
Cha tertegun membaca surat dari Zain. dia tidak menyangka Zain yang dulunya hendak memperkosanya, justru berbanding terbalik.
Dan sekarang malah dia bisa jatuh cinta dengan sosok Cha.
Cha memandang lukisan tangan Zain. Dia meraba menelusuri gambar lukisan itu. Dan ada sebuah tulisan di dalam lukisan nya yang membuat Cha meneteskan air matanya.
"Sebegitu cinta nya kah kamu sama diri qu Zain?" tanya Cha kepada lukisannya.
Ini hanya sebagai illustrasi lukisan gambar Cha.
Zain bener-bener sudah jatuh hati terhadap sosok Cha yang manis.
Lalu Cha memajang lukisan itu di atas meja belajarnya. Dia tidak menyangka akan dilukis oleh seorang laki-laki yang mencintainya. Lalu Cha mengambil kotak cincin dari Zain. Cha membuka kotaknya dan mengambil cincin itu kemudian dia memasangkan cincin itu dijari manisnya yang satu nya lagi.
"Sungguh indah dengan mata berwarna ungu, warna kesukaan Zain.
Ini Illustrasi cincin berlian bermata ungu motif love, lambang cinta dari Zain kepada Cha.
Cha terus memandang cincin pemberian Zain. Sangat berbeda dengan cincin pemberian Yoga
Ini hanya Illustrasi cincin pemberian Yoga. Berbeda dengan pemberian Zain.
Dua-duanya sangat indah. Setelah itu Cha meletakkan kembali cincin pemberian Zain ke dalam kotaknya. Dia hanya memakai cincin dari Yoga, orang yang saat ini di cintainya.
Lalu Cha menyimpan kotak cincin itu ke dalam lemari pakaiannya. Tiba-tiba Sika nyelonong masuk ke dalam kamar Cha.
"Waowww cantik sekali kak! Siapa yang melukisnya?" tanya Sika takjub memandang lukisan kakaknya yang mempesona.
"Teman kakak, kenang-kenangan katanya karena dia berangkat keluar negeri," jawab Cha, tapi mata Cha tak lepas dari lukisan dirinya.
"Wah beruntung banget kakak ya. Kapan-kapan Sika mau dong dilukis sama teman kakak," rengek Sika sambil ngelendot ke kakaknya.
"Yeeeeee, orang aja udah pergi. Gimana mau lukisnya," ledek Cha sambil senyum-senyum.
"Yahhhh, oh ya kak, gimana udah selesai ujiannya? Trus kakak jadi kuliah di Jogja?" tanya Sika dengan wajah sedihnya.
"Kakak udah selesai ujiannya. Ntar malam kakak mau ngomong sama mama. Biar mama nanti yang bicara sama papa," jawab Cha.
"Yahhhh, Sika sendirian dong kak di sini. Gak asyik ah gak ada kakak," cemberut Sika yang gak rela jika kakaknya pergi ke Jogja.
"Sika kan udah besar, nih juga mau masuk SMP kan. Pasti banyak temannya. Nanti kakak pasti sering-sering hubungi Sika," bujuk Cha agar adeknya tidak bersedih.
"Iya deh kak, tapi Sika bakalan kesepian tanpa kakak Cha dirumah ini. Kakak kan tau mama gimana. Si bungsu mana bisa diajak ngobrol," jelas Sika sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Jangan sedih dong dek, kakak kan bakalan pulang ke Medan juga. Kamu rencananya mau SMP dimana?" tanya Cha yang sengaja mengalihkan topik pembahasan.
"Sika masuk SMP negeri favorite kak. Mudah-mudahan aja lulus," kata Sika.
"Aamiin kakak do'akan ya," balas Sika dengan senyuman hangatnya.
Kemudian Sika duduk di pinggir tempat tidur Cha. Namun lagi-lagi matanya menangkap sesuatu yang lain. Sika pun berdiri dan berjalan ke meja belajar kakaknya.
"Kak, ini pacar kakak ya?" tanya Sika sambil mengamati foto tersebut.
Cha yang awalnya fokus dengan game nya, mendadak menoleh ke arah Sika.
"Hehehe, hussssst jangan kuat-kuat ngomongnya, tar dengar mama lagi," kata Cha sambil jari telunjuknya nempel di bibirnya memberi isyarat.
"Wah.....ganteng banget kak cowok kakak," puji Sika yang tak berkedip memandang pacar Cha.
"Biasa aja tuh," ngeles Cha.
__ADS_1
"Sejak kapan kakak pacaran? Kan gak dibolehin mama," tanya Sika yang kepo.
"Oh..itu baru aja kok. Kakak jadian baru tadi pulang sekolah," jawab Cha jujur.
"Apa dia juga mau kuliah di Jogja kak?" tanya Sika lagi.
"Ih....kamu ini banyak banget pertanyaannya. Kayak Pak Polisi aja," kesel Cha karena ditanyain mulu.
