
"Gimana kak, apa kata papa?" tanya Sika yang penasaran dari tadi.
Cha diam dan berpura-pura memperlihatkan wajah sedihnya.
"Kenapa kak, papa gak setuju ya? Duh sabar ya kak, coba bujuk mama deh biar ngomong sama papa," saran Sika sambil melihat wajah kakak nya yang murung.
Cha yang awalnya memperlihatkan wajah sedihnya, tiba-tiba..
"Hahahaha, wajah kamu lucu banget dek. Kayak kamu aja yang sedang tlp nan sama papa," ledek Cha sambil mencubit pipi adeknya dengan gemes.
"Ihhhhhhh, kakak!" seru Sika yang merasa kesakitan.
"Cup cup cup, udah jangan ngambek. Mau denger gak apa kata papa tadi?" bujuk Cha agar Sika tak merajuk.
"Males," jawab Sika dengan ketus.
"Beneran gak mau tau...! Tar penasaran loh...," goda Cha.
"Habis dikerjain gitu," protes Sika.
"Iya-iya, hasil dari pembicaraan kakak sama pap....," Cha menggantung ucapannya.
"Papa tuh setuju kakak ke Jogja...! seru Cha merasa seneng dan kegirangan sambil melompat-lompat dihadapan Sika.
"Yeeeeee, selamat ya kak, akhirnya ke Jogja juga," ucap Sika sambil ikut-ikutan melompat seperti Cha.
"Eits, tapi papa mau bicarakan dulu sama mama," Cha menghentikan lompat-lompat ya dan kembali duduk di sofa.
"Kan yang penting papa udah setuju kak, mama pasti nurut aja. Yang biayain kan papa, bukan mama," kata Sika yang ikutan duduk di sebelah Cha.
"Emang, kakak kapan ke Jogja nya?" tanya Sika tanpa melihat ke arah kakaknya.
"I don't know....," ucap Cha sambil memainkan ponselnya.
"Kalau kakak ke Jogja, aq bakalan kesepian dong,"
"Kalau kamu merasa perlu sesuatu, kamu bisa kok hubungi kakak. Lagian kakak juga akan sering ngububgi kamu," kata Cha meyakinkan.
"Bener loh kakak, jangan sampai dilupakan Sika nya disini," ucap Sika.
"Iya pasti, kakak ingat terus Sika...," Cha mencolek hidung adeknya.
"Udah sekarang kakak mau istirahat. Kamu kalau mau nonton, sendirian ya. Kakak mau tidur dulu," Cha meninggalkan Sika yang asyik menonton.
Malam semakin larut. Udara di malam hari terasa dingin, membuat Cha sangat nyenyak tidur. Begitupun dengan Sika. Mereka terlelap dalam tidurnya.
Pagi pun menyapa, suara ayam berkokok. Suara adzan berkumandang membuat Cha terbangun dan seperti biasa menunaikan kewajibannya.
Hari ini Cha bangun pagi sekali. Dia ingin mengambil hati mamanya dengan merapikan dan membersihkan rumah secepatnya. Cha ingin mengetahui apakah orang tuanya sudah membicarakan keinginan nya.
"Pagi ma..," sapa Cha sambil tersenyum.
"Mmm, pagi," jawab mamanya singkat.
Cha tidak perduli dengan respon mamanya. Tapi terkadang dia merasa heran, kenapa mamanya kurang memberikan perhatian terhadapnya dan Sika.
"Kenapa ya, mama kurang perduli dengan aq dan Sika? Kan kami anaknya, kenapa berbeda?" pikir Cha yang berdiri di dekat meja makan sambil melihat ke arah mamanya yang duduk di depan tv.
"Ah sudahlah, yang penting aq harus bisa keluar dari kota ini. Aq ingin bebas, ingin mulai kehidupan baru," bathin Cha. Lalu dia pun menyiapkan sarapan untuk semuanya.
Hari ini Cha sangat nyantai karena ujian mereka sudah selesai. Tinggal menunggu pengumuman saja.
Setelah selesai sarapan, Cha merapikan semuanya. Namun tiba-tiba mamanya memanggil nya.
"Cha sini dulu," panggil mamanya.
Cha melangkah berjalan menuju ke arah mamanya. Dia juga memaksakan senyumnya.
"Kenapa ma?" tanya Cha bingung.
"Kemaren katanya, kau menghubungi papamu, benarnya itu? tanya mama Dae.
"I..iya ma, kemaren Cha coba menghubungi papa. Pengen ngobrol dengan papa," jelas Cha yang ketakutan.
__ADS_1
"Apa kata papa mu?" tanya mamanya dengan penasaran.
"Papa setuju kalau aq kuliah di Jogja," jawab Cha singkat. Dia masih melihat ke arah mamanya, harap-harap cemas dengan melihat sikap mamanya yang nyeremin.
