
"Aku bisa makan sendiri Zain. Ini seperti anak kecil akunya disuapin," protes Cha.
"Biarkan aku menyuapi mu sayang! Aaaa, buka mulutnya," suruh Zain.
Cha mengikuti apa yang diperintahkan Zain. Dia juga senang disuapin.
"Gimana enak kan sayang? Aku pesan makanan kesukaan kamu dan ini aku juga mesan Konchijeu yang kemaren aku bilang, gimana rasanya?" tanya Zain berharap Cha menyukainya.
"Eummm enak banget Zain! Mmm boleh gak nanti aku bawa pulang buat Dewi dan Pita dirumah Zain?" tanya Cha malu-malu.
"Boleh sayang, nanti aku pesankan ya. Sekarang ayo kita habiskan makanan yang banyak ini karena kita sudah mengeluarkan energi yang banyak juga hari ini," Zain menatap Cha dengan menaik-naikkan alisnya menggodanya.
"Iya kamu kelewatan melakukannya. Gimana aku pulang, harus pelan-pelan jalannya. Bisa-bisa Dewi melihatnya dan bertanya habis-habisan," celetuk Cha.
"Tenang sayang, aku akan antar kamu pulang ya. Setelah itu aku akan kembali ke Paris, ok!"
Tiba-tiba ponsel Zain berbunyi tanda pesan masuk. Lalu Zain mengambil ponselnya dan membuka pesan yang dikirim. Zain terkejut melihat foto yang dikirim suruhannya.
"Ternyata benar dia orangnya. Berarti dia sudah tau bahwa Cha yang akan dijual sama dia," gumam Zain dengan melihat foto Binyu.
"Ada apa Zain?" tanya Cha.
"Gak ada apa-apa sayang. Ayo kita lanjutkan makannya," Zain kembali duduk disamping Cha sambil mengirim pesan ke suruhannya.
"Selidiki dia, dan pantau terus pergerakannya, kalian cari tau, apa yang direncanakannya, mengerti!" isi pesan dari Zain.
"Siap Tuan! Kami laksanakan perintah Tuan." balas si orang suruhan Zain.
Lalu Zain menatap kearah Cha dan memamerkan senyum manisnya.
Setelah selesai makan dan mereka merasa kenyang, Cha pun mulai membuka percakapan yang sempat tertunda kemaren malam.
"Zain, aku mau ngomong sama kamu," ucap Cha.
"Kamu mau cerita apa Cha? Tentang apa?" tanya Zain yang berusaha menahan kesal karena mendapat laporan tentang Binyu.
Cha mulai menceritakan tentang Dino dan Imran yang mencarinya dikampus dengan maksud ingin menjual Cha dengan orang yang sudah membayarnya mahal. Cha juga menceritakan tentang Mbak Ani yang ternyata membawa pacarnya datang ke rumah itu. Dan akhirnya Mbak Ani dijual sama mantan pacarnya.
Zain yang mendengar cerita Cha, sangat marah. Wajahnya merah padam karena kulit Zain yang putih bersih. Namun dia berusaha menekan amarahnya dihadapan Cha. Dia gak mau Cha merasa semakin ketakutan dengan melihatnya marah.
"Sayang, aku sudah tau tentang kejadian yang kamu alami. Tapi kamu jangan khawatir ya, bodyguard yang ku utus, akan terus menjagamu. Masalah orang yang sudah membayarmu, biarkan saja. Kamu gak usah pikirin ya. Semua akan baik-baik saja. Dan mengenai temanmu itu, jika memang dia seperti itu kehidupannya, aku harap kamu berpikir dua kali untuk menerimanya sebagai teman. Karena dia akan membawa musibah bagimu sayang. Lebih baik kamu tinggal di apartemen ku saja, gimana?" tanya Zain.
"Aku pikir-pikir dulu ya Zain, karena, aku gak enak sama Cha dan Ibunya," balas Cha.
"Tapi aku harap, kamu jangan terlalu memikirkan orang lain. Aku hanya ingin kamu tidak kenapa-napa Cha," harap Zain.
__ADS_1
"Iya, tenang aja. Aku akan baik-baik saja."
Setelah mereka selesai makan siang dikamar. Zain mengantar Cha ke kontrakannya.
"Ayo,aku anter kamu pulang," ajak Zain.
"Iya, aku siap-siap dulu zain," balas Cha.
Kemudian Cha bersiap-siap untuk kembali ke kontrakannya. Sebelumnya dia sudah memberitahukannya sama Dewi bahwa dia akan kembali siang ini.
Mereka pun pergi meninggalkan Hotel Zain. Cha merasa heran saat berjalan bersama Zain, semua orang yang ada di Hotel memberi hormat dengan menundukkan kepala mereka.
"Apa yang terjadi?Apa memang pekerja di Hotel ini sangat menghormati pengunjung yang nginap disini ya?" bathin Cha.
Zain dan Cha menunggu di Lobby sampai mobil datang menjemput. Saat mobil datang, Zain mengajak Cha keluar dari lobby dan masuk kedalam mobil. Tak sengaja Zain menabrak seorang laki-laki.
Zain tak berhenti, dia terus berjalan dan masuk kedalam mobil bersama Cha. Sedangkan orang yang tadi ditabrak Zain adalah Dino, laki-laki yang menginginkan Cha untuk dijual. Namun Dino tak sempat melihat wajah Cha karena saat Cha keluar dari lobby. Dino menatap punggung laki-laki yang menabraknya dan malah pergi begitu saja.
