
Ghani masih menatap Cha dengan rasa cintanya. Dia sangat menyayangi Cha dan tidak ingin ada menyakitinya. Ghani tau cintanya tak berbalas, namun rasa ingin melindungi itu yang ingin dilakukannya.
"Baiklah Cha, aku harap kamu tidak kepikiran dengan gosip itu. Ayo sekarang kita pulang. Oh ya ini oleh-oleh buat kamu. Kemaren aku kembali ke Jakarta dan teringat sama kamu," Ghani memberikan bingkisan paper bag buat Cha.
"Apa ini Ghan! Aku tidak enak jika harus menerimanya," balas Cha.
"Ini hanya oleh-oleh kecil Cha. Jangan menolaknya ya. Anggap ini bentuk pertemanan kita," ucap Ghani yang terus memaksa Cha menerimanya.
Ghani yang sudah lama jatuh hati terhadap Cha, berusaha mencari kebenaran tentang perasaannya. Dan ternyata begitu waktu berlalu, dia menyadari bahwa perasaannya ke Cha benar-benar tulus dan yakin itu adalah cinta. Hingga dia memutuskan untuk mengungkapkannya. Tapi keberuntungan tidak berpihak terhadapnya. Cha akan menikah dengan Zain. Dan cinta pertama Ghani harus di simpannya selamanya.
Cha masih enggan menerima bingkisan itu, tapi dia tidak enak jika menolaknya. Cha menjadi serba salah.
"Cha ayo terimalah, ini tidak berbahaya kok. Gak ada bomnya ataupun yang aneh di dalamnya," canda Ghani.
"Bukan gitu Ghan, aku tau ini tidak mungkin aneh-aneh. Baiklah aku akan menerimanya," balas Cha yang mengambil bingkisannya dari tangan Ghani.
"Makasih Cha, semoga kamu menyukainya ya." Ghani merasa senang akhirnya Cha mau menerima tanda cintanya. Walaupun harus sepihak cintanya.
"Apa masih ada yang harus di bahas lagi Ghan?" tanya Cha kikuk.
"Oh nggak ada Cha. Ayo aku antar kalian ke depan. Kamu pulang naik apa?" tanya Ghani.
"Aku bareng Dewi naik mobil. Sekarang aku tidak bisa bebas, karena statusku yang akan berubah," jelas Cha.
Ada rasa sesak di dada Ghani saat mendengar Cha mengatakannya. Tapi dia tidak ingin Cha melihat kesedihan di wajahnya.
"Semoga semua berjalan dengan lancar ya Cha. Aku berdo'a untuk kebahagiaanmu. Kita tetap teman kan?" tanya Ghani memastikan.
"Iya Ghan, kita berteman. Maaf kalau aku harus menyakitimu," ucap Cha tiba-tiba.
"Tidak apa-apa Cha. Aku terlambat datang dalam kehidupanmu. Jika aku dari awal hadir, mungkin kita yang akan menikah, hehehe," balas Ghani yang memperlihatkan tawa cengengesannya.
Cha terdiam mendengarnya. Dia hanya memaksakan sebuah senyuman saja.
Ghani dan Cha berjalan ke depan menghampiri Dewi.
Dewi melihat Ghani dan Cha dengan mengerutkan keningnya. Dia melihat kesedihan di wajah Ghani yang tampan. Dan Cha wajah tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Ayo Wi kita pulang," ajak Cha.
"Udah selesai Cha ngobrolnya?" tanya Dewi.
"Udah Wi, makasih udah nungguin Cha," Ghani yang menjawabnya.
"Iya kak Ghan, itu tidak masalah."
Lalu Cha dan Dewi berjalan ke parkiran bersama Ghani. Mereka berpisah di tempat parkiran.
Cha dan Dewi masuk ke dalam mobil Cha dan Ghani menunggu kepergian mereka.
Cha melihat wajah Ghani yang sangat tampan terlihat kesedihan di matanya. Cha berusaha memperlihatkan senyumnya.
Kemudian mobil itu pergi meninggalkan Ghani yang masih dia berdiri memandang kepergian Cha.
"Semoga kamu senang dengan bingkisan itu Cha," gumam Ghani.
Ghani pun berlalu dari tempatnya berdiri. Dia berjalan lesu ke dalam mobilnya.
Sementara Cha dan Dewi yang berada di dalam mobil hanya diam tak ada yang bersuara.
"Apa isi bingkisannya ini ya? Aku jadi gak enak sama dia. Disaat seperti ini, ada saja godaan," bathin Cha.
