
Di dalam ruangan tempat Cha dirawat, Zain dan Cha beristirahat hingga menjelang malam. Saat mereka tertidur, Oma dan yang lainnya datang menjenguk Cha. Mereka masuk ke dalam kamar rawat Cha.
"Mereka sedang istirahat rupanya Siti," ucap Omanya saat melihat Zain dan Cha tertidur ditempat berbeda.
"Gimana Ma, apa kita bangunin, atau kita pulang saja dan kembali ke Hotel?" tanya menantunya.
"Iya Ma, kasihan mereka," sambung anaknya Louis.
"Tapi ini sudah malam, apa mereka sudah makan malam? Lebih baik dibanguni saja Siti. Biar mereka makan malam dulu," balas Mamanya.
Mamanya Zain melangkah mendekati Zain dan mulai membangunkan anaknya.
"Zain.., bangun sayang. Ini Mama dan Oma datang."
Zain samar-samar mendengar suara Mamanya, lalu dia membuka matanya dan melihat kehadiran keluarganya.
"Eh Mama, Oma, sejak kapan disini?" tanya Zain yang langsung bangkit.
"Kami baru saja masuk ke ruangan ini Zain. Bagaimana kondisi Cha? Oma khawatir sekali sama dia. Kasihan sekali dia, harus menjalani kehidupan rumit ini," ucap Omanya sambil berjalan menghampiri Cha yang masih tertidur.
"Apa kalian sudah makan sayang?" tanya Mamanya.
"Kalau malam belom Ma. Mama dan Oma serta Papa sudah makan? Kalau belom, biar Zain pesankan."
"Tidak perlu sayang, Mama sudah makan di Hotel tadi. Nih Omamu membawakan makanan buat kalian berdua. Bangunkan Cha biar makan sekalian. Ini sudah malam," suruh Mamanya.
"Iya Ma, sebentar Zain bangunkan dulu," Zain menghampiri Cha dan membangunkannya.
"Cha, ayo bangun. Kita makan dulu. Ini juga sudah malam," Zain menggoyangkan lengan Cha dengan hati-hati.
Cha pun perlahan membuka matanya, dan melihat Oma yang berdiri disamping kirinya.
"Oma, kapan datangnya" tanya Cha dengan suara lemahnya.
"Barusan sayang, Oma sama Mama dan Papanya Zain tuh," Oma menunjuk kearah orang tua Zain.
"Tante, Om, maaf merepotkan kalian," ungkap Cha merasa tak enak hati.
"Tidak perlu berkata seperti itu sayang. Tante dan Om malah senang kalau kamu ada dikeluarga kami. Jadi jangan sungkan ya nak," balas Mamanya Zain yang berjalan mendekati Cha.
"Makasih Tante, Cha beruntung bisa berada diantara kalian."
"Oh ya, nih Oma bawakan makan malam kalian, Zain akan membantumu untuk makan ya sayang."
"Tadi juga Zain yang nyuapin Cha kok Oma," sambung Zain dengan jujurnya.
"Cucu yang pinter. Kamu kalau sama Cha, mau nyuapin. Sama Oma kapan kamu mau nyuapin Oma," sindir Omanya.
"Hehehe, Oma...!" Zain bergelayut manja dilengan Omanya seperti anak kecil.
"Zain nih, siapin Cha makan. Ayo jangan lama-lama, kasihan Cha pasti sudah kelaparan," suruh Mamanya.
"Siap Ma," Zain menerima kotak makanan dan mulai menyuapi Cha di depan Oma dan Mamanya tanpa rasa malu dan canggung.
Justru Cha yang merasa malu dan canggung di suapin dihadapan keluarga Zain.
"Zain, aku bisa makan sendiri kok," Cha mencoba mengambil alih makanannya.
"Tidak Cha, biar aku saja yang nyuapin kamu," Zain tidak mau menyerahkan kotak makanannya kepada Cha. Dia memilih untuk tetap menyuapinya.
"Sudah sayang, biarkan Zain yang melakukannya. Kamu kan belum pulih," ujar Omanya.
__ADS_1
"Iya sayang, Mama setuju apa kata Oma," Mamanya Zain ikut mendukungnya.
