
Saat mendengar tentang Dino yang ingin menjual Cha dan Kakaknya, Zain ingin sekali membunuhnya. Karena berani menghancurkan hidup orang yang dicintainya.
"Iya Zain. Makanya malam ini aku blom balik kekost. Takut kalau dia datang kekamar ku malam ini," balas Cha. Cha tau Zain pasti sangat mengkhawatirkannya.
"Jam berapa kamu mau balik ke kost sayang? Biar orangku yang akan menemani kalian selama dikost. Dia akan berjaga di sekitar kostan, jika ada sesuatu yang tidak baik, kamu langsung hubungi aku. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa Cha!" ucap Zain penuh kekhawatiran.
"Iya Zain, kamu tenang aja, kami bertiga kok. Mana berani dia macam-macam dengan kami," Cha berusaha menyenangkan hati Zain.
"Ya udah kamu hati-hati disana ya sayang, khabari aku kalau sudah sampai dikost," ucap Zain.
"Iya Zain. Daaa!" Cha menyudahi obrolannya.
"Mana?" tanya Zain.
Cha yang sudah mengerti, langsung memberikan ciuman di handphonenya, emmmuach," ucap Cha malu-malu.
"Emmmuach," balas Zain dengan bahagia.
"Siapa Cha?" tanya Dewi tiba-tiba dari belakang.
"Duh, Lo ngagetin gw aja Wi!" kesal Cha.
"Habis Lo serius banget tlp nan sama ayangnya," balas Dewi yang menggoda Cha.
"Itu dari dia. Dia nanyain tentang rumah itu bagaimana? Apakah gw menyukainya?" begitu dia nanyain gw.
"Perhatian banget ya Cha dia. Beruntung Lo punya kekasih yang sangat perhatian," balas Dewi.
"Dia bukan kekasih gw Wi. Dia memang mencintai gw, tapi gw mencintai orang lain," jawab Cha datar.
"Loh kenapa bisa gitu Mek?" tanya Mbak Ani yang ikut nimbrung.
"Gw menjalin hubungan dengan kekasih gw yang sekarang. Dia sedang berada di Belanda. Tapi sampai detik ini dia tidak lagi menghubungi gw Mbak, Wi. Gw gak tau gimana khabar dia sekarang," ucap Cha dengan wajah sendunya.
"Trus yang saat ini memberikan perhatian sama kamu siapa Cha?" tanya Mbak Ani yang bingung.
"Dia dulu orang yang membeli gw dari sahabatnya sendiri. Dan ntah bagaimana, dia jatuh cinta denganku. Dan sekarang dialah yang ada saat gw kesusahan dan sedih," terang Cha kepada kedua sahabatnya.
"Kenapa Lo gak buka hati buat dia Cha! Dia sangat baik sama Lo," balas Dewi.
"Sebenarnya dari awal gw juga jatuh hati sama dia. Tapi gw sudah duluan jalani hubungan dengan cinta pertama gw, dialah yang saat ini di Belanda," jelas Cha dengan sedih.
"Gw do'ain semoga Lo berjodoh dengan laki-laki yang saat ini selalu ada buat Lo, ya kan Mbak?" Dewi meminta pendapat Mbak Ani.
"Iya Cha, Mbak setuju dengan apa yang diucapkan Dewi. Jangan mengharapkan sesuatu yang jauh, tapi jalanilah dengan yang selalu ada untukmu," nasehat Mbak Ani.
"Iya Mbak, tapi aku belom bisa Mbak memberikan ruang buat yang lain. Karena yang kuharapkan belom memberi kepastian," balas Cha.
"Ya udah yang penting, Lo harus bisa menerima keadaan apapun yang terjadi kelak antara laki-laki yang mencintai Lo," Dewi ikut menasehati Cha.
"Pasti Wi, gw siap dengan apa yang akan terjadi nantinya," tegas Cha.
Mereka pun kembali menikmati suasana malam di Bukit Bintang. Dengan canda dan tawa hingga malam pun larut. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali kekost.
"Udah malam banget nih, balik yuk," ajak Dewi.
"Iya, Mbak juga udah ngantuk nih. Pulang yuk sekarang!" Mbak Ani juga ngajak mereka pulang.
__ADS_1
"Iya gw lihat mata Mbak Ani udah ngantuk berat ya, lihat Wi," Cha menunjuk kearah Mbak Ani.
"Ah Lo juga cha, mata juga udah kayak semaput gitu," ledek Dewi.
"Masa sih Wi, hahaha bisa aja Lo bilang mata gw semaput," balas Cha yang gak mau kalah.
