Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Cerita Yang Sama


__ADS_3

"Wi, gw udah minta tolong sama temen. Dia bisa bantu kita untuk mendapatkan kontrakan secepatnya. Supaya kalian bisa pindah dari sana. Gw harap, jangan pernah berhubungan lagi dengan tuh orang," kesal Cha.


"Ya Allah Cha..., makasih banyak ya. Gw bersyukur banget bisa menjadi sahabat Lo," balas Dewi dengan tersenyum.


"Ya udah, gw mau tidur dulu. Dah malam juga. Lo jangan lama-lama tidur. Besok kita mau ketemu sama Ibumu. Tidurlah," Cha meninggalkan Dewi yang sedang nonton. Dia pun membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Dewi masih asyik dengan tontonan TV. Sekilas dia menoleh kearah Cha. Lalu dia meneteskan air matanya.


"Kalau gak ada Lo, kemana gw mengadu Cha? Gw gak punya saudara. Apalagi gw anak pertama dan adik gw masih pada kecil. Terima kasih Cha atas kebaikan Lo. Gw akan menjadi sahabat Lo yang terbaik dan setia," monolog Dewi sambil terus menatap Cha.


Lalu Dewi mematikan TV nya dan membaringkan tubuhnya disamping Cha. Dia memejamkan matanya dan terlelap dalam mimpi.


Malam terus berlanjut hingga fajar menyingsing. Pagi yang cerah, mereka berdua masih males untuk bangun. Hingga ketukan di pintu terdengar.


"Siapa sih itu!" ucap Cha yang lagi malas-malasan untuk bangkit.


"Siapa Cha...?" tanya Dewi.


"Gak tau. Tunggu bentar..!" teriak Cha dari dalam kamar.


Dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu. Cha membuka pintu kamarnya dan melihat Mbak Ani sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Oh...Mbak Ani, kenapa pagi gini kemari?" tanya Cha yang males-malesan.


"Hoaaaam," Cha menguap sesekali.


"Cha, hiks hiks hiks," Mbak Ani langsung masuk kedalam dan memeluk Cha. Dia menangis tersedu-sedu.


Dewi yang setengah sadar, akhirnya bangun mendengar suara tangisan seseorang.


"Cha, siapa yang nangis pagi-pagi gini? Apa ada hantu? Atau gw lagi mimpi ya?" Dewi berbicara asal tanpa menoleh kearah pintu.


"Huhuhuhu," Mbak Ani tambah kencang menangisnya.


Dewi pun menoleh kearah Cha. Dia melihat seseorang sedang memeluk sahabatnya itu.


"Siapa itu Cha?" tanya Dewi.


Mbak Ani melepaskan pelukannya dan dia menoleh kearah Dewi.


"Wi, kamu disini?" tanya Mbak Ani yang masih berdiam di hadapan Cha.


"Loh Mbak Ani, kenapa?" Dewi bangkit dari tempat tidur dan menghampirinya.

__ADS_1


"Udah-udah lebih baik Mbak Ani duduk dulu biar tenang menceritakannya," ajak Cha. Mereka pun duduk bersama di sofa.


"Mbak ada masalah apa? Kenapa sampai menangis?" Dewi penasaran dengan apa yang terjadi dengan Mbak Ani.


"Mbak udah putus sama pacar mbak Cha! hiks hiks hiks hiks," Mbak Ani menangis lagi.


"Ya ampun Mbak..! Kirain kenapa, rupanya putus sama pacar," celetuk Dewi yang kesal dengan kedatangan Ani.


"Hust jangan gitu Wi," tegur Cha.


"Bukan masalah putusnya Wi! Tapi....," Ani menggantung ucapannya, dia takut Cha menganggapnya jelek.


"Tapi apa Mbak?" Cha juga penasaran.


"Mbak takut, kalian akan menganggap Mbak perempuan gak bener," ucap Ani sambil menundukkan pandangannya.


"Emangnya Mbak ada masalah apa sih, kayaknya rumit banget," sambung Dewi.


"Hidup mbak udah hancur Cha, Wi!" Mbak udah kehilangan masa depan. Gak akan ada laki-laki yang mau sama Mbak," Ani mencoba memberitahu keadaan dia.


"Maksud Mbak apa, kami gak ngerti. Mending Mbak ngomong yang jelas deh, biar kami tau cerita Mbak," Dewi gregetan melihat Mbak Ani yang ngomong kesana-kemari.


"Maaf kalau Mbak buat kalian bingung. Mbak malu sama kalian," Mbak Ani menundukkan pandangannya lagi.


"Mbak, cerita aja. Kami gak akan menghina ataupun menghujat Mbak apapun yang terjadi," Cha mencoba menenangkan keadaan Mbak Ani.