Cha menikmati suapan yang diberikan Zain. Dia makan dengan lahapnya. Setelah selesai menyuapin Cha, Zain langsung mengambil kotak makanannya dan duduk disamping Papanya.
"Bagaimana keadaan kemaren Pa?" tanya Zain saat duduk disebelah Papanya.
"Maksud kamu di pesta kemaren?"
"Iya, apa yang terjadi disana saat Cha meninggalkan tempat itu?" Zain mulai penasaran.
"Papanya Yoga heran dan bingung, kenapa anaknya mengejar Cha. Yang dia tau, kamu datang sebagai pasangan Cha. Tapi kenapa justru anaknya yang mengejar Cha sampai keluar aula," ungkap Papanya.
"Terus Pa."
"Dia bertanya sama Papa, karena kamu anak Papa. Dan Papa menjawabnya dengan santai. Papa tidak mau ikut campur dalam urusan kamu."
"Apa Papanya Yoga terlihat menahan amarahnya Pa?"
"Tentu Zain. Dia sangat marah karena Yoga meninggalkan pengantinnya di hadapan tamu undangan.
Zain terus mengunyah makanannya dengan serius. Dia teringat akan wajah Yoga yang prustasi.
"Papa bersyukur karena Cha bisa lepas dari anak teman Papa itu. Karena bagi Papa, laki-laki yang lebih memilih harta dari pada memperjuangkan kekasihnya, adalah pecundang dan tidak pantas dipertahankan," ucap Papanya Zian tegas.
Zain hanya diam dan memiringkan wajahnya kearah Papanya. Dia senang mendengar antusias Papanya yang perduli dengan keadaan Cha.
"Pa, sepertinya besok kita sudah bisa kembali ke Paris. Setelah itu, aku dan Cha akan kembali ke Indonesia tepatnya ke Medan. Cha ingin menemui adik-adiknya. Dan Zain akan menemaninya."
"Bagaimana dengan Perusahaan?" tanya Papanya.
"Zain akan serahkan sementara waktu dengan Asisstent Zain dan Papa. Zain berharap Papa bisa membantu Zain mengawasinya," pinta Zain penuh harap.
"Ya, besok kita akan bicarakan sesampainya di Paris."
Tak jauh dari tempat duduk Zain, Cha sedang ngobrol bersama Oma dan Mamanya Zain.
"Sayang, kamu harus bisa meluapkan hal yang tak penting dalam hidupmu. Oma yakin akan ada seseorang yang bisa memberikan kebahagiaan untukmu," nasehat Omanya.
"Iya nak, jangan terlalu larut dalam kesedihan ya. Masih ada hari esok menyambut kita. Dan kamu harus bisa keluar dari keadaan ini," Mamanya Zain juga memberikan nasehatnya.
"Iya Oma, Tante. Cha akan berusaha melakukan yang terbaik untuk hidup cah. Makasih Oma dan Tante sangat perhatian sama Cha. Cha merasa beruntung memiliki kalian keluarga Zain.
"itu semua atas jalan dari Allah SWT yang memberikan jalan untuk kami bertemu denganmu. Kita hanya bisa pasrah terhadapnya. Karena semuanya hanya yang maha kuasa saja yang bisa mengatur pertemuan dan perpisahan," ungkapan bijak dari Omanya.
"Ma, sudah malam. Biarkan mereka beristirahat. Kita kembali ke Hotel sekarang ya," ajak Menantunya.
"Oh baiklah. Mama juga sudah sangat letih. Ingin istirahat di Hotel. Ayo Louis kita kembali ke Hotel."
Oma dan Mamanya berpamitan pulang dengan Cha. Lalu mereka menghampiri Zain dan menitipkan Cha untuk dijagain.
"Zain, kamu harus menemani Cha dengan hati-hati disini. Besok kami akan kembali lagi," ujar Omanya.
"Iya Oma, Zain akan menjaga Cha dengan baik. Dan besok mudah-mudahan Cha bisa kembali ke Hotel. Dan kita kembali ke Paris," ucap Zain.
"Baiklah, kami akan mengikuti apa yang kamu tentukan Zain. Sekarang Oma dan Mama, Papamu pulang dulu. Besok kami akan kemari lagi."
