
Akhirnya mereka sampai di Paris. Zain dan keluarganya segera ke Mansion untuk beristirahat karena sudah larut malam.
Sesampainya di Mansion, Mama dan yang lainnya segera masuk ke dalam Mansion. Sedangkan Zain melihat Cha yang masih tertidur pulas. Dan dia tidak ingin membangunkan Cha, lalu Zain menggendong Cha yang sedang tertidur dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya serta membaringkannya diatas tempat tidurnya.
Zain menatap kearah Cha, wajahnya begitu lembut tanpa makeup. Wajah yang sangat natural, yang membuat Zain jatuh cinta. Lalu Zain segera mengganti pakaian Cha. Saat membuka pakaiannya, tubuh Zain bergelora. Hasratnya muncul saat dia melihat dua bukit yang sangat indah dan menantang, seakan-akan menyuruhnya untuk menggenggamnya.
Zain mencoba menahan hasratnya yang bergelora, dia buru-buru mengganti pakaian Meka dan sesekali menghembuskan nafas beratnya.
"Hah, akhirnya selesai juga godaan ini," gumam Zain sambil menyeka keringat di keningnya.
Lalu Zain menutup tubuh Cha dengan selimut. Zain bisa legah saat selesai memakaikan pakaian Cha, tapi tidak dengan dirinya. Karena saat ini sesuatu yang berada di bawah sedang memberontak untuk segera dilepaskan.
Akhirnya Zain memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Zain pun melakukan pelepasan dengan sendirian, dia menutup matanya dan mulai membayangkan tubuh Cha yang molek, suara merdu Cha yang mende***. Semua Zain bayangkan tentang penyatuannya dengan Cha hingga akhirnya dia melepaskan banyak calon anak tanpa tempat.
Lalu Zain membersihkan tubuhnya sampai selesai.
Kemudian Zain keluar dari dalam kamar mandi, dia menoleh kearah tempat tidurnya, dimana Cha masih terlelap. Dia berjalan kearah Cha dan naik ke atas tempat tidur. Lalu Zain membaringkan tubuhnya disebelah Cha dan memeluknya dari samping hingga dia pun terlelap.
Pagi menyapa sepasang kekasih yang masih terlelap di dalam selimutnya. Enggan membuka mata karena pelukan hangat yang dirasakan Cha membuatnya betah berlama-lama bersembunyi di dalam selimutnya.Hingga sesuatu yang dipegangnya membuat kesadarannya seketika kembali. Cha tersentak dan langsung bangun terduduk, melihat sosok Zain yang sedang memeluknya dari samping.
"Zain...,bangun sudah pagi," ucap Cha sambil menggoyangkan tubuh Zain.
"Eummm, Cha sudah jam berapa ini?" tanya Zain yang masih malas membuka matanya.
"Ini sudah pagi Zain, apa kamu tidak ke Kantormu? Aku rasa Mama dan Papa menunggu kita untuk sarapan. Aku sudah lapar Zain," rengek Cha yang masih duduk disamping Zain.
"Cha..., bisakah hari ini kita dikamar aja, aku pengen memelukmu sepanjang hari, rasanya nyaman sekali," pinta Zain.
"Zain...! Kalau kita seharian dikamar bagaimana mengisi perut yang kelaparan?! Ayo bangun...!" teriak Cha agar Zain segera bangun.
Lalu Zain membuka matanya dan mengucek-ngucek matanya. Kemudian dia pun duduk disamping Cha. Dengan senyum menyeringai Zain langsung mengecup bibir Cha.
"Muach," Zain memberikan kecupan dipagi hari.
Cha tersipu malu, namun dia menyembunyikannya agar Zain tidak meminta lebih.
"Dasar pencuri ciuman," ledek Cha.
"Biarin, tapi kamu suka kan sayang kalau aku menciumnya?" goda Zain.
"Ayo kita mandi, biar sarapan. Perutku sudah lapar Zain..," rengek Cha lagi.
"Ayo kita mandi bareng sayang, biar mengirit waktu," Zain menaik-naikkan alisnya.
__ADS_1
"Bahaya kalau mandi bareng kamu Zain. Aku gak mau, nanti kamu bakalan melakukan sesuatu denganku," ucap Cha yang geleng-geleng kepala.
"Hahaha, baiklah. Kali ini aku akan menahannya. Tapi kalau kita sudah menikah, aku akan terus memintanya. Kamu harus bisa melayaniku, ok sayang..," Zain memainkan alisnya naik turun.
"Kalau kita sudah nikah, apapun akan aku lakukan sayangku Zain....! balas Cha tersenyum.
"Apa kamu bilang Cha! Coba sekali lagi, aku pengen mendengarnya, please...!" Zain memohon.
"Apapun akan aku lakukan sayangku Zain...!" ucap Cha kembali dengan malu-malu.
