
Ketika Cha dan Zain keluar dari kamar, semua mata tertuju kepada keduanya terutama Zain. Zain yang menggunakan pakaian santai dengan kaos oblong biru dan celana katun menambah kesan santainya dan semakin mempesona.
Cha merasa kesal karena perempuan-perempuan disana begitu antusiasnya menatap Zain seolah-oleh Zain adalah makanan favoritnya.
"Eh nak Cha, ayo sini gabung sama kita untuk makan malam," tegur Ibunya Dewi.
"Iya Bu makasih," balas Cha dengan sungkan.
Lalu Zain dan Cha berjalan menghampiri Dewi dan Ibunya. Dewi menyadari wajah Cha yang kurang nyaman dengan perempuan-perempuan disana. Namun Dewi tak mampu mengatasinya.
"Cha, ayo makan. Nih enak loh masakan si Nenek," ucap Dewi yang sengaja membuat Cha rileks.
"Wah enak nih Wi. Udah dari tadi ya kumpul di sini?" tanya Cha sedikit berbisik saat Cha dan Zain memilih duduk dekat Dewi.
""Iya, habis Maghrib tadi semua langsung kumpul di sini. Mau lihat si Zain. Perempuan-perempuan itu sengaja buru-buru datang kesini dan berkumpul di ruangan ini untuk bisa melihat Zain yang setengah bule," jawab Dewi dengan menjelaskannya.
"Apa mereka tidak pernah melihat bule disini atau dimana gitu Wi?" tanya Cha bingung.
"Gak tau," jawab Dewi dengan mengedikkan bahunya.
"Ayo nak Cha, suguhkan buat bojone makanan yang terhidang di sini. Jangan malu-malu, ini masakan Nenek dan Ibunya Dewi," tergur Bibi dari Ibunya Dewi.
"Oh ini toh yang kamu bilang itu Bu. Orang bule datang ke rumah kita. Pantes anak-anak perempuan di sini pada merias dirinya. Rupanya karena ada yang tampan toh di rumah kita," celetuk Paman dari Ibunya Dewi.
"Iyo Pak, guanteng tenan yo Pak. Wah kalau ada anakku seng wedok, wes tak nikahkan karo koncone Dewi iki. Dadi bojone ke dua orak apa-apa Pak," sambung istrinya.
"Huss Tante, apa sampeyan ngomong? Wis nduwé bojo, nanging isih kepéngin disurung anak. Isine bi!” protes ibunya Dewi.
"(Huss Bibi nih ngomong apa. Dia sudah punya istri, masih juga mau di sodorin anaknya. Isin tau bi," protes Ibunya dewi)."
"Ora apa-apa. Saiki, akeh sing duwe bojo loro utawa telu. Apa ora bisa?" tanya Bibinya.
"(Lah nggak apa-apa. Jaman sekarang banyak kok yang punya istri dua bahkan tiga. Kenapa gak boleh)?"
__ADS_1
"Ya ora bisa mbak.... yen ngono, apa kowe bisa duwe bojo liya saliyane ibumu? sambung suaminya yang protes dengan sikap istrinya.
"(Ya gak boleh dong bu...., kalau begitu bapak boleh dong punya istri lagi selain ibu)?"
Istrinya malah manyun-manyun dan rada kesal dengan suaminya karena mendukung dan membela ponakannya.
"Udah ayo di makan, jangan malu-malu ya," ajak Paman dari Ibunya Dewi.
Mereka pun makan sambil ngobrol. Cha dan Zain makan seadanya. Mereka berdua merasa canggung. Terutama Zain yang menjadi pusat perhatian di sana.
"Sayang, Abang risih tinggal di sini. Apalagi dilihatin perempuan gitu," bisik Zain.
Cha memamerkan senyumnya kepada semuanya dan berkata dengan mengatupkan bibirnya.
"Iya bang, aku tau dan aku tidak menyukainya. Kamu gak usah melihat ke arah mereka. Cukup lihat aku saja, Ok!" tekan Cha dengan suara bisiknya.
"Apakah sayangku saat ini sedang cemburu?" tanya Zain sambil senyum-senyum.
"Hanya sedikit cemburunya," jawab Cha dengan malu-malu.
"Ih Abang nih, kita sedang di lihatin tuh sama mereka. Apalagi kamu, lagian kalau disini jelek-jelekin aja wajahnya," Cha mulai menunjukkan sikap jeoulesnya.
"Ok, nanti Abang akan rubah penampilan biar jelek. Dan gak akan ada yang melirik Abang," balas Zain masih senyum-senyum.
