Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Bertemu Sika


__ADS_3

Cha melihat kearah Binyu yang ternyata memandangnya dengan senyuman. Saat Zain berjalan menuju Receptionist, Binyu mendekati Cha.


"Cha, akhirnya kita kembali lagi ke kota ini ya, tapi dengan status yang berbeda," ucap Binyu tanpa menoleh ke Cha.


Cha tersenyum getir mendengar ucapan Binyu. Dia mengingat semua kejadian yang dilaluinya di kota ini.


"Ya, kita kembali lagi Bin. Tapi aku senang kembali kesini bersama Zain. Orang yang dulunya mau memperkosaku dan sekarang menjadi calon suamiku," balas Cha tersenyum.


"Apakah kamu sudah memaafkan ku Cha?" tanya Binyu merasa tak enak.


Cha menoleh kearah Binyu dan tersenyum, lalu berkata, "Itu sudah masa lalu Binyu. Aku sudah memaafkanmu. Aku harap kamu juga bisa menghormati keputusanku yang menjalani hidup bersama Zain sahabat kamu," sarkas Cha.


"Ya, aku tau Cha sekarang kamu sudah sama Zain. Tapi apakah aku salah jika masih mengharapkanmu?" tanya Binyu sambil menatap kearah Zain.


"Kamu gak salah Bin, keadaan lah yang tidak berpihak ke kamu, justru berpihak ke Zain."


Binyu terdiam mendengar ucapan Cha. Dia tak berani menatap Cha.


Lalu Zain berjalan menghampiri mereka berdua. Dan berdiri di samping Cha.


"Ayo, mobilnya sudah ada di depan," ucap Zain.


"Zain, sepertinya aku menunggu di kamar saja. Karena ada yang harus aku kerjakan. Kamu antar aja Cha menjemput adiknya," ucap Binyu yang menghindar.


"Loh kenapa Bin?" tanya Zain melirik Cha.


"Aku ada kerjaan dikit Zain. Dan harus di selesaikan," bohong Binyu.


"Baiklah kalau gitu. Aku anter dulu Cha."


"Binyu, aku balik dulu ya. Terima kasih sudah menemani kami sampai kesini," ucap Cha berusaha tersenyum.


Cha tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara Binyu dan Zain. Sehingga dia mencoba bersikap netral.


"Iya Cha, sampai ketemu lagi dibalik waktu," balas Binyu yang merasakan kesedihannya.


Zain dan Cha pergi meninggalkan Binyu yang masih setia berdiri seperti patung. Hanya nafasnya yang memburu, namun jantungnya seperti hendak berhenti karena melepas kepergian Cha.


Binyu tiada henti merutuki kebodohannya. Penyesalannya tak ada hentinya. Orang yang dulunya menghias hari-harinya dengan keluguannya dan keceriaannya, sekarang tidak lagi dia miliki.


"Akankah takdir memberiku kesempatan untuk membahagiakan Cha kembali?" gumam Binyu dengan wajah sedihnya.


Lalu dia pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat sambil menunggu Zain kembali.


Di luar hotel, Cha dan Zain menuju sekolahnya Sika. Cha sudah gak sabar ingin memeluk adik kesayangannya itu dan memberikan oleh-oleh untuknya.

__ADS_1


"Cha, gimana kalau Sika bertanya tentangku?" tanya Zain.


"Aku akan jujur sama dia Zain. Dan aku akan perkenalkan dia ke kamu," jawab Cha.


"Sungguh...! Kamu akan mengenalkanku dengan Sika?" tanya Zain lagi dengan binar mata senang.


"Ya Zain. Dia akan ikut bersama kita nanti saat kembali ke rumahku. Apakah kamu tidak keberatan kalau mengantar kami sampai ke rumah Zain?" tanya Cha balik.


"Dengan senang hati sayang. Apa aku juga harus bertemu dengan orang tuamu?" tanya Zain.


"Sepertinya tidak kali ini Zain. Aku belom berani mengenalkanmu dengan Mamaku. Biarkan aku melihat situasinya terlebih dahulu ya," pinta Cha agar Zain mengerti.


"Baiklah sayang, aku akan menunggunya. Kalau kamu siap, aku akan datang ke rumahmu menemui orang tuamu," balas Zain dengan tersenyum.


Jalan yang dilewati mereka tak terlalu ramai hingga membuat waktu yang ditempuh berlalu cepat. Hingga akhirnya Cha dan Zain sampai di sekolah yang elit di kota Medan.


