Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Perjuangan Yoga Menghubungi Cha.


__ADS_3

Ina semangat ingin bertemu lagi dengan Dino. Tapi Cha dan Shanti tidak ingin bertemu mereka lagi.


"Ya udah kita pulang dulu ya, sampai ketemu besok," kata Ina sambil melambaikan tangannya ke Dino.


Cha sama Shanti hanya tersenyum saja melihat ke arah mereka bertiga.


"Kak Ina kelihatannya seneng banget dengan cowok yang bernama Dino ya?" tanya Shanti penasaran.


"Hahaha, bisa aja deh kamu Shan, kayaknya orangnya baik deh Shanti," ucap Ina yang memuji cowok bernama Dino.


"Sok tau kak Ina. Kenal aja baru ini. Kak Ina kan gak tau di selain di hadapan kita," ketus Cha sambil melirik ke arah Shanti.


Shanti membalas lirikan Cha sambil mengangguk membenarkan ucapan Cha. Dia setuju dengan penilaian Cha.


Mereka pun berjalan tanpa membahas ketika cowok tadi. Sampai lah mereka ke parkiran. Cha melihat kearah belakang mereka, dia takut kalau ketiga cowok itu mengikuti mereka. Setelah membayar uang parkir, mereka pun pergi dari alun-alun kidul menuju hotel.


Dalam perjalanan tidak ada yang berbicara. Shanti fokus dengan jalanan, dan Ina yang setengah berpikir sedangkan Cha yang asyik menikmati suasana malam kota Jogja.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di hotel. Akhirnya mereka sampai di hotel. Namun sebelum nya Shanti yang berada di depan waspada, jikalau mereka mengikuti perjalanan Shanti dan Ina serta Cha.


Setelah memastikan mereka tidak di ikuti, Shanti yang menjadi pemandu jalan, akhirnya membelokkan motor nya ke arah hotel.


Di dalam kamar, mereka bertiga merebahkan diri di atas kasur.


"Hahhhhh sungguh melelahkan perjalanan hari ini, seruuuu banget ya," kata Cha yang merasa senang.


Ina memandang langit-langit kamar sambil mengingat sosok Dino yang cakep dimatanya. Dia mulai mengkhayal tentang Dino.


"Cakep, tapi sayangnya lebih muda dari aku," gumam Ina tanpa sadar.


Shanti dan Cha berbarengan melirik ke arah Ina. Mereka saling berpandangan dan kemudian tertawa bersamaan.


"Hahahahaha, menghayal nih si kakak," celetuk Cha lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hihihi, lucu kakak Lo, Cha. Mudah banget tergoda cowok begituan yang tidak jelas," kata Shanti tersenyum sinis.


Ina yang sedang di bicarakan tidak merespon obrolan mereka berdua. Dia asyik menghayal tentang Dino.


"Udah terhipnotis dia, mau aja percaya dengan cowok yang kenal di jalan, hmmm," kata Cha sambil malas-malasan.


"Hihihi, kakak Lo sih...," sindir Shanti.


"Udah ah, gw mau ganti dulu Shan, gerah nih dari tadi siang gak ganti-ganti," kata Cha. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu disusul dengan Shanti.


"Kak gih sana ganti baju dulu, baru lanjut menghayal," sindir Cha sambil menepuk-nepuk bahu Ina.


Ina tersentak dan menoleh ke arah suara yang membuyarkan lamunannya.


"Ahhhh, ganggu aja. Kakak lagi enak-enakan melamun di ganggu," ketus Ina yang tidak suka melihat adeknya.


"Iya bersih-bersih dulu tau, baru lanjut tidur. Biar bisa mimpiin babang dino, kata Cha sambil senyum-senyum geli.


Ina pun bangkit dari tempat tidur dengan wajah keselnya. Dia pun bersih-bersih di kamar mandi.


Cha dan Shanti sudah mengambil posisi tiduran di tempat tidur. Lalu Ina keluar dari dalam kamar mandi, dan melihat kedua nya sudah ambil posisi buat tidur.


"Kalian disitu aja, kakak di tempat tidur yang kecilnya aja," kata Ina sambil berjalan ke arah ke tempat tidur nya yang dipesan nya tadi siang kepada Reseptionist hotel sebelum kerumah Shanti.


Shanti dan Cha sudah terlelap dalam tidurnya. Mereka sudah tidak memperdulikan ucapan kak Ina. Begitu pun dengan Ina, dia sudah memejamkan matanya hingga tidur terlelap.


Pagi yang cerah menyambut ketiga perempuan tersebut untuk segera bangun. Tapi ketiganya blom mau membuka matanya. Mereka masih asyik tidur dalam selimut.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Ina pelan-pelan membuka matanya dan melihat ke jendela.


"Waduh udah terang aja nih," kata Ina sambil duduk dan meregangkan otot-ototnya. Dia melihat ke arah Cha dan Shanti. Lalu dia pun bangkit dari tempat tidur dan membangunkan keduanya.


