Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Penyesalan Binyu


__ADS_3

Binyu sengaja bertanya basa-basi untuk mengurangi kecanggungannya. Saat ini Binyu merasa seperti orang yang sedang pertama kali jatuh cinta.


"Kalian sudah pesan makanan?" tanya Binyu sambil menatap Cha dan Zain.


"Udah bro, Lo mau pesan apa? Biar gw panggil pelayannya," jawab Zain.


"Gw aja yang manggil Zain," balas Binyu. Akhirnya Binyu memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya.


Lalu Binyu kembali menatap kearah Cha. Saat dia menatap Cha, ternyata Cha juga sedang menatap kearahnya, sehingga mata mereka beradu pandang. Cha buru-buru membuang pandangannya kearah ponselnya. Sedangkan Binyu menyunggingkan senyumnya.


"Kamu beda banget sayang, makin cantik. Dan tak pernah berubah, malu-malu kucing tapi mau. Pengen banget rasanya meluk kamu saat ini. Ahhh bodohnya gw ninggalin dia dulu. Kalau gak sekarang gw yang duduk disamping Cha, bukan Zain," bathin Binyu yang merutuki kebodohannya.


"Bin, gimana Perusahaan Lo? Kapan Lo main ke Paris? Nyokap gw nanyain tuh, kenapa Lo gak pernah ke Paris lagi," ucap Zain yang membuyarkan lamunan Binyu.


"Ahhh, itu iya gw dah lama ya gak kesana. Nantilah kalau lagi gak sibuk Zain. Salam aja buat ortu Lo disana. Lo jadi besok balik?" tanya Binyu sambil melirik kearah Cha.


"Ya, besok gw balik ke Paris. Pengennya sih lama disini. Biar dekat Cha terus. Nanti kalau gw jauh, bisa-bisa diambil orang hahaha," sindir Zain sambil menatap Binyu.


"Kalau bersaingnya secara sehat dan jantan, gak masalah kan?" tanya Binyu yang tak mau kalah.


"Ah Lo gencar banget ngejarnya," celetuk Zain.


"Ya dong, namanya juga usaha kembali. Sapa tau bisa," balas Binyu ambigu.


"Gw kasih semangat deh," sambung Zain.


"Gw juga akan kasih Lo semangat," Binyu juga ikut-ikutan memberikan dukungan.


Saat Zain dan Binyu perang kata-kata yang tidak dimengerti oleh Cha, pelayan datang membawa makanan pesanan mereka. Pelayan tersebut melihat kearah Cha dan bergantian kearah Binyu dan Zain.


"Gila nih cewek, hebat banget bisa dikerumuni cowok cakep begini. Gw kapan ya bisa kayak nih cewek?" bathin si pelayan yang kagum melihat kehebatan Cha jalan dengan dua cowok ganteng bak pangeran.


Setelah itu pelayan tersebut tersenyum kearah Binyu.


"Kalau ada yang mau dipesan, bisa panggil saya ya mas dengan intan," ucap pelayan itu. Lau diapun pergi meninggalkan meja mereka.


"Ayo Bin, dimakan. Jangan dilihatin aja Lo...nanti yang dihadapan Lo jadi dingin karena dianggurin," sindir Zain.


Zain melihat kearah Binyu, dimana saat ini Binyu sedang menikmati pemandangan yang sangat indah dan teduh. Binyu benar-benar telah menjadi bucin keduanya Cha. Hingga Zain menyindir Binyu agar memakan makanannya.


"Eh iya nih. Ayo makan Zain. Cha makan yuk," Binyu mencoba mulai menyapa Cha.


Bukannya menjawab, Cha hanya mendongakkan kepalanya menatap kearah Binyu. Dan Binyu membalas tatapan Cha dengan tersenyum.


"Kenapa dia tersenyum begitu? Buat gw kesal aja. Mau coba-coba merayu gw nih kayaknya," bathin Cha.


Cha langsung membuang tatapannya. Dia kembali mengunyah makanannya dan menikmatinya.


"Bin, Lo bilang kemaren keJogja bareng teman. Terus teman Lo kemana?" tanya Zain sambil mengunyah.

__ADS_1


"Dia sudah kembali duluan ke Jakarta Zain. Gw kan pengen ketemu Cha dulu, baru balik ke Jakarta," ucap Binyu nyengir.


