
Cha terkulai lemas di samping Zain. Dia merasa tubuhnya yang lelah akibat perbuatan Zain yang sangat beringas. Zain tak puas jika melakukannya sekali. Dan itu membuat Cha benar-benar tak bisa bergerak.
"Bang aku lelah banget. Kalau begini, kapan aku menyelesaikan urusan Kampus," ucap Cha di tengah kelelahannya.
"Kamu bisa mengurusnya sayang. Aku gak akan mengganggu kamu. Kita akan bertemu ketika hari pernikahan kita," balas Zain dengan nafas yang masih berat.
"Kamu akan antar aku kembali ke rumah Dewi dulu kan bang?" tanya Cha.
"Tentu sayang, kamu akan aku antar. Aku gak mau membiarkan kamu pulang sendirian kesana."
"Kalau begitu, biarkan aku istirahat sebentar. Karena aku yakin, kakiku tak akan sanggup berjalan," pinta Cha.
"Ayo kita tidur," ajak Zain.
Zain menarik Cha ke dalam pelukannya. Mereka mulai memejamkan matanya dan terlelap dalam tidur dan kelelahan.
Sore hari pun tiba, Cha bangkit dari tempat tidur. Dia meninggalkan Zain yang masih terlelap. Cha berjalan masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya sisa dari percintaan panasnya. Cha menggunakan aroma teraphy lavender, wangi kesukaannya.
Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Cha keluar dari dalam. Cha melihat Zain yang masih terlelap.
Cha mendekati Zain dan mulai membangunkannya.
"Bang, ayo bangun! Kamu harus kembali ke Parus!" seru Cha yang berusaha membangunkan Zain.
"Sayang, ini sudah jam berapa?" tanya Zain yang masih ogah-ogahan bangun.
"Bang, ini sudah sore. Kamu juga harus mengantarku lebih dulu ke rumah Dewi. Ayolah bangun," ucap Cha.
Zain membuka matanya dan melihat Cha yang sudah rapi. Dia duduk dan mengucek matanya. Lalu Zain mengecup bibir Cha sekilas.
"Sangat manis dan membuatku candu," puji Zain sambil mengusap bibir Cha dengan jarinya.
"Iya udah gih mandi sana biar kita balik ke rumah," paksa Cha.
Lalu Cha menarik Zain agar turun dari tempat tidur. Dan dia mendorong tubuh Zain masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku tunggu abang, mandilah."
__ADS_1
"Baiklah sayang, tunggu sebentar ya. Setelah itu aku antar kamu ke rumah."
Cha hanya mengangguk mengiyakan ucapan Zain.
Lalu Cha kembali duduk menunggu Zain di sisi tempat tidur. Dia memainkan ponselnya untuk melihat dunia mayanya.
Beberapa saat kemudian, Zain keluar dari dalam kamar mandi. Dia menghampiri Cha dan meminta Cha membantunya memakai pakaiannya.
Sayang, bantu Abang mengancing kemeja ini," pinta Zain dengan manja.
Cha pun berdiri dan mulai mengancingkan kemejanya Zain dengan benar.
"Sudah rapi, Abang sangat tampan dan mempesona. Pasti banyak wanita cantik di laut sana yang menginginkan Abang," ucap Cha memuji Zain.
"Walaupun di luar sana banyak yang menginginkan Abang, tapi hati dan cinta abang hanya untuk kamu Cha. Kamu kehidupanku, dan masa depanku," balas Zain sambil mengusap rambut panjang Cha.
"Sekarang abang ngantar aku balik ke rumah ya," pinta Cha.
"Ayo, Abang juga harus segera sampai di Paris. Papa membutuhkan Abang segera disana," ucap Zain memberitahu.
Lalu mereka berdua keluar dari kamar hotel. Mereka menuju lantai di bawah. Zain memberikan kunci kamarnya. Kemudian mereka bergegas kembali ke rumah yang ditempati Dewi.
"Pasti sayang, Abang akan menghubungi kamu begitu sampai disana," ulang Zain yang memberikan keyakinan untuk Cha.
