Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Menceritakan Sahabat Lama Cha


__ADS_3

Cha mendengar seseorang memanggil namanya. Lalu dia mencari sumber suara yang memanggilnya. Dia melihat Ghani berlari kearah mereka.


"Hai kak Ghani!" sapa Dewi senyum-senyum.


"Cha, nih aku belikan cake coklat. Kebetulan tadi aku belanja ke Mirota, trus lihat cake di stelling, jadi teringat kamu. Sapa tau kamu suka," Ghani menyerahkan kotak ukuran sedang ke pada Cha.


"Waduh kak Ghani kenapa repot-repot begini. Aku jadi gak enak loh," ucap Cha sambil menerima kotak itu.


"Gak enak tapi diterima juga ya Cha, dasar Lo," bisik Dewi sambil cengengesan.


Cha menyikut lengan Dewi sambil tersenyum kearah Ghani.


"Gak apa-apa Cha. Jangan lupa dimakan ya. Kakak masuk dulu ya," pamit Ghani.


"Iya kak, makasih loh cake nya," ucap Cha berterima kasih.


Ghani kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih. Dan Cha juga masuk ke kamarnya bersama Dewi.


"Ini Wi, kamar aku. Biasa aja kan," ucap Cha yang masuk duluan.


"Cha...,kamar Lo keren banget. Unik dan nuansa ungu. Gw suka banget dengan dekorasinya. Mantep deh Lo," puji Dewi yang kagum dengan isi kamar Cha.


"Biasa aja lagi Wi," balas Cha. Dia pun meletakkan kotak kue yang diberikan Ghani kepadanya.


"Eh, ini cake nya aku do'a in dulu gak ya?" tanya Cha sambil melihat kotak cake itu.


"Loh kenapa harus di do'ain Cha?" Dewi balik bertanya.


"Takut aja aku di pelet sama dia," celetuk Cha.


"Hahahaha, ada-ada aja Lo Cha. Cowok ganteng begitu mana mungkin naksir sama kita begini," ucap Dewi merasa tak pantas disukai Ghani.


"Iya sih. Tapi kan gak salah di do'akan. Lagian kalau mau makan kan harus berdo'a," balas Cha tersenyum.


"Hadehhh pinter banget Lo jawabnya," Dewi menghampiri Cha dan melihat kotak cake itu.


"Lo mau makan nih si, sapa tau kak Ghani bisa jatuh cintrong sama Lo dan klepek-klepek dihadapan Lo," canda Cha sambil nyengir.


"Kayaknya dia suka deh sama Lo Cha. Emang Lo udah punya pacar ya Cha?" tanya Dewi menyelidik.


"Mmmm, ada sih, tapi gak jelas," jawab Cha acuh.


"Anak mana Cha. Apa dia yang tadi buat kamu kelihatan murung ya?" tebak Dewi.

__ADS_1


"Bukan, dia sudah tidak pernah menghubungiku lagi. Udah ah gak usah bahas pacar. Kita ngemil nih sambil nonton," Cha males membahas tentang Yoga.


Terakhir berkomunikasi saat Cha di hotel. Setelah itu Yoga tidak pernah menghubunginya lagi. Cha sendiri tidak tau tentang Yoga disana. Rasa penasaran terkadang menyelimuti hati Cha. Ada rasa curiga terhadap sikap Yoga. Namun dia berusaha mempercayai pacarnya itu.


"Cha, itu bagus banget lukisan wajah kamu. Apa yang melukisnya itu pacar kamu?" tanya Dewi penasaran.


"Bukan, yang menulis itu, orang yang mencintaiku juga. Orangnya sangat baik. Kami dipertemukan dengan cara yang kurang nyaman, tapi cinta tumbuh di hatinya saat kami bertemu," jelas Cha yang mengingat peristiwa di SMU dulu.


"Orang tua kamu di mana Cha? tanya Dewi.


"Aku dari Sumatera Wi. Ortu ku kerja pelayaran ke luar negeri. Dan mama ku seorang Ibu rumah tangga. Aku keluarga broken home Wi," ucap Cha dengan wajah sendunya.


Dewi terpaku mendengar pengakuan Cha tentang kehidupannya. dia langsung memeluk sahabat barunya itu.


"Sabar ya Cha, kamu pasti mengalami kesulitan dalam menjalani hidup. Walaupun aku dari keluarga baik-baik, tapi aku bisa memahami bagaimana rasanya tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya kita," ucap Dewi yang menasehati Cha.


"Iya Wi, makasih ya atas dukungannya. Dulu aku punya sahabat, dia sangat baik padaku," ucapan Cha terpotong karena gak sanggup menceritakannya.


