
Dewi memikirkan perasaan Ibunya, jika bertemu dengan Kakaknya itu. Makanya Dewi memutuskan untuk memindahkan adiknya ke sekolah lain yang tidak terjangkau sama Budenya dan Pakdenya.
"Ayo kita ke kampus Wi. Kalau bisa, kita aja yang jemput adik kamu, jangan kasih Ibu kamu yang jemput. Kasihan nanti mendengar ucapan Budemu. Rasanya aku pengen jeblosin mereka kepenjara," Cha merasa geram melihat perlakuan Budenya Dewi.
"Makasih ya Cha, kamu terus mendukung aku dan keluarga ku. Ayo kita naik Bus Way," ajak Dewi. Mereka pun meninggalkan sekolah Pita menuju halte.
"Wi, nanti habis jam kuliah, kita langsung aja kesekolah adik kamu dan bertemu dengan Kepala Sekolahnya untuk memberitahukan kepindahan adik kamu. Dan satu lagi, minta Kepala Sekolah untuk tidak memberitahukan kepada Bude dan Pakde kamu, walaupun mereka keluarga," Cha memberikan masukan terhadap Dewi untuk keamanan mereka.
"Iya Cha, kita harus bergerak cepat," balas Dewi.
Lalu Bus Way nya datang, mereka naik kedalam Bus Way tersebut. Didalam mereka berdiri karena ramai penumpangnya. Bangku yang ada didalam sudah penuh semuanya, sehingga mereka harus berdiri memegang gantungan tangan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di kampus. Mereka turun di halte dekat kampus. Cha dan Dewi berjalan sedikit ke kampus. Namun saat hendak mendekati gerbang kampus, Cha melihat Dino dan Imran sedang ngobrol. Cha buru-buru menarik tangan Dewi untuk masuk kedalam sebuah foto copy.
"Wi, Lo lihat laki-laki dua orang didepan gerbang kampus?" tanya Cha saat mereka sudah bersembunyi.
"Yang mana Cha?" tanya Dewi bingung.
"Itu yang memakai baju coklat dan hitam kotak-kotak," tunjuk Cha.
"Oh..iya gw lihat, kenapa Cha? Dan siapa mereka?" tanya Dewi penasaran.
"Dia itu Imran dan Dino!" Si Dino itu yang mau jual gw dan kakak gw kemaren! Dan mereka bersahabat dengan Ghani," jelas Cha.
"Waduh jadi gimana dong ini Cha?" Dewi mulai ketakutan, karena mendengar kata menjual.
"Gimana ya Wi, gw juga bingung!" seru Cha.
"Oh ya, kenapa Lo gak hubungi Zain, minta tolong sama dia agar berbuat sesuatu terhadap Lo!" saran Dewi.
"Gak ah, gw gak enak kalau harus membebani dia Wi. Nanti dia gak fokus kerja disana. Kita pikir cara lainnya," ucap Cha sambil berpikir.
"Oh coba gw hubungi Ghani, sapa tau dia dikampus," Cha langsung mengambil ponselnya dan menghubungi no Ghani. Dan syukurnya Ghani langsung mengangkat tlpnya.
"Hallo Ghani!" sapa Cha.
"Cha! Kamu dimana nih? Aku khawatir banget sama kamu!" jawab Ghani diseberang.
"Ghani, kamu dimana sekarang? Aku mau minta tolong nih!" tanya Cha.
"Aku dikampus Cha. Ada apa?" tanya balik Ghani.
"Didepan aku lihat ada Imran dan Dino. Mereka lagi nongkrong didepan gerbang sama beberapa orang. Kamu tau siapa mereka?" tanya Cha tentang laki-laki lainnya yang tidak kelihatan seperti mahasiswa.
"Aku minta maaf ya Cha, karena gak percaya sama kamu. Ternyata apa yang kamu bilang benar. Bahwa Imran dan Dino mereka sejenis mucikari kampus. Yang kamu lihat itu suruhan Maminya tempat mereka menyalurkan mangsanya," jelas Ghani.
__ADS_1
"Darimana kamu tau Ghan?" tanya Cha penasaran.
"Kemaren Dino dan Imran main kekostan ku. Kami ngobrol di teras kost. Saat itu aku bilang mau kekamar mandi dan masuk kedalam kamarku. Pada saat itu aku belom masuk kekamar mandi karena aku mau ngecek ponselku yang diatas tempat tidur. Lalu aku mendengar samar-samar mereka menyebut namamu. Aku heran, kenapa mereka menyebut nama Cha? Lalu aku mencoba mendekatkan pendengaranku kearah jendela yang tidak terbuka. Dari situlah aku mengetahui mereka merencanakan sesuatu terhadap mu Cha. Jadi lebih baik sekarang kamu hati-hati," Ghani menceritakan panjang tentang rencana Dino dan Imran.
"Apa kamu juga bagian dari mereka?" tanya Cha curiga.
"Kamu kenapa mikirnya seperti itu Cha!" Ghani kecewa dengan tudingan dari Cha.
"Iya karena kamu sahabat mereka," balas Cha.
"Aku gak sejahat itu Cha. Dari pada kamu aku jual, mending kamu aku nikahin buat pendamping hidupku," balas Ghani serius.
