Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kebersamaan sebelum Zain ke Paris


__ADS_3

Zain dan Cha terus berjalan sepanjang Malioboro. Cha dengan senang memeluk lengan Zain.


"Zain, kamu hari ini jadi kembali ke Paris?" tanya Cha.


"Ya sayang, Abang akan kembali nanti sore. Abang ingin menemanimu seharian disini. Apa kamu mau ke Kampus?" tanya Zain.


"Besok aku akan ke Kampus mengurus KKN. Hari ini aku ingin berduaan denganmu," jawab Cha.


"Ok, kita akan menikmati waktu berdua disini," balas Zain.


Cha dan Zain masih terus berjalan hingga mereka sampai di sebuah Mall yang terkenal di Malioboro.


"Zain, aku laper. Kita makan dulu ya," ajak Cha.


"Iya, Abang juga laper. Kamu mau makan dimana?" tanya Zain.


"Terserah Abang," jawab Cha.


Lalu Zain mengajak Cha makan di cafe yang ada di Mall itu. Mereka memasuki cafe itu dan mencari tempat duduk yang kosong.


"Kita duduk disana aja ya sayang," ajak Zain yang menunjukkan meja kosong.


"Boleh juga," balas Cha.


Zain dan Cha berjalan ke meja kosong itu. Lalu mereka duduk. Kemudian seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.


"Siang Mas, Mbak, mau pesan apa?" tanya pelayan itu.


"Bisa minta buku menunya Mbak?" tanya Cha.


"Oh tentu, ini buku menunya. Silahkan di pilih menunya. Kalau sudah selesai bisa panggil saya ya Mbak, Mas," ucap pelayan itu sambil menatap Zain dengan genitnya.


"Makasih Mbak," balas Cha.


Lalu pelayan itu meninggalkan meja Zain dan Cha. Sementara Cha melihat buku menu yang ditinggalkan.


"Zain, sepertinya pelayan tadi tertarik denganmu. Wajahmu terlalu tampan," ucap Cha yang cemburu.


"Hahaha, Abang tidak perduli dengan perempuan lain sayang. Abang hanya tertarik denganmu," bisik Zain.


Cha pun merasa geli dan tubuhnya seperti tersengat listrik karena ulah Zain yang menggodanya di telinga.


"Zain jangan menggodaku. Ini di cafe, aku kegelian tau," ucap Cha yang sudah tak ada rasa malu lagi.


"Aku suka melihat respon tubuhmu yang kegelian. Bagaimana nanti sebelum aku ke Paris, kita melakukannya? Aku menginginkanmu sayang," bisik Zain lagi.


"Dasar mesum," ledek Cha.


"Tapi kamu suka kan sayang. Kalau Abang mesum?" goda Zain terus.


"Zain.....,kapan kita mesen makanannya?" tanya Cha sedikit kesal.


"Hehehe, baiklah, ayo kita pesan makanan," kekeh Zain.

__ADS_1


Lalu Cha memanggil pelayan tadi dan memberikan catatan kecil untuk pesanan mereka. Lagi-lagi pelayan itu melirik ke arah Zain. Dia pun tersenyum manis untuk menarik perhatian Zain.


Zain tau kalau pelayan itu mencoba menarik perhatiannya. Tapi dia tidak tertarik untuk menanggapinya. Zain justru memeluk pinggang Cha.


"Ini saja pesanan nya Mbak?" tanya pelayan itu.


"Iya Mbak," jawab Cha.


"Baik, ditunggu ya Mbak, sekita setengah jam pesanan akan diantar," ucap pelayan itu.


Lalu pelayan itu pergi dengan wajah kesal karena melihat keromantisan Zain dan Cha.


"Coba aku yang di perlakukan ya begitu, owh....senengnya hatiku....," bathin pelayan itu penuh harap.


Zain cekikikan melihat tingkah pelayan itu yang berani-beraninya menggoda dirinya.


Tak berapa lama, pesanan pun datang, Zain dan Cha sudah sangat tidak sabar menunggu makanan mereka.


Cha melihat banyak makanan yang di hidangkan di meja mereka.


"Zain, ini kelihatannya lezat sekali. Ayo kita makan," ucap Cha gak sabaran.


"Ayo kita coba nikmati makanan ini," ajak Zain.


Lalu mereka menyantap makanannya. Cha sangat kelaparan sehingga dia makan dengan semangat.


"Sayang, makannya jangan buru-buru. Nanti ku kesedek. Pelan-pelan aja sayang, kayak aku membuatmu melayang secara pelan-pelan," ucap Zain yang terus menggoda Cha.