Mereka saling mengejek hingga bodyguard yang menemani mereka datang.
"Mbak sudah larut malam. Tuan Zain menyuruh saya untuk mengantar Mbak pulang kekost," bodyguard itu meminta Cha dan yang lainnya untuk kembali kekost.
Mereka bertiga terpelongo melihat kedatangan bodyguard itu dan meminta mereka kembali kekost.
"Eh iya Om, kami mau balik sekarang juga kok," Cha tersenyum kearah bodyguard itu.
Akhirnya ketiganya meninggalkan Bukit Bintang dengan hati yang senang. Selama perjalanan, mereka bertiga tertidur karena letih seharian berada diluar terus. Hingga sampailah mereka dikost-kostan. Bodyguard itu membangunkan ketiganya karena sudah sampai didepan gerbang kost.
"Mbak, kita sudah sampai!" seru bodyguardnya.
Cha yang pertama bangun melihat kalau mobil sudah berada didepan kostannya. Lalu Cha membangunkan Dewi dan Mbak Ani.
"Wi bangun!"
"Mbak Ani bangun..!"
Akhirnya kedua sahabatnya juga bangun dan melihat mobil sudah berhenti.
"Kita sudah dimana ini Cha?" tanya Dewi yang masih belom sadar sepenuhnya.
"Udah sampai, yuk turun," ajak Cha.
"Oh udah sampai ya Cha. Mbak kira masih dijalan karena mogok, hehehe," sambung Mbak Ani setengah sadar.
Setelah masuk gerbang kost, ternyata Ghani sedang berada diluar kamarnya. Dia melihat Cha dan yang lainnya baru pulang. Ghani pun menghampiri Cha.
"Loh Cha.., kamu dari mana?" tanya Ghani yang merasa khawatir.
"Iya nih Ghan, kami tadi jalan-jalan ke Bukit Bintang. Ya biasalah buat ngefersh pikiran," jawab Cha nyantai.
"Aku pikir kamu kenapa-napa Cha. Karena seharian aku lihat kamu gak ada dikost. Tadi Dino nanyain kamu. Tapi kayaknya besok aja ya kita ngobrolnya. Kamu pasti capek banget," ucap Ghani yang merasa sayang melihat Cha.
"Iya Ghan, besok kita lanjut lagi ya ngobrolnya. Aku ngantuk banget nih," balas Cha.
Kedua sahabatnya sudah duluan masuk kedalam kamarnya Cha.
"Iya Cha, tidur yang nyenyak ya," ucap Ghani penuh arti.
"Iya Ghan," Cha meninggalkan Ghani yang masih setia berdiri melihat Cha masuk kedalam kamarnya.
Cha melihat kedua sahabatnya sudah merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Cha memilih untuk mengganti bajunya dulu. Setelah selesai bersih-bersih, Cha merebahkan tubuhnya di sofa yang bisa dijadikan tempat tidur. Cha memejamkan matanya dan tidur dengan lelapnya.
Pagi menjelang, ketiganya masih asyik dalam selimut dan tak mau bangun dari tempat tidur. Hingga suara ketukan pintu membuat mereka mau tak mau membuka matanya.
"Siapa tuh Wi yang datang pagi-pagi gini?" ucap Mbak Ani yang masih mengantuk.
"Gak tau Mbak, coba Mbaknya aja yang buka. Aku masih ngantuk banget Mbak," balas Dewi yang ogah-ogahan.
"Males ah Wi! Mbak juga masih mau tidur lagi nih. Males bangkit," ucap Mbak Ani.
__ADS_1
Sedangkan Cha ternyata tidak mendengar adanya suara ketukan di pintu. Karena Cha tidur dengan sangat lelapnya.
Ketukan di pintu terus berlanjut. Namun tak ada satupun dari mereka yang mau bangun untuk melihat siapa yang datang. Hingga jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Cha bangun saat ponselnya berdering. Karena ponselnya berada di dekatnya. Cha bangkit duduk dan mengambil ponselnya. Dia melihat tlp dari Ghani. Cha mengangkat tlp nya.
"Hallo Ghani, Assalamu'alaikum!" jawab Cha.
"Cha, Lo cepatan pergi dari kost, karena tadi Dino datang bersama beberapa laki-laki kekamar Lo. Gw tadi lihat mereka mengetuk pintu kamar Lo. Sekarang Lo dimana? tanya Ghani.
Cha yang mendengar Ghani mengatakan ada beberapa laki-laki datang, langsung bangkit berdiri.
