Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Rencana Ngontrak


__ADS_3

Ibunya Dewi merasa terharu dan sangat berterima kasih dengan bantuan yang diberikan Cha dan yang lainnya.


"Sudah-sudah Bu, jangan menangis terus, nanti saya juga ikut sedih," balas Cha.


"Iya Bu, yang penting sekarang Ibu sudah ketemu sama Dewi dan jangan bilang sama mereka kalau Ibu bertemu denganku," Dewi meminta Ibunya agar tidak memberitahukan pertemuan mereka sama pakde dan budenya.


"Iya nak," jawab Ibunya.


"Sekarang kami antar Ibu pulang kerumah, tapi hanya sampai didepan jalan lebar saja ya Bu. Karena Dewi gak mau mereka melihat Dewi," Dewi masih merasa takut jika kembali kerumah itu.


Akhirnya mereka mengantar Ibunya Dewi menggunakan mobil online. Dalam perjalanan, Dewi terus memeluk Ibunya. Dia sebenarnya tidak tega membiarkan Ibunya tinggal bersama dengan Pakdenya. Dewi takut hal serupa akan terjadi dengan Ibunya.


"Bu, aku khawatir sama Ibu dan adik-adik. Ibu harus hati-hati terhadap laki-laki itu," Dewi mencemaskan Ibunya.


"Iya nak, Ibu akan hati-hati. Kamu juga harus jaga dirimu ya," Ibunya merangkul Dewi dan menepuk-nepuk punggung tangan Dewi.


Tak berselang lama, mobil pun sampai ditempat tujuan. Dewi mengantar Ibunya keluar dari mobil. Sedangkan Cha dan Mbak Ani tetap menunggu didalam mobil. Cha meminta Pak sopir untuk mengantarkan mereka kekost-kostan.


Diluar mobil Dewi mengantar Ibunya hanya sampai dekat rumah mereka saja.


"Bu, nanti Dewi khabari kalau sudah dapat kontrakannya ya, sekarang Ibu balik dulu. Ingat ya Bu jangan bilang sama mereka kalau kita bertemu," Dewi mengingatkan Ibunya lagi.


"Iya nak, ya udah Ibu masuk dulu ya. Kamu hati-hati dijalan," ucap Ibunya sambil mengusap kepala Dewi.


Dewi pun pergi meninggalkan Ibunya dan masuk kedalam mobil.


"Udah Wi?" tanya Cha saat Dewi masuk dalam mobil.


"Udah Cha, oh ya gimana khabar kontrakan itu? Apa kita mencarinya sekarang?" tanya Dewi.


"Gak usah Wi, nanti kita nunggu khabar dari dia aja," jawab Cha.


"Pak, kita balik ke kostan jalan ********* ya Pak," ucap cha.


"Baik Mbak," jawab si supir.


"Cha, Mbak nanti dikamar kamu aja ya. Mbak takut dia datang nemui Mbak," Mbak Ani memotong pembicaraan mereka.


"Oh iya Mbak, silahkan. Emang Mbak gak ke kampus hari ini?" tanya Cha.


"Nggak dulu deh Cha. Mbak lagi gak kepengen ketemu sama dia. Mbak belom siap Cha," Mbak Ani masih tidak bisa menerima keadaannya.


"Mbak Ani harus bisa melupakannya dan menerima keadaan Mbak Ani yang dikhianati. Mbak harus berani menghadapinya," Cha memberikan nasehatnya.


"Makasih ya Cha, kamu dan Dewi benar-benar sahabat yang baik buat Mbak. Mungkin kalau tidak ada kalian, ntah bagaimana nasib Mbak," ucap Mbak Ani dengan sedih.

__ADS_1


"Mungkin saat ini kalian yang mengalami kesedihan. Siapa yang bisa menduga suatu saat aku yang menghadapinya. Jadi tetaplah kita saling mendukung," Cha merangkul kedua sahabatnya itu karena posisi duduk Cha berada diantara mereka.


Tak berapa lama mobil akhirnya sampai dikost-kostan mereka. Cha dan yang lainnya masuk kedalam. Saat hendak melangkah memasuki gerbang, Cha melihat Dino sedang ngobrol bersama Ghani.


"Eh Mbak tunggu bentar, aku gak bisa masuk!" ucap Cha yang menyuruh mereka berhenti.


"Loh kenapa Cha?" tanya Mbak Ani heran.


"Mbak, lihat itu cowok yang sedang ngobrol. Salah satunya pernah mencoba menjualku bersama kakakku kemaren.


"Ya ampuuun Cha! Masa sih tuh cowok germo?" tanya Mbak Ani gak percaya.


"Iya Cha, masa cowok seperti itu kelihatan baik bisa jadi germo?" Dewi pun ikut-ikutan tak percaya.


"Iya Mbak, Wi! Kelihatannya aja baik tapi perilakunya buruk. Demi uang apapun bisa dilakukan seseorang jika sudah gelap mata," jelas Cha.


"Trus gimana dong kamu masuk! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Mbak Ani.


"Aku akan tlp Ghani dulu buat dia masuk kedalam kamar Ghani," ucap Cha.


