
Cha mulai keringat dingin, dia terus menggenggam tangan Zain.
"Bonjour Monsieur!" ucap seorang security-nya
"(Selamat pagi Tuan)!"
"Bonjour Monsieur!" sapa beberapa karyawan yang dilewati oleh Zain dan Cha.
Mereka memasuki lift untuk menuju ruangan Zain. Saat mereka memasuki lift, tidak ada seorang pun yang berani ikut masuk bersama CEO nya. Mereka menunggu antrian lift berikutnya.
"Hé, qui est la femme que notre patron tient?" tanya salah seorang karyawan A yang sedang menunggu lift.
"(Hey, siapa wanita yang digandeng Bos kita)?"
"La femme est comme une Indonésienne. Le patron veut-il un amant d'Indonésie?" tanya karyawan B balik.
"(Wanita itu seperti orang Indonesia. Apakah si Bos menginginkan kekasih dari Indonesia)?"
"Pourquoi doit-il venir d'Indonésie ? Suis-je moins attirant pour le patron?" ucap karyawan A yang merasa percaya diri.
"(Kenapa harus dari Indonesia? Aku juga kan cantik)?"
"Hahahaha, comment le Boss peut-il avoir le même goût que vous ! Je suis la seule qui soit belle n'est pas lorgnée, et toi!" hardik karyawan B yang merasa sebel lihat temannya.
"(Hahahaha, mana mungkin si Bos seleranya sepertimu! Aku saja yang cantik tidak dilirik, bagaimana dengan dirimu)!"
"Merde, tais-toi, tu as gâché ma matinée," gerutu karyawan A.
"(Sialan, diamlah, kau membuat pagiku tak bersemangat),"
"Ok, ok, je vais me taire. Vous y penserez tout le temps. Profitez de votre matinée avec enthousiasme. Allez, entrons, l'ascenseur est ouvert," ajak karyawan B.
"(Ok, ok, aku akan diam. Kau akan memikirkannya terus. Nikmatilah pagimu dengan semangat. Ayo kita masuk, liftnya sudah terbuka)," ajak karyawan B yang merasa lucu dengan sikap temannya.
Sedangkan Zain dan cah saat ini memasuki ruangan Zain.
"Bonjour Monsieur," sapa sekretarisnya yang langsung berdiri memberi salam.
"(Selamat pagi Tuan),"
"Bonjour, s'il vous plaît ma chambre maintenant !" perintah Zain.
"(Pagi, tolong keruangan saya sekarang)!"
"Prêt Monsieur!" balas sekretarisnya.
"(Siap Tuan)!"
Cha menatap Zain dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ada rasa kagum, ngeri dan tak percaya diri dengan sosok Zain yang ternyata sempurna.
Saat memasuki ruangannya, Zain melihat orang kepercayaannya sedang fokus bekerja hingga tak menyadari kehadiran Zain dan Cha.
"Apa agenda hari ini Arya?" tanya Zain yang mengagetkan Assistennya.
"Eh Tuan Zain. Maaf saya tidak menyadari kedatangan anda," ucap Arya selaku Assistent dan sahabatnya.
"Jangan terlalu formal bersamaku saat kita berdua. Kau hanya perlu bersikap formal dihadapan yang lainnya," perintah Zain dengan tegas.
__ADS_1
"Ah baiklah Zain. Hey siapa dia?" tanya Arya saat melihat kehadiran Cha.
"Dia calon istriku. Kau jangan coba-coba mendekatinya atau ku kirim kau ke Indonesia balik," ancam Zain tanpa ekspresi.
"Hohoho, jangan terus mengancamku Zain. Kalau kau melakukan itu, aku akan melaporkanmu dengan Nyonya besar yaitu Omamu," balas Arya yang tak mau kalah.
"Kau berani melawanku! Baik akan aku pesankan tiket Pesawat sekarang juga," kesal Zain.
"Oh ayolah Zain...., aku hanya bercanda. Kau serius banget sih jadi orang?" gerutu Arya.
"Udah lanjutkan kerjaanmu. Oh ya gimana kerjasama kemaren, sudah ok semuanya?" tanya Zain.
"Beres, semua sudah berjalan sesuai dengan kemauanmu. Kita akan mendapatkan keuntungan besar. Dan kau harus memberikan bonus untukku," jawab Arya.
"Akan aku pikirkan," balas Zain cuek.
"Hey mana bisa seperti itu! Aku sudah bersusah payah mengaturnya Zain. Kau harus kasih aku bonus nya!" ucap Arya dengan kesal.
"Baiklah, kau tinggal cek rekeningmu, sebentar lagi saldomu akan bertambah," balas Zain tanpa ekspresi.
"Waowww kau memang sahabatku terbaik sekaligus Bosku," puji Arya dengan rasa senang karena dapat bonus tambahan.
Cha merasa lucu dan geli melihat tingkah Arya yang tidak tau malu. Dia hanya menundukkan wajahnya tanpa menghiraukan kehadiran mereka berdua. Cha memilih mengirim pesan terhadap Dewi sahabatnya di Jogja.
"Ahhh, aku jadi kangen sama semuanya di sana. Bagaiman khabar adikku Sika dan si bungsu ya?" bathin Cha yang tiba-tiba merasa kangen dengan mereka.
Zain menatap kearah Cha yang sedang fokus mengirim pesan ke Dewi dan Sika. Lalu Zain menghampiri Cha dan mengagetkannya.
"Sayang, kamu sedang apa? Kelihatannya serius banget?" tanya Zain yang duduk disamping Cha.
"Ah aku lagi mengirim pesan sama Sika dan Dewi. Aku kangen sama adik-adikku Zain," jawab Cha.
