
Cha yang sendirian di dalam kamar, berdiri di balkon menatap hamparan bunga yang menyejukkan mata. Lalu dia teringat dengan Sika adiknya. Sudah beberapa hari gak mendengar khabar dari adiknya. Dia sudah tidak sabar ingin menemui adiknya.
Saat Cha melamun, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Cha melihat kearah pintu, lalu dia berjalan menghampiri pintu itu.
"Cha sayang...boleh Oma masuk?" tanya Omanya dari luar kamar.
Cha membuka pintu kamarnya dan tersenyum melihat kehadiran Omanya.
"Iya Oma, ayo masuk Oma," Cha mengajak Omanya masuk ke dalam kamarnya.
Lalu mereka berdua berjalan menuju sofa. Oma mengajak Cha duduk di sofa.
"Sayang, besok kalian akan berangkat ke Indonesia. Oma pasti sangat merindukanmu. Hah, pasti Oma kesepian setelah kepergian kalian berdua," ucap Omanya yang merasa sedih.
"Oma, kalau Oma rindu sama kami, Oma bisa datang ke Indonesia. Aku akan membawa Oma jalan-jalan di Jogja," balas Cha.
"Pengennya sih seperti itu sayang. Tapi Oma lebih senang jika kalian segera menikah, biar Oma bisa memiliki cicit dan menemani Oma disisa umur Oma," ucap Omanya penuh harap.
Cha terdiam saat mendengar kemauan Omanya. Dia masih belom menginginkan menikah dengan Zain secepatnya. Cha masih ingin kuliah dan menyelesaikannya.
"Oma, do'ain aja yang terbaik untuk kami berdua. Dan kami bisa memberikan kebahagiaan buat Oma," hibur Cha.
Cha gak mau menghentikan kemauan dan keinginan Omanya. Cha hanya berusaha mengucapkan kata-kata yang tepat agar Omanya tidak bersedih.
"Iya sayang, Oma pasti mendo'akan yang terbaik buat kalian berdua."
"Oh ya Oma, Mama dan Papa dirumah?" tanya Cha.
"Mama Zain sedang menemani Papanya Zain untuk menghadiri pesta kecilan temannya," jawab Omanya.
"Oma, apakah Zain tidak pernah membawa seorang wanita ke Mansion ini?" tanya Cha hati-hati.
"Hahaha, kenapa Cha bertanya seperti itu? Apa kamu sedang menyelidiki atau cemburu?" tanya Omanya yang memang ngeledek Cha.
"Ah Oma...Aku hanya ingin bertanya saja Oma. Siapa tau Zain pernah membawa seorang wanita ke sini," ucap Cha malu.
"Sayang, Zain itu sangat kaku dengan wanita. Dia tidak pernah berpacaran atau membawa wanita kesini. Zain sangat kaku sama yang namanya perempuan. Saat Zain mengatakan bahwa dia memiliki kekasih, kami tidak ada yang mempercayainya."
"Loh emang kenapa Oma dan yang lainnya tidak percaya?"
__ADS_1
"Karena memang Zain tidak pernah berhubungan dengan wanita. Walaupun Oma tau kelakuan dua diluar sana bagaimana, tapi dia tidak pernah mencintai wanita. Dia sangat dingin menurut Oma dulu."
"Hehehe, ya dia memang dingin Oma dulunya. Cha aja gak habis pikir kenapa Zain bisa sangat menginginkan Cha," ucapnya.
"Tentu dia menginginkanmu sayang. Karena kamu wanita yang spesial baginya," balas Omanya tersenyum hangat.
"Oma bolehkah aku memeluk Oma?" tanya Cha.
"Boleh sayang! Oh...calon istri cucu Oma...kemarilah!" ucap Omanya yang membuat lebar kedua tangannya.
Cha langsung menghambur ke dalam pelukan Omanya. Dia merasakan kasih sayang yang tulus terhadapnya. Cha merasa tenang dan meneteskan air matanya.
"Kamu harus kuat ya sayang. Ada Zain disamping kamu, yang akan selalu menemanimu," hibur Omanya.
Cha semakin terisak mendengar Omanya berkata seperti itu. Memang dia harus menjadi wanita yang tegar dan kuat dalam melewati semua ini.
"Oma, mungkinkah, aku akan mendapatkan kebahagiaanku?" tanya Cha.
"Kenapa tidak sayang! Kamu berhak bahagia bersama Zain. Kebahagiaan itu bisa kamu dapati dengan cucu Oma. Zain itu sangat setia dan baik. Oma bukan memuji dia, tapi itu kenyataannya," jawab Omanya.
