Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Musibah Dewi


__ADS_3

Seseorang itu langsung memeluk Cha. Dia menangis tersedu-sedu.


"Ayo masuk dulu Wi. Coba ceritakan, kamu ada masalah apa hingga pagi-pagi kesini?" tanya Cha lagi.


"Cha, gu...gu..gw takut," ucap Dewi. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya ketakutan.


" Kamu takut kenapa Wi!" Cha melepaskan pelukannya, dan menatap kearah Dewi.


"Gw boleh tinggal disini Cha, please. Gw gak mau balik ke rumah. Gw takut Cha," balas Dewi.


"Tapi kenapa? Cerita dong Wi," pinta Cha sambil mengajak Dewi duduk.


"Cha, pakde ku, di..dia mau memperkosa ku," ucap Dewi terbata dengan suara pelan.


"Astaghfirullahal'adzim Wi...kamu serius?" Cha menutup mulutnya gak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Dewi hanya bisa mengangguk pasrah. Dia masih ketakutan mengingat kejadian tadi pagi.


"Terus kamu sudah diapakan sama pakde mu? Kalau begitu kamu kenapa tidak lapor ke Ibu Wi?" tanya Cha yang merasa geram.


"Gw takut Cha. Ibu ku pasti tidak percaya. Karena itu suami dari adik kandungnya. Dan bagi ibu ku mereka sudah sangat membantu kehidupan kami, huhuhu," Dewi menangis tersedu-sedu.


"Coba ceritain ke gw yang jelas Wi," pinta Cha.


"Tadi pagi, ibu ku sudah pergi jam 6 sore ke pasar belanja sama budeku. Trus Ibu ku tidak ngasih tau aku kalau dia mau pergi. Dan aku sendirian dirumah. Karena adikku pada sekolah. Gw masih tidur di dalam kamar. Trus gw merasakan seperti ada yang meraba pahaku karena gw tidur pakai daster. Gw masih tidak sadar saat pahaku di raba hingga ke paha bagian dalam ku, saat itu gw tersentak dan langsung duduk.


Gw lihat pakde ku sudah membuka bajunya, dan dasterku sudah tersingkap ke atas sampai pusat ku. Gw langsung menepis tangan pakde ku dan menendangnya. Dia terjatuh dari tempat tidur, saat itu aku berusaha kabur dari dalam kamar, tapi kamar ku dikunci. Dia menarik tangan ku dan menghempaskan ku ke tempat tidur. Gw berusaha menendangnya Cha, dan saat itu ada bangku meja riasku, gw memukulnya, dan dia pingsan. Lalu gw membuka jendela kamar yang kebetulan tidak ada teralisnya, gw melompat keluar dari jendela. Gw bingung Cha mau kemana, dan gw teringat kamu, gw meminjam uang tetanggaku untuk ongkos kemari," Dewi menceritakan kejadian yang menimpanya.


"Trus, pakde kamu gimana? Dia pingsan atau mati?" tanya Cha.


"Gw sudah tidak perduli lagi dengan keadaan dia Cha. Aku ketakutan dan gu..gu..gw gak mau pulang Cha. Tolong gw Cha," Dewi mengiba-iba@zazqxqz sama Cha agar dia di kasih tinggal di kost Cha.


"Ya udah, kamu tenang dulu ya Wi. Nih tadi aku beli lontong sayur buat Mbak Ani tapi orangnya gak ada dikamar. Kamu sarapan dulu ya, biar aku buatkan teh manis untukmu," Cha menghidangkan lontong sayur di meja depan sofa.


Dewi duduk di sofa dan tubuhnya masih bergetar karena ketakutan, dia duduk sambil menekuk kakinya dan membenamkan kepalanya.


Sedangkan Cha membuat teh manis hanget untuk Dewi. Lalu dia menghampiri Dewi yang sedang meringkuk dengan lutut ditekuk. Cha duduk di samping Dewi dan memeluknya.


"Sudah Wi, jangan takut. Ada gw disini, Lo aman sama gw, please Wi.., jangan sampai kuliah Lo terbengkalai gara-gara ini. Lo tenangin hati Lo. Mendingan Lo banyak beristighfar dan berdoa untuk ketenangan hati Lo," Cha sangat prihatin dengan keadaan Dewi.


"Iya Cha, Lo sahabat gw yang terbaik, makasih ya. Kalau gak ada Lo, gw gak tau mau kemana," balas Dewi.

__ADS_1


"Hussst jangan ngomong gitu. Kita kan sahabat, kalau salah satu di timpa masalah, kudu membantu," ucap Cha tersenyum.


"Iya Cha," jawab Dewi.


"Ya udah sekarang Lo istirahat aja dulu. Atau mau mandi dulu baru istirahat. Atau kita jalan-jalan biar Lo gak kepikiran," ajak Cha.


"Iya Cha, kayaknya kita lebih baik jalan keluar yuk. Biar gw bisa nenangkan diri," balas Dewi.


"Gimana kalau kita ke pantai Parang Tritis. Tapi gw harus minjem motor temen dulu biar kita bebas bergerak, gimana?" tanya Cha yang meminta pendapat Dewi.


"Boleh Cha," ucap Dewi. Dia langsung memeluk Cha lagi dan menangis tersedu-sedu.


"Udah Wi, tar ya, gw lihat dulu yang punya motor," Cha meninggalkan Dewi sendirian di dalam kamar.


Cha keluar dari kamar menuju kostan Ghani. Dia pun mengetuk pintu kamar Ghani.


