Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Membujuk Ibunya Dewi


__ADS_3

Setelah mereka selesai dari toko kue, Cha dan Dewi segera pulang ke rumah. Cha merasa hari ini sangat melelahkan baginya. Dia memutuskan untuk segera beristirahat di dalam kamar.


Sesampainya mereka di rumah, Cha meminta si bibi untuk meletakkan kuenya di piring dan membawakannya ke dalam kamarnya.


"Bi, saya minta tolong ya, nanti antarkan kue-kue ini ke dalam kamar saya. Dan yang ini antar ke kamar Ibu. Yang bungkusan ini buat bibi ya," ucap Cha menjelaskan.


"Baik Non. Makasih banyak ya Non untuk kuenya. Non Cha baik banget," puji si bibi yang merasa bersyukur mendapatkan kue enak pemberian Cha.


"Ah bibi, jangan sungkan gitu. Saya senang membeli kannya kalau saya sedang ada rezekinya," balas Cha.


"Iya Non, sekali lagi makasih ya Non," ucap si bibi mengulang kembali.


"Iya bi, saya ke kamar dulu ya. Nanti bibi masuk aja ke dalam. Saya malas membuka pintunya," jelas Cha.


"Baik Non."


Lalu Cha meninggalkan ruang makan dan berjalan ke arah kamarnya. Cha masuk ke dalam kamar, dia membersihkan tubuhnya agar segar kembali.


Setelah selesai membersihkan badannya, Cha melihat sudah ada kue yang tadi bibelinya di atas meja dekat tempat tidurnya. Dia pun segera naik ke atas tempat tidur sambil mengambil kue itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya langsung.


Cha mengirim pesan kepada Zain, dia menceritakan kegiatannya hati ini. Namun ada yang di simpan Cha karena dia tidak ingin membuat Zain cemburu. Cha tidak menceritakan tentang Ghani yang memiliki perasaan terhadapnya dan memberikannya hadiah pertemanan.


Disaat Cha sedang asyik menikmati kuenya, ponsel Cha berdering. Dia segera mengangkat panggilan VC dari Zain.


"Assalamu'alaikum sayang...!" sapa Zain dengan wajah tampannya.


"Wa'alaikumussalam Zain," sahut Cha dengan senyum mengembang.


"Kamu pasti capek ya. Coba ada Abang disana, pasti bisa Abang pijitin," goda Zain.


"Hehehe, iya, tadi ada dua mata kuliah yang jaraknya sampai dua jam menunggu. Makanya mau balik ke rumah nanggung kan, jadi nunggu di Kampus, nongkrong di kantin," jelas Cha.


"Oh ya sayang, masalah rumah untuk Mama, semua udah beres. Kamu tinggal lihat model rumahnya mau seperti apa. Besok Abang akan kirimkan model-model rumah yang akan dibangun nanti," ucap Zain memberitahu.


"Aku jadi ngerepotin Abang ya. Kemaren aku menghubungi Sika, menanyakan tentang penjualan rumah disana. Katanya sudah di proses. Kalau ada yang mau beli, tunggu prosesnya setelah selesai pernikahan kita," balas Cha.


"Sayang, sampaikan sama Mama di Medan. Semua sudah Abang yang ngurus. Begitu selesai pernikahan kita, dan rumah di Jogja selesai, mereka bisa segera pindah ke Jogja bersama kita."

__ADS_1


"Iya bang, makasih untuk semuanya ya. Kamu terlalu baik untukku. Nih Abang lagi apa?" tanya Cha melihat posisi Zain yang sedang berada di dalam kamarnya.


"Abang baru aja balik dari kantor sayang. Nih baru selesai mandi. Pas udah kelar, eh kamunya kirim pesan," terang Zain.


"Hahaha, bisa samaan gitu ya bang. Aku juga tadi baru sampai dari toko kue dan baru bersih-bersih juga. Terus ngasih khabar ke Abang," ucap Cha yang memberitahukan ke Zain.


"Berarti kita sehati dong ya sayang. Abang jadi gak sabar pengen ketemu kamu Cha."


"Bentar lagi juga kita ketemu bang di pelaminan," goda Cha.


"Ya udah, sekarang kita istirahat ya, kamu pasti capek kan hari ini? Abang juga mau istirahat sebentar sebelum malam," ajak Zain.


