
Hai para pembaca novel toon yang setia...Saya sangat senang bisa menulis cerita sampai banyak bab. Padahal sungguh luar biasa perjuangan sampai ke bab ini.
Nah sekarang ini kisah Cha akan memasuki tahap ke dua ya. Jadi ceritanya nih kisah tentang Cha ada beberapa tahap. Dimana tahap pertama sudah hampir selesai.
Buat pembaca setia ku, beri kan lah vitamin agar saya semangat berfikir dan berimajinasi untuk menulis kisah Cha.
Vitamin nya itu berupa LIKE yang banyak..., HADIAH yang banyak..., dan VOTE yang banyak...
Jangan lupa kasih komen saran dan kritik juga boleh ya Yo-lovers.
Yuk ikutin terus ceritanya, cerita yang belom ending, karena Cha belom mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya.
Setelah Cha tidak menemukan adeknya di dalam kamar, dia kembali ke dapur untuk menemui mamanya.
"Ma, itu sepatu siapa diluar? Kenapa mama gak jawab?" tanya Cha yang kesel karena mamanya diam aja dari tadi.
"Menurut kau siapa laki-laki yang ada dirumah, hah!" ketus mamanya.
"Masa sih papa pulang kerumah. Kenapa aq tidak tau ya," pikir Cha yang menatap mamanya.
"Maksud mama, papa pulang ya?" tanya Cha penasaran.
"Iya, iya datang gak ada ngabari. Mama juga gak tau tadi tiba-tiba udah datang," kata mamanya dingin.
"Tumben Papa pulang, mau ngapain dia," ucap Cha yang tidak sopan.
Tapi mamanya tidak pernah perduli bagaimana anak-anaknya memanggil suaminya. Apakah itu
panggilan yang sopan atau tidak.
"Mana mama tau, tiba-tiba datang, kayak jailangkung datang tak diundang, pulang tak diantar," jawab mamanya lebih tidak sopan.
"Ih mama nanti didengar papa loh," kata Cha.
"Biarin aja, mama juga gak perduli lagi mau dia marah atau tidak," jawab mamanya dengan cuek.
Cha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mamanya. Dia pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Dia tidak memperdulikan papanya yang pulang kerumah.
"Tumbenan aja pulang kerumah. Pasti ada sesuatu nih," pikir Cha.
Tiba-tiba pintu kamar Cha terbuka. Cha kaget karena tidak mengetuk pintu dulu. Ternyata yang masuk adalah Sika adek nya Cha.
"Kak tadi ke kamar ku ya?"tanya Sika yang masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Iya, emang kamu dari mana, hah" tanya Cha balik sambil merapikan tas dan bukunya.
"Tadi Sika dari kamar mandi kak. Oh ya, kak dah tau tuh papa pulang mendadak tanpa ngasih khabar?" tanya Sika yang memberitahukan kedatangan papanya.
"Tau, tapi kakak gak mau tau dia mau ngapain pulang kerumah," jawab Cha ketus.
__ADS_1
"Ih kakak gak boleh gitu loh. Bagaimana pun dia kan papa kita. Gak boleh gak sopan gitu," nasehat Sika kepada kakaknya.
"Buat apa sopan sama orang tua yang seperti itu. Gara-gara dia selingkuh, mama jadi suka marah-marah dan kita tidak mendapatkan perhatian penuh dari mama. Itu yang mau di anggap orang tua, no way," kata Cha sambil telunjuknya melambay.
"Yeeeeee, oh ya, kakak dari mana. Tadi papa nanyain kakak kemana. Trus mama jawab nya gak tau," kata Sika.
"Iya mama tuh lupa kalau tadi padi kakak udah pamit sama mama makan dicafe sama teman-teman kakak," balas Cha.
"Oh....," jawab Sika singkat.
