
Cha dan Dewi benar-benar terkecoh dengan kebaikan dan wajah polosnya Mbak Ani. Mereka saling berpandangan dengan pikiran yang berbeda.
"Wi, banyak banget yang mau jual kita? Kita terkenal ya Wi..!" seru Cha dengan songongnya.
"Edan Lo Cha, masih sempatnya bercanda. Emang Lo mau terkenal dengan hal begituan," ketus Dewi dengan kesal.
"Hehehe, habis banyak banget yang mengincar kita berdua. Salah kita apa coba!" ucap Cha dengan bodohnya.
"Cha....! Kita itu mau dijual untuk menghasilkan uang bagi mereka. Karena mereka menganggap kita bodoh dan polos. Gitu loh...!" Dewi jadi gerem dengan sikap Cha yang ngelantur.
"Hehehe, iya-iya gw tau kok Wi. Trus gimana dong? Apa kita usir aja dia dari kontrakan rumah kita?" tanya Cha bingung.
"Masa kita harus pindah lagi Cha! Capek dong...!" Dewi juga ikutan bingung.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini. Karena semakin malam, akan semakin gila pertunjukkan disini. Dan kalian tidak akan bisa menahan emosi kalian jika berlama-lama disini," jelas Zain yang mengajak Cha meninggalkan club' itu.
"Iya Wi, ayo kita pergi. Masalah ini kita bahas nanti dikontrakan ya. Gw udah mau mual disini, asap rokok dan bau minuman keras terasa dipenciuman gw. Ayo buruan keluar dari sini," Cha mengajak Dewi dan memegang tangannya.
Sementara Zain menggenggam tangan Cha dengan kuat. Bodyguard Zain berada di belakang Dewi dan didepan Zain.
Akhirnya mereka bisa keluar juga dari tempat sumpek seperti itu. Cha dan Dewi merasa lega bisa menghirup udara segar diluaran.
"Hahhh nyamannya...,segar banget udaranya," ucap Cha dengan menghirup udara malam yang segar.
"Ayo sayang kita tinggalkan tempat ini," ajak Zain. Zain khawatir kalau Binyu berada ditempat itu. Karena sosok Binyu juga senang happy-happy diclub bersama wanita-wanita bayaran.
Mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan club' yang luar biasa sumpek bagi Cha dan Dewi. Karena mereka belom pernah sama sekali masuk ketempat yang seperti itu.
Dalam perjalanan Cha menyenderkan kepalanya kearah jendela. Dia bergumam sendiri.
"Kenapa gw harus terus-terusan menghadapi masalah yang seperti ini? Dulu juga seperti ini, sekarang begini juga. Kapan gw bisa tenang y" gumam Cha pelan.
"Kamu ngomong apa Cha?" sahut Zain yang mendengar sedikit gumaman Cha.
"Zain, kapan ya aku bisa hidup bahagia? Kayaknya aku selalu mengahadap masalah mulu, kapan tenangnya ya?" balas Cha sambil menatap luar jendela dengan tatapan hampa.
"Kalau kamu mau menikah denganku pasti kita bisa bahagia. Aku akan membawamu ke Paris dan tinggal disana, kita hidup dengan memiliki anak banyak," ucap Zain tersenyum.
"Emang kucing, banyak anak, ogah ah. Kamu, aku serius malah dicandain," sewot Cha.
"Lah, aku juga serius sayang! Kapan aku bercanda kalau soal menikah. Aku sudah berulang kali mengajak kamu nikah, tapi kamu menunda terus. Jangan diharapkan yang jauh dimata sayang...!" ucap Zain penuh penekanan diakhir kalimatnya
"Udah ah, aku mau tidur. Nanti bangunin aku kalau udah sampai ya Zain," Cha memejamkan matanya. Dia ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak.
Sedangkan didepan, Dewi juga ternyata sudah terlelap di alam mimpinya.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Zain mengirim pesan sama orang suruhannya di club'. Zain juga masih terus memantau aktifitas Binyu selama diJogja.
Zain tau bahwa Binyu sudah mengetahui tempat tinggal Cha. Zain tidak mau kalah cepat dari pergerakan Binyu. Dia berinisiatif untuk segera memindahkan Cha ke tempat lain yaitu ke Apartement miliknya. Namun Zain tidak mempertimbangkan diri Cha, apakah mau menerima nya atau tidak.
Akhirnya mereka sampai didepan rumah. Bodyguard Zain membangunkan Dewi. Sedangkan Zain menggendong Cha masuk kedalam rumah.
Dewi membukakan pintu rumah itu karena dia membawa kunci cadangan. Setelah pintu rumah terbuka, Zain terus berjalan kearah kamar Cha sambil menggendongnya. Lalu Zain meletakkan Cha diatas tempat tidurnya. Kemudian Zain bergegas keluar dari kamar Cha dan tidur disofa ruang tamu dengan bekal selimut tebal dari kamar Cha.
Zain merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Dia mulai memejamkan matanya.
Pagi pun tiba, Zain langsung terbangun saat mendengar adzan subuh. Dia bergegas bangun untuk melaksanakan kewajibannya. Setelah itu dia masuk kedalam kamar Cha dan melihat Cha masih terlelap. Kemudian Zain pun keluar lagi dan mengambil air putih.
