
Ghani dan Zain saling menatap tajam seakan mau memangsa sasarannya. Setelah itu Zain kembali membawa Cha berjalan tanpa berpamitan sama Ghani.
Ghani terus memandang punggung Cha yang semakin menjauh.
Sementara Cha, merasa tak enak karena tidak bertegur sapa. Cha melihat kecemburuan yang besar dalam mata Zain.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Cha yang berpura-pura tidak mengerti.
"Teman kamu tadi itu sepertinya dia sangat menyukaimu. Abang gak suka melihatnya. Pandangan matanya terhadapmu berbeda," jawab Zain kesal.
"Hahaha, bang, bang. Kita sudah mau menikah. Lagian aku gak tertarik untuk mendua. Kamu itu segalanya buatku, ngerti.....," bujuk Cha.
Cha tau kalau Zain sedang cemburu. Dia pun mencoba membujuknya. Cha tidak ingin hubungannya rusak karena orang lain. Dia tak ingin kehilangan Zain. Cintanya sangat besar terhadap Zain.
"Iya Abang tau, tapi tetap aja Abang tidak suka jika ada laki-laki yang memandangmu seperti itu," balas Zain.
"Baiklah, sekarang sayangku mau lanjut gak ke alun-alunnya?" tanya Cha dengan manja.
"Iya jadi yuk," balas Zain.
Mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Dan bodyguardnya membawa Zain dan Cha ke alun-alun. Sepanjang perjalanan yang tidak terlalu jauh, Cha menyandarkan kepalanya di pundak Zain dengan manja.
"Bang, aku kok deg-degan ya mau menghadapi pernikahan kita?" tanya Cha.
"Sama, Abang juga merasakan hal yang sama. Mungkin karena ini pertama kita menikah, jadi terasa deg-degan. Lagian kata Mama, sebelum menikah, kita akan mendapatkan cobaan yang menggoyahkan diri kita," jelas Zain.
"Masa sih? Emang contohnya seperti apa bang?" tanya Cha bingug karena memang tidak pernah dengar hal begitu.
"Ya Abang juga gak tau contohnya seperti apa. Hanya pesan Mama, kita harus sabar. Mama juga pesan sama kamu, harus sabar menghadapi masalah sebelum menikah," jawab Zain.
"Apa kehadiran Ghani itu merupakan suatu cobaan?" bathin Dae.
"Kok malah melamun. Mikirin apa?" tanya Zain.
"Lagi mikirin pernikahan kita," kilah Cha.
Cha tak mungkin mengatakan kalau dia sedang teringat tentang kehadiran Ghani. Kalau Zain tau itu, tentu saja dia akan marah besar terhadap Cha.
"Gak usah kamu pikirin ya sayang. Kita jalani aja. Semoga bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan," ucap Zain.
"Iya bang,"
__ADS_1
Tak lama kemudian, mobil sampai di alun-alun. Cha dan Zain keluar dari mobil. Mereka berjalan kearah lapangan yang ada dua pohon beringin. Zain ingin mencoba peruntungannya. Dia pun berjalan lurus untuk bisa mencapai dua beringin itu. Ternyata Zain bisa sampai di tengah kedua pohon beringin itu.
"Wah....bang, kamu hebat bisa sampai di depan kedua pohon beringin itu," puji Cha dengan gembira.
"Kamu gak coba Cha?" tanya Zain.
"Nggak ah, aku takut gak lurus kalau jalan. Lebih baik kita naik becak tuh yuk," ajak Cha.
"Mau kemana naik becak?" tanya Zain penasaran.
"Kita jalan-jalan keliling alun-alun aja yuk bang. Sapa tau ada jajanan yang bisa di beli," jawab Cha memberikan idenya.
"Hmmmm boleh juga tuh. Ayo kita kesana menyewa becaknya," ajak Zain.
Cha pun mengangguk mengiyakan ajakan Zain yang sangat bersemangat.
Mereka berdua menikmati malam ini dengan mengabiskan waktu berdua di sepanjang alun-alun dan Malioboro. Setelah puas dengan jalan-jalannya, mereka memutuskan untuk pulang ke hotel tempat Zain menginap.
