
Hai pembaca setia qu..., akhirnya penulis bisa menyelesaikan cerita Cha ini ke tahap yang ke dua. Makin seru ya ceritanya. Bagaiman kehidupan baru Cha di kota baru nya ya...Apakah seperti yang di bayangkan Cha atau justru makin rumit.
Yuk ikutin terus kisah Cha anak keluarga broken home. Jangan lupa kasih penulis vitamin ya biar makin energik dan banyak imajinasinya.
Yuk kasih LIKE, VOTE, HADIAH yang banyak ya...., ikutin terus...
Setelah selesai menyantap makan malam, mereka memutuskan untuk tidur. Cha membaringkan tubuhnya disamping kakaknya. Dia masih memikirkan adeknya.
"Kenapa Sika gak bales pesan qu ya..?" tanya Cha dalam hatinya. Ingin mencoba menghubungi kembali tapi sudah larut malam. Akhirnya Cha memutuskan memejamkan matanya. Karena besok mereka harus hunting mendaftar kuliah.
Pagi cerah di Jogja menyambut kedatangan Cha sebagai pendatang baru. Hari ini mereka bersiap-siap untuk mendaftar di beberapa universitas dan mencari kost-kostan.
"Cha bangun, gih mandi sana. Kita harus mencari kost-kostan mu biar bisa ditempati dan masih banyak yang harus dipersiapkan," ucap Ina sambil menggoyang-goyangkan kaki Cha.
Cha menggeliat, dia enggan membuka matanya. Karena rasanya dia pengen sepanjang hari rebahan. Tiba-tiba terasa sakit di kaki betisnya.
"Awwww, apa sih ini," rutuk Cha kesal dan melihat apa yang terjadi dengan kakinya. Ternyata Ina sudah berdiri di sampingnya
"Makanya di bangunin ya bangun. Mau kuliah gak kamu nih," kesal Ina melihat tingkah Cha.
"Iya mau," jawab Cha males-malesan.
Akhirnya Cha bangun dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Cha berendam dengan nyaman.
Sedangkan Ina, dia sudah mempersiapkan berkas yang dibawa nya untuk mendaftarkan Cha. Ina menunggu Cha selesai mandi. Mereka akan sarapan di bawah.
"Cha buruan...jangan bertapa kamu di dalam!" teriak Ina dari kamar.
"Hmmm sewot amat nih orang. Gw mau rileks tau," protes Cha tapi gak didengar sama Ina.
Cha akhirnya selesai melaksanakan ritualnya. Dia melihat Ina yang sedang menonton tv.
"Sarapan dimana kak?" tanya Cha sekilas melirik Ina.
"Udah buruan biar sarapan di restauran tersebut bawah," sahut Ina yang rada kesal.
Cha mempercepat berpakaian dan berdandan. Setelah itu dia berdiri di hadapan ini.
"Gimana penampilanku hari ini?" tanya Cha pede.
"Biasa aja," ketus Ina tanpa menoleh ke arah Cha.
"Yeeeeee, cakep begini kok," puji Cha sendiri.
"Udah yuk sarapan. Dah laper nih gara-gara nungguin kamu," sewot Ina yang langsung berdiri berjalan duluan keluar kamar.
"Kalau gak karena mama nyuruh kamu buat ngurus aq, udah aq usir Lo pulang," kesal Cha menggerutu.
Mereka berdua keluar dari kamar dan menuju Restauran tempat dimana disediakan untuk sarapan pagi. Pelayan menyambut kedatangan mereka dan me garahkannya ke makanan yang sudah di hidangkan.
"Kamu mau makan apa Cha?" tanya Ina sambil melihat-lihat hidangannya.
Cha pun bingung mau makan apa. Akhirnya Cha mengambil dua-duanya. Nasi goreng dan roti selai coklat.
"Heummm mantep cukup stock diperut sampai siang," ucap Cha yang gak perduli dengan pandangan orang lain.
