dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Cha membuka matanya dan melihat sosok laki-laki tampan berada disisinya dengan tubuh polosnya. Cha pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa keringat yang lengket di tubuhnya.
Sementara Zain masih betah berada di dalam selimut.
Setelah selesai, Cha keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas dada. Dia melihat Zain masih tidak mau bangun.
Cha memakai pakaiannya kembali dan menghampiri Zain yang masih berada di tempat tidur.
"Bang, ayo bangun. Ini sudah pagi," Cha membangunkan Zain dengan memegang lengannya.
Perlahan Zain membuka matanya dan melihat Cha yang duduk disisi tempat tidur.
"Ah sayang, sudah pagi ya?" tanya Zain sambil mengucek-ngucek matanya.
"Iya bang, ini sudah pagi. Ayo mandi, biar kita sarapan," suruh Cha.
"Kamu udah mandi sayang?" tanya Zian.
"Udah bang, barusan selesai," jawab Cha.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Zain lalu bangkit dari tempat tidur dan memberikan kecupan di bibir Cha.
Zain pun berjalan ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang lengket habis pertempuran mereka.
"Maaf sayang, Abang lama mandinya," ucap Zain tersenyum.
"Nggak apa-apa bang," balas Cha.
"Ayo kita sarapan, kamu udah laper kan? Abang juga udah laper."
"Iya ayo kita ke Restaurant," ajak Cha.
Lalu mereka keluar dari kamar hotel menuju Restaurant. Disana sudah ada beberapa pengunjung yang sarapan.
Cha dan Zain mencari tempat untuk duduk. Lalu Cha menunjuk salah satu meja kosong yang tak jauh dari meja hidangan.
"Bang, kita duduk di sana aja," ajak Cha sambil menunjuk meja kosong itu.
Zain pun mengikuti Cha berjalan ke arah meja tersebut. Kemudian Zain mengambil sarapannya untuk Cha.
"Sayang, biarkan Abang yang mengambil sarapan untuk kamu ya," ucap Zain yang ingin melayani Cha.
__ADS_1
"Biar aku aja bang, masa kamu yang melayaniku," balas Cha merasa tak enak.
"Biar kali ini aja ya, sebelum aku kembali ke Paris, aku ingin nyenengin kamu," pinta Zain.
"Baiklah, tapi kali ini aja ya bang. Aku gak enak di lihat yang lainnya. Apa kata mereka jika kamu yang melayaniku," ucap Cha tak nyaman.
"Jangan pikirkan hal seperti itu. Biarkan mereka berbicara apa. Yang penting kita, ok!" balas Zain yang tak suka jika Cha terlalu memikirkan pandangan yang lainnya.
Cha hanya diam saja, dia mengangguk mengiyakan ucapan Zain.
Sesaat kemudian, Zain kembali ke meja mereka dengan membawa sarapan di tangannya.
"Ini dia sarapannya. Silahkan di makan Nyonya Zain," Zain meletakkan piring makanannya dan tersenyum.
"Hehehe, makasih bang," balas Cha.
"Ayo dimakan sayang," suruh Zain.
Akhirnya mereka makan menikmati sarapan paginya. Obrolan santai pun terjadi di pagi hari ketika mereka menyantap sarapannya.
Setelah selesai menyantap sarapannya, Zain dan Cha berencana keluar dari hotel menuju Malioboro.
"Bang, kamu mau beli apa buat Oma?" tanya Cha saat mereka sudah berada di Malioboro.
"Oma nyuruh Abang nyarikan batik yang coraknya unik dan berkualitas," jawab Zain.
"Kalau gitu ayo ke Mirota Batik, disana batiknya bagus-bagus. Mana tau ada yang kamu suka dan sesuai dengan keinginan Oma," ajak Cha.
"Wah boleh juga tuh sayang," balas Zain semangat.
Akhirnya Zain dan Cha pergi ke Mirota Batik. Sesampainya disana, Cha melihat banyak pengunjung yang sudah memenuhi ruangan itu.
"Pengunjungnya ramai banget ya bang!" seru Cha.
"Iya ya sayang, padahal masih pagi ini. Ternyata banyak peminatnya ya," balas Zain.
"Iya Mas, ayo kita cari batiknya sebelah sana," ajak Cha menunjuk ke arah ruangan di dalam.
Zain mengikuti Cha ke arah dalam, mereka melihat-lihat batik yang berjajar bergantungan dengan corak yang bagus-bagus dan tentunya dengan harga yang mahal.
Hingga akhirnya Zain dan Cha mendapatkan batik yang diinginkan. Dan Cha juga membeli beberapa barang yang diinginkannya.
__ADS_1
Setelah itu mereka lanjut ke kasir dan membayar barang yang sudah di beli. Lalu Zain dan Cha melanjutkan jalan-jalan mereka ke arah sepanjang toko menuju hotel.