Cha mencoba menghubungi Sika untuk memberitahukan kepadanya bahwa dia sudah berada di depan gerbang sekolahnya.


Mereka menunggu Sika di dalam mobil. Zain memarkirkan mobilnya di area parkiran tak jauh dari gerbang sekolah.


"Sayang, kapan kamu kembali ke Jogja?" tanya Zain tiba-tiba.


"Aku belom tau Zain. Kenapa kamu menanyakannya lagi? Bukankah aku sudah mengatakannya kemaren!" jawab Cha heran.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu aja. Hehehe," balas Zain nyengir.


"Aku ingin memelukmu," pinta Zain.


Cha mendekatkan dirinya ke dalam dekapan Zain. Dia membiarkan Zain memeluknya dengan kasih sayang.


"Cha, kalau aku tidak ada nanti, apakah kamu akan menikah kembali?" tanya Zain.


"Kenapa kamu ngomong seperti itu Zain? Gak lucu ah. Jangan berbicara yang nggak-nggak. Aku gak mau kehilanganmu," kesal Cha.


"Aku hanya ingin tau sayang. Aku berharap bisa menemanimu sampai kita tua nanti," balas Zain.


"Aku gak mau dengar tentang itu lagi Zain. Ayo kita bahas tentang rencana pernikahan kita aja. Itu lebih menyenangkan," pinta Cha.


"Baiklah, bagaimana kalau aku bertanya, berapa anak yang kamu inginkan?" tanya Zain senyum-senyum.


"Mmmm, aku ingin punya anak empat Zain. Karena biar ramai dirumah nanti. Apa kamu setuju?" tanya Cha.


"Apapun kemauanmu akan aku turuti sayang. Mau berapapun yang kamu mau, aku siap tempur," jawab Zain sambil mencium pipi Cha.


Cha tersipu malu mendengar Zain mengatakan tempur. Dia bahagia memiliki Zain sekarang.

__ADS_1


Lalu mereka mendengar suara dering tlp Cha. Cha kembali ke posisi duduknya dan mengambil ponselnya. Lalu dia melihat layarnya, ternyata Sika menghubunginya. Cha mengangkat tlpnya.


"Assalamu'alaikum dek, kamu udah keluar kelas?" tanya Cha sambil melihat kearah gerbang.


"Ini Sika udah mau sampai di depan gerbang kak. Kakak dimana?" tanya Sika.


"Kakak udah di depan gerbang kok. Kamu keluar aja ya," suruh Cha.


Tlp pun dimatikan. Sika segera berjalan ke depan gerbang. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan Cha. Hingga dia melihat Cha berdiri di depan sebuah mobil bersama seorang laki-laki tampan.


"Sika.......," Cha melambaikan tangannya.


Sika pun menghampiri keduanya. Dan dia langsung berlari menghambur ke pelukan kakaknya.


"Kakak.....! Sika rindu banget....!" ucap Sika menangis.


"Kakak juga rindu sama Sika. Kamu sudah besar ya dek dan tambah cantik," balas Cha sambil mengusap-usap punggung adiknya.


Sika melepaskan pelukannya. Dia menoleh kesamping menatap Zain.


"Kak, siapa ini?" tanya Sika.


"Oh iya dek, nih kenalin pacar Kakak," jawab Cha.


"Wah....,Kakak udah punya pacar ya..!" seru Sika senang.


"Hussst jangan kencang-kencang. Lihat tuh pada dilihatin," ucap Cha malu.


"Hallo Kak...!" sapa Sika sambil mengulurkan tangannya.


"Hay adik manis. Kenalkan nama Kakak Zain," ucap Zain memperkenalkan dirinya.


"Wah....nama yang keren sekeren dan secakep orangnya," puji Sika.


Cha geleng-geleng kepala melihat aksi adiknya yang memuji Zain berlebihan.


"Kakak ketemu dimana sama Kak Zain? tanya Sika ke Cha.


"Ketemu di Jogja," jawab Cha.


"Wah Kak Zain tampan sekali..! Kalau Sika udah besar seperti Kak Cha, pasti nyari yang cakep seperti Kak Zain," seru Sika yang masih terus memuji ketampanan Zain.


"Udah ayo kita pulang," ajak Cha.


"Kakak kemari sama Kak Zain ya?" tanya Sika yang cerewet.

__ADS_1


"Iya, Kakak ngantar Kakak kamu ke sini. Pengennya sih ketemu sama Mama kamu, tap Kakakmu melarangnya," Zain yang menjawabnya.


__ADS_2