
Dewi mendelik melihat kenakalan Adiknya yang sudah mulai tumbuh besar. Namun dalam hatinya Dewi merasa saat ini dia ingin melayang ke nirwana karena bahagia mendapatkan kekasih sekaligus lamaran yang tak terduga.
"Cha habis pesta ini, kayaknya kita kembali duluan aja deh ya. Gw males lama-lama di sini. Lagian kita juga ada jam kuliah yang harus di jalankan di Jogja, jadi lebih baik kita duluan kembali, gimana?" tanya Dewi yang meminta pendapat Cha.
"Aku sih nurut Bang Zain aja. Mau balik hari ini atau besok?" tanya Cha balik.
"Besok aja pagi aja Cha kita kembali. Biar gw ngomong sama Ibu," jawab Dewi. Dewi gak mau berlama-lama di rumah Bude Ibunya. Dia menghindari ocehan yang kurang enak nantinya di dengar.
"Hari ini kita nikmati pesta ini sampai selesai, gimana?" tanya Dewi.
"Gimana Bang?" Cha malah bertanya sama Zain.
"Baiklah, kita kembali besok," jawab Zain dengan? senyum menawannya.
"Ok Wi, besok pagi kita kembali. Dan malam ini gw sama Bang Zain akan kembali ke hotel. Lo bisa siap-siap malam nih di rumah Budenya Ibu," Jawa Cha.
Acara pesta pun terus berlanjut dengan beberapa serangkaian ritual yang di lakukan. Mereka berempat benar-benar di nikmati dengan hidangan makanan yang banyak.
Hingga malam pun tiba, Cha dan yang lainnya, masih setia berada di acara pernikahan saudaranya. Banyak tamu yang memandang ke arah meja mereka. Para perempuan muda berlomba-lomba menginginkan mengenal sosok laki-laki tampan yang berada di samping Dewi dan Cha.
"Hai Wi....," sapa seorang perempuan muda yang seumuran dengan mereka.
"Maaf siapa ya?" tanya Dewi yang memang tidak mengenalnya.
"Ya ampuuun Wi....! Kamu gak ingat sama aku?" tanya perempuan itu.
Dewi mengernyitkan dahinya memandang kejar-kejar wajah perempuan yang berdiri di sampingnya.
Tapi Dewi sepertinya memang tidak mengenalnya.
"Aku teman sekolah kamu waktu di SD loh....," ucap perempuan itu dengan semangat.
Dewi mencoba mengamati wajahnya dan dia samar-samar mengingat sebuah wajah yang memang dia kenal saat SD dulu.
"Nita!" seru Dewi sambil berdiri.
"Hahahaha, ternyata kamu masih mengingat wajahku ya," ucap perempuan itu sambil tertawa.
"Hei, kamu sama siapa?" tanya Dewi yang langsung cipika cipiki.
__ADS_1
"Nih, aku bareng kekasihku," jawab Nita. "Nih kenalin kekasih sekaligus calon suamiku," ucapnya lagi.
"Wah kamu sudah mau menikah?" tanya Dewi tak percaya.
"Iya, nanti aku akan kasih undangannya ke kamu," jawab Nita. "Kalau gitu aku ke sana dulu ya, aku minta nomornya contact kamu dong, biar bisa ngabari kamu," pinta Nita.
Dewi pun memberikan nomornya ke temannya. Mereka saling bertukar nomor. Setelah itu Dewi lanjut ngobrol dengan Cha.
"Sepertinya teman-teman SD gw sudah banyak yang menikah, semoga gw bisa secepatnya," ucap Dewi sambil melirik Rudy.
"Aamiin," sahut Rudy.
Dewi pun tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah yang muncul di wajahnya.
"Cie cie.....ada yang malu-malu nih. Jadi kapan rencana kalian mau menikah?" tanya Cha yang sedang menggoda Dewi.
"Kayaknya gw bakalan nyusul Lo deh Cha," jawab Dewi malu-malu sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Waaaow...kemajuan tuh. Lo serius Wi?" tanya Cha lagi.
Dewi pun mengangguk membenarkan ucapan Cha yang terkejut.
"Makasih ya Cha. Gw juga gak nyangka bisa seperti ini," balasnya. Dewi pun melirik ke arah Rudy. "Tuh orangnya yang gak mau lama-lama nikahnya. Udah gak sabar kali ya Cha hihihihihihi," bisik Dewi sambil cekikikan.
"Wkkkkkkk, bisa aja Lo Wi," balas Cha terkekeh.