Ini adalah pertama kali Cha mengatakan sayang terhadap Zain. Zain merasa bahagia mendengarnya. Lalu dia memeluk Cha dan menghujani dengan banyak ciuman diwajah Cha.
"Zain....wajahku basah kena air liurmu. Hentikan...!" protes Cha.
"Aku bahagia sayang, aku mencintaimu emmmuach," Zain langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah Zain selesai, Cha pun mulai membersihkan dirinya hingga selesai. Kemudian mereka keluar dari dalam kamar menuju meja makan.
"Kalian seperti pengantin baru saja. Apa Zain melakukan sesuatu denganmu sayang?" tanya Omanya yang menatap tajam kearah Zain.
"Tidak Oma, Zain tetap menjaga batasannya kok Oma sampai kami menikah," jawab Cha senyum-senyum.
"Syukurlah sayang, jangan biarkan dia melakukannya sekarang. Biar dia berpuasa sampai kalian menikah," ucap Omanya lagi.
"Oma....! Zain tidak akan melakukannya. Tapi sedikit-sedikit gak apa kan Oma," Zain menyeringai menatap Omanya.
"Hehehe, iya-iya Oma."
"Ayo sayang, kamu duduk di dekat Oma sini. Kita sarapan dulu. Oma sengaja menunggu kalian keluar dari dalam kamar," ucap Omanya.
"Maaf Oma, kami kelamaan bangunnya," balas Cha dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayang."
Lalu mereka bertiga makan bersama menikmati sarapan dengan hidangan yang lezat.
"Zain, bawa Cha hari ini jalan-jalan. Kelihatannya cuaca sangat bagus hari ini," ucap Omanya yang membuka obrolan.
"Iya Oma, Zain akan membawa Cha jalan-jalan hari ini. Kami akan kesuatu tempat yang sangat romantis," balas Zain.
"Pergilah bersenang-senang sayang."
"Tapi Oma, Zain harus ke kantor dulu pagi ini. Karena ada yang harus Zain selesaikan."
__ADS_1
"Apakah tidak bisa dialihkan oleh Asisstentmu Zain?" tanya Omanya.
"Tidak Oma. Ini sangat penting, jadi Zain harus turun tangan menyelesaikannya."
"Baiklah, Tapi setelah itu bawalah Cha jalan-jalan," pinta Omanya.
"Pasti Oma," balas Zain.
Lalu mereka melanjutkan sarapannya hingga selesai. Zain berpamitan sama Oma untuk kembali ke kamarnya bersama Cha.
Cha dan Zain masuk ke dalam kamar. Zain meminta Cha untuk membantunya berpakaian.
"Cha, bisakah kamu membantuku memakaikan dasi ini?" pinta Zain.
"Aku tidak bisa Zain. Tapi aku akan belajar memakaikannya," ucap Cha yang mencoba memasang dasi itu.
"Ya lumayan, tidak buruk. Kamu harus setiap hari memasangkannya biar kamu terbiasa nantinya," ucap Zain sambil mengecup kening Cha.
"Iya Zain, aku akan melakukannya untukmu," balas Cha tersenyum.
"Ya sudah, aku ke kantor dulu. Kamu tunggu aku disini sampai kembali. Kita akan jalan-jalan ke tempat yang sangat romantis."
"Iya Zain, aku akan menunggumu."
Sekali lagi Zain mencium kening Cha dan mengecup bibir manis Cha.
"Aku berangkat dulu sayang, Assalamu'alaikum," ucap Zain.
"Wa'alaikumussalam sayangku," balas Cha.
Zain sangat bersemangat hari ini. Dia melangkah keluar kamar dengan hati yang gembira dan berbunga-bunga.
Mama dan Papanya yang sedang duduk diruang tamu, melihat tingkah ABG Zain.
"Zain, hari ini Mama melihatmu berbeda. Kau kelihatan lebih ceria," goda Mamanya.
"Tentu Mom, aku sangat bahagia hari ini," balas Zain.
Papanya Zain hanya tersenyum melihat tingkah lucu anaknya yang semata wayang ini.
"Dia benar-benar bucin sekali dengan Cha. Perempuan itu sudah membuat Zain kita yang cuek tanpa ekspresi, kejam, akhirnya bertekuk lutut karena cintanya Cha," ucap Papanya tiba-tiba.
Zain sudah pergi berlalu dari Mama dan Papanya setelah berpamitan. Dia segera masuk ke dalam mobil menuju Perusahaannya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar, Cha berdiri di balkon melihat ke bawah. Dimana terlihat jelas Zain pergi dari Mansion.
"Zain kamu sangat baik, aku akan mencintaimu seumur hidupku. Dan Yoga, maafkan aku, karena tidak bisa kembali lagi bersamamu," gumam Cha sambil menatap keluar.