
Saat makan siang berlangsung, Dewi keluar dari dalam kamar Ibunya. Dia melihat sepasang kekasih sedang menikmati makan siangnya.
Dewi pun berjalan ke arah ruang makan. Dewi menghampiri Cha dan berkata. "Cha, gimana udah siap semuanya?" tanya Dewi yang langsung duduk di samping Cha.
"Alhamdulillah, udah Wi. Semuanya udah beres, tinggal nunggu berangkat aja," jawab Cha sambil menikmati makannya.
"Oh ya, mana Ibu Wi? Apa gak ikut makan bersama?" tanya Cha.
"Ibu masih mengerjakan jahitan pesanan orang Cha. Kayaknya bentar lagi juga keluar," jawab Dewi.
"Sayang, Abang duluan ya. Mau istirahat dulu," ucap Zain yang menyela obrolan mereka.
"Iya bang, nanti aku nyusul ya," balas Cha.
Zain pun beranjak dari tempat duduknya. Dan dia meninggalkan Cha dan Dewi di meja makan. Zain kembali ke dalam kamar Cha untuk beristirahat.
Sementara Cha masih menikmati makanannya bersama Dewi. Kemudian Ibunya Dewi dan adiknya keluar dari dalam kamar dan ikut bergabung dengan mereka.
"Eh Ibu, ayo makan Bu," ajak Cha saat melihat kehadiran Ibunya Dewi.
"Iya nak Cha, ibu harus menyelesaikan jahitan Ibu sebelum berangkat ke Klaten. Biar gak kepikiran nantinya," balas Ibunya Dewi.
"Iya sih Bu, emang harus seperti itu ya Bu, biar tenang saat acara di Klaten sana," ucap Cha mengiyakan ucapan Ibunya Dewi.
"Loh nak Zain kemana?" tanya Ibunya Dewi.
"Sudah duluan Bu, tadi sudah makan dan barusan balik ke kamar buat istirahat sebelum berangkat ke Klaten.
"Ibu kaget tadi, waktu nak Cha bilang, Zain mau ikut ke Klaten. Ibu khawatir kalau dia tidak nyaman disana," ucap Ibunya yang mengingat hal tadi.
"Hehehe, dianya yang mau Bu ikut. Katanya pengen tau acara nikahan Adat Jawa," jelas Cha.
"Iya ya, diakan separuh bule ya nak Cha. Makanya penasaran," balas Ibunya Dewi sambil terkekeh.
"Wah gimana tuh Bu, kalau orang-orang tempat paman melihat kehadiran Zain disana. Pasti heboh pada kepengen lihat," ucap Dewi yang membayangkan kejadian nantinya
"BBener tuh Mbak Dewi, Tika pengen kenalin sama teman Tika, kalau Mas Zain orang yang baik," sambung Tika, adiknya Dewi.
"Biarin mereka melihat nak Zain. Namanya juga jarang atau bahkan gak pernah ketemu bule langsung," balas Ibunya.
"Udah ah Bu, ayo di makan. Keburu kelamaan dan dingin makanannya," Dewi menyudahi obrolan tak bermanfaat mereka.
Cha hanya senyum-senyum melihat tingkah keluarga Dewi yang sangat menghibur Cha.
__ADS_1
"Bu, saya duluan ya. Mau siap-siap dulu. Takut ada yang ketinggalan belum di masukkan ke koper," pamit Cha.
"Oh iya nak Cha silahkan. Nanti kalian siap-siap ya jam setengah empat kita harus berangkat. Takut macet dijalan," balas Ibunya Dewi.
"Baik Bu." Cha meninggalkan mereka yang masih menikmati makanannya. Dia menemui Zain di dalam kamarnya.
Saat Cha masuk, dia melihat Zain yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Lalu Cha mendekat dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Dia bisa melihat dengan jelas wajah tampan Zain yang memang sangat memikat kaum hawa. Cha mulai menelusuri wajah Zain menggunakan jarinya, mulai dari mata, hidung dan berakhir di bibir Zain yang sangat menggemaskan.
Ternyata Zain belum sepenuhnya tertidur, dia hanya memejamkan matanya untuk mengistirahatkan sebentar. Saat Cha masuk ke dalam kamar, Zain mengetahui Cha duduk di sampingnya. Zain membiarkan Cha melakukan apapun yang dilakukannya.
Hingga saatnya tiba, Zain menangkap tangan Cha dan membuka matanya lalu tersenyum menatap Cha. Tentu saja Cha kaget karena kepergok sedang menikmati pemandangan wajah Zain.
"A--abang gak tidur?" tanya Cha gugup.