"Terus kalau udha ketemu Cha, Lo mau ngapain?" tanya Zain lagi.


"Ya gw pengen minta maaf atas kesalahan gw yang lalu," jawab Binyu.


Padahal orang yang sedang mereka bicarakan ada dihadapan mereka. Zain sengaja menanyakan kepentingan Binyu malam ini dihadapan Cha. Dia tau sahabatnya ini merasa bingung dan canggung saat bertemu kembali dengan Cha.


"Ok kalau gitu, gw kasih kalian waktu buat ngobrol. Cha, kasih dia kesempatan, seperti kamu kasih aku kesempatan untuk menjadi orang baik ya," pinta Zain. Lalu Zain pergi meninggalkan mereka berdua.


Zain kembali masuk kedalam mobil, tapi didalam mobil, dia mendengar percakapan antara Binyu dan Cha. Karena dia memasang alat perekam di bawah meja makan mereka. Sehingga apa yang akan dibicarakan mereka, Zain mengetahuinya.


Kembali ke Binyu dan Cha. Saat ini suasana di meja itu sangatlah canggung. Cha tak berani menatap Binyu. Sedangkan Binyu merasa gemas melihat sikap Cha yang seperti itu.


"Cha, aku mau minta maaf atas kesalahan yang dulu aku perbuat. Jujur, aku memang lelaki bodoh yang melepaskanmu begitu saja. Padahal kamu adalah perempuan yang sempurna buatku. Aku sudah mendapat karmanya. Dan itu menyadarkan ku arti dari kesetiaan. Sejak aku kembali ke Jakarta karena Papaku sakit-sakitan, aku menggantikannya untuk menjalankan Perusahaan kami. Dan Ibuku pergi meninggalkan Papaku bersama laki-laki lain yang lebih muda," Binyu berhenti sesaat, dadanya terasa sesak saat menceritakan Ibunya.


Cha menatap kearah Binyu. Dia melihat kesedihan yang tergambar di wajah tampannya. Lalu Binyu melanjutkan ucapannya.


"Saat itu aku sangat terpukul, karena Ibu yang kubanggakan ternyata bisa mengkhianati kesetiaan Papaku. Kamu tau Cha, sejak saat itu aku membenci yang namanya perempuan. Tapi...," Binyu menarik nafasnya dalam.


"Tapi kenapa?" tanya Cha yang mulai membuka suaranya.


"Tapi.., aku teringat sama kamu Cha. Aku jadi merindukanmu, rindu akan wajah polosnya, rindu akan wangi lavender dari tubuhmu, senyummu dan tawa manja dari mu. Semua aku rindukan. Hingga saat itu penyesalan datang dari diriku. Menyesali telah membuang mutiara yang sangat berharga. Aku menyesal Cha," ucap Binyu sambil menundukkan wajahnya.


Cha melihat Binyu yang bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya, merasa kasihan dengan cerita tentang pengkhianatan Ibunya. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Binyu. Karena dia pun mengalami hal yang sama. Bedanya kalau Cha, Papanya yang berkhianat dan Ibunya tidak bisa memberikan perhatian dan kasih sayang yang utuh terhadap anak-anaknya. Sedangkan Zain, justru Ibunya yang berkhianat.


"Aku sudah memaafkanmu Bin, semua sudah berlalu. Dan bukalah lembaran baru dikehidupan saat ini," balas Cha yang berusaha membuka hatinya untuk memberi maaf Binyu. Walaupun rasa kecewa dan ketakutan masih ada dalam diri Cha, namun dia berusaha ikhlas atas semua kejadian dimasa lalu.


Cha terdiam menatap kearah Binyu. Dia tidak menyangka kalau Binyu akan berkata seperti itu.


"Maaf Bin, aku sudah lama merelakanmu. Jadi, lebih baik kita berteman saja. Karena saat ini aku sudah memiliki orang lain," balas Cha.


"Apakah itu Zain?" tanya Binyu penasaran.


"Bukan, ada orang lain yang sedang aku tunggu kehadirannya."


"Bagaimana hubungan kamu dengan Zain? Aku melihat kalian sangatlah dekat. Apakah kalian tidak memiliki hubungan khusus?" pancing Binyu.


Cha terdiam sesaat. Dia bingung mau mengatakan apa. Karena hatinya juga mencintai Zain. Tapi dia sudah berjanji akan menunggu Yoga kembali dengannya.


