
"Ayo Zain bangun, kamu siap-siap. Aku harus ke kampus hari ini. Tapi aku nunggu Dewi biar berangkat bareng," Cha menyuruh Zain segera mandi.
"Baiklah sayang..Gimana dengan pertunjukkan semalam, mengesankan bukan? Kamu harus jauhi sahabat seperti itu, Dan bicarakanlah sama Dewi, aku harap keputusan kalian jangan terlalu lama, ok sayang!" Zain mencolek dagu Cha, lalu dia masuk kedalam kamar mandi.
"Sayang...! Apakah kamu mau olah raga pagi bersamaku?" teriak Zain sambil menyembulkan kepalanya mengintip Cha.
"Isshhh Zain...! Sana mandi, aku juga mau mandi Zain...!" balas Cha teriak juga.
"Ayo mandi bareng biar ngirit waktu dan air serta sabunnya Cha!" Zain mengajak Cha bareng kekamar mandi.
Cha males menanggapi keisengan Zain yang mengajaknya mandi bareng.
"Bisa-bisa berjam-jam didalam gw dibuatnya. Mendingan gw keluar aja," gerutu Cha sambil keluar dari dalam kamarnya.
Cha duduk diruang tamu sambil nonton TV, dia memilih menunggu Zain mandi diluar kamarnya. Sesaat Cha teringat sama Mbak Ani. Dia pun menghampiri Bu Marni didapur.
"Bu, sinilah, saya mau bicara," panggil Cha.
"Iya Mbak Cha, ada apa ya?"
"Kalau saya dan Dewi tidak berada dirumah ini, jangan pernah kasih masuk Mbak Ani kedalam rumah ini ya Bu Marni!" Cha mengingatkan Bu Marni.
"Iya Mbak, tapi kenapa Mbak Ani nya Ndak boleh masuk?" tanya Bu Marni bingung.
"Nanti saya jelaskan ya Bu, sekarang saya mau siap-siap kuliah dulu. Tapi si Zain lagi mandi didalam kamar sana. Saya sedang nungguin dia disini," ucap Cha.
"Ya udah selagi Mbak Cha nungguin Tuan Zain, nih cobain cemilan yang Bibi buat. Enak loh Mbak!" Bu Marni memuji masakannya sendiri.
"Wah enak nih Bu, mana sini Cha coba," Cha meminta cemilan yang sudah dimasak.
Lalu Bu Marni memberikan cemilan terhadap Cha selagi menunggu Zain mandi.
"Waowww enak banget ini Bu! Boleh dong sering-sering dimasakin cemilan ini ya," pinta Cha.
"Makasih loh Mbak Cha. Nanti pasti Bibi masak terus buat Mbake," balas Bu Marni.
Saat Cha menikmati cemilan diatas meja makan, Zain keluar dari dalam kamar. Dia melihat Cha sedang mengunyah makanan.
"Wah enak nih nyantai sambil ngemil. Udah gantian sana mandinya. Katanya mau ke kampus!" Zain mengingatkan Cha.
"Benar Zain, nanggung udah mau habis nih," balas Cha dengan mulutnya yang penuh makanan.
"Loh kok malah dihabisin sih Cha!" protes Zain.
Bu Marni yang melihat Tuannya dimeja makan, langsung menghampirinya.
"Eh ada Tuan Zain. Mau saya buatkan lagi Tuan cemilannya?" tanya Bu Marni.
"Oh boleh Bicara," jawab Zain.
"Baik Tuan, saya akan membuatnya." Lalu Bi Marni kembali kedapur untuk membuatkan cemilan Tuannya.
"Udah sana mandi. Aku nunggu disini," suruh Zain yang mengusir Cha dari meja makan.
"Yeeee, bilang aja mau nikmati cemilan sendirian," celetuk Cha.