"Hehehe, ayo lanjutkan makannya," Zain terkekeh.


Cha pun melanjutkan menikmati makanannya. Begitupun dengan Zain. Mereka berdua makan sambil ngobrol santai.


Beberapa saat kemudian, mereka menyelesaikan makanannya. Lalu Zain mengajak Cha kembali ke hotel.


"Ayo sayang, kita kembali. Abang ingin istirahat sebentar sebelum kembali ke Paris," pinta Zain.


"Baiklah Zain, kita balik sekarang ke hotel," balas Cha.


Mereka berdua kembali ke hotel untuk beristirahat. Saat Cha sudah kembali ke hotel, ponsel Zain berdering.


Zain melihat ponselnya dan ternyata Omanya yang menghubungi.


Zain pun mengangkat tlp nya saat duduk di sisi tempat tidur.


"Assalamu'alaikum Oma!" sapa Zain.


"Wa'alaikumussalam Zain..," sahut Omanya.


"Ada apa Oma? Semua sehat-sehat disana kan?" tanya Zain khawatir.


"Oma hanya mengingatkanmu jangan lupa pesanan Oma. Apakah kamu sudah membelinya Zain?" tanya Omanya.


"Tentu Oma, pesanan Oma sudah Zain beli. Oleh-oleh untuk Mama dan Papa juga sudah Zain siapkan, jangan khawatir Oma," jawab Zain tersenyum sambil menarik Cha duduk diatas pangkuannya.

__ADS_1


"Kamu memang cucuku tersayang. Dimana Cha?" tanya Omanya.


"Dia berada disampingku Oma," jawab Zain.


"Oh....apa kalian sudah membuat cicit untuk Oma?" tanya Omanya.


"Hahaha, Oma tunggu aja khabar dari kami," jawab Zain.


"Ayolah Zain, jangan buat Oma menunggu lama," pinta Omanya.


"Tentu Oma, kami akan terus berusaha membuatnya. Oma do'akan semoga berhasil, hahaha," balas Zain.


Cha yang mendengar ucapan Zain, langsung mencubit perut Zain dengan gemas.


"Awwww sakit sayang," protes Zain.


"Zain...kamu kenapa? Apa yang dilakukan Cha terhadapmu?" tanya Omanya khawatir.


"Oma, Cha mencubit pinggang Zain, gara-gara Zain mengatakan, do'akan Zain agar berhasil mencetaknya," ucap Zain mengadu.


"Hahaha, Cha...jangan buat Zain tak bersemangat. Kalau begitu lanjutkan kegiatan kalian berdua, semoga berhasil," ucap Omanya dengan kata menggoda.


Lalu tlp pun dimatikan setelah mengucapkan salam. Zain meletakkan ponselnya, dan dia menatap ke Meka dengan menyeringai.


"Kamu berani menggangguku saat aku berbicara dengan Oma?" tanya Zain.


"Kamu terlalu fulgar Zain, aku merasa malu dan tidak enak sama Oma," jawab Cha.


"Gimana kalau kita membuatnya sekarang, aku menginginkanmu sayang," ucap Zain penuh gairah.


"Cha mulai mengalungkan tangannya ke leher Zain dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Zain.


Mereka mulai saling memberikan sensasi kenikmatan dan saling bertukar salivanya. Zain langsung mengambil alih untuk membuat Cha merasakan kenikmatan darinya.


Akhirnya penyatuan terjadi, Zain dan Cha saling memberikan sensasi nikmat yang luar biasa, Cha terus menerus mendesah dibawah kungkungan Zain. Suara merdunya keluar dari bibir manis Cha menggema di ruangan kamar mereka. Zain tak henti-hentinya menghujam miliknya ke milik Cha yang sangat nikmat.


"Owh....Zain....!" desah Cha.


"Panggil namaku sayang...!" pinta Zain dengan suara paraunya.


"Zain....., aku mencintaimu," ucap Cha dengan suara manjanya.


"Aku juga mencintaimu sayang...," balas Zain sambil mengerang nikmat.


Zain terus menghentakkannya dan sesekali melum*** bibir Cha yang sangat manis. Zain benar-benar gila oleh kenikmatan tubuh Cha. Hingga akhirnya mereka melakukan pelepasan bersamaan. Suara erangan dari keduanya terdengar merdu.


"Sayang....a--aku keluar...!" ucap Zain tersendat karena sesuatu yang ingin meledak.


"Owh......!" erang Zain.


"Zain.....!" erang Cha.


Mereka akhirnya jatuh terkulai lemas diatas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2