"Aku sudah gak sabar untuk menjalani kehidupan denganmu. Aku masih tidak percaya, kita akhirnya sampai di titik yang terakhir yaitu menikah," ucap Cha membayangkan yang lalu.
"Itu semua sudah takdir dari yang di atas sayang. Aku justru tidak menyangka, kalau akhirnya jatuh cinta dengan mantan pacar sahabatku," balas Zain dengan tersenyum.
"Hahaha, mantan pacar sahabat, lucu."
"Ya memang jodoh itu sangat lucu. Tak bisa di tebak dan disangka. Contohnya aja kita berdua. Kamu mantan pacar sahabatku Binyu, akhirnya menjadi istriku sebentar lagi. Lucu bukan," ucap Zain.
"Bang, gimana dengan Binyu?" tanya Cha hati-hati.
"Dia berada di Jakarta sekarang. Kenaoa sayang?" tanya Zain yang sedikit tak suka.
"Kamu tidak mengundangnya nanti?" tanya Cha.
__ADS_1
"Kamu mau dia di undang?" tanya Zain balik.
Cha merasa pertanyaannya membuat Zain tak suka mendengarnya. Padahal dia hanya menanyakan perihal mengundang. Tapi sepertinya Zain tak menyukainya.
"Ya terserah kamu bang. Aku ngikut apa yang kamu inginkan bang. Kalau kamu tak ingin mengundangnya, ya tidak masalah," jawab Cha tenang.
"Aku akan mengundangnya. Bagaimanapun dia sahabatku. Walaupun dia memiliki masa lalu dneganmu, tapi aku tidak mungkin melupakannya," ucap Zain yang sedikit bersalah.
Zain merasa kesal saat Cha menanyakan tentang Binyu. Ada cemburu di hati yang tak suka jika Cha menanyakan laki-laki lain. Namun Zain berpikir, dia sahabatnya. Dan mantan kekasihnya Cha. Zain merasa dia terlalu pencemburu sehingga dia pun bersalah dengan Cha.
"Keputusan di tangan kamu bang. Aku sebagai calon istri kamu, menerima segala keputusanmu," balas Cha.
Setelah menempuh perjalanan yang sedikit jauh, akhirnya mereka sampai di rumah yang ditempati Dewi.
Sore semakin memperlihatkan tanda-tanda malam. Cha dan Zain turun dari mobil. Zain mengantarkan Cha masuk ke dalam rumah itu.
"Bi, titip Cha disini. Aku akan kembali ke Paris," pamit Zain terhadap pembantu yang sudah lama bekerja terhadap keluarga Omnya itu.
"Iya Tuan, saya akan menjaga non Cha disini," balas bibi itu.
Lalu Zain pamit ke Cha. Dia memeluk Cha dengan erat dan mengecup kening Cha.
"Sampai ketemu nanti di hari pernikahan kita ya sayang. Kamu jaga diri disini. Jangan aneh-aneh dan macem-macem," peringat Zain.
"Iya bang, aku akan menanti kedatanganmu di Medan nanti. Kamu juga jaga kesehatan disana dan jangan macem-macem," ucap Cha dengan tegas.
"Aku hanya satu macam dan itu hanya sama kamu sayang," balas Zain.
Lalu Zain kembali memeluk Cha dan mencium bibir Cha untuk perpisahan. Ada rasa sedih dan kehilangan ketika melihat Zain pergi dari rumah ini.
Cha tak sengaja meneteskan air matanya. Ya air mata kebahagiaan dan kesedihan karena harus berjauhan dengan Zain saat ini.
Lalu Cha masuk ke dalam rumah itu. Dia berjalan memasuki kamarnya. Dimana di dalam kamar itu terpajang lukisan foto Zain yang sangat tampan.
"Aku pasti merindukanmu sayang," gumam Cha sambil berdiri di hadapan foto Zain yang besar.
Kemudian Cha berbalik ke arah tempat tidurnya. Dia membereskan barang-barang belanjaannya yang tadi dibelinya bersama Zain.
__ADS_1
Cha teringat bagaimana Zain yang begitu perhatian dengannya. Begitupun dengan keluarga Zain yang sangat menyayanginya. Cha sungguh mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Cha merasa bahagia, dalam hidupnya dia mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya.