
Sepeninggalan Zain, Cha masuk ke dalam bersama Mamanya.
"Cha, Mama mau ngomong sama kau," ucap Mamanya Cha.
"Iya Ma, mau ngomong apa?" tanya Cha.
"Apa sudah mantep pilihan kau dengan laki-laki itu?" tanya Mamanya balik.
"Insyaallah Ma, Cha siap. Kami sudah saling mengenal Ma. Kalau memang Mam merestui, aku ingin secepatnya menikah. Biar terhindar dari hal gak baik," jawab Cha.
"Ya udah, Mama akan ngomong sama Abang kau di Malaysia, agar dia pulang ke Indonesia saat lamaran kau," ucap Mamanya.
"Iya Ma, nanti aku kasih tau ke Mama perkembangan selanjutnya," balas Cha.
"Ya udah, istirahatlah kau," suruh Mamanya.
"Iya Ma."
Lalu Meka masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa letih akibat perbuatan Zain yang menghajarnya habis-habisan. Meka menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan merentangkan tangannya.
"Ini serasa mimpi. Aku akhirnya menikah dengan Zain. Sungguh lucu kehidupan yang kualami ini. Takdir emang tidak bisa ditebak ataupun diprediksi. Zain yang dulunya kejam terhadapnya, sekarang justru menjadi manis semanis gula," gumam Meka dengan menatap langit atap kamarnya.
Saat Cha melamun, ponselnya berdering. Meka tak menyadarinya, hingga deringan terakhir. Cha baru tersentak dan langsung bangkit mengambil ponselnya. Cha melihat panggilan masuk dari Dewi. Kemudian Cha menghubunginya kembali.
"Assalamu'alaikum Wi....! Aku senang banget kamu menghubungiku. Gimana Khabar disana?" tanya Cha senang.
"Wa'alaikumussalam Cha. Aku dan keluargaku baik kok. Kamu kapan balik ke Jogja?" tanya Dewi diseberang sana.
"Mungkin lusa aku balik ke Jogja Wi. Karena urusanku udah selesai disini."
"Aku udah kangen pengen jalan bareng kamu lagi. Oh ya si Ghani nanyain kamu terus tuh," ucap Dewi memberitahu.
"Terus Lo bilang apa Wi?" tanya Cha.
"Gw bilang kalau Lo balik ke Medan. Dan dia nanyain kapan Lo balik ke Jogja? Ya gw jawab belum tau," jelas Dewi.
"Gw udah mau nikah Wi," ucap Cha tiba-tiba.
Mendengar pernyataan sahabatmya itu, Dewi terkejut dan menutup mulutnya tak percaya.
"Lo serius Cha?" tanya Dewi yang masih tak percaya.
"Serius Wi, Insyaallah selesai kuliah gw menikah," jawab Cha.
"Apakah sama Zain?" tanya Dewi lagi.
"Iya Wi, kemaren gw udah ketemu sama orang tuanya. Dan mereka sangat baik sekali. Keluarga Zain benar-benar memperlakukan gw dengan penuh kasih sayang," ungkap Cha.
__ADS_1
"Lah, emang sekarang Lo dimana Cha?" tanya Dewi.
"Gw sekarang di Medan. Ntar kalau gw balik ke Jogja, pasti gw ceritakan semuanya sama Lo. Oh ya gimana dengan Lo?" giliran Cha yang bertanya.
"Gw, ya gitu deh. Fokus dengan mengerjakan skripsi. Bentar lagi kita kan selesai. Habis tuh gw mau nyari kerjaan buat menghidupkan keluarga Cha," jawab Dewi.
"Ya, semoga tahun ini kita bisa ikut wisuda ya Wi," balas Cha.
"Aamiin. Kalua gitu, cepatan Lo balik. Gw udah gak sabar pengen dengar cerita dari Lo," pinta Dewi.
"Tenang, pasti gw ceritakan semuanya. Ya udah, gw mau mandi dulu Wi, nanti gw khabari kalau berangkat ke Jogja," ucap Cha menyudahi obrolan.
"Ok Cha, gw tunggu!" seru Dewi.
Lalu tlp pun dimatikan. Cha kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia pun memejamkan matanya hingga terlelap.
Di dalam kamar Mamanya Cha, Ina mencoba memprovokasi Mamanya untuk tidak memperbolehkan Cha menikah duluan.
"Ma, kalau Ina dilangkahi, nanti jodohnya jauh loh Ma," ucap Ina merengek.
"Ya minta aja langkahannya apa. Berapa orang yang dilangkahinya, dia harus memenuhinya," ucap Mamanya santai.
"Iya juga ya Ma. Menurut Mama, Ina minta apa ya sama dia?" tanya Ina yang minta pendapat Mamanya.
"Ya kamu mau apa Na, mobil, perhiasan atau apalah gitu," jawab Mamanya seenaknya.
"Makanya, kamu minta langkahan yang mahal sekalian. Mumpung dia menikah sama orang tajir," balas Mamanya yang ternyata memanfaatkan pernikahan Cha.
