Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Sarapan bareng keluarga Dewi


__ADS_3

Malam pun tiba, Cha males untuk keluar dari kamarnya. Tiba-tiba suara pintu di ketuk.


"Cha, kamu di dalam?" terdengar suara Dewi dari luar kamarnya.


"Iya Wi, bentar!" teriak Cha dari dalam kamarnya.


Cha bangkit dari tempat tidurnya, lalu dia berjalan ke pintu. Cha membuka pintu kamarnya dan melihat Dewi yang sudah berdiri di hadapannya.


"Masuk Wi," ucap Cha yang menyuruh Dewi masuk.


"Kapan Lo balik? Zainnya mana?" tanya Dewi.


"Tadi sore gw balik Wi. Zainnya udah balik ke Paris tadi habis nganter gw," jawab Cha.


"Oh...Gimana perjalanan Lo ke Paris. Lo kan belum cerita sama gw." ucap Dewi yang mulai kepo.


"Perjalanan gw ada rasa menyakitkan tapi akhirnya menyenangkan," balas Cha ambigu.


"Maksud Lo? Menyakitkan kenapa Cha?" tanya Dewi.


"Gw ketemu sama mantan gw yang berada di Belanda. Ntah kenapa langkah gw ke Paris justru memperlihatkan sesuatu yang membuat gw sakit," jawab Cha.


"Mantan Lo si Binyu?"


"Bukan, mantan gw yang dari Medan dan kuliah di Belanda," jawab Cha.


"Oh....cowok cakep itu? Yang tak kalah tampan dari Zain.


"Menurut Lo tampanan mana, Zain atau dia?" tanya Cha konyol.


"Kalau gw lihat sih tampanan dia, wajahnya sih sama-sama ke bule-bulean. Dua-duanya sangat menarik," jawab Dewi sekenanya.


"Dia sudah menikah Wi sama perempuan lain. Gw benar-benar kecewa. Dia membohongi gw selama ini. Dia di jodohkan sama orang tuanya di Belanda sana. Dan perempuan itu dulunya di jodohkan sama Zain. Tapi dia menolak karena cintanya terhadapku. Tapi...hah," Cha menghela nafasnya.


"Wah gak bener banget tuh cowok. Emang Zain laki-laki yang tegas. Syukur deh Lo sama Zain. Gw dukung Lo," ucap Dewi menggebu.


"Iya Wi, dua bulan lagi gw akan nikah sama Zain. Gw akan menjadi istrinya Wi. Ini diluar dari prediksi gw."


"Semua sudah takdir Cha. Kita hanya bisa menjalankannya. Semoga pernikahan Lo nanti berjalan lancar dan tidak ada hambatan," ucap Dewi mendo'akan Cha.


"Makasih Wi. Lo selalu mendukung gw."


"Oh ya, adik Lo sama Ibu di kamar ya?" tanya Cha.


"Iya, mereka lagi di kamar. Ibu lagi ngajarin adikku belajar.


"Besok kita ke Kampus bareng ya. Gw udah lama gak ke Kampus. Gak enak sama Dosen. Walaupun udah diminta izin sama Zain, tapi tetap aja gak enak," jelas Cha.


"Oh ya tuh si Ghani nanyain Lo terus. Dia kayaknya beneran deh suka sama Lo. Sampai minta no ponsel Lo segala. Gw jadi setres tiap ketemu dia pasti nanyain Lo mulu," kesal Dewi.


"Terus Lo jawab apa?" tanya Meka.

__ADS_1


"Gw bilang Lo lagi sama kekasih Lo di Paris. Dan akan segera menikah," jawab Dewi.


"Hahaha, terus dia bilang apa lagi Wi?" tanya Meka yang penasaran.


"Dia bilang, gw gak percaya, terus dia ninggalin gw gitu aja. Gila gak tuh cowok. Ngotot banget pengen dapetin Lo," geram Dewi.


"Ah biarin aja, gak usah Lo gubris. Nanti padam sendiri Wi," balas Cha.


"Iya sih. Udah yuk makan, gw dah laper nih," ajak Dewi saat obrolan mereka selesai.


"Iya, ayo."


Dewi dan Cha keluar dari dalam kamar Cha. Mereka berjalan ke ruangan makan. Ternyata disana udah ada Ibunya Dewi dan adiknya.


"Eh nak Cha, kapan datangnya?" tanya Ibunya Dewi.


Tadi sore Bu, maaf baru ketemu Ibu sekarang," sesal Cha.


"Ndak apa-apa nak Cha. Sekarang kan sudah ketemu. Ayo kita makan," ucap Ibunya Dewi.


"Iya Bu." balas Cha.


"Hai Tika gimana khabarnya? Makin cantik aja adek kak Dewi nih ya," puji Cha.


"Ihhhh, kak Cha juga tambah cantik. Tika suka banget lihat kak Cha. Oh ya makasih udah di kasih oleh-olehnya. Tika suka banget kak!" seru Tika yang bersemangat bercerita tentang oleh-olehnya.


