Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Akhirnya Pindah


__ADS_3

Cha dan Zain tertawa karena harus menghentikan aktifitas mereka. Mereka berdua terlihat konyol dengan keterkejutan yang dialami mereka.


"Yuk keluar, kita sarapan dulu ngisi vitamin, biar bisa melanjutkan aktifitas yang tertunda," bisik Zain menggoda Cha.


Cha bergidik mendengar ucapan Zain. Dia membuang wajahnya yang merah merona kesamping, agar tidak terlihat oleh Zain.


Mereka keluar dari mobil menuju cafe. Disana mereka disambut oleh pelayan cafe. Zain ternyata sudah melakukan reservasi terlebih dahulu dan dia menyuruh orang suruhannya.


Pelayan itu mengarahkan Zain dan Cha ketempat yang sudah di pesan.


"Silahkan mbak, mas. Ini menu makanannya. Silahkan dilihat dulu, nanti kalau mau pesan bisa panggil pelayan disini," ucap pelayan itu dengan senyum ramahnya


"Terima kasih mbak," jawab Cha.


"Cha, kamu mau pesan apa. Nanti samakan aja dengan kamu ya, pesananku," ucap Zain.


"Ok, aku lihat dulu ya menunya," balas Cha.


Cha melihat-lihat menu makanannya. Dia tidak sadar kalau Zain memperhatikannya dari tadi. Zain duduk dengan menopang dagunya dengan tangannya. Dia terus memandang wajah Cha dari samping.


"Kamu benar-benar cantik sayang. Buat aku pengen melahap kamu aja," gumam Zain sembari senyum-senyum sendiri.


Meka yang samar-samar mendengar nya, melihat ke arah Zain.


"Kamu ngomong sesuatu Zain?" tanya Cha.


"Nggak ada Cha. Cuma ngomong sendiri sambil ngelihat banyak pengunjung disini," ucap Zain ngeles.


Cha kembali melihat menu-menu makanan dan minuman.


"Sayang, malam ini kamu temani aku ya," pinta Zain dengan manja.


"Tapi hari ini aku harus mencari kost-kostan Zain. Aku gak mau tinggal bareng sahabat ku lagi," ucap Cha.


"Kenapa kamu tidak mau tinggal bersama dia? Bukan nya kalian bersahabat dari dulu?" tanya Zain lagi.


"Hah," ceritanya panjang Zain," ucap Cha males menjelaskannya.


"Ceritakan lah, aku akan mendengarkannya," perintah Zain sambil menatap ke arah Cha.


"Bakalan panjang loh, kalau aku cerita. Bisa-bisa kamu ketiduran kalau aku ceritain," jawab Cha.


"Tidak akan. Lagian kalau aku tidur, kan ada kamu nemani aku disini," sahut Zain tersenyum.


Meka melirik kearah Zain. Dan dia pun menarik nafasnya perlahan.


"Baiklah, aku akan menceritakannya," ucap Cha yang memulai ceritanya.


"He'um," Zain mengangguk.


"Aku rasa ini bermula dari kami berkenalan dengan tiga laki-laki pada waktu malam itu. Malam dimana aku dan kakakku serta Shanti berjalan-jalan ke alun-alun setelah aku selesai mendaftar masuk kuliah. Kami bersenang-senang, hingga ketiga laki-laki datang mengajak kami berkenalan. Ada satu laki-laki yang bawaannya dingin dan pendiam. Tapi aku tau dia sering memperhatikan ku. Shanti juga mengetahuinya. Setelah pertemuan itu disitulah dia mulai berubah.


Pertemuan kedua kalinya, kami sedang jalan-jalan ke Pantai Parangtritis. Disana tidak sengaja kami bertemu lagi dengan tiga laki-laki itu. Diantara laki-laki itu, ada satu yang selalu memperhatikan ku dan perduli denganku. Dan sejak saat itu sikap Shanti semakin menjadi. Dia ketus, tidak perdulian dan sering menguping pembicaraanku setiap kali aku menerima tlp."