Cha tidak akan menyangka niat tidak baik dari restu Mamanya. Cha yang sangat bahagia mendengar Mamanya merestuinya, akan sangat kecewa karena ketidak tulusan Mamanya. Ternyata Mamanya tidak mau menyia-nyiakan begitu saja kesempatan. Dia menyetujui Cha menikah, tapi juga memeras calon suaminya Cha.
Sungguh diluar dugaan Cha. Ternyata Mamanya punya niat yang tidak baik untuk menikahkan Cha.
"Mama emang pinter banget. Ina pikir Mama akan begitu saja mudahnya memberikan restu terhadap Cha. Ternyata Mama punya niat yang cemerlang," puji Ina yang ikut tersenyum jahat.
"Mana mungkin Mama merestui dia begitu saja. Kamu belum menikah, dia mau duluan. Dasar dianya aja kegatelan," sarkas Mamanya.
"Hahaha, emang dia seperti itu Ma di Jogja. Sok kecantikan di depan laki-laki," Ina semakin bersemangat menjelekkan Cha.
"Ya sudah, lusa keluarga laki-laki itu akan datang. Kita akan melihat bagaimana keluarganya. Apakah memang tajir atau hanya biasa saja," ucap Mamanya.
"Iya Ma."
"Udah pergi sana kau siapkan makan malam. Dan suruh si Cha membantu kau menyiapkannya," perintah Mamanya.
"Siap Ma."
Lalu Ina keluar dari dalam kamar Mamanya dengan senyum mengembang seperti orang yang baru saja menang lotre. Mereka tidak menyadari pembicaraan itu terdengar oleh Sika.
__ADS_1
Sika yang awalnya hendak masuk ke kamar Cha, mengurungkan niatnya karena mendengar suara Ina dan Mamanya sedang ngobrol. Karena rasa penasaran dan kepengen tau, apa yang di bahas keduanya, Sika mendekatkan dirinya ke pintu kamar Mamanya. Hingga dia mendengar jelas semua pembicaraan itu. Sika terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak percaya dengan semua itu.
Saat Ina hendak keluar, Sika buru-buru menuju kamarnya. Dia takut kepergok sama Ina. Dia sengaja membuka pintu kamarnya dengan posisi badannya berada di dalam yang hendak keluar kamar.
"Loh, kak Ina dari mana?" tanya Sika berpura-pura.
"Oh Kakak dari kamar Mama, mau nanya makan malam," jawab Ina ngasal.
"Loh kak Cha kemana?" tanya Sika yang sengaja bertanya tentang Cha.
"Mana Kakak tau, mungkin di kamarnya," jawab Ina ketus.
"Kakak kenapa? Kok sewot gitu jawabnya," ucap Sika yang tak suka melihat Ina.
Ina menoleh ke Sika dan melototkan matanya ke Sika.
"Tau apa kamu Sika? Udah suruh Cha untuk bantu siapkan makan malam," suruh Ina.
"Suruh aja sendiri. Kan punya kaki sama mulut. Tuh kamarnya, datangin aja," Sika melengos masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Ina yang terbengong.
"Kurang ajar nih anak, gak ada sopannya sama yang lebih tua," Ina meninggalkan tempat itu dan menyiapkan makan malam sendirian.
Ina tidak mau menurunkan harga dirinya untuk meminta Cha membantunya menyiapkan makan malam. Dia ingin Cha ditegur sama Mama mereka karena tak membantu Ina.
Setelah semua disiapkan oleh Ina, dia melihat Sika yang berjalan ke arah meja makan.
"Wah udah selesai menghidangnya? Gak perlu dibantu kalau gitu," ledek Sika.
"Udah sana panggil si Cha," suruh Ina.
Ina pergi ke kamar Mamanya untuk memberitahukan bahwa makan malam sudah selesai.
Sedangkan Sika, dia berjalan ke kamar Cha. Dan pintu kamarnya tidak terkunci hingga membuatnya bisa langsung masuk ke dalam. Sika melihat Cha masih terlelap tidur. Dia menghampiri tempat tidur Cha dan mulai membangunkannya.
"Kak, ayo makan. Dah jam berapa ini?" Sika menggoyang-goyangkan tubuh Cha supaya bangun.
"Eh dek, dah lama disini?" tanya Cha yang langsung terduduk.
"Baru aja kok kak. Ayo kita makan malam. Mama dan yang lainnya sudah ada di meja makan kayaknya," jawab Sika.
"Bentar, Kakak cuci muka dulu ya. Kamu duluan aja dek," suruh Cha.
"Gak apa-apa kak, aku tunggu aja disini. Biar kita bareng ke meja makannya," balas Sika.
"Ya udah bentar ya."
Cha membersihkan wajahnya hingga dia terlihat segar kembali. Setelah itu dia mengajak Sika keluar dari dalam kamarnya. Mereka berjalan menuju meja makan. Disana ternyata sudah ada Mama, Ina dan si bungsu.
__ADS_1