"Gimana, apa kamu puas sayang jalan dengan Abang?" tanya Zain ketika sudah berada dalam mobil.
"Iya bang, aku senang banget Abang bisa datang ke Jogja. Kalau ajak Dewi, gak di kasih Ibunya terlalu malam. Makanya kangen jalan sama Abang," jawab Cha menjelaskan.
Cha hanya membalasnya dengan anggukan saja.
Sesampainya di hotel, Zain membawa Cha menuju kamar yang sudah di pesan.
"Ayo sayang, kamarnya ada di lantai dua," ajak Zain sambil menggenggam tangan Cha.
"Oh di lantai dua ya," ulang Cha.
"Iya, yuk, biar kita istirahat. Besok mau berangkat ke Klaten kan, dan harus bangun pagi dan kembali ke rumah," ucap Zain.
"Iya bang, yuk."
Cha dan Zain masuk ke dalam kamar yang di pesan. Di dalam kamar itu, Cha langsung membersihkan tubuhnya yang lengket karena dari luar. Begitu juga dengan Zain.
Setelah Cha menyelesaikan acara mandinya, Zain lanjut masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara di tempat lain, Ghani masih merasa kesal melihat tatapan Zain. Terlihat kalau dia merasa bermusuhan dengan Ghani.
"Ada apa lagi bro?" tanya temannya.
__ADS_1
Ghani dan temannya saat ini ingin kembali ke kostan Ghani.
"Gak ada apa-apa," jawab Ghani acuh tak acuh.
"Serius Lo gak ada apa-apanya" tanya temannya lagi.
"Gw merasa tak nyaman dengan tatapan laki-laki tadi," jawab Ghani menjelaskan.
"Oalah...., itu lagi. Dia itu udah calon istri orang Ghani.....sadar dong...!" marah temannya.
"Emang kenapa kalau dia udah jadi calon. Jodoh kan yang diatas yang mengaturnya," ucap Ghani ngeyel.
"Serah Lo deh. Gw cuma bilang, mending Lo nyari perempuan lain yang lebih cantik kayak sepupu gw," tawar temannya.
"Gak minat. Gw dah bilang berulang kali, gw gak mau ngerti..," ketus Ghani.
"Dasar bucin banget Lo Ghan.....!" seru temannya.
Tak ada lagi percakapan yang terjadi. Ghani memilih diam sambil memandang orang-orang yang beraktifitas di malam hari.
Di kamar hotel, Zain sama Cha sedang asyik ngobrol berdua di sofa. Mereka masih membahas seputar pernikahannya. Hingga akhirnya Cha tertidur di paha Zain.
Kemudian Zain mengangkat Cha ke atas tempat tidur. Perlahan dia menurunkan Cha dari gendongannya agar tidak terbangun. Lalu Zain pun ikut berbaring di samping Cha sambil memeluknya. Zain memejamkan matanya hingga dia terlelap.
Malam semakin larut hingga pagi menjelang. Cahaya matahari menyinari kamar mereka dari balik tirai.
Cha bangkit duduk dan menguap serta meregangkan otot-otot tubuhnya. Dia menoleh ke samping melihat Zain yang masih tertidur dengan pulasnya. Cha merasa sangat bahagia karena hari-harinya sekarang sudah berwarna.
Kemudian Cha bangkit dari tempat tidur, dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak berapa lama, Cha selesai dari kamar mandi. Dia melihat Zain masih tak ingin bangun dari tempat tidur. Cha pun berjalan menghampirinya dan membangunkannya perlahan.
"Sayang, ayo banguuun," ucap Cha pelan.
"Udah jam berapa ini sayang?" tanya Zain.
"Ini sudah pagi, ayo mandi biar kita sarapan," suruh Cha.
" Sepertinya Abang malas bangun. Pengen tidur aja," ucap Zain malas-malasan.
"Ayo, katanya mau ikut ke Klaten bang, ayo mandi dulu," paksa Cha.
Mau tak mau Zain akhirnya bangkit dan dia segera berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1