
Cha merasa kesal diledekin sama Dewi. Memang benar sih apa yang dikatakan Dewi. Cha sempat terbawa perasaan saat mendengar lagu itu. Dia mengingat masa lalunya bersama Binyu. Semua sudah menjadi kenangan yang memang tak bisa dilupakan. Lalu Cha menatap ke arah Zain. Cha merasa lucu karena ruangan hatinya, dia mencintai Zain. Namun dia masih berharap dengan Yoga cinta pertamanya.
Saat Cha asyik melamun, ternyata mobil sudah sampai di rumah Cha. Zain dan Binyu menoleh kebelakang kearah Cha. Mereka melihat Cha sedang senyum-senyum sendiri. Lalu Zain menyadarkan Cha.
"Sayang, kita sudah sampai, mau sampai kapan kamu senyum-senyum sendiri disini?" tanya Zain.
Cha terkejut saat tangannya disentuh sama Zain. Dia menatap kearah Zain.
"Ah iya sudah sampai ya. Kirain masih lama, hehehe," jawab Cha asal sambil cengengesan.
Lalu Cha dan yang lainnya keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah rumah.
Dewi mengetuk pintu rumah mereka.
"Tok tok tok, Bu Marni..!" panggil Dewi dari luar rumah.
Lalu tak berapa lama, pintu rumah dibuka dan Bu Marni yang membukanya.
"Eh Mbak Dewi, udah pulang ya," sahut Bu Marni.
"Iya Bu, Oh ya Ibu dan Pita sudah pulang belom ya Bu?" tanya Dewi yang melangkah masuk ke dalam rumah.
"Sudah Mbak," jawab Bu Marni.
Lalu Cha dan kedua laki-laki bucinnya Cha masuk kedalam rumah.
"Eh ada Tuan Zain dan Tuan Binyu. Mau dibuatkan minuman apa Tuan?" tanya Bu Marni.
"Gak usah repot-repot Bi," jawab Zain yang duduk di sofa.
"Mbak Cha mau di hati minuman?" tanya Bu Marni dengan Cha.
"Nggak usah Bu, saya mau beres-beres barang Bu, mau berangkat ke Paris lihat Mamanya Zain sedang sakit," jawab Cha yang memberitahukan kepergiannya.
"Loh, Ibunya Tuan Zain sakit apa Mbak?" tanya Bu Marni yang mulai kepo.
"Tadi Papanya Zain tlp, katanya sih kangen sama Zain, trus disuruh pulang cepat-cepat."
"Oh...berapa lama Mbak Cha disana?" tanya Bu Marni yang mengikuti Cha ke kamarnya.
"Beberapa hari aja kok Bu. Oh ya Bu Marni mau kemana?" tanya Cha bingung.
"Mau bantuin Mbak Cha nyiapkan baju-bajunya," jawab Bu Marni polos.
"Ah gak usah Bu, saya cuma sedikit kok bawa bajunya. Bu Marni tolong buatkan saya capuccino dingin dan jangan lupa pakai susu ya Bu," pinta Cha.
"Oh...baik Mbak, saya buatkan. Nanti saya antar ke kamar Mbaknya aja ya," balas Bu Marni.
"Iya Bu."
__ADS_1
Lalu Cha masuk kedalam kamarnya dan mulai memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas ranselnya. Lalu dia pun mandi membersihkan tubuhnya karena sudah lengket.
Sedang Bu Marni membuatkan minuman Cha, setelah itu dia datang ke kamar Cha dan meletakkannya diatas meja rias Cha. Kemudian Bu Marni keluar dari dalam kamarnya Cha.
Sedangkan Zain dan Binyu menunggu Cha di sofa ruang tamu. Mereka ngobrol membahas tentang mantan Binyu si Anggita.
"Gimana dengan Anggita saat Lo tau dia selingkuh?" tanya Zain.
"Ya tentu dia gak mau ngaku. Katanya dia khilaf karena gw sudah gak memperhatikannya lagi. Banyaklah alasan dia," jawab Binyu.
"Gila ya tuh cewek, bisa-bisanya ngebohongi Lo," celetuk Zain.
"Udah lah Zain gak usah bahas dia. Gw ngerasa jijik kalau ingat perempuan murahan itu," balas Binyu dengan rasa kesalnya.
"Gw sih udah prediksi kalau tuh perempuan gak beres. Tapi gw lihat kayaknya Lo nyaman-nyaman aja sama dia. Jadi ya gw males kasih pendapat," ucap Zian.
"Ya gw aja sih yang terlalu percaya. Gw kira pilihan bokap gw bakalan bagus dan berpendidikan. Ternyata buruk banget," kesal Binyu.
"Habis ngantar gw sama Cha, Lo jadi balik ke Jakarta?" tanya Zain.
"Ya gw besok ada pertemuan sama orang buat kerja sama Perusahaan," jawab Binyu.
"Lah kok sama, gw juga besok ada pertemuan kerja sama dengan Perusahaan lain. Wah semoga sukses ya bro besok," ucap Zain yang memberi dukungan kepada sahabatnya.
"Thanks bro, Lo juga semoga sukses buat besok. Jangan lama-lama Lo bawa Cha nya ke Paris," balas Binyu dan dia meminta Zain cepat mengembalikan Cha ke Indonesia.
"Ya paling juga seminggu. Tergantung Nyokap gw, mau nahan Cha lama apa nggak," ucap Zain nyantai.
"Iya-iya. Gw gak akan nahan Cha lama-lama disana kok, tenang aja bro!" balas Zain.