"Kak, tadi pas Sika pulang sekolah. Sika kan masih di teras. Sika lihat ada dua abang-abang ganteng berdiri di depan rumah kita. Dia melihat ke arah rumah kita. Sama tadi ada orang letakkan brosur dipagar. Sika takut, langsung aja Sika masuk ke dalam rumah," jelas Sika memberitahukan kejadian tadi.
Cha berpikir siapa yang dimaksud dengan Sika adeknya. Dia teringat Binyu dan Zain.
"Kalau dipikir-pikir temannya Binyu itu ganteng banget, tapi kok jadi jahat gitu ya. Masuk lubang sana, lubang sini. Apa gak bahaya ya," bathin Cha.
"Hei kak jangan melamun," tegur Sika menepuk pundak kakaknya.
"Gak melamun, tapi lagi membayangkan," jawab Cha cuek.
"Yeeeeee sama aja kali kak, itu juga kategori melamun tau...," balas Sika tak mau kalah.
"Sok tau anak kecil," Cha menoyor kening adeknya sambil terkekeh.
Sika hanya bisa memanyunkan bibirnya merasa kesal dengan sebutan anak kecil.
Saat mereka asyik bercanda, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Buka tuh Sik, ngapain dia kemari, gangguin aja," gerutu Cha yang tidak senang.
Sika membuka kan pintu kamar kakaknya. Di depan pintu kamar kakaknya sudah berdiri papanya. Lalu papanya masuk ke dalam kamar Cha.
"Mana kakakmu?" tanya papanya.
"Ada apa pa nyari aq?" tanya Cha balik.
"Baru pulang kau? Dari mana tadi, kenapa bisa pulang telat?" tanya papanya yang menatap Cha tajam.
"Oh itu, tadi pergi makan dicafe bareng teman pa. Tapi tadi pagi sudah izin kok sama mama. Mama aja yang lupa," jawab Cha tanpa rasa takut.
"Kenapa tadi mama bilang gak tau!" seru papanya.
"Ya mana Cha tau pa, tanya aja lagi sama mama, apakah aq udah izin atau blom," balas Cha dengan cuek. " Ya udah pa, kalau tidak ada yang mau dibicarakan, Cha mau istirahat," kata Cha tidak sopan mengusir papanya.
Papanya langsung keluar kamar Cha meninggalkan mereka berdua. Dia langsung menuju ke tempat istrinya berada. Dia melihat istrinya sedang menyiapkan makan untuk malam.
"Bisa kita bicara sebentar, ada yang ingin aq bicarakan sama kau," kata papanya kepada istrinya.
"Apa yang mau kau bicarakan. Udah gak ada yang perlu kita bahas lagi," kata istrinya dingin.
__ADS_1
"Aq mau bahas tentang rumah ini. Karena aq mau menjual rumah ini untuk kebutuhan qu. Aq ada perlu untuk kerjaanku," kata suaminya.
"Apa...! Kau mau menjual rumah ini? Yang benar aja kau. Jangan kau bilang untuk urusan kerja. Bilang aja untuk menyenangkan perempuan kau disana kan?" teriak istrinya emosi.
"Itu bukan urusan kau mau aq apakan harta ku ini. Yang pasti aq akan menjual rumah ini," kata suaminya tidak memperdulikan keadaan istri dan anaknya.
"Brengsek kau memang ya, biadab kau. Gara-gara perempuan itu, kau menghancurkan keluargamu. Kemana otak kau kalau rumah ini dijual, mau kemana anak-anak ini tinggal, hah...!" teriak dan maki istrinya yang masih emosi.
"Kau mau pilih mana, aq ceraikan atau aq tetap biarkan kalian aq biayain semuanya, kau yang menentukan," jawab suaminya seenaknya.
"Sialan kau.....!" jerit istrinya sambil melemparkan mangkok besar kearah suaminya.
"PRANG..." suara mangkok terjatuh.
Cha dan Sika mendengar pertengkaran papa dan mamanya. Tapi kali ini pertengkarannya lebih dahsyat. Mereka kaget mendengar suara mangkok dijatuhkan.