Lalu Cha menghubungi no Ghani. Hingga beberapa kali deringan akhirnya tlp diangkat. Cha menceritakan ke Ghani kalau saat ini dia berada didepan gerbang kost-kostan mereka. Cha meminta pertolongan sama Ghani supaya menyuruh Dino masuk kedalam kamarnya sebentar. Agar Cha dan yang lainnya bisa masuk kedalam kost. Setelah menghubungi Ghani, Dewi mengecek keadaan dan dia masuk duluan kedalam bersama Mbak Ani. Setelah Dino masuk, Dewi berdehem memberi kode kepada Cha. Lalu Cha pun berlari buru-buru masuk kedalam kostnya.


"Hah, leganya udah masuk," Cha ngos-ngosan saat masuk kedalam kamarnya.


"Iya benar Cha. Apa gak sebaiknya pindah aja. Gimana kalau kita bertiga nyari kontrakan agar bisa bareng tinggalnya," Mbak Ani memberi usulan kepada mereka.


"Boleh juga tuh Mbak," jawab Dewi antusias.


"Kalau gitu kita satu rumah aja Wi. Keluarga kamu dan kami berdua. Kita gabung aja gimana? Kan biar rame rumahnya," balas Cha.


"Mmmm, aku tanya Ibuku dulu ya, apa beliau mau gabung?" Dewi mau menghubungi Ibunya terlebih dahulu.


"Ok, biar aku juga ngabari temanku itu, untuk mencarikan kontrakan yang punya kamar empat," sahut Cha.


Akhirnya Dewi menghubungi Ibunya untuk memberitahukan niat mereka satu rumah. Sedangkan Cha mencoba menghubungi Zain.


Ketika Cha mencoba menghubungi Zain, ternyata Zain terlebih dahulu menghubunginya. Pucuk dicinta ulamoun tiba. Seperti ada ikatan bathin diantara mereka, Zain langsung menghubungi Cha. Cha langsung mengangkat tlp nya.


"Hallo, Assalamu'alaikum Zain!" sapa Cha.


"Wa'alaikumussalam sayang!" balas Zain.


"Baru aja mau aku tlp, eh rupanya kamu duluan yang tlp," ucap Cha yang merasa lucu.


"Oh ya, wah berarti kita sehati dong sayang. Aku pun dari tadi pengen menghubungimu memberitahukan tentang kontrakan itu. Aku mau kasih saran, gimana kalau kamu tinggal bareng mereka, biar kamu punya teman dan tidak sendirian. Gimana mau?" tanya Zain yang memberi saran.

__ADS_1


"Loh kok bisa sama ya Zain. Aku juga ceritanya mau menyampaikan hal itu ke kamu. Tapi disini aku punya satu sahabat lagi yang mau gabung. Jadi rencananya pengen ngontrak rumah yang punya empat kamar. Makanya aku menghubungi kamu!" jawab Cha semangat.


"Loh kok bisa sama ya sayang. Wahhh kita punya ikatan bathin yang kuat ya. Itu artinya kamu juga sebenarnya mencintaiku walaupun sedikit, hehehe," ucap Zain cengengesan.


"Iya kali. Udah ah jangan bahas itu. Gimana, apa kamu udah nemuin kontrakannya Zain?" tanya Cha penasaran.


"Udah sayang, rumahnya bagus dan seperti yang kamu inginkan kamar empat. Rumah itu berada diare komplek. Jadi kalian insyaallah aman disana karena ada satpamnya. Kapan mau lihatnya biar aku suruh orangku disana mengantar kalian."


"Tapi aku tanya yang lain dulu ya Zain. Karena Dewi blom tau apakah Ibunya setuju kamu ikut bareng mereka apa nggak. Nanti aku akan hubungi kamu lagi ya. Oh ya kamu sehatkan disana?" tanya Cha malu-malu.


"Ekhem perhatian juga ternyata. Aku baik-baik aja sayang. Aku malah mengkhawatirkan kamu disana. Seandainya kamu setuju nikah sama aku, udah aku boyong kamu kemari."


"Hehehe," Cha cuma bisa cengengesan.


"Ya udah nanti kamu hubungi aku ya sayang kalau jadi."


"Iya Zain, makasih ya."


"Ada imbalannya!"ucap Zain.


"Yeee itu namanya gak ikhlas. Emang apa imbalannya?" tanya Cha.


"Kasih aku ciuman dari sini. Biar aku tambah semangat kerjanya disini ya," Zain memohon agar Cha Amy menurutinya.


"Dasar Tuan pemaksa!" gerutu Cha sambil manyun.


"Ayolah Cha..mau ya..!" rengek Zain.


"Iya-iya, emmmuach." Cha memberikan ciuman dari ponselnya dengan malu-malu.


"Emmmuach," balas Zain dengan senangnya.


Lalu tlp pun mati karena Cha merasa malu sudah melakukan hal yang konyol baginya. Namun Tidka bagi Zain. Hatinya terasa berbunga-bunga mendapatkan ciuman dari orang yang dicintainya.


Cha melihat kearah Dewi yang sudah selesai menghubungi Ibunya.


"Gimana Wi? Apa Ibu Lo setuju kita ikut dengan kalian?" tanya Cha yang duduk disamojng Dewi.


"Ibu gw senang banget Cha. Malah kata Ibu gw, rumah akan ramai jika kalian ikut."


"Ya udah kalau gitu kapan kita pindahnya?" tanya Cha lagi.


"Emang kontrakannya udah dapat ya Cha?" tanya Mbak Ani.


"Udah Mbak, sekarang tinggal kita mau lihat kesana atau langsung pindah?" tanya Cha yang minta pendapat sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2