"Hehehe, habis penasaran sih pengen tau. Boleh kan!!" jawab Sika seenaknya.
"Udah gih sana, kakak mau istirahat tau," usir Cha yang sebel lihat ke kepoan Sika. Cha juga mendorong Sika agar keluar dari dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
"Loh kak, kok Sika diusir? Gak mauuuu, Sika masih pengen lihat lukisan kakak!!" teriak Sika diluar kamar Cha.
Tiba-tiba mamanya menghampirinya karena mendengar suara berisik dari Sika.
"Ini kenapa teriak-teriak. Ini bukan hutan ya!," kata mamanya yang datang dari dalam kamar.
"Eh mama, ng..nggak apa-apa kok ma. Sika cuma ngerjain kak Cha aja," bohong Sika, karena takut dimarahin mamanya.
"Ya udah ma, Sika ke kamar dulu ya," pamit Sika dan berjalan buru-buru. Sika takut ditanya-tanya oleh mamanya. Ntar kasihan Cha nya.
Ditempat lain, Yoga sudah berada di bandara mau berangkat ke Belanda.
"Huhuhu, sayang, nanti kalau kamu udah nyampe di Belanda, hubungi mama ya. Mama pasti kangen banget deh sama kamu Ga," rengek mamanya di depan suaminya.
"Iya ma, pasti Yoga hubungi mama. Yoga juga pasti kangen banget ma," balas Yoga sambil mengusap air mata mamanya.
"Ya ampuuuun mama ini ada-ada aja deh. Anaknya mau sekolah jangan ditangisi dong. Nanti dia jadi berat ninggalin mama. Kan papa nanti pulang ma habis ngurus keperluan Yoga disana," protes papa Yoga sambil mengusap-usap punggung istrinya.
"Tetep aja, mama pasti kesepian. Papa tau nya sibuk kerja, jarang memperhatikan mama," jawab mama Yoga dengan jutek.
"Papa janji ma, nanti pasti sering perhatiin mama, jadi jangan sedih lagi dong am," bujuk papa yoga sambil merangkul istrinya.
"Janji ya pa, bakalan sering merhatiin mama. Awas kalau ingkar janji," ancam mama Yoga kepada suaminya.
"Ya udah ma, tuh udah ada pemberitahuan penumpang harus masuk keruang tunggu," kata Yoga yang gak mau lama-lama dihadapan mamanya. Dia gak sanggup jika melihat mamanya menangis.
"Iya ma, kami masuk ya ke dalam," kata papanya yoga.
Mamanya langsung berhambur memeluk anak semata wayangnya. Dia memeluknya dengan erat dan mencium-cium seluruh wajah anaknya, seakan-akan enggan untuk berpisah.
Yoga yang diperlakukan seperti itu jadi malu karena dilihatin para penumpang lainnya. Mereka senyum-senyum melihat tingkah mama nya Yoga.
"Ekhemm," papa nya yoga berdehem menegur istrinya yang kelewatan.
"Ma..., udah dong! Yoga udah besar ma, bukan anak kecil lagi, gak enak dilihat orang banyak," tegur Yoga yang merasa diperlakukan seperti anak-anak.
"Yeeeeee biarin, yang mama cium kan anak mama sendiri. Lagian mama kan bakalan ditinggal sama anak kesayangan mama, wajar dong mama begini, mamanya merajuk karena ditegur.
"Iya sayang..., nanti kita ke Belanda ya, ngunjungi Yoga. Atau kita tinggal di Belanda aja gimana?" tanya papanya Yoga sambil menggoda istrinya.
"Mau...," rengek mamanya Yoga sambil memperlihatkan wajah melasnya.
"Nanti papa urus ya surat pindah papa. Sekarang mama sabar dulu ya nunggu papa dirumah, ok sayang," bujuk papanya Yoga kepada istrinya.
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju ruang tunggu. Di belakang mereka, mamanya masih setia berdiri menatap kepergian dua orang yang disayanginya.
"Semoga kamu semangat ya nak kuliahnya disana. Mama harap kamu bisa mengerti keputusan kami," gumam mamanya sambil me atap mereka dari jauh. Setelah itu mamanya kembali pulang kerumah.
Diruang tunggu, Yoga menatap foto Cha. Dia tidak mau memberi khabar kepada Cha. Yoga menghela nafasnya dengan berat.
"Semoga kita bisa bersama selamanya yanx, tunggu aq ya," Yoga berbicara kepada foto Cha yang ada diponsel Yoga.
Papanya melirik kearah Yoga, kemudian melihat kearah ponsel Yoga. Yoga tidak sadar kalau papanya melihat foto Cha. Karena saat ini Yoga sedang memikirkan Cha, jadi tidak sadar dengan kehadiran papa nya disebelahnya.
"Oh...apa karena ses e yang ini perempuan, anak ku jadi murung begini? Hmmm dia gak boleh pacaran untuk saat ini," bathin papa nya sambil melihat anaknya yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mereka menaiki pesawat dan berangkat ke Belanda.