"Kenapa itu kak, mama sama papa bertengkar. Sika takut kak," Sika memeluk erat kakaknya.
Cha mengunci pintu kamarnya dari dalam. Dia juga sama dengan Sika ketakutan.
"Udah tenang ya, ada kakak disini. Kita diam aja ya disini, gak usah keluar. Sika berdo'a aja semoga tidak terjadi apa-apa ya," Cha membalas pelukan adeknya.
"Apa-apaan kau ini, hah...!" papa Cha terpancing emosinya. Dia pun menendang kursi makan yang berada dekat dengannya. Hingga kursi itu terjatuh.
"Kau memang perempuan yang tidak tau diri. Udah syukur aq masih mau bertahan, kalau gak mau jadi apa kau sama anak-anak," kata suaminya tak merasa salah.
"Apa kau bilang...! Heh gak ingat kau siapa kau dulu, hah! Kau datang kerumah ibu ku dan tinggal dirumahnya bahkan makan dan kehidupan kau juga, orang tua ku yang membiayai. Dasar gak tau diri. Kalau gak karena orang tuaku, kau tak akan seperti ini," protes istrinya dengan emosi yang meluap-luap.
"Aq seperti ini juga karena kerja keras ku, bukan karena orang tua mu ya. Memang benar aq dulu numpang sama keluarga mu, tapi aku juga berusaha untuk menjadi hebat seperti sekarang...! suaminya pun tak mau kalah.
"Keluar kau dari rumah ini.....! Pergi kau sama ****** kau. Aku akan urus surat perceraian kita. Aku juga gak mau menerima kau dirumah ini," istrinya melemparkan kotak tissue dan menangis meraung-raung.
"Ya..., aku akan menunggu nya. Aku pun tak mau tinggal sama perempuan yang seperti kau," papanya Cha meninggalkan mama Cha yang menangis. Lalu Cha dan Sika keluar dari kamar melihat mamanya yang terduduk dilantai sambil menangis meraung-raung.
"Ma..ma..mama kenapa?" tanya Cha yang ikut menangis sambil memeluk mamanya dari samping. Sika pun ikut menangis melihat mamanya yang tersedu-sedu.
Tak berapa lama mereka melihat papanya keluar dari kamar membawa tas nya. Cha hanya melihat dan tidak memperdulikan apa yang akan dilakukan papanya.
"Cha..., urus itu mamamu. Papa mau kekampung tempat nenek. Dan nanti dari kampung papa langsung berlayar lagi, jadi papa tidak singgah kemari lagi," kata papanya yang berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Pergi kauuuuuu..! Jangan kau datang lagi kemari...!" teriak mama nya sambil melemparkan sandalnya ke arah suaminya.
"Ma udah ma, gak enak di dengar tetangga. Biar aja dia pergi ma," kata Cha yang menenangkan mamanya.
Mama Cha bangkit dan langsung masuk ke dalam kamar. Cha ikut menyusul mamanya tapi pintu kamar mamanya sudah dikunci dari dalam. Di dalam kamar mamanya langsung menghubungi anaknya yang pertama. Dia menceritakan tentang kejadian yang barusan terjadi. Kemudian mamanya minta pendapat kepada anak pertamanya tentang kemauan papa mereka.
Cha yang mendengar percakapan mamanya dari balik pintu, hanya bisa merasakan sedih.
"Kenapa mama tidak mau berbagi dengan ku ya, padahal aq kan ada disini," bathin Cha yang merasa sedih.
__ADS_1
Cha meninggalkan kamarnya bersama Sika. Mereka masuk ke dalam kamar Cha. Sika masih dalam keadaan menangis karena sedih bercampur takut. Sika takut karena mendengar suara ribut-ribut kedua orang tuanya. Dan hal itu diketahui oleh Cha. Karena Cha melihat wajah adeknya yang ketakutan.
"Apa yang terjadi ya kalau mama dan papa benaran berpisah?" bathin Cha sambil mengelus rambut Sika agar adeknya merasa tenang.