"Ya udah, kalau papa mu sudah setuju. Ya kau persiapkan barang-barang kau. Nanti kakak kau pulang ke Medan, biar dia yang ngurus keperluan kau di Jogja," kata mamanya sambil berlalu dari hadapan Cha.
"Alhamdulillah, akhirnya aq jadi juga ke Jogja, uhhhh senangnya," gumam Cha sambil senyum-senyum bahagia.
Karena senangnya, Cha lupa dengan Yoga dan Zain sejenak. Dia lebih fokus untuk persiapan ke Jogja. Cha sudah tidak sabar pengen cepat-cepat berangkat ke sana. Yang katanya Jogja terkenal dengan gudeg nya dan keramahan orangnya.
"Mudah-mudahan di sana, aq bisa menjalani kehidupan baru qu," gumam Cha sambil mencuci piring. Tiba-tiba dari arah belakang Cha di kaget kan oleh Sika.
"Dar....," Sika menepuk bahu kakaknya dari belakang.
"Astaghfirullahal'adzim Sika.......!" teriak Cha sambil mencipratkan air ke arah adek nya.
"Aduh, ampun-ampun...,udah-udah, ntar Sika basah kak..," rengek Sika yang menutup kedua matanya.
"Makanya jangan kejutin kakak," semprot Cha.
"Iya, maaf. Kan cuma iseng aja ngerjain kakak," bela Sika.
"Nih bantuin susun piringnya biar cepat selesai," paksa Cha.
"Sini biar Sika susun," pinta Sika sambil mengulurkan tangannya.
Mereka bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Hingga waktunya buat bersantai. Cha lebih memilih masuk ke dalam kamarnya, dia berjalan menuju meja belajarnya. Disitu ada foto dia dan Yoga. Lalu Cha duduk di kursi dan memandang foto tersebut.
"Hahhh," Cha menghela nafasnya dengan berat.
"Kenapa kita harus berjauhan ya Ga. Padahal aq berharap kita bisa bareng-bareng kuliah di Jogja," ucap Cha yang berbicara sendiri dengan fotonya.
Cha terus berceloteh, seakan-akan foto Yoga nyata yang bisa diajak ngobrol. Cha terus berbicara dengan foto nya sendiri setelah itu dia beralih melihat lukisan Zain.
"Andai kita bertemu duluan sebelum hati qu memilih Yoga, mungkin aq akan membalas cintamu Zain. Maaf aq tidak bisa," bathin Cha yang masih memandang lukisan Zain.
Tak terasa waktu terus berlalu hingga tibalah pengumuman kelulusan sekolah Cha. Cha berangkat ke sekolah sendirian, karena orang-orang uang yang menyayanginya sudah pergi. Sesampainya Cha di sekolah, dia bertemu dengan Bimo.
Bimo yang mendengar namanya dipanggil, dia pun menoleh ke asal suara tersebut.
"Hai Cha...," balas Bimo. Dia menyamperin Cha yang berdiri di papan pengumuman.
"Gimana udah lihat pengunaannya?" tanya Bimo yang sudah berdiri di samping Cha.
"Nih aq baru aja sampai Bim. Yuk kita cari nama kita, mudah-mudahan lulus ya," harap Cha.
"Aamiin," ucap Bimo.
Mereka sama-sama melihat pengumumannya. Menelusuri satu persatu nama yang tertera hingga terdapat nama Yoga.
"Wah, nama Yoga ada Bim...!" seru Cha.
Trus dia menelusuri lagi mencari namanya. Hingga ketemu nama Daecha Parisya.
"Yeeeeee, aq juga lulus Bim....," seru Cha dengan girangnya.
"Sama Cha, aq juga lulus, tuh nama aq di bawah nama kamu," balas Bimo yang tak kalah girangnya.
Cha dan Bimo merasa sangat senang, akhirnya mereka kelar juga jadi siswa dan berlanjut menjadi mahasiswa.
"Oh ya Bim, kamu rencana mau lanjut kuliah dimana?" tanya Cha.
"Aq lanjut ke Jakarta Cha. Karena papaku nyuruh kami pindah kesana. Karena papa ku pindah tugas," jawab Bimo yang sudah duduk di bangku panjang yang ada di teras sekolah.
"Oh...., semangat yah," dukung Cha.
"Kalau kamu lanjut kuliah dimana Cha..? Oh ya, Yoga sudah kasih khabar gak sama kamu," tanya Bimo sambil menoleh ke arah Cha.
"Blom Bim, kemaren katanya bakalan ngabarin aq kalau sudah di Belanda. Tapi....," Cha menggantung ucapannya. Ada raut kesedihan yang tergambar di wajah Cha.
"Tapi apa Cha?" desak Bimo yang melihat kesedihan wajah Cha.
"Tapi sampai detik ini dia tidak memberikan khabar ke aq, Bim," lanjut Cha.