"Selamat tinggal Cha, tunggu aq," gumam Yoga sambil melihat kota Medan dari jendela kaca pesawat dan tak sengaja air matanya menetes. Yoga buru-buru menghapus nya agar tidak ketahuan papanya.
Saat ini dirumah Cha, sedang membahas masalah kuliah Cha. Cha menemui mamanya di dalam kamar. Dan mengatakan niatnya untuk kuliah di Jogja.
"Gimana ma, bisa kan aq kuliah diJogja? Aq ingin mandiri ma, dan aq ingin nyari suasana baru di Jogja," Cha memohon dengan wajah melas.
"Nanti mama bicarakan sama papamu dulu. Karena dana nya dari dia," jawab mamanya yang belum bisa memastikan.
"Kapan mama mau tlp papa, ma?" tanya Cha memaksa mamanya.
"Gak usah kau atur-atur aku. Biar aku bicarakan dulu sama papamu," jawab mamanya dengan ketus.
Cha menunduk lalu keluar dari kamar mamanya. Hatinya merasa sedih karena mamanya kurang perduli dengan keinginannya.
Padahal Cha sudah sangat semangat untuk mencoba kehidupan barunya. Cha pun kembali ke kamarnya. Ternyata di dalam kamar ada Sika sedang baring-baring disofa.
"Eh kak, gimana udah ngomong sama mama?" tanya Sika penasaran.
"Heum," jawab Cha malas.
"Loh kenapa cemberut gitu kak, apa mama marah ya kakak minta kuliah di Jogja?" tanya Sika lagi.
"Nggak, tapi ekspresi mama seperti gak semangat gitu mendengar kakak pengen kuliah di Jogja," jawab Cha sambil mendaratkan bokongnya di samping Sika.
"Emang mama ngomong apa kak tadi?" Sika terus bertanya.
"Kata mama, mau dibicarakan dulu sama papa, karena dananya dari papa," jawab Cha dengan lesu.
"Ya mudah-mudahan papa setuju kak. Atau, gimana kalau kakak aja langsung tlp papa, sapa tau papa mau mendengarkannya," saran Sika sambil tersenyum ke arah kakaknya.
Cha berfikir sejenak. "Apa bener kalau aq yang langsung tlp, papa bakalan mendengarkan keinginan qu?"
"Kayaknya gak mungkin deh Sik, papa mau mendengarkan kakak. Kamu kan tau papa jarang ngobrol sama kakak," ucap Cha tanpa ekspresi.
"Jangan menyerah dong kak. Ya dicoba aja. Kalau gak sekarang aja kakak tlp papa," saran Sika.
Cha diam sesaat. Lalu dia langsung mengambil ponselnya di tempat tidur. Dan dia mulai menghubungi seseorang. Tlp nya berdering dan diangkat.
"Hallo, assalamu'alaikum pa," sapa Cha.
"Wa'alaikumussalam, siapa ini?" tanya papanya karena tidak menyimpan no anaknya bernama Cha.
"Ya ampuuun papa qu sendiri tidak mengenaliku?" bathin Cha tak percaya.
"Ini Daecha pa," jawab Cha.
"Oh..iya. Loh kenapa menghubungi papa, tumben," sindir papanya. Cha yang mendengar nya jadi kesal.
"Iya pa, Cha mau ngomong sesuatu sama pa, papa lagi tidak sibuk kan?" tanya Cha berharap papa nya ada waktu mendengarkan keinginan Cha.
"Nggak. Mau ngomong apa nak?" tanya papanya penasaran.
"Pa, Cha rencananya mau lanjut kuliah ke Jogja. Cha ingin suasana baru dan kehidupan baru. Saat ini Cha udah kelar ujian dan tinggal menunggu pengumuman. Cha harap papa bisa mengabulkannya," Cha memohon kepada papanya.
"Apa sudah kau pikirkan, jauh dari mamamu bagaimana kehidupan kau nanti?" tanya papanya lagi.
"Cha udah memikirkan segalanya pa. Dan tekad Cha udah bulat ingin ke Jogja," jawab Cha dengan tegas.
"Ya udah bicarakanlah sama mama kau, kalau dia setuju, papa juga menyetujuinya," kata papa Cha dengan serius.
"Cha tadi udah ngomong sama mama, pa. Tapi kata mama nanti dibicarakan dulu sama papa," jelas Cha.
"Oh ya sudah nanti papa bicarakan sama mama kau, kalau memang itu sudah tekadnya. Ya udah papa lanjut kerja lagi nih," kata papa Cha yang tidak bisa lama-lama tlp nan.
"Iya pa, makasih pa udah mau menyetujui keinginan Cha," balas Cha. Tlp pun dimatikan. Cha melirik ke arah Sika. Sika menatap kakaknya seolah-olah menunggu hasil pembicaraannya.
__ADS_1