"Sialan tuh cowok, udah nabrak gw. Bukannya minta maaf, malah nyelonong gitu aja. Awas kalau ketemu lagi, gw hajar jadi ketupat," umpat Dino sambil mengepalkan tangannya. Lalu dia berjalan menuju Reseptionist.
Dino saat ini sedang janjian sama seseorang di Hotel itu tepatnya di lobby. Orang yang saat itu ingin bertemu dengan Dino adalah Binyu. Syukurnya Binyu tak bertemu dengan Zain dan Cha di Hotel itu.
Sedangkan Cha dan Zain sedang dalam perjalanan. Hingga beberapa menit, mereka pun sampai di kontrakan Cha.
"Ayo sayang kita masuk," Zain mengajak Cha masuk kedalam rumah.
"Bu, Dewi sama yang lainnya dirumah ya?" tanya Cha.
"Iya non, mereka ada dikamar masing-masing," jawab Bu Marni.
"Termasuk Mbak Ani ya?" tanya Cha memastikan.
"Mbak Ani belom pulang dari kemaren non. Tidak tau kemana perginya."
"Ya sudah, makasih ya Bu," balas Cha.
Zain langsung masuk kedalam kamar Cha setelah pintu kamarnya dibuka. Sedangkan Cha pergi kekamarnya Dewi, Cha ingin mengetahui bagaimana perkembangan cerita tentang Mbak Ani.
"Wi..., Lo lagi apa?" Cha mengetuk pintu kamar Dewi.
"Masuk aja Cha, gak dikunci kok" jawab Dwi dari dalam kamarnya.
Lalu Cha masuk kedalam kamar dan melihat Dewi sedang tak bersemangat.
"Lo kenapa Wi? Ada yang mengganggu Lo?" tanya Cha yang langsung duduk disebelah Dewi.
__ADS_1
"Cha, gimana dengan Mbak Ani ya? Dari kemaren dia blom pulang juga sampai sekarang. Gw takut dia dijual di tempat pelacuran, Cha!" Dewi menatap Cha dengan sendu dan berharap Cha punya jalan keluarnya.
"Ya ampuuun Wi, kok Lo bisa bilang seperti itu?" tanya Cha heran.
"Gimana gak mikirin yang aneh Cha. Masalahnya kemaren pas Lo disini, gw hubungi no Mbak Ani yang angkat laki-laki. Mereka sedang melakukan hubungan badan. Berarti dia sudah dijual kan ditempat pelacuran!" ungkap Dewi dengan tegang.
"Jadi kita harus gimana Wi?" tanya Cha yang gak mau terlalu ikut campur urusan Mbak Ani.
"Apa Lo gak bisa ngomong sama Zain buat bantuin kita nyelamatin Mbak Ani, Cha?" harap Dewi.
"Gw gak tau Wi. Karena hari ini rencananya Zain akan kembali ke Paris."
Dicoba dong Cha, ayolah demi persahabatan kita Cha!" Dewi memohon-mohon dengan Cha.
"Hmmm, baiklah, gw akan coba ya Wi cerita ke Zain," ucap Cha tersenyum.
"Iya Cha. Lo lama banget pulangnya! Gw sampai ketakutan Cha, bingung dengan keadaan Mbak Ani. Gw gak mungkin cerita sama Ibu. Bisa-bisa dia ketakutan kalau menyangkut hal begituan," ungkap Dewi yang merasa bersyukur Cha sudah kembali.
"Sekarang gw kan dah balik Wi! Jadi Lo tenang dan jangan mikirin Mbak Ani mulu."
"Gw khawatir mereka akan mencari teman Mbak Ani, Cha. Secara kemaren mantannya itu sudah pernah kemari kan! Jadi mana tau dia akan berbuat nekat ikut menjual kita juga, gimana?" tanya Dewi yang mulai ketakutan.
"Udah, Lo tunggu disini. Gw mau ngobrol dulu dengan Zain. Mudah-mudahan dia mau bantu kita," Cha berjalan keluar kamar meninggalkan. Dewi yang terbengong.
Lalu Cha masuk kedalam kamarnya dan melihat Zain sedang mengotak-atik ponsel Cha. Ternyata Zain tidak hanya sekedar mengotak-atik saja, dia mengecek isi dari ponsel Cha.
"Zain kamu ngapain megang-megang ponselku?" tanya Cha kesal karena Zain memegang ponselnya.
"Nih lagi megang ponsel kamu sayang," jawab Zain nyantai.
"Zain aku mau ngobrol sama kamu tentang Mbak Ani," ucap Cha yang sedikit takut.
"Mau bahas apa sayang tentang dia? Dia sudah jadi perempuan panggilan disebuah tempat pelacuran yang terkenal mewah di Kota ini," ungkap Zain yang tau kemana arah pembicaraan yang mau disampaikan Cha.
"Kamu tau dari mana Zain?" tanya Cha heran.
"Aku tau sayang semua tentang kehidupanmu. Dan buatku itu sangat gampang mengetahuinya," jelas Zain.
"Hmmm, dasar sombong," celetuk Cha.
"Bukannya sombong sayang, tapi itu kenyataannya, bahwa aku mengetahui segalanya tentangmu baby!"
"Trus gimana dong Zain! Kasihan Mbak Aninya kan!" Cha merasa iba dengan nasib yang dialami sahabatnya itu.
"Kenapa kamu kasihan? Dia yang mau!" jawab Zain.
__ADS_1
Cha tak percaya dengan apa yang disampaikan Zain. Baginya gak mungkin Mbak Ani mau melakukannya kalau tidak karena paksaan.