"Hahaha," Zain tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Lalu Cha meninggalkan Zain yang masih tertawa. Cha merasa sebel dengan Zain. Dia pun mulai membersihkan dirinya didalam kamar mandi. Cha menikmati aroma lavender kesukaannya. Membuatnya betah berlama-lama didalam kamar mandi.
Saat ini Zain sedang menikmati cemilan yang dimasak sama Bi Marni. Hingga satu jam lamanya dia menunggu Cha tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.
"Kenapa lama banget nih Cha mandinya? Sampai habis nih cemilan," gerutu Zain.
Kemudian Zain beranjak dari meja makan. Dia menunggu Cha di ruang tamu. Zain mengambil ponselnya dan menghubungi asistennya di Paris.
"Bonjour Monsieur!" sapa Assitent nya dari sana.
"(Hallo Tuan)!"
"Oui, comment est l'état actuel du bureau?" tanya Zain.
"(Ya, bagaimana keadaan kantor saat ini)?" tanya Zain.
"Monsieur, vous devez revenir immédiatement. Parce qu'il y a des entreprises qui veulent travailler avec notre entreprise," info dari Assitentnya.
"(Tuan, anda harus segera kembali. Karena ada perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita)," info dari Assitentnya.
"Quand viendront-ils dans notre entreprise?" tanya Zain.
"(Kapan mereka akan datang keperusahan kita)?" tanya Zain kepada Assitentnya.
"Ils veulent vous rencontrer en personne après-demain Monsieur," ucap Assitentnya.
"(Mereka ingin bertemu langsung dengan anda lusa Tuan)," ucap Assitentnya.
"Bon, demain je reviens. Préparez tout. Prenez rendez-vous avec eux, nous aurons rendez-vous," Zain memberikan perintahnya kepada Asistennya mempersiapkan segalanya.
"(Baik, besok saya akan kembali. Persipakan semuanya. Buat janji dengan mereka, kita akan melakukan pertemuan)," Zain memberikan perintah kepada Assitentnya.
"(Siap Tuan, akan saya persipakan segalanya. Anda tidak perlu khawatir)," balas Assitentnya.
"Heum."
Lalu tlp pun dimatikan. Zain melirik ke pintu kamar, belom ada juga tanda-tanda Cha keluar dari dalam kamarnya. Akhirnya Zain memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya Cha. Dia membuka pintu kamar Cha yang memang tidak terkunci.
Saat dia masuk, Zain melihat Cha sedang merias dirinya didepan cermin. Zain mendekati Cha dari belakang dan memeluknya.
"Hemmm, kamu wangi banget sayang! Mandinya kenapa lama sekali?" tanya Zain sambil mengendus-endus rambut Cha yang harum.
"Iya namanya juga perempuan Zain, pasti seneng berlama-lama didalam kamar mandi," jawab Cha sambil menatap Zain dari cerminnya.
"Cantik, aku suka melihat senyummu," goda Zain.
"Dasar gombal," balas Cha.
"Beneran loh Cha..! Oh ya besok aku harus kembali ke Paris karena ada urusan yang harus aku kerjakan. Kamu mau ikut dengan ku ke Paris Cha?" tanya Zain berharap Cha mau ikut.
"Kalau untuk jalan-jalan, aku mau Zain. Dari dulu aku pengen banget liburan ke Paris," jawab Cha sambil membayangkan Negara Perancis.
"Kalau begitu, ikutlah dengan ku besok. Aku akan membawamu keliling Negara Perancis."
"Tapi...aku sedang kuliah Zain. Gak mungkin aku ninggalin kuliahku."
"Baiklah, kapan kamu mau, aku pasti membawamu kesana," Zain tersenyum menatap Cha.
__ADS_1
Tiba-tiba Dewi nyelonong masuk kedalam kamar Cha. Dia kaget melihat adegan mesra yang dilakukan Zain dan sahabatnya.
"Ekhemm," Dewi mengagetkan Cha dan Zain.
"Eh, Lo Wi. Sejak kapan disitu berdiri?" tanya Cha salah tingkah.
