Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Sarapan Pagi


__ADS_3

Malam semakin larut, Cha mulai memejamkan matanya. Begitu juga dengan Zain, dia tidur disofa panjang. Zain sudah terlelap, namun tidak dengan Cha. Dia masih terjaga dan susah untuk memejamkan matanya.


Cha menatap langit-langit atap kamar itu. Dia masih mengingat tatapan Yoga, saat bertemu dengannya di acara pernikahannya. Betapa bodohnya dia yang mempercayai ucapan Yoga dulu. Cha berpikir, Yoga akan menepati janjinya untuk kembali ke Indonesia, namun kenyataannya dia malah menikah di Belanda tanpa Cha ketahui awalnya.


Cha teringat juga akan nasib Mamanya. Apakah nasibnya sama dengan nasib Mamanya? Yang ditinggalkan orang yang dicintainya. Cha menarik nafas dalam. Lalu dia menoleh kesamping dimana Zain sudah tertidur pulas.


"Zain, kamu sungguh baik, kenapa tidak dari awal kita bertemu sebelum aku mencintai orang lain? Kenapa dengan adanya kejadian buruk kita bertemu?" gumam Cha pelan.


Dia kembali menatap langit kamarnya. Cha berusaha memejamkan matanya. Setelah beberapa jam, akhirnya Cha bisa tertidur dengan lelapnya.


Malam pun semakin larut, gelapnya malam kian membuat Zain dan Cha tidur dengan nyenyak. Hingga pagi menyongsong, menyapa Zain dan Cha untuk hari yang baru. Hari dimana Cha akan kembali ke Paris bersama keluarga Zain.


Seorang suster mengetuk pintu ruangan Cha dan Zain. Tapi tak ada sahutan yang terdengar dari dalam ruangan. Lalu suster itu kembali mengetuk pintu kamar Cha.


Di dalam ruangan, Cha mendengar seperti suara ketukan pintu, dia perlahan membuka matanya dan melihat kearah pintu. Cah mendengar seseorang memanggil di depan pintu kamarnya.


Cha mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu sambil membawa infusnya. Cha dengan hati-hati membuka pintu kamar itu.


Suster yang melihat pasiennya membuka pintunya sendiri merasa terkejut.


"Miss wat ben je aan het doen?"


"(Nona apa yang anda lakukan)?" teriak suster itu dan langsung membantu Cha.


Cha yang tidak mengerti apa yang diucapkan suster itu, hanya diam saja. Dia mengikuti suster itu yang membantunya kembali ke tempat tidurnya.


"Je hoeft je bed niet uit! Waar is je man?"


"(Seharuanya anda tidak perlu bangkit dari tempat tidur! Dimana suami nona)?" ucap suster itu yang merasa khawatir.


Cha masih belom bisa menjawab, karena memang dia tidak mengerti apa yang disampaikan suster itu.


"Please wake up my friend."


"(Tolong bangunkan teman saya)," pinta Cha dan menunjuk kearah Zain.


Si suster langsung membangunkan Zain yang tertidur disofa.


"Master, wake up! That lady needs your help!"


"(Tuan, bangunlah! Nona itu membutuhkan bantuan anda)!" seru suster itu.


Zain yang mendengar seperti ada suara-suara, membuka matanya, dia melihat seorang suster berdiri tepat dihadapannya. Zain bangkit dan duduk. Dia mencoba mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.


Sedangkan suster itu kembali ke tempat Cha. Dia memeriksa kondisinya. Setelah itu dia mengatakan, "Miss, today you can return home. Your health has improved."


"(Nona, hari ini anda sudah bisa kembali kerumah. Kesehatan anda sudah membaik)," suster itu mengatakannya dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


"Terima kasih," Cha menganggukkan kepalanya di depan suster itu.


Zain melangkah ke kamar mandi membersihkan wajahnya. Setelah itu dia kembali ketempat Cha.


"Cha, kamu mau sarapan apa?" tanya Zain setelah berada disamping Cha.


"Terserah Zain, aku ngikut kamu aja," jawab Cha.


"Aku hubungi Mama dulu ya, apakah mereka akan ke rumah sakit pagi ini atau siang nanti."


"Heum."


Zain menghubungi Mamanya, tapi sambungan belom dijawab, Zain mencoba kembali dan akhirnya tersambung.


"Hallo Ma, Assalamu'alaikum," sapa Zain.


"Wa'alaikumussalam Zain. Apa yang terjadi?" tanya Mamanya khawatir.


"Tidak ada yang terjadi Mom! Zain hanya ingin bertanya. Apakah Mama dan Oma akan kemari pagi ini?"


"Tidak sayang, nanti siang, kami akan kesana. Kasihan Oma, dia harus istirahat dulu. Bagaimana dengan Cha, apa dia akan keluar dari rumah sakit?" tanya Mamanya.


"Ya Mom, hari ini Cha sudah bisa kembali kerumah. Jadi Zain rasa, kita bisa kembali ke Paris siang nanti," jawab Zain.


"Ok, nanti Mama sampaikan ke Papa kamu biar nanti siang kami ke rumah sakit." jelas Mamanya.


"Baiklah Mom, Zain mau sarapan dulu sama Cha. Apakah Mama, Oma dan Papa sudah sarapan disana?"


"Iya Ma, Zain tunggu di rumah sakit siang nanti."


Obrolan pun berakhir. Zain kembali melihat Cha.


"Sayang, aku akan menyuruh orang untuk membeli sarapan buat kita. Apa kamu bisa menunggu sebentar?" tanya Zain.


