
Hari yang dinantikan oleh Cha datang juga. Kemaren kakak Cha yang bernama Ina pulang ke Medan untuk menjemput Cha.
"Gimana Cha, udah siap semuanya?" tanya Ina yang masuk ke dalam kamar Cha.
"Udah kak, semua udah beres," balas Cha.
"Ya udah bentar lagi kita berangkat ke Bandara, karena kemungkinan sore baru sampai di Jogja," kata Ina menatap ke arah Cha.
"Iya, aq mau ketemu sama Sika dulu," ucap Cha yang berlalu meninggalkan kakak nya.
Cha pun masuk ke dalam kamar Sika. Dia melihat Sika yang sedang menangis. Cha pun menghampiri Sika.
"Udah dong dek jangan nangis lagi, tar kakak sedih kalau kamu begini," ucap Cha sambil memeluk adeknya.
"Huhuhu, hiks hiks hiks, kakak jangan pergi," pinta Sika dengan wajah sedihnya.
"Kakak harus pergi dek, kan kesana mau kuliah. Nanti kakak pasti sering pulang," hibur Cha menatap adeknya.
"Nanti kalau Sika sedih, sama siapa mengadu," manja Sika yang masih bergelayut manja sama Cha.
"Kamu bisa hubungi kakak kalau Sika lagi sedih. Kakak pasti dengerin walaupun jarak jauh," hibur Cha lagi.
"Janji ya kak, tapi kan dirumah ini Sika gak punya teman ngobrol, pasti sepi," ucap Sika yang cemberut.
"Tuh kamar kakak kan ada tv nya, kamu bisa main PS atau nonton film," sambung Cha.
"Iya deh kak, Sika ikut ya nganter kakak," pinta Sika.
"Heum, yuk kita keluar. Mama sama kak Ina sudah di depan nungguin," ucap Cha lalu berjalan keluar dari kamar menemui yang lainnya.
Cha melihat mama dan kakak nya sudah duduk di ruang tamu. Mereka dari tadi menunggu kehadiran Cha.
"Cha sini duduk," perintah mamanya.
"Iya ma," jawab Cha.
"Sebelum kau berangkat, mama cuma mau mengingatkan. Kau ke Jogja itu untuk kuliah bukan untuk main-main. Jadi, mama harap kau bisa menyelesaikan kuliah dengan baik. Dan ingat jangan karena kau disana tidak ada yang mantau, kau kebablasan," pesan mamanya yang menatap Cha tajam.
"Iya, ingat itu. Jangan karena jauh dari orang tua, kamu malah gak tau diri," ketus kakaknya yang menimpali ucapan mamanya.
"Dasar penjilat," bathin Cha yang tak suka melihat kakaknya.
Cha hanya menunduk saja ketika mamanya memberi ceramah kepadanya. Namun sesekali dia melirik ke arah Sika.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang," ajak mamanya kepada semua anaknya.
Mereka pun bergegas menuju mobil. Dalam perjalanan tidak ada yang membuka obrolan. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak terasa jarak tempuh ke Bandara tidak terlalu lama, mereka akhirnya sampai di bandara.
Cha dan kakaknya masuk ke dalam area check in bandara. Sedangkan mamanya dan Sika serta adeknya menunggu di Royal Cafe.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Cha dan kakak nya datang menemui mamanya.
"Udah beres semua?" tanya mama Cha.
"Udah ma, bentar lagi kami masuk ke ruang tunggu ya ma," ucap kakaknya.
"Oh ya udah masuk aja sekarang. Mama dan adekmu pulang sekarang. Kalian hati-hati dijalan. Kalau sudah sampai di Jogja, khabari mama," saran mamanya, kemudian memeluk kedua anaknya.
"Iya ma," jawab Cha sambil membalas pelukan mamanya. Sika melihat wajah mamanya, disana tidak terlihat wajah sedih dari mamanya. Malah yang kelihatan sangat sedih itu Sika, adeknya yang selama ini menemaninya saat senang dan sedih.
Cha beralih memeluk Sika. Dia memeluknya sangat erat dan menangis. Begitu pun dengan Sika. Dia menangis kencang, tidak mau melepaskan kepergian kakak yang disayanginya.
__ADS_1
"Udah Sik, kami mau masuk nih..," ketus kakaknya si Ina.
"Udah jangan mendramatisir keadaan gini. Nanti juga pulang ke Medan," sambung mama mereka.
"Ih nyebelin banget sih, aku kan pengen meluk kakak ku lama-lama," jutek Sika yang memandang kak Ina dengan sinis.
