
Cha menyamperin seorang pelayan dan bertanya kepada pelayan itu.
"Mbak, toilet dimana ya?" tanya Cha.
"Oh mbaknya lurus aja, setelah itu belok kiri. Nanti kelihatan kok tulisan toiletnya mbak," jawab si pelayan dengan mengarahkan Cha.
"Ok, terima kasih ya mbak," balas Cha. Kemudian pergi kearah toilet.
Cha masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Ketika Cha berada di dalamnya, dia mendengar seseorang berbicara.
"Gimana, udah berhasil?" tanya seorang perempuan.
"Blom, gw masih pedekate. Lo tenang aja, gw pasti bisa menjualnya, sabar ya," jawab orang yang diseberang tlp.
"Jangan kelamaan sayang, kita harus mendapatkan uangnya," kata perempuan itu.
"Iya, iya. Nih gw lagi makan bareng dia dan adeknya. Kamu dimana?" tanya orang yang diseberang.
"Ingat Dino, malam nih Lo harus bisa bawa dia ke restauran yang sudah gw atur. Sekarang gw lagi ditoilet. Gw lihat Lo bareng tuh cewek di cafe ini. Setelah Lo selesai makan sama mereka, jumpai gw di kampus," ucap si perempuan.
Cha mendengar semua percakapan perempuan itu. Dia kaget mendengar perempuan itu menyebutkan nama Dino.
"Dino? Kenapa namanya sama dengan cowok yang lagi dekat sama kakak gw ya. Trus tadi dia bilang mereka lagi di cafe ini. Itu berarti benar Dino yang dimaksud perempuan itu, dia. Ya ampuuun gw harus kasih tau kak Ina tentang ini semua," bathin Cha.
Cha sengaja tidak keluar dari dalam untuk menghindari perempuan itu. Dia menunggu perempuan itu pergi dari dalam toilet itu.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya perempuan itu keluar.
Cha pun keluar dari toilet menuju ke tempat Ina berada. Cha mengedarkan pandangannya ke segala ruangan cafe, tak sengaja matanya melihat seorang perempuan yang memperhatikan keberadaan Ina dan Dino.
"Apa dia ya perempuan tadi?" ucap Cha dalam hati.
Cha melihat Ina yang sedang ngobrol dengan Dino. Lalu Cha pun ikut gabung dengan mereka.
"Makanannya blom datang juga ya kak?" tanya Cha melihat ke Ina.
"Blom, tunggu aja. Tar lagi juga datang," jawab Ina.
"Shan, temani gw yuk kedepan bentar mau ambil charger di bagasi motor," ajak Cha agar bisa memberitahukan kepada Shanti tentang kejadian di toilet.
"Ih...males banget deh Cha. Lo aja Napa sendiri, manja banget sih Lo, jawab Shanti ketus.
Cha tidak memperdulikan ucapan Shanti yang rada pedas. Dia berusaha mengajak Shanti dengan menarik tangan Shanti.
"Udah Lo ikutin gw, kalau gak kita dalam bahaya," bisik Cha ditelinga Shanti sambil tersenyum.
Dino memperhatikan gelagat aneh pada Cha. Tapi dia melihat Cha tersenyum, yang artinya tidak perlu di cemaskan.
Shanti terdiam dan melotot kan matanya melihat Cha.
__ADS_1
Cha mengedipkan matanya memberikan tanda kepada Shanti.
Ina bingung melihat sikap Cha yang aneh setelah dari toilet.
"Ada apa sih Cha?" tanya Ina penasaran.
"Gak ada kak. Nih aq mau minta temani Shanti mau ambil charger. Biar ponsel qu tidak mati. Sapa tau ada yang menghubungi nanti," bohong Cha sambil melirik Dino.
"Ya udah ayok, buruan. Gw dah laper nih. Nanti makanannya keburu datang," protes Shanti.
"Iya-iya. Kak Na, kami ke parkiran dulu ya," ajak Cha dengan menggandeng lengan Shanti.
Mereka berdua berjalan keluar dari cafe menuju parkiran. Sampai diparkiran, Cha menceritakan kepada Shanti tentang dia yang mendengar seorang wanita berbicara dengan seorang cowok bernama Dino. Semua yang didengar Cha, disampaikannya kepada Shanti.
Shanti menatap Cha mencari kebenarannya.
"Lo lihat bagaimana penampilan tuh perempuan?" tanya Shanti.
"Nggak Shan, karena gw takut dia tau kalau gw adeknya kak Ina. Bisa-bisa mereka berbuat lebih jahat saat ini juga terhadap kita," jelas Cha ketakutan.
"Jadi kita harus bagaimana. Jujur gw juga takut nih. Masa kita mau dijual?" tanya Shanti yang ketakutan juga.
"Gimana kalau nanti sore kita cekout dan tinggal dirumah Lo. Nah Lo ajak si bunda ke kamar, kasih tau sama sibunda mau ngajak kita jalan ke tempat keluarga yang hajatan. Kalau bunda yang ngomong, kak Ina kan gak mungkin nolak," ucap Cha yang memberikan ide kepada Shanti untuk menghindari Dino.
"Ya udah, habis ini kita pisah aja sama Dino. Nanti gw bilang kalau bunda nyuruh kita ketemu di Malioboro mall, gimana setuju gak. Biar si Dino tidak mengikuti kita," ucap Shanti menunggu persetujuan Cha.
