Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Pengakuan Ghani


__ADS_3

Pagi yang cerah. Setelah Cha menyelesaikan sarapannya, dia kembali ke dalam kamarnya. Cha melihat ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Dia membuka ponslenya dan tidak menemukan apa-apa.


Cha menunggu khabar dari Zain, namun belum ada tlp atau pesan yang di terimanya.


Cha pun bersiap-siap untuk ke Kampus. Lalu dia keluar dari dalam kamarnya. Cha berjalan menuju ruang tengah menunggu Dewi yang masih berada di kamarnya.


Cha duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Tak berapa lama, Dewi pun keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat Cha yang ternyata sudah duduk manis di sofa.


"Cha, Lo udah lama disitu?" tanya Dewi yang berjalan menghampirinya


"Lumayanlah Wi, udah satu jam lebih hehehe," jawab Cha cengengesan.


"Hahaha lama juga ya. Tapi Lo gak capek kan nungguin gw?" tanya Dewi polos.


"Ya capek sih nggak, tapi berkarat Iya," jawab Cha nyengir.


"Bisa aja Lo Cha. Udah yuk berangkat. Ntar kita telat loh," ajak Dewi.


"Wi, hari ini kita gak ada tugas kan yang harus di kumpulkan?" tanya Cha yang khawatir jika nanti di marahin Dosen gara-gara tak mengerjain tugas.


"Nggak Cha. Hari ini bersih dari tugas. Lo aman," jawab Dewi.


Mereka berdua keluar dari rumah itu. Cha dan Dewi naik mobil yang di berikan Zain dan di anter sama orang suruhan Zain.


Zain sengaja memberikan bodyguard terhadap Cha. Supaya tidak ada yang mengganggunya ketika Zain tidak berada di Indonesia. Zain melakukan itu karena dia mengkhawatirkan Cha saat berjauhan.


"Cha, ceritanya gimana dengan mantan Lo di Belanda? Apa dia tau kalau Lo juga akan nikah sama Zain?" tanya Dewi yang masih kepo.


"Gw gak tau Wi, apa dia mengetahuinya atau tidak. Gw udah gak perduli Wi, biarkan dia tau. Biar dia tidak mengganggu gw," jawab Cha.


"Apa dia gak pernah menghubungi Lo?" tanya Dewi lagi.


"Nggak Wi. Lagian gw juga udah gak mau berurusan dengannya," jawab Cha.


Mereka tidak menyadari, jika saat ini mereka sedang diawasi oleh bodyguard yang di kasih Zain. Bodyguard itu melirik sekilas dari kaca spion. Apapun yang terjadi dengan Cha, dia wajib melaporkannya.


Seperti percakapan saat ini, dia akan menginformasikan kepada Bosnya tentang apa yang di obrolin Cha dan Dewi.


Akhirnya tak terasa waktu berjalan cepat, mereka sampai di Kampus. Cha turun dari mobil dan melihat Kampusnya. Ada rasa rindu dan seneng akhirnya dia bisa kembali ke Kampus.

__ADS_1


"Ayo Cha ke ruangan kelas, malah bengong disini," celetuk Dewi.


"Eh iya Wi, habis gw dah lama gak masuk Kampus, jadi gimana gitu rasanya," balas Cha yang hatinya merasa senang.


"Baiklah, sekarang ayo ke kelas. Takut Dosennya masuk," ajak Dewi.


"Ok!" seru Cha.


Mereka berdua berjalan melewati beberapa Mahasiswi yang asyik ngobrol.


"Loh itu si Cha kan?" tanya Kakak kelasnya sama temannya.


"Baru nongol dia. Kirain gak kuliah disini lagi," balas yang lainnya.


"Udah gak usah di ceritain, kayak gak ada bahasan lain deh," ketus yang lainnya.


Selain itu, Cha juga mendengar selentingan tentang kekuasaan Zain di Kampus itu.


"Eh perempuan itu katanya pacar keponakan orang yang berkuasa di Kampus kita ini loh," ucap Mahasiswi A.


"Maksud Lo si Cha?" tanya si B.


"Iya dia orangnya. Dia juga perempuan yang di taksir sama si Ghani. Gebetan si Intan," jawab si A.


Cha masih terus berjalan. Dia berusaha tidak menggubris ucapan dari mereka yang sedang bergosip.


Cha berjalan santai dan tenang, seolah-olah tidak ada yang menceritakannya. Hingga dia sampai ke dalam ruangan kelasnya.


Tiba-tiba Ghani masuk ke dalam kelas, lalu dia membawa Cha dengan memegang tangannya. Ghani membawa Cha ke ruangan basket, dimana tidak ada team yang sedang berlatih atau lomba. Ruangan itu kosong. Ghani masuk ke dalamnya.