"Maksud kamu apa Ghan?" tanya Cha bingung dan ketakutan.
"Iya Cha, tadi aku gak sengaja lihat Dino dengan beberapa laki-laki berdiri didepan kamarmu. Tapi gak ada yang buka. Aku juga gak tau kalau Dino kekamarmu pagi-pagi," terang Ghani memberikan informasinya.
"Oh ya ampuuun Ghan! Kamu serius? tanya Cha gak percaya. Dia bangkit dan berjalan ketempat tidur. Lalu Cha membangunkan keduanya.
"Bentar ya Ghan!" seru Cha.
Cha membangunkan kedua sahabatnya dan memberitahukan tentang kedatangan Dino kekamarnya. Mereka berdua terkejut dan spontan bangkit dari tempat tidur dan berdiri dihadapan Cha. Lalu Cha menjawab tlp Ghani lagi.
"Sekarang dia dimana Ghan?" tanya Cha yang mulai ketakutan.
"Aku tidak tau Cha. Tapi aku lihat ada mobil sedang parkir didepan gerbang kost," jawab Ghani.
"Ok Ghani, makasih atas infonya. Aku dan yang lainnya akan bersiap-siap keluar kost. Nanti aku hubungi kamu lagi ya," Cha mengucapkan terima kasih sama Ghani atas infonya dan menyudahi tlpnya.
"Gimana Cha. Apa yang terjadi?" tanya Mbak Ani.
"Iya Cha, sepertinya serius banget!" sambung Dewi.
"Iya tadi Ghani tlp, katanya si Dino bersama dua laki-laki datang pagi-pagi kekamar ku," jawab Cha bingung.
"Oh...iya, tadi memang ada yang mengetuk pintu. Tapi kami malas bangun dan membukanya," sahut Dewi.
"Iya benar, tadi pagi memang ada yang mengetuk pintu lama banget," tapi karena gak ada yang buka, suara ketukan sudah tidak ada lagi," sambung Mbak Ani.
"Iya Mbak, trus kita gimana ya. Kok jadi parno gini ya. Masalahnya didepan gerbang tuh ada mobil yang parkir. Apa mungkin itu si Dino ya," ucap Cha menerka-nerka.
"Cha coba, kamu hubungi kekasih Lo itu. Bilang sama dia, bisa gak bodyguardnya masuk kedalam sama mobil itu dan membawa kita dari sini," Dewi memberikan idenya.
"Ya udah kalau gitu kita beresin semua barang. Mbak Ani, beresin barang Mbak yang bisa dibawa hari ini. Kita kumpul disini," ucap Cha menyuruh Mbak Ani membereskan barang yang dikamar.
"Iya Cha, nanti sisanya, pas keadaan sudah aman aja kita ambil barang lagi," balas Mbak Ani. Lalu dia pergi kekamarnya untuk beres-beres.
Sementara Cha menghubungi Zain, meminta pertolongannya. Cha menceritakan keadaan dikostannya. Dia meminta agar Zain menyuruh bodyguardnya masuk kedalam kost-kostan tapi parkir didepan kamar Mbak Ani yang lewat dari kamar Cha.
Setelah semua beres, Dan Cha merubah haluan. Dia dan Dewi kumpul dikamarnya Mbak Ani. Barang-barangnya sudah dibawanya kekamar Mbak Ani. Lalu tak berapa lama datang mobil yang berhenti langsung didepan kamar Mbak Ani. Cha mendapat tlp bahwa didepan kamar Mbak Ani sudah ada mobilnya.
Mbak Ani keluar duluan lalu disusul sama Cha dan Dewi. Mereka sudah berada didalam mobil. Sedangkan barang-barangnya, bodyguard dua orang yang memasukkannya. Saat mobil hendak keluar gerbang, Cha dan Dewi merunduk bersembunyi. Hanya Mbak Ani yang kelihatan berada didalam mobil. Hingga jarak mobil sudah jauh dari kost-kostan, barulah Cha dan Dewi duduk seperti semula.
"Gila ya Cha, kita main kucing-kucingan sama tuh orang," celetuk Mbak Ani.
"Iya Cha, gw bener-bener takut banget loh tadi!" sambung Dewi.
"Sorry ya, gara-gara gw, kalian jadi terlibat sama tuh orang," balas Cha merasa tak enak.
"Jangan ngomong gitu Cha, kita kan sudah sepakat untuk selalu bersama," ucap Mbak Ani dengan bijak.
__ADS_1
Akhirnya mereka bisa bebas dari Dino dan dua laki-laki itu untuk saat ini.