"Cha...,Shan...ayo bangun. Dan jam 08.00 nih. Ayo sarapan, kakak dah laper," teriak Ina sambil mengguncang-guncangkan kaki mereka berdua.


Tapi yang dibanguni tetap tidak merespon. Mereka masih asyik menikmati tidurnya.


Ina yang melihat kedua nya tidak bangun, dia merasa kesal dan akhirnya mencubit betis masing-masing.

__ADS_1


Sontak saja keduanya tersentak karena seperti tersengat listrik mereka langsung duduk diatas tempat tidur.


"Awww, sakit banget betis gw," kayak ada yang cubit," kesel Cha sambil melihat betisnya.


"Cha..., Lo ngerasa gak kayak ada yang nyubit?" tanya Shanti yang masih dalam keadaan setengah sadar.


Mereka pun mengucek-ngucek matanya nya dan menormalkan penglihatannya. Tiba-tiba mereka melihat kak Ina sudah berdiri dihadapan mereka dengan tangan di pinggang.


"Loh kak Na ngapain disitu?" tanya Cha yang keheranan.


"Ya bangunin kalian berdua lah," ketus Ina sambil menatap mereka bergantian.


"Ih..galak banget sih," celetuk Cha.


"Udah buruan biar kita sarapan. Kakak pengen cari sarapan di luar aja, tapi kita jalan kaki aja ya," kata Ina.


"Wah asyik tuh, sekalian olah raga pagi, jalan kaki, ya kan Shan..," kata Cha sambil menaik-naikan alis nya dan menatap ke arah Shanti.


Shanti masih blom sadar sepenuhnya. Dia melihat Cha dengan wajah plongonya.


"Ehhhh Shan sadar dong..., udah pagi nih, ayo buruan mandi," kata Ina yang heran melihat keadaan Shanti.


"Hihihi lucu ya lihat muka Shanti bangun tidur," kata Cha sambil cekikikan.


"Kakak mandi duluan, habis itu kalian," kata Ina.


Ina pun mulai membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Sedangkan Cha dan Shanti malah asyik nonton kartun disofa. Mereka melirik ke kamar mandi, namun Ina blom juga keluar kamar mandi.


"Lama banget sih mandinya. Katanya dah laper tapi betah dalam kamar mandi, hadewww," kata Cha yang jenuh menunggu.


"Cha blom ada Kkhabar juga ya dari Yoga?" tanya Shanti tiba-tiba.


"Blom Shan, biar aja lah. Kalau dia ingat pasti dia menghubungi kan," kata Cha yang berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Sorry ya gw bahas Yoga pagi-pagi begini," kata Shanti yang merasa gak enak.


"Nyantai aja Shan," kata Cha cuek.


"Lo aja deh shan, gw belakangan aja mandinya," jawab Cha yang masih asyik nonton kartun.


Shanti melihat ke arah Cha. Dia bisa melihat wajah Cha yang menyimpan kesedihan karena tidak dapat khabar dari orang yang di cintainya.


Shanti melangkah ke kamar mandi dan meninggalkan Cha di sofa.


"Segar ya kak dah mandi," kata Shanti sambil berlalu dari hadapan Ina.


Cha yang matanya menonton tv tapi pikirannya mengarah ke satu nama yaitu Yoga.


"Kemana kamu Ga, kenapa sampai detik ini tidak menghubungi ku. Jangan-jangan kamu kepincut perempuan lain disana," bathin Cha. Dia pun menghela nafasnya pelan.


Tak lama Shanti mandi, tiba-tiba mama Cha menghubungi no Ina. Ina yang mendengar suara dering ponselnya, langsung melihat no yang tertera.


"Ternyata mama," kata Ina sambil mengangkat tlp nya.


"Wa'alaikumussalam ma," jawab Ina.


"Ada apa ya ma?" tanya Ina.


"Gimana dengan pendaftaran kuliah Cha, kapan pengumumannya keluar?"tanya mamanya penasaran.


"Lusa ma, baru keluar," jawab Ina yang masih sibuk.


"Oh..Trus gimana dengan kostan nya?" tanya mamanya lagi.


"Lupa Ina mau ngasih tau mama. Mama kenal sama teman Cha yang di Medan dekat rumah kita? Nah sekarang keluarga mereka berada di Jogja sejak beberapa bulan lalu. Orang tuanya nawarin Cha untuk tinggal bersama mereka. Gimana nurut mama?" tanya Ina penasaran.


"Menurut kau gimana rupanya temannya itu? Kalau kau lihat dia bagus, ya udah gak apa-apa. Kan biar lebih aman dia tinggal disitu dari pada ngekost," saran mama nya.


"Sejauh ini anaknya baik. Gak neko-neko. Kalau mama setuju, nanti biar Ina sampaikan ke mamanya sekalian nyerahkan Cha ke mereka," jawab Ina.


Percakapan pun terus berlanjut hingga Shanti selesai keluar dari kamar mandi. Setelah itu Ina menyudahi ngobrolnya.