"Iya bang, udah dulu ya, nanti malam kita sambung lagi. Assalamu'alaikum," ucap Cha mengakhiri obrolannya.


"Wa'alaikumussalam sayang," balas Zain.


Lalu tlp pun mati, mereka selesai ngobrolnya dan kembali ke tempat tidur masing-masing. Cha membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya hingga lama kelamaan dia pun tidur dengan lelapnya.


Sementara di kamar Dewi, dia juga sudah berada di dalam alam mimpinya. Dewi dan Cha sudah merasa nyaman di atas tempat tidurnya dengan mimpi masing-masing.


Cha bangkit dari tempat tidurnya, dia melaksanakan kewajibannya. Beberapa menit berlalu, Cha keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat si bibi sedang menyiapkan makan malam mereka.


"Non, mau makan sekarang?" tanya si bibi saat melihat Cha menghampiri meja makan.


"Tidak bi, yang lainnya belum pada keluar ya bi?" tanya Cha.


"Belum Non, mungkin masih pada mengaji di dalam kamar," jawab si bibi.


"Non Cha, mau diantarkan makan malamnya ke kamar ?" tanya si bibi.


"Ah nggak usah bi, saya makan disini aja bareng dengan yang lainnya," jawab Cha.


"Kalau gitu bibi siapkan dulu ya Non semuanya," ucap si bibi.


"Iya bi, saya mau ke kamar lagi. Nanti panggil ya Bi, kalau mereka sudah ngumpul disini," pesan Cha.


"Baik Non, nanti saya panggilkan Non ke kamar," balas si bibi.

__ADS_1


"Makasih bi." Cha pun berjalan kembali ke arah kamarnya. Dia duduk di depan TV sambil nonton berita menunggu Dewi dan Ibunya kumpul di meja makan.


Ketika Cha asyik sampai larut dalam melihat berita di TV, ponselnya berdering. Cha pun mengambil ponselnya dan melihat nama Ghani tertera di layarnya. Cha langsung meletakkan ponselnya. Dia tidak ingin terlibat dalam masalah yang rumit sehingga membuat kekacauan dalam hidupnya. Cha tidak ingin terulang kembali kisah lama seperti Yoga dan Zain.


Ponsel Cha terus berdering, Cha tetap tak bergeming untuk mengangkat tlp itu. Dia memilih fokus menonton TV. Hingga suara ketukan di pintu menyadarkan Cha.


"Tok tok tok, Non..., ayo makan. Sudah ditunggu sama yang lainnya," ucap si bibi di depan pintu memberitahu.


"Iya bi, saya segera kesana!" balas Cha dengan suara kencang.


Lalu Cha keluar dari dalam kamarnya dan melihat Dewi bersama Ibunya sudah ada di meja makan.


"Nak Cha, ayo makan bareng," ajak Ibunya Dewi.


"Iya Bu."


"Oh ya Bu, besok kita jadikan berangkat ke Klaten?" tanya Cha yang sudah duduk di kursinya.


"Iya nak Cha, besok jam sepuluh kita berangkat. Nak Cha ikut kan?" tanya si Ibu balik.


"Ikut Bu, kita naik mobil aja Bu, biar nyaman dan agak nyantai," ucap Cha tenang.


"Ah gak usah nak Cha. Biar kita naik Bus aja. Ibu ndak enak sama yang lainnya nanti disana," protes si Ibu.


"Bu, saya gak mau Ibu dan Pita kelelahan nantinya disana. Jangan dengarkan apa kata orang lain Bu, yang penting kenyamanan Ibu dan Pita," bujuk Cha.


"Tapi Ibu juga gak enak sama Nak Zain. Ibu gak mau nak Zain berpikiran buruk tentang keluarga Dewi," kahawatir si Ibu.


"Ibu tenang aja, Zain tidak akan berpikir seperti itu. Dia malah akan marah karena tidak menggunakan fasilitas darinya," Cha terus membujuk Ibunya Dewi.


Lalu Ibunya Dewi menghela nafas beratnya dan langsung menoleh ke Dewi lalu ke Pita anak bungsunya.


Dewi dan Pita mengangguk mengiyakan ucapan Cha, agar mereka naik mobil ke Klaten besok.


"Baiklah nak Cha, Ibu ngikut aja apa yang terbaik buat kita besok," ucap Ibunya Dewi setuju.


Setelah selesai makan malam, Cha kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke Klaten besok.

__ADS_1


__ADS_2