Rudy yang melihat sikap Dewi sedang berbisik-bisik dengan Cha merasa yakin ada sesuatu yang di ucapkannya.
Acara pun berlangsung meriah, semua tamu undangan merasa senang dan suasana kian ramai saat malam larut. Ada yang bernyanyi di atas panggung dan ada juga yang berjoget ria. Begitu juga dengan Cha dan Dewi. Mereka mengambil kesempatan itu untuk meluapkan kegembiraan dalam hati mereka dengan bernyanyi dia atas panggung. Tentu saja mereka tak sendiri, kedua laki-laki itu ikut berjoget menemani sang kekasih hingga membuat acara semakin meriah.
Akhirnya malam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Mereka semua membubarkan diri karena acara sudah selesai. Zain dan Cha berpamitan kembali ke hotel. Sedangkan Dewi tinggal di rumah saudaranya.
Cha dan Zain kembali ke kamar hotel. Keduanya mulai membersihkan diri. Setelah selesai, Cha dan Zain membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur.
"Hah....letih banget ya Bang," ucap Cha saat Zain menariknya dalam dekapannya.
"Abang juga capek banget. Yuk kita tidur, besok kita akan berangkat kembali ke Jogja," ajak Zain.
"Yuk Bang," Cha pun semakin masuk dalam dekapan Zain. Keduanya memejamkan matanya hingga terlelap.
__ADS_1
Saat pagi tiba, cahaya matahari masuk ke dalam kamar mereka melalui celah pentilasi yang tak tertutup tirai. Dan sinarnya menembus tirai hingga menerangi kamar mereka. Cha terbangun karena terdengar suara dering ponselnya.
Cha terduduk dan melihat ke arah ponsel yang terletak di atas meja. Cha turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah meja. Dia melihat ponselnya yang masih berdering. Cha melihat di layar ada nama Mamanya. Cha mengangkat tlpnya.
"Assalamu'alaikum Ma....," sapa Cha.
"Wa'alaikumussalam nak...," sahut Mamanya.
"Kenapa Ma menghubungi Cha pagi begini?" tanya Cha heran.
"Nak, Mama mau kasih khabar kalau persiapannya sudah selesai. Dan kalau bisa kamu Senin atau Selasa ini kembali ke Medan ya. Karena tidak baik perempuan yang mau menikah jauh dari rumah," ucap Mamanya yang menginginkan Cha segera kembali.
"Oh gitu ya Ma. Baiklah Ma, Cha akan mempercepat kepulangan Cha ke Medan. Nanti Cha akan khabari Mama lagi," balas Cha
"Dan masalah Zain, nanti akan ada panduan buat mereka saat datang ke Indonesia. Rencananya kapan mereka datang ke Indonesia Cha?" tanya Mamanya.
"Cha juga belum tau Ma. Nanti Cha akan coba menghubungi Zain," jawab Cha.
Cha tidak mungkin jujur sama Mamanya kalau saat ini Zain bersamanya. "Mama dan adik sehatkan di sana?" tanya Cha yang sudah merindukan keluarganya.
"Alhamdulillah nak, kami sehat di sini. Cepatlah pulang, biar bisa melakukan persiapan pernikahanmu," pinta Mamanya.
"Baik Ma, salam buat Sika ya Ma. Cha tutup dulu tlpnya."
"Iya nak, Assalammu'alaikum," ucap Mamanya.
"Wa'alaikumussalam Ma," balas Cha.
Obrolan selesai dan Cha kembali ke tempat tidur. Namun sebelum dia membalikkan tubuh, ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Cha tersentak dan menoleh ke belakang. Dia tersenyum melihat Zain yang memeluknya dari belakang.
"Siapa sayang?" tanya Zain sambil mengendus-endus leher Cha.
"Bang geli....," ucap Cha dengan susah payah.
"Apanya yang geli sayang," goda Zain.
"Kenapa kamu menggodaku pagi ini. Kita harus segera kembali ke Jogja Bang," ucap Cha lagi.
Lalu Zain membalikkan tubuh calon istrinya, dan langsung memberikan serangan di benda kenyal yang manis dan sudah menjadi candu buat Zain. Hingga pagi itu terjadi pergulatan panas yang membuat mereka lupa akan waktu. Suasana kamar mendaki semakin panas, mereka terus melakukannya melepaskan kenikmatan yang selama ini di tahan. Hingga keduanya terkapar di atas tempat tidur dengan nafas yang masih memburu. Zain menarik Cha dalam pelukannya. Mereka pun kembali terlelap.
__ADS_1