Tak berapa lama Cha kelaut dari dalam kamarnya membawa tas ranselnya. Dia berjalan kearah Zain dan Binyu.
"Zain bentar ya, aku mau ke kamar Dewi dulu," ucap Cha. Lalu dia meletakkan tasnya dan berlalu meninggalkan Zain dan Binyu.
Cha melangkah ke arah kamarnya Dewi. Dia langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk pintunya.
"Wi, gw berangkat sekarang ya. Lo hati-hati dirumah sama Ibu dan Pita. Ingat jangan mau ketemu sama Mbak Ani lagi ya Wi," Cha memperingati sahabatnya untuk berhati-hati jika bertemu Mbak Ani.
"Iya Cha, jadi sedih nih gw ditinggal sama Lo. Gw benar-benar gak punya temen disini," balas Dewi yang mulai meneteskan air matanya.
"Loh kenapa nangis Wi..! Gw kan gak lama disananya. Gw hanya beberapa hari kok Wi. Udah jangan sedih gitu dong," Cha pun merasa tak tega ninggalin Dewi.
"Sorry ya Cha, gw merasa kesepian aja nanti kalau Lo gak dirumah," Dewi pun bersedih.
"Oh ya Wi, jangan bilang kalau gw ke Paris sama anak kampus. Dan hanya Lo yang tau. Yang lainnya tidak boleh tau termasuk Ghani, ok!" pinta Cha.
"Iya Cha, gw akan bilang kalau Lo ada urusan keluarga ya kan," ucap Dewi.
"Ya udha gw mau bilang ke Ibu Lo dulu. Yuk temani ke kamar mereka," ajak Cha.
__ADS_1
Lalu Cha dan Dewi keluar dari dalam kamarnya Dewi. Mereka berjalan kearah kamarnya Pita. Dewi pun mengetuk pintu kamar Ibunya.
"Tok tok tok, Bu...!" panggil Dewi.
"Ya bentar..!" sahut Pita dari dalam kamarnya.
Lalu pintu kamar pun dibuka dan Pita yang membukanya.
"Ibu mana dek?" tanya Dewi saat mereka ada didepan pintu kamar.
"Itu lagi menjahit baju Pita kak," jawab Pita.
Lalu Dewi dan Cha masuk ke dalam kamar dan melihat Ibunya lagi menjahit baju Pita.
"Bu, Cha mau pamit ke Paris sama Zain. Mereka mau lihat Ibunya Zain sakit disana," ucap Dewi yang melangkah ke hadapan Ibunya.
"Loh sakitapa Cha, Ibunya Zain?" tanya Ibunya Dewi.
"Katanya sih kangen sama Zain, tapi gak tau juga ya Bu. Karena Papanya Zain tadi tlp nyuruh Zainnya cepat pulang ke Paris," jelas Cha.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya nak, jangan lupa khabari Dewi kalau sudah sampai disana. Salam buat keluarga Zain disana. Ayo, Ibu antar ke depan," ajak Ibunya Dewi yang sangat perhatian sama Cha.
"Iya Bu, Zain dan temannya sudah menunggu di depan," balas Cha.
Lalu Ibunya serta Dewi dan Cha keluar dari dalam kamar me ini ruang tamu. Ibunya Cha menemui Zain dan berpesan agar Zain menjaga Cha disana.
"Kalian hati-hati dijalan. Dan khabari Dewi kalau sudah disana ya Cha," Ibunya Dewi mengingatkan Cha lagi untuk mengabari Dewi jika sudah sampai di Paris.
"Iya Bu," jawab Cha.
"Kami pamit dulu ya Bu, Assalamu'alaikum," ucap Cha sambil menyalami tangan Ibunya Dewi.
Begitu juga dengan Zain dan Binyu. Mereka menyalami tangan Ibunya Dewi. Lalu mereka bertiga pergi keluar dari dalam rumah. Cha dan yang lainnya masuk kedalam mobil. Cha melambaikan tangannya kearah Dewi dan Ibunya. Lalu Mobil pun melaju dari rumah itu.
Cha meminta Zain menempatkan beberapa bodyguard untuk Dewi dan keluarganya. Dan Zain menyetujuinya. Cha juga memberitahukan tentang bodyguard itu kepada Dewi.
Binyu mengantar mereka ke Bandara. Zain ingin menikmati naik Pesawat pribadinya bersama Cha. Dia merasa bahagia bisa membawa Cha kehadapan orang tuanya.
Akhirnya mereka sampai juga. Lalu Binyu meninggalkan mereka di Bandara.
"Hati-hati bro dijalan. Khabari kalau kalian sudah sampai," pesan Binyu terhadap sahabatnya.
"Thanks bro udah mau anterin kami kesini. Lo juga hati-hati dijalan. Kita saling mengabari nantinya," balas Zain. Lalu mereka berpelukan dan Binyu menatap kearah Cha. Ingin rasanya dia memeluk mantan kekasihnya ini. Tapi apalah daya, keinginannya hanya tinggal khayalan.
Binyu memegang tangan Cha, dan berkata.
"Jaga diri kamu baik-baik disana ya Cha," pinta Binyu dengan sentuhan lembutnya.
Cha kaget, tapi dia berusaha tenang dan tidak marah karena disentuh Binyu.
__ADS_1
"Iya Binyu, makasih ya," jawab Cha singkat.
Lalu Binyu pergi meninggalkan mereka. Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan melakukannya ke arah Jakarta. Ada rasa senang dan sedih saat melihat Cha. Senang karena bisa dekat lagi sama Cha, namun sedih karena ternyata dihati Cha sudah ada nama sahabatnya.