Ina hanya geleng-geleng kepala, melihat Cha yang makan begitu banyak nya. Sampai pelayan yang berada di dekat meja hidangan senyum-senyum melihat Cha.
Cha mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah dapat tempatnya, dia pun mulai menikmati sarapannya. Ina mengikuti langkah Cha setelah mengambil makanan. Ina pun duduk di hadapan Cha. Sekilas dia melirik ke arah Cha, lalu Ina pun menikmati makanannya.
"Habis ini kita kemana kak?" tanya Cha yang memulai percakapan.
"Kita ke Universitas U** dulu habis tuh nyari kost-kostan kamu. Tapi kita kerumah teman kakak dulu buat minjem motor biar enak nyari nya," jelas Ina dengan detail.
"Oh....," jawab Cha yang masih menikmati makanannya.
Setelah mereka sarapan. Ina memesan grab online. Ina mengajak Cha untuk menunggunya di Lobby. Selang beberapa menit tibalah grab nya. Ina pun keluar dari hotel menuju mobil grab. Dan Cha hanya mengikuti Ina berjalan.
"Selamat pagi mbak.., mau ke kampus U** ya," sapa sang supir.
__ADS_1
"Injih pak," jawab Ina yang sudah duduk di belakang supir.
Cha hanya diam sambil melihat-lihat jalanan. Lalu dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi adeknya bernama Sika. Dia mencoba beberapa kali hingga akhirnya diangkat oleh Sika.
"Hallo assalamu'alaikum dek..., ya ampunn. Kemaren malam kakak hubungi kenapa gak diangkat?" tanya Cha dengan girangnya.
"Iya kak, kemaren Sika udah tidur. Habis kecapean nangis hehehehe," Sika cengengesan menjawab kakaknya.
"Oh...sekarang masih sedih gak?" tanya Cha lagi.
Ina hanya melirik Cha sekilas. Mendengarkan percakapan mereka. Lalu membuang mukanya ke jendela melihat jalanan.
Cha merasa senang akhirnya bisa ngobrol bareng Sika. Dan syukurnya Sika sudah tidak sedih lagi seperti kemaren. Cha menawarkan Sika untuk ngobrol sama Ina. Namun Sika menolaknya.
"Sik, nih kakak lagi sama kak Ina mau daftar kuliah. Kamu mau ngomong sama kak Ina?" tawar Cha sambil melirik ke arah Ina yang disampingnya.
"Lain kali aja deh kak. Males juga ngobrol sama kak Ina. Orangnya gak asyik," tolak Sika.
"Ok, nanti kita ngobrol lagi ya. Kamu jaga kesehatan ya disana Sik," Cha memberikan perhatiannya kepada Sika.
"Ok kakak ku sayang. Sering-sering dong tlp Sika ya kak," rengek Sika dengan manja.
"Iya pasti kakak bakalan sering menghubungi Sika," jawab Cha.
"Hehehe, udah ya kak, Sika mau mandi dulu, bye kakak," ucap Sika mengakhiri obrolannya.
"Bye sayang," sahut Cha.
"Udah kelar ngobrolnya. Gimana masih sedih Sika nya?" tanya Ina dengan jutek.
"Katanya sih udah gak lagi. Ya mudah-mudahan dia bisa mandiri disana," harap Cha tanpa menoleh ke arah Ina.
Ina tak menyahutnya. Dia tidak begitu suka terhadap Cha dan Sika. Dia memang kurang begitu perhatian dan sayang sama adek-adeknya. Apalagi setelah Ina lanjut kuliah ke Jogja beberapa tahun yang lalu.
"Oh ya kak, nanti kalau kita udah kelar semua urusannya, gimana kalau kita jalan-jalan ke Malioboro. Aq pengen beli tas dan yang lainnya," kata Cha dengan semangat.
"Boleh, tunggu selesai dulu ya semuanya," balas Ina.
"Kita wis teka mbak," kata sang supir.