"Loh Tuan Zain disini?" tanya Bu Marni yang kaget saat melihat Zain didekat dapur.
"Iya Bi, oh ya nanti tolong rapikan ya Bi selimut didepan, karena semalam saya tidur disofa," ucap Zain.
"Oh baik Tuan. Hari ini Tuan Zain mau sarapan apa?" tanya Bu Marni.
"Bebas aja Bi, yang penting Cha suka dengan masakan Bibi," jawab Zain. Lalu dia pergi meninggalkan Bu Marni yang sedang asyik memasak untuk sarapan.
Zain kembali masuk kedalam kamar Cha dan menunggunya bangun. Zain duduk disamping tempat tidur sambil menonton TV. Hingga suara TV membangunkan Cha. Zain yang tidak tau Cha sudah bangun, malah tertidur lagi dikarpet depan TV.
Cha melihat Zain yang tertidur di karpet dan dia pun menyelimuti tubuh Zain. Cha beranjak dari tempat tidurnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah selesai Cha keluar dari dalam kamar dan mengetuk pintu kamar Dewi.
"Ada apa Cha?" tanya Dewi yang setengah sadar.
"Wi, Lo gak anter Pita kesekolah hari ini?" tanya Cha.
"Oh iya, ya ampuuun Cha..! Syukur Lo bangunin gw, kalau gak, bahaya nih," Dewi buru-buru masuk kedalam kamar mandinya untuk bersih-bersih dan bersiap-siap.
Cha keluar dari dalam kamar Dewi dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia masuk kedalam kamarnya sendiri. Dia melihat Zain yang masih terlelap. Cha tidak tega untuk membangunkan Zain.
Saat Meka hendak menghubungi adiknya Sika, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk sama Bu Marni.
"Tuan, Mbak sarapan udah siap!" ucap Bu Marni.
"Oh iya Bu, kami akan keluar," jawab Cha dari dalam kamarnya.
Lalu Cha keluar dari kamarnya dan melihat Ibu dan Pita sudah berada diatas meja makan.
Dari arah samping, Dewi datang dengan pakaian yang sudah rapi untuk mengantar Pita kesekolah.
"Wi, sorry ya, gw gak bisa ikut. Tuh si Zain .asih tidur," ucap Cha santai.
"Loh Mbak, Tuan Zain tidur lagi ya?" tanya Bu Marni.
__ADS_1
"Emang Zain udah bangun tadi Bu?" tanya Cha bingung.
"Kemaren malam Tuan Zain tidur disofa. Tuh selimut Mbak Cha dipakai Tuan Zain. Trus tadi pagi banget Tuan ngambil air minum trus masuk kedalam kamar Mbak nya," jelas Bu Marni.
"Iya, Zain tidur dikarpet dengan TV yang menyala Bu!" balas Cha.
"Berarti tuan Zain tidur lagi, mungkin nungguin Mbak Cha yang belom bangun, makanya ketiduran," ucap Bu Marni.
Cha merasa kasihan melihat Zain yang sangat perhatian sama diri Cha.
"Berarti Lo gak ikut nganter Pita ya Cha?" tanya Dewi.
"Lo naik mobil aja ya sama bodyguard nya Zain. Nanti gw yang bilangin ya," Cha memohon untuk Dewi mengerti.
"Baiklah, tapi kita harus segera membahas yang kemaren," balas Dewi.
"Masalah apa toh yang mau dibahas. Kalian ini ada saja yang mau dilakukan. Bahas apa toh Wi...?!" tanya Ibunya yang heran lihat Cha dan Dewi.
"Hehehe, ada deh Bu, ini masalah anak muda, Bu," ucap Dewi cengengesan.
"Hmmm, ya wes, kamu anter Pita ke Sekolah, kalian hati-hati dijalan. Apa kalian ndak kuliah Wi nanti?" tanya Ibunya yang melihat kearah Dewi.
"Kuliah Bu, tapi nanti jam 10.00 an. Habis ngantar Pita dulu baru lanjut ke kampus," jelas Dewi.
"Berarti kita berangkat bareng ya Wi. Gw tunggu Lo disini." Cha menyahut obrolan Dewi dengan Ibunya.
Iya, Lo tungguin gw balik dulu. Awas kalau berangkat duluan, gw musuhin Lo!" ancam Dewi sambil senyum-senyum.
"Iya-iya, gw tunggu kok."
"Bu Dewi sama Kita pamit dulu ya berangkat," Dewi dan Pita menyalami tangan Ibu mereka dan mengucapkan salam.
sedangkan Cha kembali ke kamarnya untuk melihat Zain. Namun yang dilihat masih juga tidur dengan pulasnya.
"Lama banget bangunnya nih orang!" gerutu Cha.
"Sapa yang belom bangun!" balas Zain sambil senyum memandang Cha.
"Ihhhh ternyata udah bangun toh. Kirain masih tidur," sebel Cha melihat tingkah Zain yang mengerjainya.
"Hehehe, gemes lihat kamu marah," jahil Zain.
"Oh...berarti seneng ya kalau aku marah terus," Cha mulai ngambek.
"Zain langsung memeluk Cha dan mengecup keningnya.
__ADS_1