"Baiklah Zain, aku masih bisa menahannya kok Zain," jawab Cha.


Kemudian Zain menghubungi seseorang untuk membeli sarapan mereka. Lalu Zain menghampiri Cha kembali.


"Apa kama Mama? Apakah mereka akan kesini?" Cha bertanya.


"Mereka gak kesini pagi ini. Tapi siang nanti Mama dan Oma akan datang. Kenapa, apakah kau merindukan mereka?" tanya Zain.


"Ya Zain, mereka sudah seperti Ibu dan nenek buatku. Aku menginginkan perhatian mereka."


"Hmmm, kalau begitu aku hubungi Mama biar sekarang kemari untuk menyuapimu sarapan."


"Eh tidak usah Zain! Aku gak mau merepotkan Mama dan Oma. Biar mereka istirahat. Kasihan Oma sudah tidak kuat jika diajak kemari terus-menerus."

__ADS_1


"Jangan khawatir, Oma kuat kok, dia akan senang bisa jalan keluar. Karena di Paris dia selalu di Mansion keluarga," jelas Zain.


"Tapi biarkanlah Zain mereka istirahat dulu. Nanti siang juga mereka kemari kan?"


"Iya sayang. Kita tunggu ya sarapannya datang."


Zain berjalan keluar kamar Cha. Dia mencoba menghubungi seseorang. Orang yang dihubungi Zain adalah bodyguard yang ditugaskannya untuk memantau Yoga. Zain khawatir, Yoga akan berbuat nekat menemui Cha. Dia ingin mengetahui gerak-geriknya.


Kemudian Zain masuk kedalam kamar Cha dan membawa sarapan mereka.


"Cha, ayo kita sarapan. Ini sarapannya sudah aku bawakan."


"Aku ingin ke kamar mandi Zain. Bisakah kamu membantuku Zain?" tanya Cha.


"Kamu mau mandi atau mau membersihkan wajahmu?" tanya Zain.


"Dua-duanya Zain."


"Baiklah, aku akan membantumu ke kamar mandi. Apakah, aku juga akan membantu memandikanmu?" Zain menggoda Cha.


"Kalau kamu tak keberatan. Kita sudah pernah melakukannya, bahkan melihat satu sama lain. Bukan suatu hal yang baru bukan jika melihat tubuhku?" ucap Cha yang saat ini sudah mulai berani berbicara tanpa malu-malu lagi.


"Really sayang! Kalua begitu ayo kita lakukan. Aku ingin melihat seberapa tahan kamu tidak tergoda oleh sentuhan ku," Zain menyeringai iblis di bibirnya.


Zain membantu Cha turun dari tempat tidurnya, dia membawa Cha ke dalam kamar mandi.


"Zain, kamu tunggu diluar saja. Aku bisa melakukannya sendiri," Cha menyuruh Zain berhenti mengikutinya.


"Bukannya tadi kamu yang mengajakku Cha untuk membantumu melepaskan pakaianmu?" Zain menahan senyumnya yang melihat Cha takut.


Padahal baru saja dia berani mengatakan dengan tanpa malu-malu dan sekarang nyalinya ciut kuncup seperti bunga yang tak bernyawa. Zain terus menatap Cha dengan tatapan mematikannya.


"Ah itu hanya candaan ku saja Zain. Kenapa kamu mendengarkannya. Tidak mungkin aku membiarkanmu melihat tubuhku yang polos walaupun sebenarnya kamu sudah melihatnya, tap tidak untuk saat ini," tekan Cha.


"Waowww...berarti nanti akan ada saatnya aku bisa melihatnya kembali?" Zain mendekatkan wajahnya ke wajah Cha dan mengecup sekilas bibir Cha. Lalu dia bergegas meninggalkan Cha dengan senyum puasnya.


"Zaaaainnn bisanya kamu mencuri ciuman saat keadaanku seperti ini!" teriak Cha.


"Hahaha, aku sudah sering mencuri ciumannya sayang. Jangan khawatir, itu tidak akan membuatmu kehilangan bibir sexy mu."


"Kalau kamu terus-terusan mencuri ciuman dariku, bibirku bisa menipis Zain...!" bentak Cha.


"Hahahaha," Zain semakin tak bisa menahan tawanya mendengar kekonyolan Cha dalam berekspresi.


Cha pun masuk ke dalam kamar mandinya, dia masih kelihatan kesal dengan Zain. Dia membersihkan wajahnya dan tubuhnya yang sudah sehari kemaren tidak dibersihkan. Infus ditangannya juga sudah dilepas, sehingga Cha bebas melakukan apa saja termasuk membersihkan tubuhnya.


Zain berada di luar ruangan dia sedang menerima informasi dari orang suruhannya mengenai Yoga. Dia mendapat laporan tentang aktifitas Yoga di kediamannya.

__ADS_1


Saat ini Yoga masih berada dirumahnya. Setelah acara pernikahan itu dia tidak tinggal di rumah istrinya. Dia hanya melakukan pernikahan tanpa ada cinta dan terikat dengan wanita yang dinikahinya. Walaupun perdebatan Yoga dan Papanya terjadi, kali ini Yoga tetap pada keinginannya yang tidak akan menerima wanita itu dalam kehidupannya.


Zain menerima semua informasi itu dan menyimpannya secara diam. Dia tidak ingin Cha kembali tergoda dengan Yoga yang datang memohon maaf dan menginginkannya kembali. Zain akan membuat Cha menjadi miliknya, dan akan memberikan kebahagian untuk Cha.


__ADS_2