"Iya Tika, Kakak senang kalau Tika suka dengan oleh-olehnya.


Lalu mereka pun makan malam bersama. Suasana saat makan malam sangat hangat dan penuh canda dan tawa. Hingga akhirnya makan malam pun selesai. Semua orang kembali ke kamar masing-masing.


"Cha, aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Aku akan menemuimu," pesan dari seseorang yang tidak ada namanya.


Cha mengerutkan keningnya melihat pesan itu. Dia bingung karena tidak ada nama pengirim yang tertera.


"Siapa yang ngirim pesan ini ya? Siapa dia?" gumam Cha dengan bertanya-tanya.


Cha masih memegang ponselnya dan menatap kembali ke layar ponselnya.


Lalu dia meletakkan ponselnya diatas nakas. Dia pun langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Cha mencoba mengingat kembali pesan tersebut. Hingga pikirannya lelah, dia pun memejamkan matanya dan akhirnya terlelap.


Sinar matahari menyembul dan menyinari ruangan kamar Cha yang tertutup tirai tipis.


Cha membuka matanya karena sinar matahari yang mengarah ke atas kelopak matanya. Dia menutup wajahnya dengan tangan. Lalu bangkit dari tempat tidur. Cha masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke Kampus.


Setelah Cha selesai bersoh-bersih, dia melangkah keluar dari dalam kamarnya menuju meja makan. Cha melihat belum ada sama sekali hidangan.


"Apa mereka belum pada bangun ya?" pikir Cha.


Cha berjalan ke arah kamar Dewi dan mengetuknya.


"Tok tok tok, Wi....., kamu udah bangun...!" panggil Cha dari luar kamarnya Dewi.

__ADS_1


Menunggu beberapa saat, namun tak ada sahutan. Suasana kamar sepi tak ada tanda-tanda.


"Wi.....!" panggil Cha sekali lagi.


Akhirnya Cha mencoba membuka pintu kamarnya Dewi. Dia masuk ke dalam dan melihat Dewi masih tertidur.


"Amaya ampun Wi....., banguuuun! Dah jam berapa ini!" tegur Cha sambil mengguncang-guncangkan tubuh Dewi.


Dewi pun menggeliat tapi dia tak kunjung membuka mata.


"Wi....! Kita harus ke Kampus! Ayo bangun....!" teriak Cha kencang.


"Aduh Cha....iya bentar dong..! Gw bakalan bangun, tapi nih nagantuk banget. Bentar ya, sabar, ok!" Dewi berusaha membuka matanya. Dia pun segera duduk dan menoleh ke Cha.


"Lo dah rapi ya. Udah sarapan belom?" tanya Dewi yang masih ngucek-ngucek matanya.


"Gw nungguin Lo bangun. Biar sarapan bareng. Lagian buruan ,ini dah kesiangan loh. Bisa telat kita," paksa Cha.


"Iya, gw mandi dulu ya. Kamu tunggu bentar ya," pinta Dewi.


"Gw tunggu Lo di kamar aja. Gw juga mau siapkan tas gw dulu," balas Cha.


Lalu Cha meninggalkan kamar Dewi. Dia kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan buku kuliahnya. Setelah selesai dia kembali keluar dan melihat si bibi lagi mempersiapkan sarapan buat mereka.


"Eh non Cha, udah bangun dari tadi ya?" tanya si bibi.


"Bibi kok tau?" Cha malah balik bertanya.


"Tadi bibi lihat pas lagi nyiapin sarapan. Maaf ya non kelamaan nyiapin sarapan, bibi telat bangun.


"Oh gak apa-apa bi, nyantai aja," ucap Cha yang gak mempermasalahkan hal tersebut.


Lalu dia duduk di meja makan menunggu yang lainnya datang. Si bibi sudah selesai menghidangkan makanan buat sarapan.


"Non Cha mau dibuatkan minuman apa?" tanya si bibi. .


"Gak usah bi, saya teh manis hangat aja."


"Oh kalau gitu bibi tinggal ya non, bibi mau bereskan dapur dulu," ucap si bibi.


"Iya ni," balas Cha.


Kemudian tak berapa lama, Dewi beserta keluarganya keluar dari kamar mereka masing-masing. Mereka mengambil tempat duduknya sendiri.


"Nak Cha sudah dari tadi disini?" tanya Ibunya Dewi.


"Baru aja Bu, nih nugmnghuin Dewi," jawab Cha.


"Kalian mau ke Kampus ya?" tanya Ibunya Dewi.


"Iya Bu, karena hari ini saya pertama kuliah lagi," jawab Cha.

__ADS_1


"Ya sudah, kita sarapan biar kalian tidak terlambat kuliahnya," ucap Ibunya Dewi.


Lalu mereka semua sarapan dengan menyantap hidangan yang dimasak oleh si bibi. Cha merasa senang bisa kumpul lagi bersama keluarga Dewi dan sarapan bareng mereka.


__ADS_2