Sedangkan Cha berusaha menghempaskan genggaman tangan Ghani.


"Ghan, Lo apa-apaan sih. Ngapain narik tangan gw di hadapan teman lainnya, hah!" teriak Cha.


"Gw gak bisa menahannya lagi. Selama ini gw diam dan tak memberitahu sama Lo tentang apa yang gw rasakan selama ini. Tapi sekarang gw harus mengatakannya," Ghani mendekati Cha.


Cha berjalan mundur karena Ghani terus mendekatinya. Hingga dia membentur dinding ruangan itu. Cha tidak bisa bergerak dan menghindar, karena Ghani sudah menguncinya di tangannya.


"Cha, aku mencintaimu! Kamu dengar, aku men..cin...ta...imu....!" teriak Ghani di hadapan Cha.

__ADS_1


Cha terkejut dan tegang saat mendengar pengakuan Ghani yang mendadak. Tubuhnya mendadak kaku dan matanya menatap lurus ke mata Ghani. Bibirnya sedikit terbuka dan wajahnya pucat.


Ghani memegang kedua bahu Cha, dia menatap intens wajah Cha dan berakhir ke bibir Cha yang sedikit terbuka.


Tanpa menunggu lama, Ghani memiringkan kepalanya dan langsung melum*** bibir manis Cha.


Cha terkejut dan semakin pucat. Tubuhnya bergetar, dengan kesadaran penuh, dia mendorong tubuh Ghani menjauh. Namun ternyata Ghani sudah menahannya dengan menekan tubuhnya ke tubuh Cha.


Cha terus memberontak dan menggerak-gerakkan kepalanya kanan kiri. Namun lagi-lagi Ghani berhasil menahannya dengan memegang kepala Cha. Hingga akhirnya Cha menggigit bibir Ghani hingga berdarah. Barulah Ghani melepaskan pagutannya.


Tiba-tiba sebuah tangan langsung mendarat ke pipi putih mulus Ghani.


"PLAK....!" bunyi suara tamparan.


Ghani tidak marah dengan tindakan Cha. Dia justru tersenyum senang.


"Aku tidak perduli kamu mau menamparku beribu kalipun, aku tetap mencintaimu Cha. Kasih aku kesempatan," pinta Ghani yang masih berdiri di hadapan Cha.


"Kamu gila...! Aku akan segera menikah! Kamu tau itu!" teriak Cha emosi.


"Kamu mau menikah?" tanya Ghani dengan suara rendah.


"Ya, aku akan segera menikah dua bulan lagi. Kamu jangan memintaku untuk mencintaimu Ghani. Itu tidak mungkin! Cintaku hanya untuk calon suamiku!" bentak Cha.


"Apa dia laki-laki yang kemaren Cha?" tanya Ghani masih dengan suara rendah.


"Ya, dia orangnya. Aku harap kamu tidak menggangguku ataupun mencoba mendekatiku lagi. Carilah perempuan lain yang bisa memberikanmu cinta," jawab Cha, lalu dia melepaskan diri dari hadapan Ghani.


Cha berlari cepat keluar dari ruangan itu untuk menghindar dari Ghani.


Sementara Ghani masih diam terpaku diam di tempatnya. Tubuhnya lemas dan hatinya terasa sakit seperti di tusuk belati yang sangat tajam. Ghani memejamkan matanya dan mengingat ciuman pertamanya dengan Cha. Tak terasa air matanya keluar dari sudut mata.


Ghani buru-buru mengusapnya dan dia menarik nafas dalam dan menghempaskannya perlahan.


"Kenapa harus seperti ini? Disaat aku mencintai seseorang, ternyata aku harus menerima kenyataan pahit ini. Apakah ini permainan takdir?" gumam Ghani.


Lalu dia pun meninggalkan ruangan itu. Ghani kembali ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya. Ghani lebih banyak diam dan tidak ingin ngobrol sama teman lainnya.


Sedangkan Cha, dia masih berlari menuju toilet. Cha mencuci wajahnya dan bibirnya. Cha merasa bersalah karena sudah berciuman dengan laki-laki lain. Dia tidak ingin mengkhianati Zain. Cha berdiam diri di depan cermin. Menatap bibirnya yang sedikit membengkak akibat ulah Ghani.

__ADS_1


Setelah beberapa menit di dalam toilet, Cha keluar dengan berusaha tenang dan santai. Dia terus berjalan menuju ruangan kelasnya.


Sesampainya di dalam, Cha melihat teman-temannya yang berada di kelas, bengong melihat kedatangannya.


__ADS_2