__ADS_1
"Oh...mungkin dia lagi sibuk Cha. Sabar aja, pasti dia ngabarin kamu kok. Percaya deh," Bimo mencoba meyakinkan Cha. Dia tidak mau membuat Cha sedih dan kepikiran.
"Ya udah, aq traktir yuk makan di cafe. Hitung-hitung salam perpisahan dan merayakan kelulusan kita," ajak Bimo dan langsung berdiri.
cha mendongak ke atas dan melihat Bimo sudah berdiri di sampingnya. Cha pun berdiri.
"Ayuk Bim, kita rayakan kelulusan kita!" seru Cha semangat. Tapi dibalik itu semua dia masih memikirkan Yoga.
Akhirnya mereka berdua keluar dari sekolah dengan perasaan senang dan bercampur sedih. Cha menaiki motor Bimo. Mereka menuju cafe yang dekat dengan sekolah.
Akhirnya mereka sampai, cah turun dari motor dan begitu juga dengan Bimo. Mereka berjalan memasuki cafe tersebut. Dan memilih tempat yang nyaman untuk ngobrol.
"Yuk disini aja Bim duduknya," ajak Cha lalu menghempaskan bokongnya.
"Ok," jawab Bimo.
Pelayan pun datang menyamperin mereka dan memberikan buku menu kepada mereka.
"Kalau mau pesan, nanti tinggal panggil saya ya tuan," ucap si pelayan dengan senyum ramahnya.
"Baik mbak," jawab Cha ramah.
Cha dan Bimo melihat menu makanan. Akhirnya mereka memesan makanannya.
"Kangen juga ya kumpul begini bareng Yoga," celetuk Cha spontan.
"Iya Cha, aku juga kangen dengan kita kemaren, sering kumpul bareng. Pasti nanti ketika di Jakarta, aku merindukan kalian berdua," sahut Bimo dengan raut wajah sedih.
Hingga makanan yang dipesan pun datang. Mereka menikmati makanannya hingga habis tak tersisa.
"Wah kamu kelaparan ya Cha," ejek Bimo karena melihat makanan Cha tandas tak bersisa.
"Hehehe, tadi cuma makan dikit Bim dirumah," jawab Cha dengan malu-malu.
"Gak apa Cha, biar memperbaiki bentuk tubuh ya, hahahaha, ledek Bimo sambil tertawa.
"Yeeeeee, tar kalau aq gemuk, Yoga bisa protes tau," sewot Cha.
"Ah masa sih. Bukannya Yoga seneng kalau kamu gemukan ya," pancing Bimo.
"Ya iya sih. Katanya aq kurusan. Dia nyuruh aq makan banyak biar gemukan dikit," Cha membenarkan ucapan Bimo.
Mereka menikmati makanannya sambil ngobrol dan sesekali diselingi tawa. Hingga selesai mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Sebelumnya Bimo dan Cha berfoto bersama untuk kenang-kenangan sebelum berpisah.
Sesampainya Cha dirumah, dia disambut dengan Sika.
"Hayoooo, kemana tadi, kok lama banget lihat pengumuman doang," celetuk Sika.
"Ihhhhhhh, kamu itu kepo banget sih jadi adek," jawab Cha sambil mencubit pipi Sika dengan gemas.
"Gimana kak, lulus kan?" tanya Sika.
"Lulus dong," jawab Cha angkuh.
"Yeeeeee, selamat ya kak," ucap Sika sambil memeluk kakaknya dengan rasa haru.
"Kakak udah mempersiapkan barang-barang yang mau kakak bawa ke Jogja?" tanya Sika.
"Udah, tapi blom semua Sik. Tar kalau kakak yang di Jakarta datang baru kakak siapkan lagi," jawab Cha.
"Emang kapan kak Ina datang?" tanya Sika lagi.
"Katanya mama sih besok udah datang. Tapi kakak gak tau jam berapa sampai di rumah," kata Cha.
"Trus kakak kapan bernagkatnya?" Sika terus bertanya.
"Kalau besok kak Ina dateng, ya lusanya kakak berangkat ke Jogja Sik," jawab Cha. Cha melangkah memasuki kamarnya. dan Sika mengekor kakak nya dari belakang.
"Lah kamu kenapa ngikutin kakak?" tanya Cha yang membalikkan badan nya menghadap Sika.
"Hehehe, pengen ikut aja. Tar kan kakak ke Jogja. Jadi Sika pengen puas-puasin nemenin kakak," Sika cengengesan melihat kakaknya.
Mereka pun duduk di sofa merebahkan badannya. Cha sudah mempersiapkan barang-barang yang mau dibawanya ke Jogja. Tinggal beberapa lagi barang yang disiapkan nya. Dia juga gak lupa membawa lukisan dan bingkai foto dari Zain dan Yoga. Cha udah gak sabar memulai kehidupan barunya.
__ADS_1