"Maksud Mbak, mbak udah gak perawan lagi?" tebak Dewi.


Mbak Ani hanya mengangguk saja. Dia tak berani menatap kearah Cha dan Dewi.


Cha menutup mulutnya gak percaya. Dia merasakan kesedihan dengan apa yang dialami Mbak Ani.


"Dia selingkuh dengan sahabat Mbak."


" Mbak, tau dari mana dia selingkuh dengan sahabat Mbak? Apa Mbak punya bukti?" tanya Dewi.


"Mbak memergoki pacar Mbak dikost sahabat Mbak. Saat itu, Mbak sengaja datang ke kost sahabat Mbak pagi-pagi banget, karena mau curhat sama dia. Tapi bukannya curhat, malah kecewa yang menyesakkan Mbak terima. Saat Mbak mengetuk pintu kamarnya, dia tidak mengira Mbak yang datang. Dia membuka pintu kamarnya sedikit. Dia pun kaget melihat Mbak yang datang. Dan Mbak mendengar suara laki-laki batuk. Suara itu seperti Mbak kenal. Mbak membuka lebar pintu kamarnya, dan Mbak melihat pacar Mbak baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk menutupi area bawahnya saja. Mbak kaget gak percaya dengan apa yang Mbak lihat. Dia juga kaget melihat kehadiran mbak," Mbak Ani menghentikan ceritanya, dia menangis lagi.


"Trus apa yang terjadi lagi Mbak?" tanya Dewi semakin penasaran.


"Dia malah membentak Mbak, dan memutuskan hubungan kami. Dan dia mengusir Mbak dari kamar sahabat Mbak,"


"Sahabat Mbak gimana? Merasa bersalah gak?

__ADS_1


Mbak Ani menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maksud Mbak?" tanya Cha.


"Dia tidak merasa bersalah. Dia malah mengatai Mbak," jawab Mbak Ani.


"Emang dia bilang apa Mbak," giliran Dewi yang bertanya.


"Dasar perempuan murahan. Mau aja dibodohi laki-laki. Lo itu cuma dijadikan cewek taruhan tau! Jadi jangan kegeeran kalau dia bakalan serius sama Lo!" begitulah sahabat Mbak membentak Mbak.


Mereka secara bersamaan melongo, tak percaya mendengar ucapan sahabatnya Mbak Dewi.


"Ya ampuuun Mbak..., kenapa bisa seperti itu? Emang Mbak gak curiga sama pacar Mbak saat pertama kali mengajak Mbak pacaran?"


"Awalnya dia sangat baik sama Mbak. Memberikan perhatian dan mengerti tentang keadaan Mbak yang berasal dari keluarga Broken Home. Sehingga Mbak gak pernah curiga sama sekali," jelas Mbak Ani.


"Kisahnya kok sama seperti gw?" gumam Cha pelan.


"Maksud Lo Cha?"


"Ah, eh, hehehe, gimana Mbak lanjutannya," Cha gelagapan menjawab Dewi.


"Lo tadi bilang apa Cha? Maksudnya sama, apanya?" tegas Dewi memaksa.


"Oh..itu, maksudnya sama kisahnya dengan teman gw waktu SMA dulu," kilah Cha sambil cengengesan.


Dewi hanya mencibik kearah Cha.


"Trus Mbak sekarang gimana? Masih mau sama laki-laki brengsek begitu? tanya Cha yang juga membenci kelakuan mantan dan sahabat Mbak Ani.


"Mbak udah gak mau lagi Cha, Wi. Tapi untuk melupakan itu semua tidaklah mudah. Apalagi dia yang pertama menyentuh Mbak," terang Mbak Ani.


"Ya udah Mbak, mending sekarang Mbak ikut kami aja, untuk nemui Ibunya Dewi. Karena hari ini kami janjian mau ketemu sama Ibunya Dewi," jelas Cha.


"Ya udah, Mbak ikut kalian aja. Tapi Mbak mau ganti baju dulu ya. Kita sarapan dimana?" tanya Mbak Ani polos.


"Nanti kita sarapan bareng Ibunya Dewi aja Mbak," ucap Cha.


"Ya udha, Mbak ke kamar dulu. Nanti Mbak kemari kalau udha selesai," balas Mbak Ani.


Mbak Ani kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Begitu juga dengan Cha dan Dewi. Mereka juga bersiap-siap. Setelah beberapa menit, Mbak Ani datang ke kamar Cha.


"Ayo berangkat," ajak Mbak Ani.

__ADS_1


"Bentar Mbak, nih lagi mesan grab dulu!" sahut Cha.


Hingga beberapa saat grab online datang dan menunggu mereka didepan gerbang kost. Mereka berjalan keluar kost-kostan dan masuk ke dalam mobil grab.


__ADS_2