"Iya pak, Iki dhuwite pak," Ina menyerahkan beberapa lembar uang kepada sang supir.
Si supir menerimanya dengan senang hati karena ternyata Ina melebihkan bayarannya.
Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam kampus. Ina mencari informasi melalui papan pengumuman yang ada di kampus tersebut. Lalu Ina mengajak Cha ke bagian pendaftaran.
"Ayok Cha keruangan sebelah sana," ajak Ina yang jalan terlebih dahulu.
Cha masih terpesona dengan kenyamanan kota Jogja. Apalagi saat ini dia sedang berada di salah satu Universitas terbesar di Jogja. Ketika Cha hendak melangkahkan kakinya mengikuti Ina, tiba-tiba dari arah samping ada seseorang yang berteriak memanggil namanya.
"Chaaaa....!" teriak orang itu.
Cha samar-samar mendengar namanya dipanggil. Dia pun berhenti dan celingak-celinguk mencari sumber suara tersebut. Ketika Cha menoleh ke samping dia terpaku diam membisu. Cha mengucek-ngucek matanya dan mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Chaaaa, gw kangen banget....," teriak seseorang yang tak lain adalah sahabatnya Shanti. Lantas Shanti memeluk Cha di depan semua mahasiswa yang ada di kampus itu.
Cha masih belum merespon pelukan sahabatnya itu. Dia masih terpaku dengan keadaan yang diterimanya.
Shanti melepaskan pelukannya dan menatap Cha dengan heran.
"Hei Cha, malah bengong, tutup tuh mulut. Tar masuk lalat lagi," ledek Shanti yang tersenyum bahagia melihat sikap sahabatnya.
Cha pun tersadar dan menatap wajah Shanti. Lalu dia memukul-mukul pipi Shanti menandakan bahwa dia tidak sedang bermimpi.
"Awww...Cha sakit tau..!" protes Shanti sambil mengelus-elus pipinya.
"Aaaaaaaaaa Shanti.......aq kangen banget.....!" teriak Cha kegirangan sambil melompat-lompat seperti anak kecil. Dia tidak sadar kalau tingkahnya mengundang tatapan aneh bagi mahasiswa yang ada disana.
Karena tidak hanya Cha yang melompat kegirangan, tapi Shanti juga ikut-ikutan melompat-lompat kegirangan.
__ADS_1
Mereka pun jadi tontonan mahasiswa disana. Luapan rindu, kebahagian semuanya mencuat saat itu juga. Betapa bahagianya kedua sahabat itu bisa bertemu kembali.
"Cha, kamu kok bisa disini? Sama siapa ke Jogja?" tanya Shanti penasaran.
Lalu Cha melihat ke depan mencari sosok kakaknya yang sudah jalan terlebih dahulu. Ternyata kakaknya sudah masuk ke dalam ruangan administrasi yang berada di ujung kampus.
"Gw kemari sama kak Ina, Shan. Nih gw lagi daftar buat masuk ke kampus ini," jawab Cha dengan rasa bahagianya.
"Loh sama dong, gw juga daftar di kampus ini. Emang Lo ambil jurusan apa Cha?" tanya Shanti lagi.
"Gw ngambil jurusan Sastra Jepang Shan," jawab Cha.
"Waowww keren banget. Kalau gw ambil jurusan Komunikasi Cha, secara gw kan orang nya heboh," ucap Shanti dengan pedenya.
"Keren dong Shan, cocok tuh dengan diri Lo yang suka nyerocos, hehehe," jawab Cha cengengesan.
"Yuk ke tempat kak Ina. Nanti dia kecarian lagi. Bisa-bisa gw di aduin sama mama gw karena pecicilan," ajak Cha.
Shanti pun mengikuti Cha ke ruangan administrasi. Mereka berdua masih jadi sorotan mahasiswa disana.
"Permisi," ucap Cha ketika memasuki ruangan administrasi. Cha melihat kak Ina nya sedang duduk di depan meja admin.