Mereka berdua masuk ke dalam cafe dan kembali ke tempat duduk dimana masih ada Ina dan Dino. Cha dan Shanti berjalan dengan santai, seolah-oleh mereka tidak mengetahui niat busuk Dino. Mereka pura-pura tersenyum sambil tertawa. Agar Dino tidak curiga dengan mereka.
"Loh udah datang toh makanannya kak?" tanya Cha yang melihat sudah ada makanan pesanan mereka.
"Iya baru aja datang pesanan kita. Tapi minumannya blom semua nya diantar," ucap Ina sambil menyeruput minumannya.
"Kalian lama banget?" tanya Dino curiga.
"Tau nih Din, si Cha tadi nanya ATM sama pelayan di depan," jawab Shanti spontan dengan berbohong.
"Oh..Lo mau ke ATM ya Cha. Nanti sekalian aja kita bareng. Aku juga mau ke ATM," balas Dino menyelidik.
Tiba-tiba Shanti langsung menyambar ucapan Dino.
"Kak tadi, bunda tlp, bunda ngajak kita ketemuan di keraton, karena ada saudara Shanti datang. Mereka mau ke keraton sebentar lagi. Bunda nanya kita dimana? Shanti bilang lagi makan siang di daerah pembangunan. Makanya suruh bunda kita nyusul habis dari sini," jelas Shanti yang berbohong. Dia berusaha bersikap natural agar Dino tidak curiga.
"Ya udah habis nih kita nyusul bunda aja ya," sambung Cha.
"Iya deh, kalau udah bunda nyuruh, kakak ngikut aja," pasrah Ina sambil memandang Dino.
"Apa boleh gw ikut?" tanya Dino menawarkan diri untuk bergabung.
"Dasar tak tau malu," bathin Cha sambil menatap tajam tak bersahabat melihat Dino.
__ADS_1
"Maaf Din, gw gak enak sama bunda. Bunda gw galak. Dia gak suka kalau kami jalan sama cowok," sahut Shanti yang berbohong lagi.
Mereka makan dengan membicarakan acara hari ini sampai malam.
Dino mengajak Ina, Shanti dan Cha untuk perpisahan Ina dan kelulusan Cha dan Shanti makan di sebuah restauran terkenal diJogja dengan makanan yang super lezat.
"Gak bisa janji ya Din, karena kami juga blom tau selesai nemani bunda sampai jam berapa," Shanti langsung menjawab ajakan Dino.
"Tapi boleh juga itu, kakak mau kita merayakan perpisahan dan kelulusan kalian. Besok kan kakak sudah balik ke Jakarta. Ayolah...," rengek Ina memohon kepada Cha dan Shanti.
"Iya kak, aq juga mau. Tapi lihat dulu, kan gak enak sama bunda nya Shanti," Cha mengingatkan Ina tentang keberadaan bunda nya Shanti.
"Ya nanti kalian aja yang nemani bundanya Shanti. Aku ingin jalan berdua dengan Ina, bolehkan," pinta Dino sambil melirik Ina dengan senyum sinisnya.
"Lihat nanti aja ya Din," balas Shanti.
Mereka terus menikmati makan siangnya dengan bahasan yang tidak penting. Dino merasa rencananya akan gagal malam ini menjual Ina dan yang lainnya.
Tapi dia berusaha menghasut Ina agar tetap kekeh mengikuti ajakannya. Namun Shanti dan Cha juga berusaha menggagalkan rencana Dino dengan tenang dan santai.
Akhirnya acara makan siang selesai juga. Mereka berpisah dengan Dino. Cha melihat ekspresi wajah Dino yang menahan kesal.
"Daaaaa Dino, nanti aku usahakan bisa ketemuan lagi ya nanti malam," kata Ina yang merasa tidak nyaman melihat kekecewaan Dino.
Sedangkan Cha berkata, " semoga kita tidak bertemu lagi laki-laki brengsek," bathin Cha mengumpat kasar si Dino.
"Udah yuk buruan Shan, kita ke Malioboro aja. Tapi kita jalan muter aja, mana tau si Dino membuntuti kita dari belakang," ucap Cha yang curiga kalau Dino akan mengikuti mereka.
"Kak Na, kakak jalan dibelakang kami aja ya, biar Shanti yang bawa jalan," ucap Shanti.
"Ok, kakak ngikut aja," jawab Ina tersenyum. Lalu Ina melihat ke arah Dino dan melambaikan tangannya dengan senyum mengembang.
Sedangkan Dino sudah menahan amarahnya dari tadi.
"Sialan tuh cewek, rencana gw bakalan gagal ini. Oh ****..., brengsek...," Dino mengumpat sambil menendang-nendang ban motor nya.
Tiba-tiba dari dalam cafe keluar lah seorang perempuan yang berpakaian seksi menyamperin Dino.
"Gimana sayang, rencana kita berhasil kan nanti malam?" tanya perempuan sexy itu.
"Gagal tau, brengsek tuh cewek. Kalau ketemu gw bakalan jual dia secepatnya. Lihat aja nanti," ucap Dino dengan senyum menyeringai jahat.
"Apa!! Lo bilang gagal. Sialan Lo Din, gimana nih malam. Gw dah janji sama mami buat ngasih perawan untuk pelanggannya," ucap perempuan sexy itu kesal.
"Udah Lo aja yang melayani tuh pelanggan si mami," saran Dino seenaknya.
"Enak aja Lo, gw capek tau tiap malam menggantikan terus," balas perempuan sexy itu.
Dino dan perempuan itu terus berdebat. Rencana mereka untuk menjual Ina dan yang lainnya jadi gagal karena alasan Shanti.
__ADS_1