"Emang kamu sering nerima tlp siapa yanx," potong Zain yang merasa kesal mendengar Cha sering menerima tlp.


"Aku menerima tlp dari kamu dan saat aku membaca pesan dari kamu, dia juga memperhatikan ku. Yang pasti dia selalu memperhatikan diriku sekarang. Makanya aku lebih baik menghindar dari dia," jelas Cha dengan tatapan sedih.

__ADS_1


"Apa mungkin dia menyukai laki-laki itu? Tapi laki-laki itu justru tidak menyukainya?" ucap Zain curiga.


"Ntahlah Zain. Aku juga tidak tau. Tapi aku biasa saja dengan laki-laki itu!" seru Cha.


"Ya kamu yang biasa aja, tapi laki-laki itu mungkin sudah jatuh hati saat pertama bertemu dengan mu," balas Zain cemburu.


" Sok tau kamu Zain," ucap Cha.


"Aku juga laki-laki Cha. Siapa sih yang tidak tertarik dengan kamu. Kamu itu berbeda dengan perempuan lainnya. Seperti aku, yang awalnya berniat jahat sama kamu, eh sekarang jadi bucin habis," ucap Zain sambil tersenyum memamerkan lesung pipinya.


"Emang apa sih yang kamu sukai dari ku Zain?" tanya Cha penasaran.


"Itu gak bisa dijawab sayang, yang pasti kau adalah hidupku. Aku akan tetap menunggumu. Walaupun harus melajang seumur hidup," ucap zain hiperbola.


"Lebay deh kamu," sungut Cha.


"Biarin, kan cuma sama kamu doang lebay nya. Kalau sama yang lain beuh...ngeri loh sayang," ucap Zain menyunggingkan senyumnya.


"Udah ah, aku dah laper. Mana nih pelayannya," ucap Cha yang mencari kehadiran pelayan tadi.


Zain memanggil pelayan yang ada, lalu mereka memesan makanan nya. Setelah itu mereka kembali ngobrol sambil bercanda.


Zain melihat Cha memakai cincin pemberiannya. Hatinya merasa senang, karena cincin itu tersemat dijari manisnya.


"Cantik," puji Zain yang melihat jari manis Cha.


"Siapa yang cantik?" tanya Cha.


"Itu jarinya cantik ada warna lavendernya," ucap Zain yang menunjuk cincin itu.


Cha langsung menyembunyikan tangannya. Dia merasa gengsi karena harus ketahuan Zain memakai cincinnya.


Cha malu-malu memberikan tangannya ke pada Zain. Diapun menundukkan kepalanya tak berani menatap kearah Zain.


Sedangkan Zain mengambil tangan Cha dan mengecup lembut tangannya.


"Ternyata pilihanku sangat pas dijari kamu ya sayang," ucap Zain merasa kagum melihat keindahan cincin itu yang pas dijari Cha.


Tiba-tiba pelayan pun datang dan mengantarkan pesanan mereka. Cha melihat hidangan yang sangat mengunggah selera.


Dia pun spontan melepaskan tangannya dari genggaman Zain.


Zain tersenyum melihat Cha yang sudah kelaparan. Dia pun mengusap-usap rambut Cha.


"Habis ini, kita lihat kost-kostan kamu ya. Kebetulan aku sudah suruh anak buah ku mencarikannya untukmu.


"Really Zain..!!" seru Cha merasa senang.


"Yup benar, kamu bisa pindah hari ini juga ke kostan itu," jawab Zain tersenyum.


Cha merasa double bahagia hari ini. Bahagia karena kejutan kedatangan Zain dan bahagia akhirnya bisa pindah dari rumah Shanti.


Mereka makan dengan menikmati hidangannya dengan canda dan tawa. Cha benar-benar merasa semangat kembali dengan kehadiran Zain.


"Sayang, sini ada sesuatu tuh di bibir kamu," ucap Zain. Zain mengambil tisu dan mengilap saos yang ada disudut bibir Cha.