__ADS_1


"Ma, udah dulu ya. Kami mau sarapan dulu," kata Ina.


"Iya, hati-hati disana," kata mamanya.


Tlp pun mati. Ina menyuruh Cha untuk cepatan mandi, karena dia sudah merasa sangat lapar.


"Cha buruan mandi...! Tuh Shanti dah selesai loh," kata Ina dengan suara keras.


"Iya-iya, nih juga mau mandi. Bawel," kesel Cha sambil menjulurkan lidahnya.


Ina dan Shanti menunggu Cha di sofa sambil ngobrol bersama. Sampai akhirnya Cha sudah keluar dari kamar mandi. Dia pun bersiap-siap.


"Udah yuk kita cari sarapan," ajak Cha yang sudah berdiri di hadapan mereka.


Mereka pun menerima ajakan Cha dan berdiri dari sofa. Mereka bertiga keluar dari hotel menuju jalan raya Malioboro.


"Wah ternyata dah rame ya di luar," kata Cha yang menikmati udara pagi di Malioboro.


"Ya pasti dong Cha. Namanya juga udah pagi," celetuk Shanti.


"Mau sarapan apa nih kita?" tanya Ina sambil melihat ke sana kemari.


Ternyata ada tempat yang menjual soto dan soup. Mereka memutuskan ke lesehan tersebut. Sesampainya di lesehan itu, mereka memesan soup dan soto.


"Habis nih kita kemana lagi kak?" tanya Shanti.


"Gimana kalau kita ke Parangtritis. Kamu ingat jalannya Shan?" tanya Ina balik.


"Tau dikit sih kak. Tar kalau kita gak tau, ya kita bisa nanya ke orang yang berada di jalanan aja," usul Shanti kepada Ina.


"Tapi setelah itu kita ke rumah kamu ya Shan, karena kakak mau ngomong sama mama kamu," kata Ina sambil menatap Cha.


Selesai menyantap makanan buat sarapan pagi, mereka kembali ke hotel untuk membawa perlengkapan ke Parangtritis.


Sesampainya di hotel, Cha seperti mendengar suara ponsel berdering.


"Eh ponsel siapa tuh berdering?" tanya Cha kepada mereka berdua.


"Kayaknya ponsel Lo deh Cha, coba cek gih," kata Shanti.


Lalu Cha melihat ponselnya di tempat tidur yang sedang di charge. Ternyata benar itu suara dering ponsel Cha. Cha buru-buru mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Dia kaget melihat nama yang tertera diayar ponselnya. Dia pun segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Cha dengan rasa rindu, gembira dan bahagia.


"Wa'alaikumussalam yanx," jawab Yoga orang yang sangat di cintai Cha.


"A..apa khabar kamu yanx?" tanya Cha yang menjauh dari Ina dan Shanti.


"Aq rindu banget sama kamu yanx. Maaf baru bisa menghubungi mu ya, aq lagi banyak urusan kemaren," bohong Yoga.


Sebenarnya Yoga tidak pernah menghubungi Cha karena ponselnya di tarik oleh papanya waktu di Belanda. Dan dia diberikan ponsel baru. Sedangkan ponsel baru sudah diatur sama papanya untuk panggilan keluar. Saat ini Yoga bisa menghubungi Cha melalui ponsel salah satu asisten kebunnya yang sangat baik. Dia meminjamnya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Saat ini Yoga berada di dalam kamar mandi menghubungi Cha. Perjuangan untuk menghubungi sang kekasih akhirnya berhasil. Karena sudah beberapa Minggu Yoga memikirkan cara untuk bisa menghubungi Cha tanpa sepengetahuan papanya.


Namun itu tidak mungkin diceritakan Yoga sama Cha. Dia tidak mau Cha bersedih memikirkan keadaannya di Belanda.


"Aq juga rindu banget sama kamu. Aq pikir kamu udah lupa sama aq karena kepincut cewek sana," kata Cha manja.


"Aq gak akan terpikat dengan cewek manapun. Hati qu sudah terkunci dengan nama mu yanx," jawab Yoga. Dia benar-benar bahagia bisa mendengar suara kekasihnya.


"Kamu sehatkan yanx disana?" tanya Cha.


"Iya sehat sayang," jawab Yoga.


"Ini no baru kamu yanx?" tanya Cha heran.


"Bukan, ini no temanku, karena ponsel qu kemaren hilang yanx, jadi aq blom sempat ganti no lagi," jawab Yoga yang kembali berbohong.


"Ya udah gak apa-apa. Yang penting aq udah denger suara dan khabar kamu, rasanya seneeeeeng banget yanx," kata Cha yang merasa bahagia.


"Sama, aq juga yanx senewen gak banget bisa denger suara kamu yang ngangenin," goda Yoga.


Mereka berbicara dengan waktu yang cukup lama. Hingga tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu kamar mandi Yoga.

__ADS_1


__ADS_2