"Dasar si Zain ini pencemburu sekali dia. Tapi perempuan itu cantik banget. Apa dia dari Indonesia? bathin Arya yang terus melirik kearah Cha dan Zain.
"Kenapa kamu tidak menghubungi Sika aja sekarang?" tanya Zain.
"Mungkin sekarang dia lagi tidur Zain. Pesanku saja belom dibalasnya," jawab Cha.
"Baiklah, kamu tunggu aku disini, aku siapkan beberapa kerjaanku dulu. Nanti setelah itu kita keluar jemput Oma," jelas Zain. Lalu dia beranjak dari sofa dan kembali ke meja kerjanya.
Cha menatap Zain dari belakang. Dia benar-benar beruntung dicintai oleh laki-laki seperti Zain.
Lalu sekretaris Zain masuk kedalam ruangan. Sebelumnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah diperbolehkan masuk, maka si sekretaris masuk kedalam ruangan Zain.
"Monsieur, j'ai une réunion prévue avec la compagnie A cet après-midi. ils veulent vous rencontrer en personne monsieur," ucap si sekretaris yang menentukan jadwal agenda Zain hari ini.
"(Ini Tuan ada jadwal meeting dengan Perusahaan A nanti siang. mereka ingin bertemu dengan anda langsung Tuan),"
"Dites-moi que je ne peux pas les rencontrer car j'ai d'autres affaires. Ceux qui les rencontreront cet après-midi, Arya et vous. Je dois partir pour une affaire importante. Y a-t-il autre chose?" tanya Zain.
"(Katakan, saya tidak bisa bertemu dengan mereka karena ada urusan lain. Yang akan menemui mereka nanti siang, Arya dan kamu. Saya harus pergi ada urusan penting. Apa ada hal lainnya)?" tanya Zain.
"Oui Monsieur. Aujourd'hui, il y a une invitation à la dernière exposition de voitures de la société B et vous, en tant qu'invité d'honneur, êtes invité, M," info dari sekretarisnya.
"(Iya Tuan. Hari ini ada undangan pameran Mobil keluaran terbaru dari Perusahaan B dan anda sebagai tamu terhormat yang di undang Tuan)."
"A quelle heure est l'invitation?" tanya Zain.
__ADS_1
"(Jam berapa undangannya)?"
"14h30 Monsieur. Si vous voulez venir, je les informerai monsieur," ucap sekretarisnya.
"(Jam 14.30 Tuan. Jika anda ingin datang, saya akan mengabari mereka Tuan)."
"Ce n'est pas nécessaire. Je ne veux pas le promettre. Si je pouvais, j'y assisterais à l'improviste. Y a-t-il autre chose?" tanya Zain.
"(Tidak perlu. Saya tidak mau menjanjikannya. Kalau saya bisa, saya akan memghadirinya tanpa pemberitahuan. Apa ada hal lainnya lagi)?"
"Oui Monsieur. C'est tout votre ordre du jour pour aujourd'hui monsieur," jawab sekretarisnya.
"(Baik Tuan. Hanya itu saja Agenda anda hari ini Tuan)."
"Oui, vous pouvez retourner au travail," perintah Zain.
"(Ya sudah, kamu boleh kembali bekerja)."
"Oui Monsieur. Alors j'excuserai M," balas sekretarisnya yang pamit undur diri.
"(Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi Tuan)."
Setelah percakapan dengan sekretarisnya selesai, Zain mengecek berkas yang ada diatas mejanya. Dia bekerja dengan fokus tanpa memperdulikan keberadaan Cha di ruangan itu.
Cha sangat menikmati pemandangan yang langka dilihatnya. Zain benar-benar sosok yang sempurna bagi para wanita.
Setelah selesai dengan urusan pekerjaannya, Zain memutuskan untuk pergi dari kantornya.
Dia menghampiri Cha yang sedang bermain ponselnya.
"Cha ayo kita kembali, aku sudah mengirim pesan ke Oma untuk bersiap-siap. Karena kita akan menjemputnya," ajak Zain.
"Kamu sudah selesai kerjanya Zain?" tanya Cha.
"Seperti yang kamu lihat sayang, aku sudah selesai dengan kerjaanku," jawab Zain nyantai.
Lalu Arya menghampiri mereka berdua dan berkata, "Zain, aku boleh keluar sebentar. Hati ini Mamaku datang dari Indonesia. Sebentar lagi aku akan menjemputnya ke Bandara," ucap Arya meminta izin keluar kantor.
"Ok aku kasih izin. Tapi bukan berarti tugasmu selesai. Setelah itu kau harus kembali ke kantor," balas Zain.
"Ah baiklah Zain. Aku akan kembali ke kantor setelah menjemput Mamaku. Thanks Zain," ucap Arya yang berterima kasih karena diizinin.
"Aku akan keluar kantor sekarang. Kau handle kerjaan disini sebelum kau keluar kantor juga," pinta Zain.
"Siap Tuan Zain," balas Arya sambil tersenyum. Atau sekilas menatap kearah Cha. Dia pun tersenyum terhadap Cha.
"Jangan kau pandangi dia. Apa matamu mau aku lakban biar gak bisa melihat lagi," ketus Zain yang menangkap Arya sedang menatap Cha.
"Ah kejam sekali kau Zain. Dikit aja lihat masa gak boleh," protes Arya sambil berlalu dari hadapan Zain dan kembali ke meja kerjanya.
Arya merasa geli dengan sikap Zain yang menurutnya bucin terhadap perempuan dihadapannya.
"Benar-benar berubah dia. Bisa takluk dengan perempuan cantik tapi sederhana," bathin Arya.
"Ayo sayang kita jemput Oma," ajak Zain.
"Iya, ayo Zain."
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari ruangan Zain dan masuk ke dalam lift.