"Oh Zain...so sweet banget ternyata," ucap Cha malu-malu.

__ADS_1


"Tentu dong sayang. Sama kekasih hati harus so sweet. Jangan bilang aku lebay. Itu murni keluar dari hatiku," sungut Zain yang gak mau dikatakan lebay.


"Hehehe, iya-iya Zain ku...," balas Cha.


Mereka melanjutkan menyantap makanannya hingga habis tak tersisa.


"Kenyang banget ya Zain," ucap Cha sambil mengelus-elus perutnya karena kenyang.


"Nih mau istirahat dulu atau mau lanjut ngelihat kost-kostannya. Karena aku akan bawa kamu ke pantai setelah itu, gimana?" tanya Zain berharap.


"Mau-mau, yuk cuss berangkat sekarang," ajak Cha tanpa canggung.


Setelah membayar bill nya, mereka pergi meninggalkan cafe itu menuju kost-kostan yang mau dilihat.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah besar yang terdapat 15 kamar dengan pintu pagar yang tinggi. Kost-kostan yang terlihat mewah serta komplit.


Mereka memasuki area kost-kostan dimana, sudah menunggu yang punya kost-kostan. Zain dan Cha keluar dari mobil menemui yang punya.


"Permisi dengan Bu Ica ya?" tanya Zain.


"Iya saya Bu Ica yang punya kontrakan ini," jawab ibu itu.


"Saya yang tadi mau ngontrak disini. Tapi calon istri saya yang akan ngontrak disini," ucap Zain yang memberitahukan bahwa dia calon istrinya.


"Apa-apaan dia, ngaku-ngaku calon suami gw, dasar Zain buat masalah aja sih," bathin Cha.


"Oh iya mas, tadi sudah diberitahukan sama orang suruhan masnya. Berarti nanti yang ngekost disini mbaknya aja ya?" tanya Ibu itu.


"Iya Bu, kalau saya akan kembali ke Paris," jawab Zain.


"Wah....,mbaknya beruntung ya punya calon suami ganteng, cakep dan orang kaya lagi," celetuk Ibu itu.


"Maaf ya Bu, disini campur ya kost-kostannya?" tanya Cha yang heran melihat ada laki-laki seliweran disebelah kanan.


"Iya mbak, khusus di sebelah kanan sana untuk laki-laki dan di sebelah sini untuk perempuan. Jadi sengaja dibatasin tembok saja dan semua mengahadap kedepan pagar," jelas ibu kost-kostan and.


"Kalau begitu saya mau nanya berapa kostan ini perbulannya?" tanya Cha penasaran


"Oh masalah bulanannya sudah diselesaikan sama calon mbak ini," jawab Ibu kost.


"Kalau begitu bisa saya minta kunci kamarnya Bu!" pinta Zain.


"Oh iya mas ini. Lupa saya, ini kunci kamarnya. Didalam sudah lengkap kamar mandi, AC dan tempat tidur nya. Dan sudah saya bersihkan juga," jelas Ibu kost.


"Terima kasih banyak Bu, kami mau masuk dulu ya ke dalam," ucap Zain yang tak mau membuang-buang waktunya berbicara dengan Ibu kost.


"Iya mbak, mas silahkan. Saya tinggal ya. Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya, itu no nya di dinding," ucap Ibu kost sambil menunjukkan tulisan no ponselnya di dinding.


"Baik Bu," jawab Cha.


Mereka pun meninggalkan Ibu kost dan melangkah ke kamar kost-kostan.


Zain membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam bersama Meka. Meka melihat kamarnya yang bagus dan dingin serta bersih.


"Ini bagus banget Zain..! ungkap Cha senang.


"Aku lakukan ini untuk kenyamanan kamu sayang," balas Zain.

__ADS_1


Diluar sana, tepatnya di kost-kostan laki-laki, seseorang memperhatikan Cha. Namun dia merasa bimbang untuk menemuinya.


__ADS_2