Dewi yang berada di sebelah Cha, mencuri dikit pendengarannya tentang obrolan Cha dan Zain. Dia hanya bisa senyum-senyum dengan Cha yang cemburu. Dewi sempat mengira Cha kemenag orang yang cuek dan tidak akan cemburuan. Tapi kenyataannya dia sangat cemburuan.
Mereka masih mengobrol sambil menikmati makanannya. Sesekali Bibi dan Pamannya dari Ibunya Dewi ikut nimbrung dalam obrolan Cha dan Zain. Hingga suara ramai yang penuh canda dan tawfddc vrra terdengar di rumah itu.
Setelah selesai makan malam, Cha dan Zain pamit untuk beristirahat di kamarnya.
"Bu, kami istirahat dulu ya. Besok mau jalan-jalan lagi, pengen tau Klaten," ucap Cha yang berpamitan dengan Ibunya Dewi.
"Iya nak Cha, silahkan. Kalau besok mau jalan-jalan bisa sama Dewi biar gak salah jalan," balas Ibunya Dewi.
__ADS_1
"Iya Bu. Besok saya akan ajak Dewi," sambung Cha.
"Oh kalian mau jalan-jalan toh. Ajak aja sekalian si Dina. Dia tau persis daerah Klaten," Bibi dari Ibunya Dewi ikut nimbrung.
"Kowe Bu, kok dijak Dina melu. Dina ora ngerti dheweke. Kok teka. Isin ngerti," ketus Paman dari Ibunya Dewi.
"(Kamu ini Bu, kenapa harus nyuruh Dina ikut sama mereka. Dina kan tidak mengenal mereka. Ngapain ikut. Malu tau bu)."
"Ora usah melu-melu pak, ayo Dina duwe kanca bule. Sapa ngerti, wong bule pengin karo Dina," balas istrinya yang tak suka suaminya ikut campur.
"(Kamu gak usah ikut campur Pak, biar Dina punya teman bule. Sapa tau tuh bule mau sama Dina)."
Suaminya mendelik menatap tajam ke arah istrinya yang tidak tau diri. Harus menyodorkan keponakannya untuk laki-laki yang bersuami.
"Ya bi, Dina ora usah sowan. Ora apik karo wong-wong mau," celetuk Ibunya Dewi yang tak suka dengan keinginan Bibinya.
"(Iya bi, Dina gak usah ikut. Gak enak sama mereka),"
Ibunya Dewi merasa tak enak sama Cha dan Zain jika ada orang lain yang ikut bersama mereka. Sehingga dia menyangkal keinginan Bibinya.
"Kowe kok malah kaya ngono. Ayo Dina teka. Ayo dadi kanca liyane. Bulik kepingin Dina duwe kanca sugih. Masa Dewi mung bisa kekancan karo dheweke. Dina uga bisa kan? tanya Bibinya dengan nada tak suka.
"(Kamu kok malah gitu. Biarin Dina ikut. Biar bertambah teman. Bibi kan pengen Dina punya teman orang kaya. Masa Dewi saja yang bisa berteman dengan mereka. Dina juga boleh kan)?"
Mereka terus berbicara dalam bahasa Jawa. Cha dan Zain tidak mengerti apa yang di sampaikan mereka. Cha dan Zain hanya diam dan sedikit malas untuk mendengar dan berada di antara mereka yang sedang berdebat. Walaupun Cha tidak mengerti bahasanya, namun dia tau kalau keadaannya sedang tidak nyaman karena adanya perdebatan antara Bibi dan Ibunya Dewi.
Dina yang mendengar namanya di sebut-sebut, wajahnya langsung merona tersipu malu sambil menatap Zain yang sangat tampan di antara lainnya. Dia berharap bisa jalan-jalan dengan bule tampan.
"Maaf Bu, saya sama Zain permisi ke dalam dulu ya," Cha menghentikan perdebatan mereka dengan berpamitan kembali ke dalam kamar.
"Oh iya nak Cha, silahkan. Maaf jadi menunggu. Ada sedikit obrolan barusan," jelas Ibunya Dewi.
Cha mengerti kalau Ibunya Dewi tidak mengatakan sebenarnya. Dia hanya ingin menjaga perasaan Cha yang sudah sangat baik terhadap keluarganya.
__ADS_1
Kemudian, Cha dan Zain sedikit menunduk ke arah Paman dan Bibinya dari Ibunya Dewi. Lalu keduanya berjalan ke arah kamar mereka dan meninggalkan keluarga itu yang masih berdebat. Cha tak mau menghiraukan dan mendengarnya.