"Tuh kak Ina, yuk kesana," ajak Cha yang berjalan kearah kakaknya.
Ina yang merasa ada seseorang berdiri dibelakangnya, kemudian menoleh dan melihat Cha bersama seorang mahasiswi. Ina pun bertanya sama Cha.
"Kamu kemana aja Cha tadi, ditungguin gak dateng juga. Nih siapa Cha?" tanya Ina penasaran melihat Shanti.
"Ini Shanti, kak. Sahabat aq dulu ketika sekolah di Medan. Dia juga mendaftar di kampus ini," jawab Cha antusias.
"Oh..., ngekost dimana?" tanya Ina lagi.
"Dia gak ngekost kak. Tapi rumah sendiri tinggal bareng eyangnya, benar kan Shan?" tanya Cha kepada Shanti.
"Iya kak, kenalin saya Shanti sahabat Cha waktu di Medan," Shanti mengulurkan tangan nya menjabat tangan kakak Cha.
Ina pun menerima uluran tangan Shanti sambil tersenyum yang di paksa.
Akhirnya pendaftaran Cha selesai. Tinggal nunggu buat seleksi ujian. Mereka bertiga meninggalkan ruangan administrasi.
"Oh ya Shan, rumah eyang kamu dimana?" tanya Ina sambil terus berjalan.
"Eyang rumahnya di daerah Jalan Gejayan Kak. Gimana kalau hari ini kakak sama Cha nginep di rumah eyang ku," tawar Shanti.
"Tapi hari ini rencananya, gw mau nyari kost-kostan Shan. Habis tuh kami jalan-jalan ke Malioboro. Lo mau ikut gak,? ajak Cha.
"Udah Lo gak usah ngekost Cha. Mending tinggal sama gw dirumah eyang. Gak ada siapa-siapa kok dirumah. Hanya mama, eyang dan adek gw doang. Kalau bokap baru aja meninggal," kata Shanti dengan raut wajah sedih dan menundukkan kepalanya.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un," jawab mereka berdua secara bersamaan.
"Gw turut berduka cita ya Shan. Jadi sedih deh gw," ucap Cha yang ikutan sedih.
"Iya makasih ya Cha. Ya udah mending sekarang kita ke Malioboro aja kak, makan siang disana dan belanja keperluan Lo Cha, gimana?" tanya Shanti.
"Boleh juga tuh. Mau ya kak...," rengek Cha terhadap kakaknya.
"Ya udah ayuk. Eits, tapi kami naik grab. Lah kamu gimana, apa naik motor?" tanya Ina yang bingung.
"Iya kak, Shanti bawa motor kok. Tar Shanti yang jadi pemandunya ya, hehehe," ucap Shanti sambil cengengesan. Shanti dan Cha sangat antusias buat jalan-jalan. Mereka sudah tidak sabar ingin ngobrol bareng dan saling bertukar cerita.
"Lah trus gimana dengan kami. Gak punya motor," ucap Ina bingung mau jalan bareng.
"Ya udh pakai motor saudara Shanti aja kak, kebetulan dia tadi kemari bareng Shanti. Shanti hubungi dulu ya orangnya," kata Shanti memberi sarannya.
Shanti pun dengan semangatnya menghubungi saudaranya. Setelah bernegosiasi dengan saudaranya, akhirnya Shanti bisa menggunakan motor saudaranya.
Kemudian mereka bertiga berjalan ke arah parkiran dan bertemu dengan saudara shanti.
"Hai Wan, tak pake dulu yo motor mu, sesok tak pulangkan kalau udah selesai. Iki bonus buat koe," kata Shanti sambil memberi 2 lembar uang merah. Tentu saja saudara nya dengan senang hati menerimanya.
__ADS_1
Setelah urusan beres dengan saudara Shanti, Cha boncengan dengan kakaknya Ina menggunakan motor Shanti. Sementara Shanti sendirian dengan mengendarai motor saudaranya. Mereka pun menyusuri sepanjang jalan Kota Jogja.