"Apa sih yang kamu bilang!" Cha jadi salah tingkah mendengar ucapan Ghani.
"Sekarang kamu dimana Cha?" tanya Ghani khawatir.
"Aku sekarang disamping kampus Ghan! Kamu bisa gak nolongin aku, karena saat ini aku ada jam kuliah!" ucap Cha.
Ghani pun berpikir gimana caranya Cha bisa melewati mereka tanpa harus bertemu keduanya.
"Oh ya, kamu dekat dengan Masjid kan Cha! Disamping mesjid itu ada jalan setapak yang bisa masuk kekampus kita. Tapi kamu harus mutiara jadinya. Karena jalan setapak itu agak kebelakang jaraknya dari depan," jelas Ghani.
"Iya aku disamping Masjid. Berarti aku masuk pekarangan Masjid dan jalan dari samping yang ada tempat ngambil air wudhu ya. Trus aku kemana lagi?" tanya Cha.
"Ayo Wi kita ke Masjid," ajak Cha sambil mendekatkan ponselnya ketelinga.
"Mau ngapain Cha?" tanya Dewi bingung.
"Ngikut aja Wi," jawab Cha.
Dewi pun mengikuti Cha yang berjalan memasuki area Masjid. Lalu mereka berjalan kesamping tempat pengambilan air Wudhu.
"Kamu udah di tempat Wudhu Cha?" tanya Ghani.
"Iya nih aku sudah melewati tempat Wudhu," jawab Cha.
"Kamu terus aja jalan sampai keujung, nah nanti setelah diujung jalan itu sebelah kirinya ada jalan kecil yang hanya dilewati pejalan kaki. Habis itu kamu terus aja dan melewati rumah warga dan disebelah rumah warga ada jalan sangat kecil, kamu lewati aja jalan itu nanti kita bertemu diujung jalan itu. Rumah warga itu adalah rumah penjaga Masjid dan Kampus sekaligus," terang Ghani.
"Ok, aku akan ikuti arahan kamu. Kamu standby ya ponselnya, mana tau aku nyasar," balas Cha.
Akhirnya Cha dan Dewi berjalan mengikuti arahan yang diberikan Ghani sampai mereka tiba diujung jalan dan bertemu dengan Ghani.
"Itu Ghani, Wi!" tunjuk Cha.
"Oh iya, ayo Cha cepatan," ajak Dewi.
__ADS_1
Mereka pun berjalan cepat kearah Ghani. Dan diujung jalan itu Ghani sudah menunggu mereka. Dia melambaikan tangannya saat melihat Cha.
"Syukurlah kalian bisa lewat dari sini," ucap Ghani.
"Oh ya Ghan, apa mereka tau aku ambil jurusan yang sama dengan kamu?" tanya Cha.
"Mereka tidak tau Cha. Mereka hanya taunya kamu kuliah dikampus ini. Memang kemaren Imran bertanya kamu ambil jurusan apa, tapi aku jawab tidak tau," jelas Ghani.
Mereka jalan bertiga kearah kelas Cha. Ghani mengantarkan Cha sampai kedepan kelasnya. Banyak mata yang memandang tidak suka sama Cha karena Ghani itu adalah laki-laki yang di idolakan cewek-cewek kampus.
"Lihat tuh cewek, kok bisa jalan sama Mas Ghani ya?" ucap salah satu mahasiswi yang sedang kumpul.
"Bukannya itu mahasiswi tingkat bawahan kita!" balas temannya.
"Kok mau Ghani sama dia jalannya? Emang mereka pacaran ya?" tanya temannya yang lain.
Dan masih banyak rasa penasaran yang dirasakan mahasiswi-mahasiswi di sepanjang mereka lewati.
"Hussst Cha," Dewi menyikut lengan Cha.
"Ada apa?" tanya Cha sambil menoleh kearah Dewi.
"Lo gak lihat tuh mata-mata cewek disini memandang Lo sinis banget! Emang Lo gak memperhatikan mereka?" tanya Dewi yang kesal dilihatin seperti itu.
"Gak tuh. Dan gw gak perduli Wi. Biarin mereka lihatin gw ampe juling tuh mata, kan yang ngerakan mereka," ketus Cha.
"Hebat Lo, mantep super duper cuek. Gw suka gaya Lo, hahaha," puji Dewi sambil tertawa.
"Kalian kenapa?" tanya Ghani tiba-tiba.
"Eh gak ada kok kak. Kami lagi bahas yang lucu-lucu kak," bohong Dewi.
Akhirnya mereka sampai kedalam kelasnya Cha. Dan sebelum masuk, Ghani memegang tangan Cha.
"Kamu selesai kuliah jam berapa Cha?" tanya Ghani.
"Aku cuma satu mata kuliah aja Ghan! Kenapa?" tanya Cha balik.
"Aku tungguin kamu ya di sini, biar kita pulang bareng," ajak Ghani.
"Loh motor kamu gimana?" tanya Cha heran.
"Motorku nanti aku titipkan di rumah tadi yang kamu lewati. Karena aku sering ke Masjid dan sudah kenal sama yang punya rumah," jelas Ghani.
"Mmm baiklah Ghan, makasih ya atas bantuannya," balas Cha.
__ADS_1