Perdebatan kecil pun terjadi antara mereka kakak-beradik. Mamanya justru membela anaknya yang paling besar.
"Udah pergi sana masuk, kasihan kak Ina capek dari kemaren bulak balik hanya untuk mengurus kau," ucapan mamanya itu sangat menohok hati Cha dan Sika. Mereka berdua memandang mamanya dengan tatapan yang kecewa.
"Udah ayok Cha," paksa Ina sambil menarik tangan Cha.
"Kami masuk dulu ya ma," pamit Cha lalu menyalami tangan mamanya. Dan Sika juga menyalami kakak-kakaknya.
Mereka berdua berjalan menuruni eskalator menuju ke ruangan bawah.
"Kak Cha....jangan lupa khabari Sika ya kalau sudah sampai Jogja...," teriak Sika dengan melambaikan tangannya.
Lalu Sika dan mamanya keluar dari Bandara. Mereka langsung pulang ke rumah. Sepanjang jalan Sika menangis diam-diam. Air matanya tak henti-henti keluar. Dia pasti sangat merindukan kakaknya.
"Nanti kalau udah besar, Sika mau ikut sama kakak cha," gumam Cha.
Di dalam Bandara, Cha melihat banyak sekali penumpang yang hendak ke luar Kota. Ada sebuah pemandangan yang membuat Cha bersedih. Seorang anak kecil usia sekitar 7 tahun sedang bercanda dengan papa dan mamanya. Cha jadi teringat akan keadaannya yang tak beruntung.
"Seandainya gw seperti anak itu, betapa bahagianya hidup qu. Dan aq tidak akan mau jauh-jauh dari mama qu," bathin Cha dengan wajah sedihnya.
"Hei kenapa bengong?" tanya Ina kepada Cha.
"Eh, hehehe gak bengong kok. Tuh lagi liatin anak itu," tunjuk Cha dengan matanya ke arah anak itu.
Ina melihat arah pandangan Cha. Dia melihat anak kecil yang sedang tertawa bersama papa dan mamanya.
"Ngapain harus dilihat," sewot Ina yang tak suka melihat nya.
"Gak perlu dilihat, karena kehidupan kita gak seperti itu," jawab Ina dengan tajam.
"Ya namanya juga seneng lihatnya, adeeem gitu," ucap Cha sambil tersenyum.
Mereka terus berdebat tiada hentinya. Hingga akhirnya panggilan untuk masuk ke pesawat menghentikan perdebatan mereka.
"Tuh dah di panggil, ayok ke pesawat," ajak Ina yang berjalan duluan meninggalkan Cha.
Cha mengikuti langkah kakaknya dari belakang. Ada rasa senang tapi ada juga rasa sedih. Sedih meninggalkan banyak kenangan di Medan dan senang akan kehidupan barunya di Jogja.
Saat ini mereka sudah berada dalam pesawat. Pramugari memberikan pengarahan tentang informasi sebelum pesawat take off. Cha yang baru pertama naik pesawat, merasa deg-degan. Dia melihat ke kanan nya ada penumpang paruh baya. Cha yang posisi duduk nya dekat jendela, merasa nyaman. Dia menyenderkan tubuhnya di samping jendela sambil memejamkan matanya.
Tak terasa waktu berjalan hingga dua jam menempuh perjalanan ke Jakarta. Mereka harus transit dulu. Sekitar satu jam kemudian baru mereka bernagkat ke Jogja selama 1 jam.
Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka tiba di Bandara Jogja.
"Selamat datang kehidupan baru qu...," bathin Cha yang merasa sangat-sangat senang. Dia pun menghirup udara kota Jogja.
Ina yang dulu nya kuliah di Jogja, merasa senang bisa menginjakkan kakinya kembali ke Jogja. Dia mengajak Cha naik grab menuju Hotel Inna Garuda yang ada di Malioboro.
Setelah mengambil barang-barang mereka. Ina dan Cha berjalan ke luar Bandara untuk naik Grab. Sebenarnya Ina ingin mencoba naik busway di Jogja, tapi karena bawaan mereka yang banyak, jadi niat nya di batalin.
Selama perjalanan menuju Malioboro, tempat yang terkenal buat nongkrong dan belanja, Cha merasa takjub dan kagum dengan pemandangan penduduk di Jogja. Supirnya juga ramah. Cha hanya diam menikmati pemandangan jalan yang ramai.