"Cha, gw gak nyangka dia ternyata benar-benar jatuh cintab sama Lo," tiba-tiba Dewi membuka suaranya.
Cha seketika menoleh kesamping tempat Dewi duduk. Cha pun mengerutkan keningnya.
"Gw gak mau tau Wi tentang hal itu. Gw hanya menganggapnya teman. Perasaan gw hanya untuk bang Zain," ucap Cha memperjelasnya.
"Ya, Ghani laki-laki yang tidak beruntung Cha. Gw salut sama Lo Cha, banyak yang menyukai Lo," balas Dewi.
Dewi ntah kenapa merasa iri dengan Cha. Cha yang banyak dikagumi kaum pria yang sangat tampan. Padahal dari segi fisik, Dewi juga tak kalah cantik. Bahkan Dewi memiliki kulit yang lebih putih dari pada Cha. Namun tidak ada laki-laki yang tertarik dengannya.
Saat bertemu dengan Ghani, Dewi merasakan getaran yang aneh. Dia sudah tertarik sama Ghani ketika pertama bertemu dengannya di Kampus. Dan ternyata dia satu kost sama Cha. Saat itu Dewi udah merasakan hal yang berbeda dari cara pandang Ghani terhadap Cha.
Dan semua itu terbukti dengan Ghani yang sering bertanya tentang Cha kepada dirinya. Dewi gak rela jika Ghani juga menginginkan Cha. Dewi senang ketika mendengar Cha akan menikah dengan Zain. Sehingga dia bisa dekat dengan Ghani.
__ADS_1
Tapi ternyata dia salah, Ghani tak perduli dengan Dewi. Namun akal sehat Dewi masih berfungsi. Dia tidak ingin mengkhianati sahabatnya yang sudah sangat baik terhadap keluarganya.
"Semua sudah jalannya takdir Wi. Dan ini semua bukan gw yang mengaturnya. Sudah ada yang mengatur segalanya."
"Cha, menurut Lo, Ghani tampan tidak?" tanya Dewi.
"Ya dia memang tampan. Dan tidak kalah dengan Zain ketampanannya," jawab Cha.
"Apa Lo memang tidak memiliki perasaan sama sekali terhadapnya?" Dewi bertanya to the point.
"Kenapa Lo menanyakan itu?" Cha malah balik bertanya.
"Gw hanya ingin tau tentang perasaan Lo terhadapnya. Apakah sedikitpun Lo gak punya perasaan terhadapnya?" tanya Dewi lagi.
"Dia baik Wi, perempuan mana yang gak tertarik dengan dia yang tampan dan memiliki sikap dingin. Tapi gw sudah punya Zain," jawab Cha mantab.
"Seandainya Lo gak punya Zain bagaimana?" lagi-lagi Dewi banyak bertanya.
"Maksud Lo Wi? Lo jangan buat sesuatu hal yang aneh," kesal Cha.
"Maaf Cha, gw hanya ingin tau aja," balas Dewi.
Cha menghela nafas beratnya. Dia membuang muka ke arah jendela. Dimana dia bisa melihat pemandangan jalanan diluar.
Tak berapa lama setelah obrolan selesai, mereka sampai di kontrakan rumah mereka. Cha dan Dewi turun dari mobil.
Cha berjalan memasuki rumah tanpa mengajak Dewi. Sehingga Dewi hanya mengikutinya dari belakang.
Cha dan Dewi masuk ke kamar masing-masing. Mereka tidak saling tegur.c
Cha memilih berendam di dalam kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya dan segera beristirahat. Setelah selesai mandi, Cha keluar dari dalam kamar mandi. Dia memakai pakaiannya dan berjalan ke tempat tidurnya.
Sesaat dia tertegun melihat paper bag dari Ghani. Cha menjadi penasaran dengan isinya. Lalu Cha mengambil paper bag itu. Dia membukanya dan melihat isinya. Cha mengerutkan keningnya melihat kotak yang berukuran sedang ada di dalam paper bag itu.
"Kotak apa ini ya? Aku jadi penasaran. Kenapa dia memberikan kotak seperti ini?" gumam Cha yang membolak-balikkan kotaknya.
Cha naik keatas tempat tidur dengan membawa kotak itu. Cha berniat membuka kotak itu di tempat tidur.
__ADS_1
Perlahan Cha membuka sampul kotak itu. Dia sangat penasaran dengan isi kotak yang di berikan Ghani.