
Hai Yo-lovers....gimana ya ceritanya? Masih setia kan mengikuti kisah Cha si anak Broken Home?
Kalau kalian suka jangan lupa, kasih Author VITAMIN DONG...BERUPA LIKE, HADIAH YANG BUANYAK, VOTE DAN KOMEN SESUKA HATIMU!!
_______________________________________________
Zain menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Binyu yang menurutnya tidak berubah.
"Kelamaan nungguin Lo," Zain bergegas berdiri menuju ruang tamu.
Ternyata Binyu juga mengikuti Zain. Dia menyudahi sarapannya yang singkat. Binyu duduk dihadapan Zain sambil menunggu Cha keluar dari kamarnya. Kedua laki-laki itu sudah menjadi bucinnya Cha.
Hingga beberapa menit menunggu, akhirnya Cha keluar dari kamarnya. Dan diwaktu yang sama Dewi juga ikut keluar dari dalam kamarnya.
Zain dan Binyu langsung berdiri dari tempat duduknya. Zain menghampiri Cha dan melihat wajah Cha yang bersemu merah. Cha menjadi salah tingkah saat Zain menatapnya dengan tatapan menggoda. Dia teringat akan kejadian tadi pagi, Zain yang mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Ternyata semua adegan tatap menatap tak luput dari pandangan Binyu. Ada sekilas rasa cemburu yang bersarang dihatinya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Binyu tau, mungkin dia terlambat menyadari rasa kehilangan. Tapi dia mencoba berusaha membuat Cha kembali mencintainya walaupun harapan itu sangatlah tipis.
"Hei bro, malah bengong. Ikut gak?" tanya Zain yang hendak melewati Binyu.
Binyu tersadar dari lamunannya. Dia melihat ternyata Cha sudah tidak ada dihadapannya.
"Eh iya bro. Gak bilang-bilang udah pergi ke depan," celetuk Binyu.
Binyu pun mengikuti langkah Zain dari belakang. Binyu melihat Cha dan temannya sudah menunggu disamping mobil.
"Lo yang nyetir kan Bin?" tanya Zain.
"Iya gw yang nyetir. Lo duduk manis aja diboncengan," ketus Binyu.
Lalu mereka masuk kedalam mobil Binyu. Cha dan Dewi duduk dibelakang. Sementara Zain didepan bersama Binyu.
Didalam mobil, Binyu sengaja menyetel lagu yang mengingatkannya akan masa lalu nya bersama Cha.
Lagunya Terendap Laraku
Resah jiwaku menepi
Mengingat semua yang terlewati
Saat kau masih ada di sisi
Mendekapku dalam hangatnya cintamu
Lambat sang waktu berganti
Endapkan laraku di sini
Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
__ADS_1
Lambat sang waktu berganti
Endapkan laraku di sini
Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
Lihatlah aku di sini
Melawan getirnya takdirku sendiri
Tanpamu, aku lemah Dan tiada berarti
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku di redupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau ku tahu, ku masih mendambamu
Zain tau bahwa Binyu sengaja memutar lagu itu sebagai ungkapan penyesalannya.
"Hahaha, lagu Lo melow banget. Tukar napa!" protes Zain yang sengaja membuka percakapan.
"Gw emang lagi melow Zain. Sesekali gak apa kan jadi melow. Masa mau serius terus. Emang Lo yang bawaannya serius mulu tanpa senyum," ledek Binyu yang memulai perdebatan diantara mereka.
Cha yang mendengar aksi ledek-ledekan, menyenggol lengan Dewi. Lalu Dewi menoleh kearah Cha dengan menaikkan alisnya tanda bertanya.
"Kalau ketemu seperti gonggong dan tikus, hihihi," bisik Cha sambil cekikikan.
Zain mendengar suara cekikikan Cha dari belakang. Lalu dia pun menoleh kearah Cha dan menatap Cha dengan mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu cekikikan Cha?" tanya Zain.
"Ah gak apa-apa. Nih Dewi lucu aja," kilah Cha sambil menatap Dewi.
Dewi pun senyum-senyum melihat tingkah Cha dan laki-laki yang menjadi bucinnya Cha.
Akhirnya tak berapa lama, mobil pun sampai di kampus Cha. Mereka keluar dari mobil. Zain dan Binyu berdiri berdampingan dihadapan Cha. Sedangkan Dewi sudah duluan berjalan kearah kelasnya.
"Aku tunggu kamu ya pulang kuliah," ucap Zain dengan tangan bersidekap didada.
