
Sika pun ogah-ogahan bangkit dari tempat tidurnya.
"Kak....,males banget nih bangun. Sika pengen bangun lama kak...," rengek Sika yang masih memejamkan matanya.
"Ayo Sika banguuun..!" paksa Cha.
"Iya, iya, Sika bangun nih. Hah...pengen lama bangun jadi gak bisa," sewot Sika.
"Anak gadis itu harus rajin loh bangun pagi. Jangan malas-malasan ya," ucap Cha sambil mencoel hidung adiknya.
"Sika cuci muka dulu kak, nanti nyusul," balas Sika.
"Siap, kakak duluan ya ke meja makan sekalian nemani kak Ina," ucap Cha.
"Iya kak."
Lalu Cha keluar dari dalam kamarnya. Dia bergegas ke meja makan. Disana hanya terlihat Ina saja sendirian. Ternyata Mamanya masih belom bergabung untuk sarapan bareng.
"Mama belom keluar kamar ya kak?" tanya Cha saat duduk di kursi meja makan.
"Belom, mungkin masih nemani si bungsu," jawab Ina.
"Oh..., kalau gitu kita duluan aja kak sarapannya. Aku udah laper nih," ajak Cha.
"Ya udah kamu makan duluan. Kakak nungguin Mama aja," tolak Ina yang setia menunggu Mamanya.
Cha merasa tak enak jika sarapan duluan. Dia pun ikut menunggu yang lainnya. Menahan rasa lapernya. Hingga kemudian, Sika keluar dari dalam kamar menuju meja makan.
"Loh kenapa belom pada makan ya?" tanya Sika heran.
"Lagi nungguin Mama. Kamu kalau mau makan duluan aja dek," suruh Cha.
"Kalau pada nungguin Mama, ya Sika juga ikut nungguin dong," ucap Sika yang ikut-ikutan.
"Kalau gitu kita makan duluan aja. Lagian tadi Mama pesan ke Kakak agar sarapan duluan. Tidak perlu menunggu," ucap Cha sambil melirik Ina.
"Ya udah kalau gitu. Kita sarapan duluan yuk. Siak udah laper nih," celetuk Sika. Dia pun mengambil sarapannya sendiri.
"Kak Ina ayo sarapan duluan. Nanti sakit loh kalau telat makan," ajak Cha.
Ina masih bersikukuh untuk menunggu Mama mereka. Ntah apa yang di rencanakannya. Apakah memang tulus ingin menunggu atau hanya mencari muka dihadapan Mama mereka. Hanya Ina yang mengetahuinya.
"Duluan aja. Kakak nungguin Mama," tolaknya lagi.
"Ya udah, kamu sarapan duluan ya," ucap Sika sambil mengunyah sarapannya.
Setelah Cha dan Sika menyelesaikan sarapan mereka, barulah Mamanya keluar dari kamar bersama si bungsu.
Cha melihat si bungsu berjalan sama Mamanya. Dan dia langsung mengambil si bungsu dari tangan Mamanya.
"Hai....adik bungsu Kakak, udah besar sekarang ya....," ucap Cha sambil memintanya dari Mama mereka.
__ADS_1
"Ma, biar Cha aja yang memberinya makan. Udah lama tidak menyuapin si bungsu" ucap Cha.
Lalu Mamanya langsung memberikan adiknya kepada Cha.
"Ini, bawa makan diluar sana. Di teras ajak sambil main-main," suruh Mamanya.
"Iya Ma."
Lalu Cha membawa adik bungsunya keteras rumah. Dia mulai menyuapin makanan ke adik bungsunya.
"Cantik Kakak udah pinter apa nih?" tanya Cha.
"Udah intar ain oneta tak cama tak Cika," jawabnya dengan intonasi kurang jelas.
"Wah...pinter adik Kakak main boneka. Nih suap lagi," Cha menyodorkan suapan ke mulut adiknya.
"Enak tak, tatak apan ulang?" tanya nya.
"Kemaren Kakak sampai, tapi kamu tidur. Dan saat Kakak lihat ke kamar lagi pas malamnya, eh udah tidur," jawab Cha.
Si bungsu hanya mendengar jawaban Cha tapi dia tidak bertanya lagi. Dia memilih bermain bersama bonekanya di teras rumah mereka.
Kemudian dari dalam, Sika keluar menghampiri mereka berdua.