Mereka memasuki kawasan Malioboro. Lalu menuju hotel yang dituju. Setelah sampai di depan, mereka turun dan Ina membayar tarif sesuai aplikasi nya.
"Matur nuwun mbak," kata sang supir dalam logat jawanya.
__ADS_1
Cha diam melongo karena tak mengerti apa yang diucapkan sang supir. Tapi lain dengan Ina kakaknya yang mengerti bahasanya.
"Inggih pak sami," jawab Ina sambil tersenyum kepada supir itu.
Cha merasa takjub mendengar bahasa yang digunakan Ina dan sang supir.
"Ternyata kak Ina udah bisa ya bahasa Jawa?" tanya Cha kagum.
"Udah dong, tapi kalau bahasa halusnya gak begitu bisa," jawab Ina.
"Udah yuk masuk, kakak tadi udah konfirmasi dengan Reseptionist nya kalau kita udah sampai di Jogja. Kakak ke Reseptionist ya buat ngambil kuncinya," jelas Ina lalu pergi ke arah Reseptionist.
Cha yang ditinggal menunggu di lobby. Tiba-tiba dia teringat dengan Sika adek tersayangnya. Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca. Tapi Cha buru-buru mengusapnya, agar tidak terlihat oleh Ina kakaknya.
Ina datang menghampiri Cha. Dan melihat wajah Cha yang sendu. Padahal tadi Cha kelihatan senang.
"Kenapa lagi, tuh wajah kok sendu gitu?" tanya Ina yang memperhatikan Cha.
"Teringat rumah kak," jujur Cha yang tak bisa menahan kesedihannya, akhirnya dari sudut mata mengalir air matanya.
"Udah jangan sedih. Tar kalau libur semester kan bisa pulang ke Medan," hibur Ina.
Cha hanya mengangguk saja. Lalu mereka menuju kamar yang sudah di pesan.
"Akhirnya bisa juga rebahan," ucap Cha yang kecapean.
"Mandi dulu gih biar segar, ganti baju. Mau jalan gak di sepanjang Malioboro?" tanya Ina.
"Gak ah, capek. Aq mau istirahat aja, tidur lebih enak," jawab Cha cuek. Lalu dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ina merasa kesel karena Cha gak mau diajak jalan-jalan. Padahal suasana malam di Malioboro sangat asyik. Akhirnya dia pun mengikuti kemauan adeknya.
Setelah selesai mandi, Ina memesan makan malam di hotel. Karena dia pun males buat keluar nyari makan.
"Cha kamu mau pesan apa nih buat makan malam?" tanya Ina.
"Bebas lah, ngikut kakak aja. Eits tunggu kak, aq kok pengen mie rebus telur ya sama capuccino susu tapi dingin," pesan Cha kepada Ina.
Lalu Ina pun memesan makanan lewat tlp yang ada di dalam kamar. Selagi menunggu makanan, Ina menghubungi mamanya di Medan.
"Hallo ma, assalamu'alaikum," sapa Ina dari ponselnya.
"Wa'alaikumussalam nak, gimana sudah sampai di Jogja nya?" tanya mamanya.
"Nih udah di hotel ma. Kami lagi nunggu makanan dateng," ucap Ina.
"Gimana Cha, apa masih sedih dia?" tanya mamanya lagi.
"Iya tuh, tadi juga masih nangis pas di lobby hotel. Katanya sedih teringat rumah," adu Ina kepada mamanya.
Cha yang mendengarnya hanya mendengus sebel melihat kakak nya.
"Dari pada dengerin dia si tukang mengadu, mending tlp Sika," pikir Cha. Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi no adeknya. Tapi no yang dihubungi tidak mengangkat.
"Hmmm, kemana ya Sika. Apa dia sudah tidur? Kasihan kamu dek gak ada temannya lagi disana," gumam Cha. Dia pun menulis pesan kepada adek nya bahwa dia sudah sampai di Jogja.
Cha melihat kakaknya masih asyik ngobrol sama mamanya. Cha tidak berniat untuk ngobrol sama mamanya. Dia masih kesal dengan sikap mamanya tadi. Hingga pesanan mereka dateng barulah Ina menyudahi tlp nya.
"Ma, udah dulu ya. Nih makanan ya udah dateng. Kami mau makan dulu ya ma, udah kelaparan nih," kata Ina.
"Iya makanlah. Salam sama Cha," balas mamanya. Lalu tlp pun dimatikan.
__ADS_1
Ina menuju meja yang sudah tersedia pesanan makanan mereka. Mereka berdua akhirnya menikmati makan malem bersama.