Tok tok tok


Cha menunggu beberapa saat hingga pintu terbuka lebar.


"Loh Cha tumben kemari. Ada apa?" tanya Ghani heran.


"Ghan, kamu hari ini ada jam kuliah gak?" tanya Cha yang berdiri di depan kamar Ghani.


"Aku mau ngajak temenku ke Parang Tritis. Dia baru aja dateng tadi pas kita pulang," ucap Cha.


"Wah aku mau dong ikut. Gimana kalau aku temani kalian jalan-jalan ke sana. Kita jalan bertiga. Aku carikan satu motor lagi ya. Kamu siap-siap aja sekarang. Nanti kamu sama teman naik motor ku, dan aku naik motor yang lain, gimana?" tanya Ghani berharap Cha setuju.


"Mmmm, baiklah. Kalau gitu aku balik ke kamar dulu ya. Nanti kita ketemu di sini aja," jawab Cha.


"Heum," balas Ghani.


Cha kembali ke kamar nya menemui Dewi. Dia pun menyamperin Dewi yang baru siap mandi


"Hei..ayo kita siap-siap.Lo pake aja baju gw ya," Cha mengambil bajunya dalam lemari.


"Nih si, pakai aja ya," Cha menyerahkan baju itu.


"Gw gak enak sama Lo Cha huhuhu," Dewi masih sesenggukan karena menangis.


"Santai aja Wi. Yuk ah siap-siap," ucap Cha.

__ADS_1


Mereka bersiap-siap di dalam kamar. Setelah selesai, mereka keluar dari dalam kamar menuju kamar Ghani.


"Ghani...," panggil Cha.


Ghani pun membuka pintu kamarnya dan melihat Cha dan temannya sudah ada di depan kamarnya.


"Udah siap semua. Kita berangkat sekarang?" tanya Ghani.


"Iya Ghan, yuk berangkat. Motor kamu mana?" tanah Cha sambil celingak-celinguk melihat keberadaan motor Ghani.


"Udah di depan tuh sama punya teman. Yuk berangkat," Ghani mengajak mereka ke arah motor.


Akhirnya mereka bertiga berangkat dengan menggunakan dua motor. Cha boncengan bareng Dewi. sedangkan Ghani sendirian. Cha dan Dewi berada di depan dan Ghani mengikuti mereka dari belakang.


Sepanjang perjalanan, Cha mendengar Dewi terisak-isak di belakangnya.


"Menangis lah sepuasnya Wi, luapkan semuanya sepanjang perjalanan ini!" teriak Cha dari depan.


Dewi menangis sepanjang perjalanan, dia tidak perduli dengan orang lain. Karena orang juga tidak bisa melihat nya menangis karena memakai helm. Hingga gak terasa, mereka pun sampai di Parangtritis.


Ghani dan Cha memarkirkan motor mereka ditempat parkiran. Dewi turun duluan dan dia berjalan duluan menyebrangi jalan. Namun tatapan nya seperti kosong, dia berjalan tanpa mengetahui ada truk yang akan melewatinya.


Ketika Dewi ingin menyebrang, Cha yang dari belakang melihat ada truk yang kencang. Dia berlari mengejar Dewi dan berteriak.


"Dewiiiiii awas....!!!" teriak Cha sambil menarik lengannya kebelakang hingga Dewi dan Cha terjatuh.


Ghani juga berlari mengejar Cha. Lalu dia menolong Cha dan Dewi berdiri.


"Ya Allah Wi, kenapa kamu jadi melamun gitu!" teriak Cha.


Dewi langsung memeluk Cha dengan erat. Dia menangis histeris. Dewi merasa hidupnya sudah ternodai. Bebannya terasa berat, dilecehkan sama pakde sendiri. Apalagi dia hanya memiliki seorang Ibu, sedangkan Ayahnya sudah lama pergi ketika Dewi duduk di bangku SMP. Dan saat itulah Ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan mereka berubah menjadi sangat sulit karena Ibunya bekerja serabutan.


"Cha, gw lebih baik mati deh Cha. Gw gak sanggup dengan beban ini. Gw merasa hina Cha," ucap Dewi dengan menangis tersedu-sedu.


Cha yang mendengar ucapan Dewi itu, merasa kasihan dengan keadaan mental Dewi. Namun sebagai sahabat dia harus tetap memberikan dukungan kepada Dewi. Cha merasa Dewi sangat membutuhkan dukungan dari dirinya saat ini.


"Wi, jangan ngomong gitu dong. Lo harus kuat, demi Ibu dan adik-adik Lo. Jangan menyerah gitu dong Wi," Cha mengusap-usap punggung Dewi.


Ghani heran melihat keadaan yang sedang terjadi. Dia bingung dengan melihat Cha dipeluk sama sahabat Cha.


"Apa dia lagi ada masalah ya? Kayaknya masalahnya berat banget," bathin Ghani.

__ADS_1


"Hei, kamu mau mati ya?" Ghani marah melihat kebodohan yang dilakukan Dewi. "Aku memang tidak tau permasalahan kamu, tapi bunuh diri itu bukan jalan terbaik. Malah kamu akan dihukum akibat kebodohan mu yang mau mengakhiri hidupmu. Di hukum karena meninggalkan kesedihan untuk ibu mu dan adik-adikmu, dan di hukum di akhirat karena bunuh diri tidak lah diperbolehkan," Ghani memberikan ceramahnya ke Dewi.


__ADS_2