"Iya Oma, kalian hati-hati dijalan ya."
Cha melihat mereka satu persatu keluar dari kamarnya. Lalu dia menatap kearah Zain dan berkata,
"Kasihan Oma, malam begini harus mengunjungiku di rumah sakit."
__ADS_1
"Oma emang seperti itu sayang. Dia sangat perhatian terhadap orang yang dekat dengan dengannya.
"Kamu istirahatlah ya, supaya besok bisa kembali ke Paris," Omanya mencium kening Cha sebagai tanda kasih sayangnya.
"Iya Oma, makasih."
"Zain, kau jangan mengajak Cha untuk banyak bicara. Biarkan dia istirahat biar cepat pulihnya," Omanya memberikan peringatan terhadap Zain.
"Iya Oma, kalian hati-hati dijalan," Zain memeluk Omanya dengan sayang.
"Zain, Mama pulang dulu ya," Mamanya Zain memeluk anaknya dengan rasa sayangnya.
"Iya Mom, hati-hati dijalan," Zain membalas pelukan Mamanya.
"Papa pulang dulu ya Zain. Jaga Cha disini."
"Iya Pa."
"Cha Om dan Tante pulang dulu. Besok kami akan kemari lagi. Cepat sembuh ya," Papanya Zain mengusap rambut Cha dengan rasa sayangnya.
"Makasih Om, Tante," balas Cha dengan tersenyum.
Zain mengantar keluarganya keluar dari ruangan sampai kedepan rumah sakit.
"Sudah Zain, disini saja. Kembalilah ke kamar Cha. Jaga dirinya ya. Kami pulang dulu," ucap Mamanya.
"Baik Ma," Zain kembali masuk ke dalam kamar Cha dan melihat Cha sedang duduk sambil menonton.
"Zain, kalau kamu mau tidur, silahkan. Aku masih ingin nonton TV," ucap Cha ketika Zain masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak, aku akan menemanimu nonton Cha," Zain mengambil posisi duduk di samping Cha.
"Zain, apakah kamu akan mengantarkanku ke Indonesia menemui adikku?" tanya Cha saat mereka menonton.
"Iya Cha, aku akan ikut menemanimu ke Medan. Apakah kau keberatan?" tanya Zain balik.
"Ah tidak, hanya saja, aku tidak mungkin membawamu kerumah," ungkap Cha.
"Oh kalau masalah itu, aku bisa menginap di hotel seperti kemaren."
"Kamu mengingatkanku akan kejadian dulu."
"Tapi karena kejadian itu kita semakin dekat bukan? Siapa yang sangka kejadian itu membawa berkah buat kita berdua."
"Ya kamu benar Zain. Aku gak menyangka Zain yang dulu aku takuti, sekarang berada dihadapan ku dengan kebucinannya," Cha tersenyum menatap wajah Zain yang tampan.
"Baru kau yang membuatku mau melakukan semua ini Cha. Dulu aku tidak perduli dengan yang namanya perasaan. Tapi denganmu berbeda. Aku bisa menjadi bucinmu," ucap Zain jujur.
"Zain, aku juga merindukan Dewi di Jogja. Bagaimana khabar mereka ya?" Cha berharap Dewi dan keluarganya baik-baik aja disana.
"Mereka baik disana, aku sudah menempatkan bodyguard untuk memantau mereka di Jogja.
"Oh ya, makasih ya Zain."
"Buat apa?" tanya Zain.
"Ya karena kamu sudah menjaga mereka juga untukku," jawab Cha.
"Ya, aku lakukan itu hanya semata karenamu Cha. Jika bukan karena mereka sahabatmu, aku juga tidak perduli," balas Zain jujur.
"Ya aku tau itu Zain. Maka dari itu aku mengucapkan terima kasih Zain.."
__ADS_1
"Sudah tidurlah, ini sudah mulai larut malam. Besok kita lihat keadaannya, apakah bisa keluar dari rumah sakit atau masih harus menginap disini lagi."
"Mudah-mudahan besok aku sudah pulang dari rumah sakit Zain. Aku gak mau lama-lama disini. Membosankan," Cha menginginkan esok dia bisa keluar dari rumah sakit ini.