"Baru kok Cha...! Lain kali kunci dong pintunya. Biar gak buat orang ngiri lihat kemesraan kalian," celetuk Dewi.
"Iya-iya. Gimana kita berangkat sekarang Wi?" tanya Cha yang langsung berdiri dari kursi meja riasnya.
"Iya kita bernagakt sekarang aja Cha. Gw pamit dulu ya sama Ibu gw." Dewi meninggalkan Cha dan Zain didalam kamar. Dia mencari Ibunya dikamar. Dewi pun berpamitan sama Ibunya untuk berangkat kuliah.
Lalu Zain dan Cha menunggu Dewi di depan mobil. Kemudian Dewi keluar dari dalam rumah dan menghampiri Cha.
"Ayo bernangkat Cha!" seru Dewi.
"Yuk Zain," ajak Cha.
Mereka bertiga masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah menuju kampus.
"Cha, tadi gw lupa pesan sama Bu Marni, kalau Mbak Ani kerumah, gak boleh masuk kedalam rumah. Gw lupa mesani gitu tadi Cha," ucap Dewi menyesal.
"Udah Wi, gw udah bilang gitu juga kok sama Bu Marni," balas Cha.
"Oh syukurlah, ternyata Lo juga punya pikiran yang sama dengan gw. Gw gak mau kalau dia nginjakkan kakinya kerumah kita. Gw takut aja sekarang ketemu dia."
"Iya Wi, gw jg sebenarnya takut. Trus gimana dong jadinya? Apa kita pindah lagi dari sana dan mencari rumah yang jauh dari perkiraan dia. Dan kita juga mencari sekolah Pita yang dekat dengan rumah nantinya, gimana Wi?" tanya Cha yang meminta pendapat Dewi.
"Emang dimana kita bisa nyari rumahnya Cha?" tanya Dewi bingung.
"Iya Zain, gimana dong!" Cha meminta pendapat Zain.
"Jangan khawatir Cha, semua akan beres. Yang penting kalian mau pindah dan jangan berkomunikasi lagi dengan dia," ucap Zain dengan tegas.
"Iya Zain, aku gak akan menemuinya lagi," balas Cha.
"Kapan kalian siap untuk pindah. Aku harap Cha, jangan lama-lama. Keburu dia datang saat aku tidak ada didekatmu," pesan Zain yang mengingatkan Cha.
"Nanti kami bahas dirumah Zain. Emang mau pindah ke daerah mana Zain?" tanya Cha penasaran.
"Aku akan membelikkan Apartement untukmu. Kalian bisa pindah kesana secepatnya. Karena akses ke Apartement itu tidak sembarangan orang bisa masuk, jadi kalian bisa aman disana," jelas Zain.
"Waowww Cha, edyan tenan...Apartement! Ok nanti kita bicarakan sama Ibu gw dulu ya. Semoga beliau mau," Dewi merasa kagum dengan sosok Zain yang murah hati.
"Kenapa gak rumah aja Zain? Aku gak enak menerimanya," Cha merasa sungkan karena Zain terlalu baik.
"Aku rela memberikan apa saja untukmu Cha, asalkan kamu bahagia dan nyaman," Zain serius membelikan Cha Apartement yang mahal.
"Baiklah, malam nih akan ada keputusannya," balas Cha.
"Gw setuju, malam nih harus ada kepastian dan keputusannya," sambung Dewi dengan semangat.
Akhirnya mobil memasuki area kampus. Mobil berhenti didepan ruangan kuliah. Cha dan Dewi melihat sekeliling. Mereka takut jika Dino dan Imran berada dikampus mereka.
"Udah jangan khawatir, semua aman kok sayang," ucap Zain yang mengerti kegelisahan hati Cha.
"Ayo Wi," ajak Cha.
__ADS_1
Cha dan Zain serta Dewi turun dari mobil. Dan saat itu banyak mata yang menatap terpesona dengan penampilan Zain yang casual dan ditambah dengan wajah tampan Zain.
"