"Kak, dah selesai kasih sarapannya?" tanya Sika saat melihat adiknya bermain.
"Belom nih, tuh dia lagi asyik bermain bersama bonekanya," jawab Cha sambil menunjuk kearah adik bungsunya.
"Iyalah, siapa lagi yang bisa menemaninya kalau gak kamu dek," balas Cha.
"Oh ya kak, ngomong gih sana sama Mama. Bilang kalau kak Zain mau kerumah. Biar Mama kenal sama teman Kakak!" ucap Sika menyuruh Kakaknya untuk mengenalkan Zain terhadap keluarganya.
"Kakak masih belom berani dek," balas Cha.
"Ya ampun kak....gitu aja kok gak berani. Kalau gak Sika aja yang ngomong iya," paksa Sika.
"Biar Kakak aja dek."
"Kalau gitu bilang sekarang. Mama bentar lagi ke depan. Kakak harus berani ngomong sama Mama," ucap Sika menyemangati.
"Iya, Kakak coba ya."
Kemudian tak lama mereka ngobrol. Mama mereka keluar dari dalam bersama Ina.
"Udah selesai adek makan Cha?" tanya Mamanya.
"Udah Ma. Itu dia lagi main bonekanya," jawab Cha.
Mamanya duduk di dekat mereka. Lalu bertanya kepada Cha.
"Gimana kuliahmu di Jogja?"
__ADS_1
"Baik Ma, Cha udah mau KKN kok Ma. Mudah-mudahan tahun depan selesai kuliahnya," jawab Cha dengan gugup.
"Terus darimana uang kau buat beli tiket ke Medan?" tanya Mamanya menyelidik.
"Cha ngumpulin uang jajan Cha, Ma. Biar bisa balik ke Medan," jawab Cha sedikit gugup.
"Oh...Mama harap kau tidak berbuat yang macam-macam disana," ucap Mamanya dengan intonasi tak enak.
"Cha tidak aneh-aneh kok Ma disana," balas Cha.
"Baguslah kalau gitu."
"Oh ya Ma, teman Cha mau datang kerumah. Dia baru datang dari Luar Negeri," ucap Cha memberitahu.
"Orang bule...? Dari mana kau kenal, hah?" tanya Mamanya curiga.
"Bukan orang bule Ma, tapi orang Indonesia campuran luar," jawab Cha.
"Dimana kau kenal, hah?" tanya Mamanya lagi.
"Di Jogja Ma, temannya teman Kampus Cha," jawabnya.
"Mau kapan dia datang kesini?" tanya Mamanya lagi.
"Apakah boleh hari ini Ma, dia kerumah?" tanya Cha takut-takut.
"Emang dia dimana sekarang? Kok bisa hari ini kesini?" tanya Mamanya balik.
"Dia datang ke Medan ada urusan kerjaan Ma, kebetulan aku juga pulang ke Medan. Jadi dia ngajak ketemuan Ma," jawab Cha.
"Ya udah kalau memang mau kesini, datang aja. Biar gak ketemu diluaran sana. Apa kata orang kalau anak perempuan ketemuan laki-laki diluar sana," sarkas Mamanya.
"Iya Ma, nanti Cha bilangin sama dia supaya main kerumah aja," balas Cha.
"Apa dia pacar kau?" tanya Kakaknya Ina.
Cha terdiam saat Kakaknya bertanya seperti itu kepadanya di hadapan Mamanya.
"Dia saat ini sedang dekat sama Cha, Ma," jawab Cha sambil menoleh kearah Mamanya dan bukan ke Kakaknya.
"Oh...kau dah pacaran sekarang ya?" tanya Mamanya menatap Cha tak senang.
"Gak apa-apa kan Ma, kalau Cha punya teman laki-laki yang dekat," jawab Cha.
"Asal dia bagus dan dari keluarga baik-baik. Jangan seperti keluarga kita juga kau dapat. Mau jadi apa nantinya rumah tangga kau," ucap Mamanya dengan emosi.
"Iya Ma, Insyaallah dia anaknya baik dan dari keluarga baik-baik juga," balas Cha.
"Suruh lah dia kemari kalau memang mau kemari," pinta Mamanya yang memberi Cha izin.
"Iya Ma, nanti aku suruh dia kemari," balas Cha merasa senang.
__ADS_1