"Kenapa kamu diam Cha? Apa kamu juga mencintai Zain?" tanya Binyu lagi.


"Ya, aku mencintainya. Tapi aku takut dia terluka karena aku sudah berjanji untuk menunggu kedatangan seseorang dikehidupan," jawab Cha sedih.


"Berarti, aku sudah tidak punya kesempatan untuk merebut hatimu lagi?" tanya Binyu.


"Maaf Bin, aku tidak mau menyakiti dan memberikan harapan terhadap orang lain. Begitu juga dengan kamu. Carilah kebahagian dengan perempuan lainnya," pinta Cha dengan wajah sendunya.


"Kalau aku tidak mau, dan tetap menginginkanmu dalam hidupku, apa boleh?" tanya Binyu lagi.

__ADS_1


"Itu hak kamu Bin, aku tidak memaksa. Karena cinta dan sayang itu tidak bisa dipaksa dan dihilangkan begitu saja jika sudah tepat sasaran," jawab Cha dengan bijak.


"Baiklah, kasih aku jalan untuk bisa merebut hatimu kembali. Aku juga tidak akan memaksa dan membencimu jika, suatu saat pilihanmu bukan pada diriku," ucap Binyu penuh harapan.


"Terserah kamu Bin, aku gak maksa."


Binyu tersenyum senang, dia merasa bahagia akhirnya Cha mau memberinya kesempatan, walaupun Binyu tau, bahwa dihatinya Cha sudah ada nama sahabatnya Zain. Tapi Binyu takkan menyerah begitu saja. Dia yakin, akan bisa memenangkan Cha untuk kehidupannya. Karena namanya pernah ada di hati Cha.


"Kamu sekarang makin cantik ya Cha. Kalau sekarang kita masih berhubungan, aku pengen banget bisa meluk kamu Cha," ucap Binyu.


Cha memasang wajah galaknya melihat kearah Binyu. "Jangan macem-macem ya Bin"! bentak Cha.


Binyu bukannya takut, dia malah terkekeh melihat sikap Cha yang sekarang menjadi galak. Binyu senyum-senyum sendiri menatap wajah Cha.


"Si Zain mana sih?" gerutu Cha.


"Kenapa? Biarkan dia menyendiri," balas Binyu yang mendengar Cha mencari Zain.


Lalu tanpa diduga, Zain datang menghampiri Cha dan Binyu dengan senyum-senyum. Kemudian dia duduk disamping Cha dengan senyum mengembang.


"Kenapa dengan wajah Lo Zain?" tanya Binyu yang kebingungan.


Cha melihat wajah Zain yang berseri-seri. Seperti orang sedang jatuh cinta.


"Emang wajah gw kenapa? Biasa aja kok," jawab Zain nyantai.


"Kelihatannya Lo lagi bahagia ya? Atau jangan-jangan, Lo berhasil menjalin kerja sama dengan Perusahaan lain?" tanya Binyu curiga.


"Lebih dari itu," jawab Zain dengan senyum mengembang.


Lalu tanpa sepengetahuan mereka, Zain mengambil alat yang ditempelnya dibawah meja mereka.


"Lagian Lo cepat banget baliknya, gw lagi melancarkan aksi merayu kepada Cha," ucap Binyu pelan.


"Hahaha, gw gak akan kasih peluang itu buat Lo," ledek Zain.


"Sialan Lo Zain."


Cha hanya menjadi pendengar yang baik antara dua sahabat. Dia tidak mau ikut campur dengan urusan keduanya.


"Udah malam Zain, ayo kita pulang," ajak Cha.


"Iya, aku bayar dulu ya Cha. Kamu tunggu disini," Zain meninggalkan Cha bersama Binyu. Dia membayar semua makan malamnya bersama Cha dan Binyu.


Setelah selesai dengan membayar, Zain kembali bergabung dengan mereka.


"Kami balik dulu Bin! Lo gak balik ke Hotel?" tanya Zain.


"Iya nih gw juga balik. Oh ya besok sebelum balik ke Jakarta, aku main ya ke kontrakan Cha?" Binyu berharap dapat sinyal.

__ADS_1


"Ya udah, Lo datang aja. Gw juga ada dikontrakan kok," balas Zain.


"Tapi aku kuliah besok Bin!" jawab Cha.


__ADS_2