"Tidur, tapi ada yang sedang mengganggu, jadi Abang gak bisa tidur," jawab Zain senyum-senyum.
"Eh, maaf bang. Gak maksud mengganggu, tadi a--aku hanya ingin melihat aja, sapa tau ada hewan kecil di wajah Barang," bohong Cha yang merasa malu karena kepergok.
"Masa sih, kayaknya gak ada deh. Abang gak ada merasakannya. Coba sini dekatkan wajah kamu sayang," pinta Zain.
Cha yang tidak tau maksud tersembunyi Zain, menuruti kemauan Zain. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Zain hingga tatapan mereka bertemu dan jarak diantara mereka sangat dekat. Zain langsung membalikkan posisinya menjadi Cha yang berada di bawah.
"Eh, Abang mau ngapain?" tanya Cha bingung.
"M--mau makan apa? Bukannya tadi sudah makan ya," balas Cha polos.
"Iya, Abang mau makan kamu, sepertinya ini hidangan penutup buat Abang," ucap Zain dengan menaik-naikkan alisnya menggoda Cha.
"Makan aku, mana enak. Ih kanibal Abang nih," protes Cha.
Tanpa persetujuan Cha, Zain langsung mendaratkan ciuman di bibir Cha. Cha kaget dan membelalakkan matanya menatap Zain. Namun karena Zain sangat pinter membuat Cha menikmatinya, akhirnya dia membalas ciuman Zain. Awalnya itu sebuah ciuman bias, namun lama-kelamaan menjadi tuntutan buat Zain.
"Bang, jangan," ucap Cha mengingatkan Zain untuk tidak berbuat lebih sebelum menikah.
Zain pun tersadar dan melepaskan pagutan mereka. Lalu dia menyeka bibir Cha yang basah karena ulahnya dengan jarinya.
"Manis gak berubah," balas Zain dengan menyeringai nakal.
"Hmmmm, maunya," balas Cha.
"Kamu juga mau kan, buktinya tadi ngebalasnya, hayo....," ledek Zain sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ihhhh apaan sih bang, malu tau..," protes Cha dengan malu-malu.
__ADS_1
"Udah sekarang temani Abang tidur yuk. Kita istirahat dulu, biar nanti bangun sudah enakan badannya dan seger," ajak Zain.
Cha pun mengangguk mengiyakan ajakan Zain. Dia meninggalkan Zain dan berjalan ke arah pintu, lalu mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang yang langsung masuk ke dalam.
Setelah itu Cha membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk Zain. Mereka berdua tidur bersama dengan memejamkan matanya hingga lelap.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, terdengar suara ketukan di pintu membangunkan Cha dan Zain.
"Cha...., udah jam tiga. Kamu gak siap-siap?" Dewi sengaja datang ke kamar Cha untuk mengingatkannya.
"Iya Wi, gw mandi dulu...!" teriak Cha dari dalam kamarnya menyahut ucapan Dewi.
"Ya udah, kami tunggu di depan nanti ya Cha," balas Dewi.
"Iya Wi," sahut Cha lagi.
Kemudian Cha membangunkan Zain dengan menggoyang-goyangkan lengannya.
"Bang, ayo bangun! Kita harus berangkat, mereka menunggu kita di ruang depan," ucap Cha yang membangunkan Zain.
"Iya sayang, kamu duluan gih mandi. Ntar baru Abang yang mandi ya," suruh Zain.
"Ya udah, aku mandi dulu ya."
Kemudian Cha beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah selesai, mereka bergantian. Zain pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Setelah semuanya selesai, mereka berdua keluar dari dalam kamarnya dan berjalan ke arah ruang tengah. Ternyata Dewi dan Ibunya sudah menunggu diruangan itu.
"Ibu sudah lama disini?" tanya Cha yang merasa tak enak.
"Ibu baru aja disini nak Cha. Gimana, kita berangkat sekarang?" tanya Ibunya Dewi.
"Iya Bu, kita berangkat sekarang aja," ajak Cha.
Cha dan yang lainnya tak mengetahui kalau di depan sudah ada dua mobil menunggu. Ternyata Zain meminta mobil khusus buat dia dan Cha. Sementara Dewi dan Ibunya naik mobil yang satunya lagi.
"Bu, kami naik mobil yang satunya lagi. Dan Ibu sama yang lainnya bisa naik mobil yang itu," ucap Zain menunjuk ke arah mobil lain.
"Ya sudah gak apa-apa nak Zain. Yang penting kita berangkat bareng," balas Ibunya Dewi yang tidak mempermasalahkan kendaraan.
Akhirnya mereka semua berangakt ke Klaten dengan menggunakan dua mobil.
__ADS_1