"Trus sahabat kamu itu dimana Cha?" tanya Dewi penasaran.


"Dia saat ini berada di Jogja. Dia orang yang sangat paham dengan keadaanku. Dia tempat aku curhat dan aku sudah menganggap dia seperti saudaraku sendiri. Namun ntah kenapa dia berubah membenci ku," ucap Cha dengan wajah sedihnya.


"Oalah, sahabat kok begitu. Jahat tenan. Kalau aku diposisi kamu juga bakalan ninggalin sahabat begituan. Mungkin dia cemburu sama kamu karena kamu memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya," tebak Dewi ngasal.


"Sudahlah tidak usah membahasnya Wi. Aku harap kamu tidak seperti dia," ucap Cha blak-blakan.


"Jangan khawatir Cha. Aku bukan sahabat seperti itu yang merasa iri dan cemburuan. Kalau memang kita tidak sanggup seperti sahabat kita, ya kita harus dukung sahabat kita," terang Dewi sambil tersenyum.


"Makasih Wi."


Tiba-tiba pintu kamar Cha diketuk dari luar.


Tok Tok Tok.


Cha membuka pintu kamarnya dan melihat siapa yang datang ke kamarnya.


"Oh.., kak Melda. Ada apa ya?" tanya Cha heran.


"Cha, kamu sama siapa di dalam?" tanya Melda sambil mengintip ke dalam kamar Cha.


"Oh sama temanku ku tadi kak. Ada apa ya?" tanya Cha semakin penasaran.


"Cha, aku boleh minta tolong gak?" tanya Melda.

__ADS_1


"Minta tolong apa kak?" tanya Cha balik.


"Kamu ada uang 200ribu? Aku ada perlu sekali hari ini," Melda sudah tidak punya rasa malu meminjam uang kepada Cha.


"Maaf kak, aku tidak punya uang cash. Adanya di ATM," ucap Cha memberitahu.


"Ya udah yuk, aku bonceng kamu ke ATM, aku perlu banget Cha!" seru Melda yang semakin gak tau malu.


"Maaf kak, tapi aku tidak bisa meminjamkannya, karena aku juga butuh," balas Cha. Dia merasa Melda ini teman yang tidak baik,


"Jangan pelit dong Cha. Masa pakai segitu aja gak bisa," ketus Melda.


"Iya kak maaf, tapi aku memang tidak bisa. Karena aku juga butuh untuk keperluan ku kak," jawab Cha kesal.


Melda pun meninggalkan Cha tanpa permisi. dia melenggang masuk ke dalam kamarnya.


Melda meminjam uang dari Cha untuk taruhan atau judi. Dia bermain dengan temannya tadi dikampus yaitu Irma dan satu lagi laki-laki Yanda.


Cha pun langsung menutup pintu kamarnya dan kembali duduk di sofa sambil menonton.


"Siapa tadi Cha?" Dewi melihat perempuan yang datang ke kamar Cha. Namun dia tidak berani ikut campur.


"Itu kakak kelas yang tadi kita temui gak sengaja berpas-pasan," ucap Cha sembari mengunyah cemilannya yaitu cake coklat pemberian Ghani.


"Ngapain dia?" tanya Dewi lagi.


Cha menceritakan tentang tadi, ketika kakak kostan nya itu datang mau meminjam uang kepadanya.


"Tapi aku tidak kasih. Takut mamaku telat ngirim, bisa-bisa gak makan akunya.," jawab Cha.


"Kayaknya tuh kakak kelas gak baik deh Cha. Aku harap kamu pindah deh dari sini. Dari pada jadi santapan dia buat minjem uang terus, gimana?" Dewi tidak mau sahabatnya ini di celakai orang hanya karena tidak diberi bantuan materi.


"Iya Wi, aku juga sempat berpikir seperti itu," balas Cha.


"Kamu jangan dekat-dekat sama dia Cha," ucap Dewi. "Wahhhh cake nya habis Cha. Lo ah gak kebagian gw," protes Dewi yang melihat cake nya habis.


"Gampang say, nanti kita beli lagi ya, cup cup cup cup," ledek Cha sambil cekikikan.


"Lo kira aku anak kecil yang harus dibujuk dan diiming-imingin," celetuk Dewi cemberut.


"Hahaha, kamu bisa juga ya Wi merajuk. Aku kira kamu orangnya gak bisa merajuk," ledek Cha lagi.


"Eh siapa lagi tuh yang datang," ucap Dewi terkejut sambil menatap Cha.

__ADS_1


Pintu kamar Cha diketuk lagi sama seseorang dari luar.


__ADS_2