__ADS_1
"Kamu gak balik ke Paris Zain?" tanya Cha.
"Nanti aja, tunggu kamu pulang kuliah, baru aku berangkat ke Paris," jawab Zain.
"Berarti gw duluan dong balik ke Jakarta. Hmmm, Cha, kapan-kapan aku boleh ya main ke Jogja nemui kamu? Siang nanti aku balik ke Jakarta. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi," Binyu berharap bisa mengunjungi Cha kembali.
Cha hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu dia pergi meninggalkan Zain dan Binyu.
"Cha, aku juga akan menunggumu!" teriak Binyu tanpa tau malu.
Sehingga banyak Mahasiswa/wi menatap kearah kedua laki-laki tampan itu. Mereka mulai berbisik-bisik sambil senyum-senyum.
"Lihat tuh cowok ganteng banget ya! Gile...gw mau ah yang begituan," ucap salah satu Mahasiswi yang baru lewat bersama temannya.
"Pacar siapa sih itu. Gw gak pernah lihat cowok-cowok itu dikampus," balas temannya.
Sedangkan Mahasiswa yang berada di beberapa depan ruangan menatap tak suka kearah mereka.
"Mahasiswa mana tuh, gak pernah lihat gw?" tanya temannya.
"Kayaknya bukan jurusan kita bro!"
"Ngapain mereka disini? Mau gangguin Mahasiswi sini?"
Lalu di depan ruangan perpustakaan, terlihat Ghani sedang berdiri didepan pintu. Dia melihat Cha berjalan kearah ruangan kelasnya. Lalu Ghani bergegas mempercepat jalannya yang ingin menghampiri Cha.
"Cha...!"teriak Ghani.
Cha menoleh kesamping dan mencari sumber suara. Saat matanya menangkap sosok Ghani, dia pun mencoba menghindar.
"Cha...! Kamu kenapa menghindar?" tanya Ghani yang akhirnya dapat menarik tangan Cha.
"Maaf Ghan, gw mau masuk kelas dulu," balas Cha yang berusaha melepaskan tangan Ghani dari lengannya.
Sedangkan dihadapan mereka, Zain dan Binyu menatap adegan yang tak terduga itu. Mereka terbengong melihat sosok laki-laki yang dalam pikiran mereka berdua, "Saingan lagi nih!"
Zain dan Binyu secara bersamaan berjalan menghampiri Cha dan Ghani.
"Ada apa cha?" tanya Zain yang datang tiba-tiba.
Cha dan Ghani seketika menoleh kearah sumber suara. Betapa kagetnya Cha melihat dua laki-laki yang selalu ada bersamanya, menghampiri dirinya.
"Gak ada apa-apa Zain," jawab Cha.
"Lo mau ngapain megang-megang lengan Cha, hah?" tanya Binyu yang tak suka melihat keadaan itu.
"Santai mas, saya gak bermaksud apa-apa sama Cha. Kami teman sekampus kok mas," ucap Ghani yang berusaha tidak mencari masalah dengan kedua laki-laki ini.
Lalu Cha pergi meninggalkan ketiga laki-laki itu. Sedangkan Zain, Binyu dan Ghani saling bersitatapan tajam. Zain menatap Ghani dengan tajam dan ingin menghajarnya. Namun dia mengurungkan niatnya karena dikampus. Begitupun dengan Binyu. Darahnya mendidih saat Ghani menahan tangan Cha.
"Jangan sesekali Lo deketin Cha," ancam Zain dengan suara tegas dan dinginnya.
"Apa urusan Lo melarang gw mendekati Cha. Siapapun berhak mendekati Cha," balas Ghani yang mulai tak memandang usia.
"Itu menjadi urusan saya, karena dia adalah calon istri saya," Zain mengklaim bahwa Cha calon istrinya.
Binyu terpelongo mendengar ucapan Zain yang ngasal mengucapkan kata calon istrinya.
"Cha gak pernah cerita kalau dia sudah punya calon suami," tantang Ghani.
__ADS_1
Ghani tak merasa takut dengan Zain dan Binyu. Dia juga mengetahui siapa mereka berdua. Zain seorang CEO yang cukup terkenal di kalangan pembisnis di Paris sana dan Binyu seorang CEO yang terkenal ketajamannya dalam melobby di kalangan pembisnis di Indonesia.
Namun itu semua tak membuat Ghani takut berhadapan dengan kedua laki-laki hebat itu.