"Iya Oma, dia sangat baik terhadap orang yang dicintainya."
"Besok kamu dan Zain apakah langsung ke Medan atau kalian ke Jogja dulu?" tanya Omanya.
"Semoga mereka sehat disana. Oma titip pesan kalau Cha sudah sampai di Medan."
"Iya Oma, pasti Cha sampaikan."
"Satu lagi sayang, jangan pernah mengkhianati orang yang sangat mencintai kita. Karena belum tentu laki-laki lain bisa melakukan hal yang sama terhadap pasangan kita saat ini," nasehat Omanya.
Cha menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang disampaikan Omanya.
"Ya Oma benar. Cha akan menjaga cintanya Zain, Oma."
Lalu Omanya bangkit dari sofa dan berkata sama Cha.
Cha juga ikutan berdiri saat melihat Omanya berdiri dari sofa.
"Kalau begitu, Oma ke kamar dulu. Oma hanya memastikan keadaanmu disini. Oma sangat menyayangimu Cha," ucap Omanya sambil membelai rambut panjang Cha.
__ADS_1
"Iya Oma. Cha juga sangat menyayangi Oma dan yang lainnya," balas Cha.
Lalu Omanya pergi meninggalkannya dan kembali ke kamarnya.
Sedangkan Cha kembali duduk di sofa dan menyalakan TV. Cha mengecek ponselnya belom ada khabar dari Zain.
"Pasti Zain sangat sibuk sekali. Lebih baik aku membereskan semua barang-barangku yang akan dibawa besok kembali ke Indonesia," gumam Cha sambil nonton.
Lalu dia bangkit dari sofanya dan berjalan ke arah lemari. Cha mulai menyusun baju-bajunya dan merapikan kembali isi dari copernya.
Setelah selesai membereskan semuanya, Cha merasa lelah. Kemudian dia melangkah berjalan kearah tempat tidur. Cha mencoba berbaring di tempat tidur. Dia memejamkan matanya untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan Zain.
Beberapa jam kemudian, Zain masuk ke dalam kamarnya. Dan dia mendapatkan Cha yang sedang tertidur dengan lelapnya. Zain tidak ingin mengganggu tidur Cha. Lalu dia keluar dari kamar itu menuju kamar Mamanya.
Zain meninggalkan Cha yang sedang terlelap. Dia melangkah berjalan ke arah kamar Mamanya. Zain mengetuk pintu kamar itu, namun tak ada sahutan. Hingga dia memutuskan berjalan ke arah kamar Omanya.
"Tok tok tok, Oma...!" panggil Zain dari luar kamar.
"Masuk saja Zain..., tidak Oma kunci," sahut Omanya dari dalam kamarnya.
Kemudian Zain membuka pintu kamar itu dan melihat Omanya sedang berbaring.
"Oma kenapa? Apa Oma sakit?" tanya Zain saat melangkah masuk ke dalam kamar.
"Tidak sayang, Oma hanya beristirahat saja. Tadi Oma barusan dari kamarnya Cha. Oma ingin lihat keadaannya di kamar," jawab Omanya.
"Iya Oma, tadi Zain juga baru dari kamar. Cha masih tidur terlelap. Zain tidak mau mengganggunya. Biarlah dia istirahat. Apakah dia menunggu Zain tadi Oma?" tanya Zain.
"Ya, dia akan menunggumu Zain di kamarnya."
"Karena menunggu akhirnya dia tertidur Oma."
"Bisa jadi begitu. Oh ya Zain besok kalian jadi berangkat ke Indonesia? Oma pasti merindukan kalian berdua nantinya," ucap Omanya sedih.
"Ya Oma, besok kami akan berangkat ke Indonesia. Kalau Oma merindukan kami, Oma bisa datang menemui kami. Atau kami yang akan berkunjung ke Paris menemui Oma."
"Oma pengen kalian segera menikah Zain," harap Omanya.
"Zain juga maunya seperti itu Oma. Tapi Zain juga harus menghormati keputusan Cha. Jika dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu. Dan Zain juga tidak mau egois Oma. Disaat Cha seperti ini, Zain memaksakan keinginan Zain. Rasanya Zain egois jika seperti itu Oma," jelas Zain.
__ADS_1
"Oma setuju Zain. Oma bangga memiliki cucu sepertimu Zain. Kau memang benar foto copy Papamu. Cerdas dan ulet dalam bekerja," puji Omanya.
"Ah Oma, Zain jadi tambah bersemangat nih buat bekerja lebih keras lagi. Agar Perusahaan Zain semakin gila berkembang," ucap Zain penuh bangga.